Feeds:
Posts
Comments

Merantau

Di salah satu halaman bagian depan novel Negeri 5 Benua karya A. Fuadi, tercantum kata-kata mutiara dari ulama terkenal Imam Syafei:

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampong halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

Jika di dalam hutan.

Mungkin kita setuju atau bisa juga tidak setuju dengan pesan imam yang manjadi pencetus mazhab Syafii yang diikuti di Indonesia ini.  Terlepas dari itu, berkaitan dengan masih hangatnya perubahan tahun Hijriah (dan Masehi), perihal merantau ini tentu jadi cukup menarik.

Bagi saya, tak banyak yang dapat dikomentari kecuali bahwa hal itu banyak terasa.  Pertama, merantau itu berarti hijrah secara fisik.  Jika di suatu daerah kita merasa sudah maksimal dan tetap tidak dapat lagi berbuat banyak kebaikan bagi orang lain, keluarga, dan diri sendiri maka dengan mencontoh Nabi SAW dulu tentu dapat saja hijrah ke negeri yang lebih baik.  Hal ini tentu dapat pula berarti memperbaiki lapangan kehidupan dengan sebuah lapangan kehidupan baru yang lebih baik.

Dengan izin Allah, mungkin achievement saya tidak seperti sekarang kalau tidak berani merantau ketika didorong orang tua setamat SMP dulu.  Pergi mencari tempat kuliah pun dengan keberanian seperti anak panah itu; demikian pula ketika menuntut ke negeri orang.  Selain mendapatkan tambahan pengetahuan, dengan merantau juga mendapatkan  rasa convidence dan visi serta melihat berbagai bukti-bukti kekuasaan Allah Swt sehingga tidak lupa dengan asal diri sendiri.

Selain itu, menurut saya merantau tadi dapat pula kita artikan merubah paradigma berfikir atau mind set kita dari yang kurang baik ke statu yang lebih sesuai dan berada dalam koridor yang diridhoi Allah Swt.  Karena itu jangan pernah takut untuk perhi merantau atau berubah.

Hal ini biasanya tidak mudah karena rasanya ada status beban mental, pengorbanan nafsu, atau rasa malu yang sangat berat untuk melakukan perubahan.  Jika meminjam istilah ESQ, itu hanya bisa kita lakukan kalau kita bertekad melepaskan diri dari belenggu itu.  Mestinya, akan lebih buruk dan malu lagi kalau kita tetap berada dalam keadaan yang tidak baik tadi.  Mudah-mudahan kita senantiasa diberi kemudahan untuk menuju ke arah kebaikan dan meningkatkannya.  Amin.

P N S

PNS (Pegawai Negeri Sipil) beberapa hari belakangan ini merupakan satu topik berita yang bisa menyeruak di hiruk pikuk pentas drama Bank Century.  Nampaknya PNS masih menjadi incaran kebanyakan masyarakat kita.  Seleksi penerimaan kali ini pasti bisa memuaskan sedikit orang yang diterima namun pada saat yang sama telah mengecewakan banyak orang yang luput.

Sebagai PNS, saya merasa cukup heran dengan fenomena PNS ini. Dengan perjalanan karir dan posisi saat ini yang sangat saya syukuri, saya merasa PNS bukan lah segalanya bagi seorang Indonesia.  Seandainya sejarah bisa diulang, saya ingin memilih pengembangan diri secara maksimal di lingkungan swasta yang berkaitan dengan sektor ril.

Tidak ada yang salah dengan PNS.  Berkarya sebagai PNS merupakan pengabdian yang mulia pada negara dan masyarakat karena penuh dengan pengorbanan, tantangan, dan kendala yang semuanya memerlukan keikhlasan, kesiapan mental, kompetensi, kreativitas, dan kejujuran intelektual.

Betapa tidak penuh pengorbanan, ketika seseorang sarjana yang baru masuk jadi PNS misalnya, ia tidak akan menemukan ekspektasi ideal sebagai seorang sarjana yang baru keluar dari kampus.  Dari segi pendapatan, ia akan terheran-heran dengan gaji yang diterimanya kok tidak memadai.  Jangan kan bisa menabung untuk menikah atau merbantu orangtuanya, bukan tidak mungkin ia malah masih harus bergantung sama orangtuanya.

Pengorbanan itu akan tambah terasa ketika idealisme dan semangat seorang sarjana baru yang ingin berbuat sesuatu perbaikan, tidak tersalurkan.  Di kantor ia bahkan akan dianggap sebagai seorang green horn (anak bawang) oleh lingkungan kerja dan kolega-kolega seniornya meskipun mereka tidak lebih kompeten dan qualified.  Kalau pun ia mampu melakukan sesuatu yang istimewa, belum tentu akan mendapatkan appresiasi atau imbalan materi secara progresif, kecuali bahwa itu suatu pengabdian darinya, sebagai belum baiknya reward system bagi PNS.

Seorang PNS juga akan menghadapi berbagai tantangan, baik secara struktural maupun implementatif.  Dengan kondisi masyarakat dan bangsa kita serperti yang ada saat ini, sangat banyak permasalahan yang harus diselesaikan dan dilakukan kantor-kantor pemerintah dan pada banyak lini.  Sudah terpatri pula dalam mindset masyarakat bahwa segala macam adalah tanggung jawab pemerintah, sejak sesuatu yang prinsipil sampai sekedar pembersihan parit di depan rumah mereka.  Masyarakat cenderung menuntut tanpa peduli kendala dan duduk perkara sesuatunya.

Dalam implementasi pekerjaan pula, idealisme dan semangat seorang PNS baru sangat mungkin akan berbenturan dengan orang-orang lama dalam sistem yang ada.  Upaya perubahan menuju pada kebaikan cenderung akan ditantang karena biasanya mengganggu kepentingan orang-orang yang sudah berkarat dalam sistem itu.  Keadaan inilah yang lambat laun bisa melunturkan si pemula dan akhirnya terkooptasi oleh sistem yang ada.

Sementara itu, tidak sedikit pula kendala yang dihadapi para PNS. Mereka umumnya bekerja dalam berbagai keterbatasan biaya, fasilitas, alat kerja, akses informasi serta pengembangan diri.  Tidak jarang akhirnya tercampur antara keperluan dinas (plat merah) dan pribadi (plat hitam) yang melahirkan istilah pelat coklat.  Hal ini cenderung membuat mandeg pengembangan kemampuan para PNS kecuali dia seorang yang jeli dan pandai mencari terobosan secara perseorangan.  Jangan dilihat keadaan para petinggi PNS yang mungkin sudah mendapat berbagai fasilitas dan dukungan pegawai bawahan karena pimpinan itu jumlahnya sangat sedikit dan itu sudah melalui jalan yang panjang dan waktu yang lama.

Itu lah sebabnya kalau ada kolega atau sanak saudara yang meminta pendapat atau minta tolong untuk memasukkan anaknya jadi PNS, saya tidak meng-encourage dan menyarankan agar mencari peluang di swasta saja.  Selain memang tidak mungkin membantu supaya diterima jadi PNS, saya juga mengingatkan masalah yang akan dihadapi oleh seorang PNS jika tidak siap sebagai abdi negara yang ikhlas dan konsekuen.  Makanya aneh jika orang masih berlomba-lomba ingin jadi PNS dan profesi-profesi aparatur negara lainnya; apa karena tidak berani berjuang di dunia ril (sebab tidak kompeten dan tidak kapabel) atau sudah punya niat lain yang penuh hitung-hitungan materil sehingga menyogok pun mau.  Anehnya orangtua sang calon pun setuju dan mengusahakan dengan cara haram itu. Kalau cara mendapatkannya haram maka akan tercemar pula lah hasilnya sampai jauh ke hilir. Astaghfirullah, naudzubillah.

Teladan

Tulisan yang ditujukan khusus untuk anak-anakku ini, dibuat setelah membaca kolom Cakap Lepas DR Alaiddin Koto, seorang Guru Besar UIN Suska, di sebuah koran  terbitan hari Senin 7 Desember 2009 dengan judul ‘Jangan Bilang “Tak Ada Teladan”’.  DR Alaiddin menunjukkan kegeraman dan kerisauannya tentang kedangkalan para mahasiswanya yang tidak mengenal lingkungan perguruan tinggi tempat mereka belajar.

Bayangkan saja, ketika beliau bertanya kepada enam mahasiswa tentang siapa nama dekan mereka, tidak ada satu pun yang tahu.  Pertanyaannya tentang nama rektor juga tidak mendapat jawaban.  Sampai-sampai beliau mempertanyakan apakah para mahasiswanya itu bodoh atau masa bodoh; jangan-jangan juga tidak mengenal siapa diri mereka sendiri.  Kejengkelan DR Alaiddin semakin bertambah melihat gaya berpakaian para mahasiswa yang “modern” tapi tidak sebanding dengan isi kepala mereka.

Syukurnya kerisauan dan kejengkelan itu tidak berlarut-larut di dalam kelas tapi beliau kembalikan ke keadaan lingkungan kehidupan kita hari ini.  Katanya, kerisauan itu juga lah yang dialami oleh kebanyakan orangtua akhir-akhir ini.  Anak-anak tidak lagi menghormati apalagi mengidolakan orangtuanya sendiri sebagai figur teladan; juga tidak terhadap para pemimpin negara sebagai tokoh yang pantas ditiru.

Anak-anak sekarang tidak tahu siapa yang pantas jadi panutan tapi mengidolakan tokoh yang sering tampil di depan publik dengan lagak dan gaya “selera muda” meskipun berwawasan dangkal.  Tanpa disadari, generasi muda kita sedang terjebak pada pola hidup serba dangkal dan serba sesaat yang tidak melahirkan prestasi yang membanggakan dalam jangka panjang.  Dimana salahnya sehingga menjadi fenomena yang sangat merisaukan para orangtua hari ini?

Munurut DR Alaiddin, adalah kesalahan fatal kita yang sering mengatakan bahwa sekarang tidak ada tokoh teladan padahal di sisi lain kita membutuhkannya.  Anggapan ini akhirnya menjadi paradigma dalam kepala kita bahwa negeri kita tidak punya tokoh teladan.  Hal ini menyebabkan para generasi muda mencari tokoh lain yang sesuai dengan selera dan kecenderungan hidup mereka yang hedonistik.  Mereka asyik dengan diri sendiri dan cuek dengan lingkungan karena merasa tidak ada teladan.

Apakah memang kita tidak punya seorang teladan yang pantas untuk diidolakan?  Sebagai umat beragama, kata DR Alaiddin, Rasulullah SAW adalah teladan agung bersama para sahabatnya.  Kita juga punya demikian banyak para pahlawan pejuang yang telah mendedikasikan hidupnya secara ikhlas dan cerdas untuk bangsa dan negara.  Sayangnya suasana dan iklim komunikasi di negeri kita ini lebih kepada keasyikan sendiri itu dan kurang mendorong ke pengenalan para teladan.

Anak-anakku…, pendapat DR Alaiddin itu patut menjadi perhatian kita.  Selain factor lingkungan dan eksternal, kita juga harus melihat ke dalam lingkungan kita sendiri.  Karena itu ayah ingin menambahkan hal-hal yang terkait ke diri ayah sendiri.

Dalam hal ini mungkin ayah juga termasuk yang lalai untuk mengenalkan para teladan itu atau tidak cukup memadai dalam memberi contoh secara langsung pada kalian.  Karena berbagai sebab, ayah kurang intensif membimbing kalian dalam berbagai hal, khususnya menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai satu alat ampuh untuk menyelamatkan hidup kalian.  Ayah belum cukup baik memberi contoh berupa rasa takut pada Allah yang mengalahkan rasa takut pada yang lainnya, bagaimana harus berlaku pada orangtua, berbuat baik pada keluarga dan sesama, berakhlak yang sesuai dengan tuntunan dengan penuh kesadaran sendiri, dan beribadah dengan tekun.

Kalian memang sekolah di tempat yang baik tapi ayah tidak cukup membimbing kalian di rumah; kalian memang mempunyai guru mengaji yang baik tapi kan seyogyanya ayah yang langsung mengajar kalian saban ba’da maghrib; kalian memang sering sholat berjamaah dengan ayah di rumah tapi anak-anak lelaki kan mestinya ayah ajak sholat berjamaah di masjid; kalian sudah belajar dengan baik dan berprestasi tapi kita belum membiasakan kerja keras dengan disiplin serta menghargai waktu. Kita memang punya orang-orang yang membantu kita tapi kan banyak hal yang mestinya bisa kita kerjakan sendiri sehingga kita lebih kenal dengan problematika kehidupan.

Alhamdulillah hari ini kalian adalah anak-anak yang cukup baik dan menyenangkan hati ayah, namun kalau mengacu pada keteladanan tadi, masih banyak hal yang harus kita tingkatkan.  Ada hal positif yang dapat kita contoh dari orang-orang di belahan bumi lain.  Mereka bisa merubah diri mereka dari suatu keadaan ke keadaan lain yang bertentangan tanpa makan waktu lama dan memerlukan syarat-syarat yang rumit.  Dari menangis karena sedih akan sesuatu, setelah memahami ada hal yang menggembirakan mereka bisa jadi tertawa-tawa atau bahkan menyanyi sambil mengusap air matanya ketika masuk ke suasana baru yang lebih menyenangkan.

Karena itu supaya kita tidak menyesali garis kehidupan kita kelak, seraya memohon perkenan Yang Maha Pengampun dan Yang Maha Pemaaf, mari kita lakukan perubahan yang positif-effektif mengacu pada tuntunan teladan Rasulullah SAW.  Jangan dilihat kesalahan dan kekurang ayah selama ini; kalian tentu ayah doakan menjadi anak-anak yang lebih baik dari ayah.  Tidak ada kata terlambat untuk perubahan menuju kebaikan.

Mulailah melaksanakan kewajiban kalian untuk bersikap lebih baik pada orang tua, berakhlak lebih mulia, bertutur kata dan berpenampilan yang baik dan sopan, belajar dan bekerja lebih giat dan disiplin, menerapkan pola hidup lebih sehat, dan lebih gandrung beribadah.  Mengatur dan memanfaatkan waktu kalian dengan baik untuk berbagai kegiatan yang sehat (termasuk olahraga) dan bermanfaat.  Mari sama-sama membiasakan membaca kitabNya, sholat tepat waktu dan yang lelaki upayakan berjamaah di masjid, tanggung jawab pada tugas dan kewajiban diri sendiri, belajar karena ingin tahu dan memahami, sayang pada keluarga, peduli pada sesama, menghargai alam, dan sebagainya.

Untuk bisa melakukan apa yang ayah sampaikan ini, bukakanlah hati dan pikiran kalian untuk merenungkan dan menerima kebenaran.   Teguhkanlah pendirian kalian setelah kalian mengetahuinya.  Hanya dengan keinginan yang kuat dan sambil berdoa lah yang bisa membuat kita kuat dalam menjalankan ketentuan dan tuntunanNya.  Insya Allah anak-anakku, hidup kalian akan selamat lahir dan bathin.  Amin Ya Rob (Jazakallahu khairan, DR Alaiddin Koto yang telah memberi inspirasi).

Simptomatik vs Sistemik

Kita sedang menonton drama peradilan masyarakat kecil Nenek Minah-Kakao, Kholil-Semangka, dan sekarang Prita yang menggulirkan gerakan Coin for Prita untuk pembayaran hukuman ganti rugi ke RS Omni.  Sementara ada oknum yang diduga makelar kasus masih gentayangan.  Aparat yang main-main dengan barang bukti narkoba bukannya dihukum jauh lebih berat tapi dihukum ringan dan satunya malah bebas. Rasa keadilan orang ramai terusik; mestinya dapat kita ambil hikmahnya.

Reaksi dan solidaritas itu apa karena jalan lain terlihat buntu dan/atau tingkat kepercayaan pada aparat menurun? Yang jelas, kita harus berfikir dan bertindak tidak sekedar simptomatik tapi harus menyentuh dan menyelesaikan masalah keadilan ini secara sistemik  (Terlepas dari substansi masalahnya, istilah ini lah yang dipakai oleh Sri Mulyani).

Simptomatik artinya hanya menangani penyelesaian gejala atau masalah2 di permukaan sebagai akibat dari suatu masalah yang lebih prinsipil.  Pendekatan ini, secara sekilas bisa jadi akan memuaskan karena kita tidak melihat lagi masalahnya itu namun secara esensial ia belum selesai dan potensial muncul lagi sewaktu-waktu.  Jadi pendekatan ini mungkin menarik karena mudah terlihat karena itu ia hanya bagus dan bermanfaat untuk sementara waktu.

Berfikir dan bertidak secara sistemik dalam menyelesaikan suatu masalah artinya kita menyentuh dan menyelesaikan masalah itu secara komprehentif, holistik, dan terintegrasi.  Kita tidak hanya mengobati gejalanya tapi menyelesaikannya sampai ke akar masalahnya.  Sekali kita dapat menyelesaikannya secara sistemik makan Insya Allah kita menuntaskan gejala dan penyakitnya itu sendiri.  Memperbaiki keadaan yang sudah demikian kronis memang harus secara sistemik.  Karena itu tinggalkan lah cara  simptomatik tapi mari kita berfikir dan bertindak secara sistemik.

Listrik oh listrik….

Sudah sekian lama Kota Pekanbaru (juga hampir seluruh Provinsi Riau serta sekarang juga di Jakarta) mengalami permasalahan hidup matinya arus listrik secara tidak teratur dan dalam waktu yang lama. Hajat hidup orang banyak, khususnya di perkotaaan ini memang sangat mempengaruhi denyut nadi kehidupan di perkotaan yang memang sangat tergantung pada perdagangan dan jasa yang rely on listrik.

Masalah pokoknya adalah bahwa PLN tidak punya kemampuan untuk membangkitkan daya sesuai dengan yang diperlukan oleh konsumen. Dari berita-berita yang ada, PLN mengaku kekurangan itu antara lain karena tidak maksimalnya kapasitas PLTA Koto Panjang (dan juga di Sumbar yang inter-koneksi dengan Riau) serta banyaknya generator2 diesel yang rusak atau harus overhaul. Jadi terjadi ketekoran sekian ratus megawatt yang bagi kalangan dunia usaha dan masyarakat tentu tidak dapat terus menunggu tanpa ada solusi yang jelas. Banyak usaha terpaksa mencari solusi dengan genset sendiri yang tentu menaikkan biaya produksi atau yang tidak kuat sekarang jadi megap2 atau menutup usahanya. Pengembangan investasi juga mengalami gangguan atau hambatan serta kehilangan peluang ketika ternyata supply listrik kita tidak dapat diandalkan.

Secara jangka panjang, Pemprov Riau sudah mengupayakan supaya Riau masuk ke dalam scheme proyek 10.000 MW program nasional tahap pertama itu. Dengar2, sekarang sedang dalam proses pengadaan jasa pelaku pembangunannya. Mudah2an. Upaya jangka pendek untuk menyelesaikan masalah ini telah dilakukan oleh PLN dan berbagai pihak namun belum memberikan hasil yang menggembirakan karena listrik masih on-off secara harian sampai saat ini.

Upaya memanfaatkan sisa atau cadangan kapasitas produksi listrik dari perusahaan-perusahaan besar cukup sulit karena mempunyai sisi-sisi teknis yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Untuk menyalurkan daya dari Sumatera Bagian Selatan misdalnya, menurut PLN, masih ada kendala jaringan transmisi. Sementara itu utnuk memanfaatkan daya dari perusahaan besar swasta secara temporer ada yang menghadapi masalah perbedaan frekuensi yang juga memerlukan pengelolaan teknis tertentu terlebih dahulu. Anehnya, ketika Munas Golkar di Pekanbaru kemaren, listrik dapat menyala tanpa giliran selama beberapa hari. Ini diatasi PLN dengan memobilisasi generator mikro ke Pekanbaru yang sekarang sudah dibawa pergi lagi. Kepada seorang teman saya pernah bercanda, apa harus ada munas partai lain lagi (Demokrat misalnya) di Pekanbaru agar listrik tidak mati2 lagi? Tentu kepentingan masyarakat dan dunia usaha, khususnya yang menengah ke bawah tidak boleh kalah penting dengan munas partai yang tentu juga memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Nah, kita jadi sulit memahami masalah listrik ini kan (di Jakatra aja bisa mati juga!!)? Di sisi lain, Riau adalah negeri penghasil minyak bumi dan gas yang telah berkontribusi selama ini bagi kepentingan nasional. Riau juga punya potensi batubara, gas, dan angin, sumberdaya air yang bisa dikembangkan untuk tenaga listrik. Alhamdulillah Allah Swt juga telah melimpahkan sinar surya yang juga dapat sebagai sumber energi alternatif. Dari sisi regulasi pula, telah pula ada UU Kelistrikan baru yang membuka peluang pihak lain selain PLN untuk ikut dalam pengusahaan listrik. Barangkali yang belum terjadi adalah para stake holder kelistrikan duduk semeja untuk mengidentifikasi, merumuskan, mengkonsolidasikan, dan menyusun rencana2 aksi penyelesaian masalah listrik ini.

Stake holder ini bisa siapa saja yang berkepentingan dan kompeten untuk membicarakannya. Diskusi ini juga bisa jadi salah satu usaha ke arah itu. Hayo, siapa yang akan memulai?

Kepemimpinan yang banyak berbicara tentang cara dan karakter seorang figur dalam berhubungan dengan lingkungan sosial dan kehidupannya, juga mempunyai satu komponen dasar yang tidak kalah penting: para pengikutnya.  Seorang pemimpin akan exist kalau ada sikap kelompok orang yang menghormati, menauladani, dan mengikuti ajarannya dengan baik dan benar atau kita sebut sebagai kepengikutan.  Karena itu dalam kepemimpinan, kepengikutan menjadi salah satu bahasan.

Kepengikutan juga dapat kita tinjau dengan pendekatan prophetic leadership dalam buku Pemimpin Istimewa Ala Rasulullah karya Imam Nawawi.  Dalam melihat kepengikutan ini kita dapat mengacu pada banyak tuntunan yang berasal dari langit melalui contoh dari para Nabi (devine references).  Yang paling sering dikutip sebagai pondasinya adalah firman Allah dalam Al-Quran Surah An-Nisa’ ayat 59:

“Wahai orang-orang yang beriman!  Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu…”

Bagi orang-orang yang beriman, wajib baginya selain menaati Allah dan Rasul juga menaati para pemimpin mereka.  Ketaatan kepada Allah mendapat tempat tertinggi yang asasi dan merupakan sumber dari berbagai ketaatan lainnya.  Beriman dan taat kepada Allah berarti mengakui keberadaan dan kekuasaanNya, mengikuti segala perintahNya, dan meninggalkan segala laranganNya.  Elaborasi dan implementasinya telah ditunjukkan oleh Rasulullah SAW sebagai pemimpin yang harus ditaati oleh orang beriman.

Sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim berbunyi: “Barangsiapa taat kepada saya, ia taat kepada Allah.  Barangsiapa melawan saya, ia melawan Allah.  Barangsiapa taat kepada pemimpin negara, sebenarnya ia menaati saya.  Barangsiapa melawan pemimpin negara, sebenarnya ia melawan saya.

Selanjutnya, yang menjadi fokus tulisan singkat ini adalah perihal kepengikutan yang mengacu pada prophetic leadership.  Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim menggambarkan bagaimana ketaatan atau kepengikutan pada pemimpin itu.

Abdullah bin Umar r.a. berkata: “Orang Islam wajib mendengarkan dengan patuh dan taat segala arahan pemimpin, baik perkara itu disukai maupun dibenci, kecuali apabila ia diperintahkan untuk melakukan maksiat.  Apabila diperintahkan untuk melakukan maksiat, ia tidak boleh mematuhi perintah itu.”

Hadits ini menekankan bahwa wajib mematuhi pimpinan baik suka atau pun tidak, kecuali jika ia memerintahkan untuk melakukan kemusyrikan atau maksiat.  Jika tidak, maka kita sudah ditunggu oleh sanksi sebagaimana dinyatakan dalam hadits riwayat Muslim berikut.

Abdullah bin Umar r.a. mengatakan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa tidak taat kepada penguasa, ia akan bertemu Allah pada Hari Kiamat nanti.  Sementara pada saat itu ia tidak punya alasan untuk membela diri atas kesalahannya itu.  Sesungguhnya, orang yang meninggal dunia sementara pada waktu itu ia tidak menaati pemimpin yang baik, ia akan mati dalam keadaan jahiliah, yaitu sesat.”

Kepengikutan itu juga tidak membedakan warna kulit seorang pemimpin.  Anas r.a. mengatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Dengarlah dengan patuh dan taat, sekalipun pemimpin itu adalah hamba keturunan kulit hitam dan di kepalanya itu seakan-akan ada bintik hitam kecil-kecil.”  Hadits ini tentu mengisyaratkan juga bahwa terhadap seorang pemimpin yang legitimate, kepengikutan itu mutlak.

Dalam hikayat Nabi Musa a.s. dengan pengikutnya bani Israil yang konflik dengan Fir’aun, terdapat pembelajaran tentang kepengikutan.  Ketika lari dari kejaran Fir’aun dan lebih dari sejuta bala tentaranya, Nabi Musa dan sekitar 300 ribu bani Israil sampai ke pinggir Laut Merah sehingga banyak pengikutnya yang menjadi cemas dan mulai salah menyalahkan, termasuk pada Nabi Musa yang dianggap menyebabkan mereka akan dibantai pasukan Fir’aun.  Nabi Musa yang berbuat berdasarkan tuntunan Allah tetap sangat yakin akan adanya jalan keluar dan menenangkan pengikutnya sambil menunggu petunjuk Allah.

Sementara pada saat kritis itu para pengikutnya mulai menghujat, dengan petunjuk Allah Nabi Musa memukulkan tongkatnya ke laut yang menyebabkan air laut itu menyibak membentuk sebuah koridor jalan di dasar laut sehingga mereka bisa menyeberang.  Bukannya bersyukur, sampai di seberang para pengikut Musa masih menghujat lagi karena kawatir tentara Fir’aun yang sedang ikut menyeberang di koridor itu akan menangkap mereka.  Karena tidak istiqomah kepada pemimpin, mereka memaksa Musa untuk memukulkan lagi tongkatnya supaya laut bertaut kembali.

Musa tidak memukulkan tongkatnya karena kawatir ummatnya akan mempertuhankan tongkat itu, tetapi menyeru pertolongan kepada Allah yang menautkan kembali laut itu sehingga akhirnya Fir’aun dan bala tentaranya tenggelam.  Moral dari hikayat ini, kepengikutan antara lain menuntut kesetiaan berdasarkan tauhid (devine based loyality), rasa istiqomah bersama pemimpin meskipun berkonsekuensi nyawa, dan etika atau kesantunan pada pemimpin.

Akan tetapi kepengikutan itu juga dikawal oleh suatu prinsip-prinsip yang digambarkan oleh hadits berikut.  Nasa’I meriwayatkan: ”….. pada suatu saat seorang lelaki bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, ‘Jihad seperti apakah yang lebih utama?’  Nabi Muhammad menjawab, ‘Mengucapkan kalimat benar di hadapan pemimpin yang zalim.’”

Mengutip kesaksian Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. dalam sebuah hadits (riwayat Abu Daud, Tirmizi, dan Nasa’i): “….. saya juga pernah mendengar Nabi Muhammad bersabda, ‘Percayalah, apabila manusia melihat kezaliman, tetapi mereka tidak bangun menentang kezaliman itu, Allah menurunkan siksa-Nya kepada semua manusia.’”

Demikian pentingnya kepengikutan ini sehingga mendapat tempat yang khusus dari Al-Quran dan hadits.  Berdasarkan buku Imam Nawawi itu, dapat kita ringkaskan dan sarikan konsep kepengikutan terhadap para pemimpin yang legitimate sebagaimana disyariatkan, antara lain sebagai berikut:

  1. Wajib taat pada pemimpin berdasarkan ketaatan kepada Allah dan Rasulullah SAW (devine based loyality).
  2. Wajib mematuhi arahan pemimpin atas suatu perkara dan berusaha melaksanakannya dengan baik, terlepas dari perkara itu disuka atau tidak, dalam keadaan susah atau senang, rela atau terpaksa, bahkan meskipun akan merugikan kepentingan sendiri, dan dengan tetap bersikap santun (istiqomah).
  3. Orang yang memecah-belah persatuan ummat akan mati dalam keadaan mati jahiliah, yaitu sesat.
  4. Tidak wajib mengikuti pimpinan yang memerintahkan untuk berbuat kemusyrikan dan maksiat.
  5. Kepengikutan tidak mengenal perbedaan ras, warna kulit, asal lapisan sosial sang pemimpin.
  6. Memegang janji setia yang dilakukan dengan sepenuh hati kepada pemimpin dan membelanya jika ada yang mencoba merampas kekuasaan pemimpin itu.
  7. Tetap mendengarkan dan taat terhadap pemimpin meskipun ia tidak memberikan hak-hak pengikut yang menjadi tanggungjawabnya; para pengikut bertanggungjawab pula terhadap apa yang diamanahkan dan minta lah hak-hak itu kepada Allah.
  8. Bersabar terhadap tindakan yang dibenci dari pemimpin, apalagi dia masih sholat bersama-sama ummat; jika seseorang membantahnya walaupun sedikit maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.
  9. Dilarang merendah-rendahkan pemimpin (negara) karena Allah akan merendahkan diri pelakunya itu.
  10. Berani menyampaikan kebenaran sekalipun di hadapan pemimpin yang zalim dan bangun untuk menentangnya jika melihat suatu kezaliman (sebagai civic responsibility) karena jika tidak maka Allah akan menurunkan siksaNya kepada semua manusia.

Nah, konsep dan norma sudah tersedia.  Sekarang bagaimana kita menyikapinya?  Semoga kepengikutan ini dapat kita cermati untuk menghindarkan sanksi Ilahiah dan membawa kemaslahatan bagi negeri kita dan orang banyak. Insya Allah.

Presiden SBY dan Wakil Presiden SBY sudah dilantik tanggal 20 Oktober lalu.  Pelantikan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II pilihan SBY telah pula berlangsung dua hari sesudah itu.  Sebagai warga Negara, selain wajib mendukung pemerintah yang legitimate ini, kita tentu juga mengucapkan rasa syukur dan tahniah atas kepercayaan yang diamanahkan rakyat yang dapat kita curahkan dalam berbagai bentuk dan cara.

Saya juga berkeinginan untuk mengekspresikan rasa itu secara ikhlas dengan cara saya sendiri.  Mengirimkan karangan bunga kepada beliau-beliau semua tentu tidak praktis dan mungkin kurang besar manfaatnya, bukan dalam arti pamrih agar mereka mencatat nama saya, karena tidak akan memberikan implikasi yang signifikan bagi orang ramai.  Memasang iklan di media, selain akan makan biaya yang sangat mahal untuk manfaat yang juga kurang mengena pada kepentingan umum, bisa pula mendorong ke pamrih atau riya.

Dua buku yang berisi prophetic leadershipSebagai gantinya saya akan “membingkiskan” dua buah buku kecil tentang kepemimpinan untuk pak SBY dan Budiono beserta para menteri dengan harapan mudah-mudahan isinya relevan dan bermanfaat bagi mereka sebagai para pemimpin yang telah dipercaya rakyat.  Mereka adalah orang-orang yang punya reputasi dan teruji sudah dalam kancah politik, pemerintahan, profesi, ataupun kemasyarakatan kita namun demi makin mantapnya upaya mereka menjalankan tugas menyejahterakan bangsa kita, tidak ada salahnya kalau kado ini saya kirimkan sebagai bahan bacaan.  Saya sebut buku kecil karena secara fisik kedua buku yang saya jumpai dengan tidak sengaja di toko buku ini memang kecil namun ternyata memuat sesuatu yang besar tentang kepemimpinan.

Kejadiannya bermula ketika saya penasaran dengan isu kepemimpinan (leadership) yang ketika itu menghangat dengan pelantikan presiden dan wakil presiden, munas partai, dan proses pemilihan para calon menteri.  Rasa penasaran tentang leadership itu berkaitan dengan paradigma kepemimpinan, persepsi tentang jabatan, proses pemilihan, dan pelaksanaan dari yang diamanahkan.  Berbagai pendapat dan komentar bersilang siur di berbagai media dari bermacam ragam orang sehingga tidak nampak lagi main stream dari kepemimpinan yang baik dan benar serta acuan yang dipakai.  Karena itu, ketika saya melihat kedua buku ini waktu saya melintas di rak buku-buku agama di toko buku itu, langsung saya ambil.

Buku pertama merupakan kompilasi tentang nash Quran dan Hadits yang dilakukan oleh Imam Nawawi berdasarkan koleksi terpilih dari Kitab Riyadus Solihin.  Berbagai ayat Quran dan Hadits Nabi (yang diriwayatkan oleh para perawi terpercaya) yang berkaitan dengan kepemimpinan menurut tuntunan syariah didedahkan sehingga dapat kita pakai dengan mudah.  Banyak hal yang kita jumpai hari ini sudah diidentifikasi sejak zaman Nabi dulu dan diperlihatkan juga berbagai aspek yang relevan dengan kita hari ini.

Buku kedua berjudul PROPHETIC LEADERSHIP Kepemimpinan Para Nabi ditulis oleh Achyar Zein, seorang dosen IAIN Sumetera Utara yang sedang mengikuti pendidikan S3 di IAIN Ar-Raniry (mudah-mudahan beliau sekarang sudah selesai).  Buku yang diterbitkan tahun 2008 ini memuat sejarah dan aspek kepemimpinan yang berkaitan dengan 25 orang nabi.  Hikayat itu dikutip dari Quran melalui berbagai tafsir dan beberapa buku agama karangan para ulama Timur Tengah.  Yang menarik, penulis dapat memberikan pencerahan dan pemahaman yang baik dan menarik serta mampu pula membuat berbagai interprestasi dan kajian implementatif yang sesuai dengan keadaan lokal kita di Indonesia.

Dengan modal dua buku sederhana ini, akan saya coba buat sintesis tentang bagaimana konsep kepemimpinan yang sudah ditunjukkan para Nabi dan praktek-praktek dalam kehidupan pada masa madaniah Rasulullah dahulu.  Meskipun saya bukan seorang ahli manajemen yang berkaitan dengan kepemimpinan , norma-norma yang dapat kita petik Insya Allah akan tetap bermanfaat dan relevan dengan kepentingan kita zaman sekarang.  Mudah-mudahan saya bisa mengangsurnya dalam bentuk serial tulisan yang akan saya muat di blog saya riau2020.wordpress.com dan riau2020.blogspot.com serta akan saya kutipkan untuk Notes jejaring Facebook saya.  Ini lah yang saya maksud sebagai kado sederhana yang mampu saya berikan untuk keberhasilan dan kelancaran pelaksanaan tugas Presiden,  Wakil Presiden, para Menteri, dan para pejabat tinggi Negara dalam Kabinet Indonseia Bersatu II.  Semoga.

Pengalaman kecelakaan mobil yang saya tumpangi mencederai orang lain pernah pula saya alami, kalau tidak salah bulan Ramadhan tahun 1994. Ketika itu saya dan seorang rekan kantor sedang melaksanakan tugas ke Tembilahan (Inderagiri Hilir) dan Rengat (Inderagiri Hulu) dengan menggunakan sebuah mobil dinas. Ketika itu belum zaman handphone seperti saat ini dan kondisi jalan belum sebagus sekarang dan penyeberangan Sungai Inderagiri di Teluk Kiambang masih menggunakan ferry.

Mengingat penyeberangan itu sering menjadi bottle neck maka kami mengatur strategi agar pelaksanaan tugas kami berjalan lancar dan bisa segera pulang bersama-sama ke Pekanbaru. Setelah “duduk” urusan di Tembilahan, pagi-pagi saya berangkat menuju Rengat agar mobil tidak terjebak di penyeberangan dan saya bisa berurusan pula di Rengat. Rekan saya akan menunggu penyelesaiannya di Tembilahan dan kemudian akan menyusul ke penyeberangan dengan kendaraan umum . Setelah mengantar saya ke Rengat, mobil nanti akan akan kembali ke penyeberangan dan menunggunya di sisi arah ke Rengat. Yang pernah mengalami perjalanan ke Inderagiri Hilir pada zaman masih ada rakit atau ferry penyeberangan rasanya bisa membayangkan suasananya.

Kembali ke cerita perjalanan, setelah menyeberang dan dalam perjalanan menuju Rengat, sekitar pukul 10 pagi, kami berpapasan dengan seorang teman baik saya (seorang pengusaha) yang sedang mengendarai sebuah mobil sedan bagus ke arah Tembilahan. Teman itu menghentikan saya dan mengajak berbual karena memang sudah lama tidak jumpa. Saat itu dia sedang dimintakan tolong untuk membawakan sedan mewah milik seseorang yang pindah dari Pekanbaru ke Tembilahan. Karena senang nyetir dan mobil itu comfortable maka dari Pekanbaru dia menyupiri mobil itu sendiri.

Kemudian dia menawarkan untuk mengantarkan saya sampai ke Rengat, dengan alasan masih ingin ngobrol. Saya merasakan, sebenarnya dia ingin mengantarkan saya dengan mobil bagus itu karena merasa selama ini saya banyak memotivasi dan membantunya. Selain itu jalan sepanjang sekitar 40 kilometer lagi ke arah Rengat dalam keadaan tidak mulus.

Berkali-kali dan dengan serius saya menolak tawarannya karena tidak praktis dan tidak efisien. Alasan saya bahwa Rengat sudah dekat dan kita harus bergerak lebih efisien dalam bulan puasa yang ketika itu panas dan kering diabaikannya. Dia tetap memaksa untuk mengantarkan saya ke Rengat.
“Nanti capek dan tak terkejar buka di Tembilahan, “ kata saya. “Puasa kan? “ tanya saya lagi.
“Iya pak,” jawabnya singkat dan mempersilakan saya naik ke mobil itu.

Akhirnya dengan rasa sesuatu yang masih mengganjal, entah apa, saya penuhi juga keinginannya. Kami berdua berangkat ke arah Rengat dan mobil dinas saya minta kembali ke penyeberangan menunggu rekan saya. Sepanjang jalan kami banyak bernostalgia dan saling cerita pekerjaan masing-masing dalam suasana santai, meskipun hati saya berkata-kata bahwa dia nanti akan cape dan mungkin jadi tidak bisa berbuka puasa di rumahnya. Sampai terjadi lah kejadian yang naas itu.

Kecepatan mobil ketika itu rasanya tidak tinggi karena saya dapat memperhatikan keadaan kiri kanan jalan dengan baik. Kecelakaan itu berlaku di suatu segmen jalan yang lurus sesudah sebuah tikungan di daerah yang tidak ramai, baik penduduk maupun lalu lintasnya. Mula-mula saya melihat seseorang keluar dari halaman rumahnya yang lebih rendah, naik ke bahu jalan. Saya yakin teman itu juga melihatnya, seorang ibu yang mengenakan kain dan memakai kain tutup kepala (biasa disebut tengkuluk) berjalan searah dengan kami, karena dia segera menggeser posisi lintasan mobil lebih ke tengah untuk menjauhi orang itu.

Akan tetapi yang namanya naas, ketika mobil kami sudah hampir sejajar dengannya, ibu itu tanpa menoleh ke belakang tiba-tiba berjalan serong ke tengah jalan. Teman saya yang tidak menyangka kejadian itu membanting stir ke kanan namun tidak sempat lagi menginjak rem. Ibu itu tertabrak sisi samping kiri mobil seakan-akan saya bertumburan dengannya waktu ia jatuh terpental. Mobil kami segera berhenti sekitar 40 meter dari tempat kejadian dan dua orang kampung datang berlari ke tempat kejadian. Semula mereka “agak tinggi” tapi menjadi wajar kembali ketika mereka melihat kami juga berlari ke arah korban sambil beristighfar. Akhirnya disepakati untuk segera menaikkan sang korban yang tidak sadarkan diri dan sedikit luka ke mobil dan bersama kedua orang itu kami segera ke rumah sakit di Pematang Rebah, Rengat.

Singkat cerita, setelah melalui proses yang panjang di UGD alhamdulillah ibu itu tertolong dan kami berbuka hanya dengan sepotong roti dan air putih. Setelah maghrib, mobil dan rekan kerja saya muncul ke rumah sakit. Dia dapat kabar dari mulut ke mulut tentang kejadian itu dan langsung mengambil langkah yang perlu sehingga tugas di Rengat juga telah selesai. Beberapa keluarga korban juga sudah sampai di rumah sakit dan kami berunding dengan penuh rasa kekeluargaan dan saling pengertian, sebagaimana lumrahnya budi-bahasa masyarakat desa kita yang sebenarnya. Setelah semuanya jelas dan sepakat, dengan berat hati saya pamit untuk meneruskan perjalanan ke Pekanbaru dan teman tadi berangkat ke Tembilahan.

Beberapa bulan kemudian saya bertemu lagi dengan teman itu dan dia bercerita beberapa hal yang berkaitan dengan kecelakaan itu. Pertama, ibu itu sudah pulih meskipun harus mendapat perawatan jalan beberapa bulan. Terungkap kemudian bahwa ketika kecelakaan itu sang ibu akan pergi mandi ke sungai karena kepanasan. Dia tidak begitu mendengar suara mobil kami dan memang terbiasa dengan cara menyeberang yang demikian karena daerah itu sepi. Kedua, ketika kecelakaan itu terjadi sebenarnya teman saya itu tidak berpuasa tanpa alasan yang kuat, kecuali karena ingin merokok dan tidak ada orang lain bersamanya di perjalanan. Ketiga, kebohongannya kepada saya tentang puasa itu telah menjadi beban mental baginya. Dia sudah berniat untuk “ngaku dosa” kepada saya pada kesempatan pertama bertemu.

Semua itu membuat dia dapat menerima dengan ikhlas kejadian kecelakaan itu sebagai tegoran dari Allah kepadanya. Sejak saat itu dia menjadi sadar akan kekurangan dan kelalaiannya sebagai manusia, kepada manusia, dan kepada Tuhan. Yang sangat disayangkan adalah hikmah positif itu memerlukan pengorbanan si ibu dalam kecelakaan itu. Tapi itu lah rahasia Allah Swt.

Pengalaman kecelakaan mobil yang ke dua kalinya saya alami tanggal 9 September 1987 sekitar jam 10 pagi di jalan minyak di daerah Simpang Benar, Rokan Hilir, Riau.  Sebagai tenaga teknis, saya ditugaskan untuk membantu penyiapan program pembangunan dan pemeliharaan jalan ke daerah-daerah.  Untuk itu saya dan beberapa orang akan pergi melihat kondisi daerah dan jalan di Teluk Nilap yang ketika itu masih masuk Kabupaten Bengkalis.

Daerah Teluk Nilap merupakan daerah terisolir yang dihubungkan oleh jalan yang kondisinya belum memadai sama sekali.  Sebagian jalan menuju ke sana merupakan jalan operasi ladang minyak yang juga dimanfaatkan masyarakat; di pinggirnya ada pipa minyak yang diameternya bisa mencapai 1,0 meter.  Jalan yang biasanya disebut jalan minyak ini dibangun PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) dari tanah kemudian disiram dengan crude oil (minyak bumi mentah)dan dipadatkan sehingga sangat licin ketika hujan atau basah.

Jenis mobil yang kami tumpangi (gambar dari internet)

Jenis mobil yang kami tumpangi (gambar dari internet)

Mengingat itu bulan puasa maka dari Dumai kami memakai kendaraan Toyota Hardtop 4 Wheel Drive yang diharapkan dapat membawa kami menembus medan yang berat itu.  Saya duduk di depan bertiga dengan supir; di belakang ada dua rekan lain dan beberapa tas pakaian dan satu set alat ukur geodesi.  Ketika supirnya kami tanyakan apakah sudah biasa menempuh jalan minyak, dijawabnya “ya” dengan meyakinkan.  Akan tetapi di jalan minyak yang ketika itu basah terasa dia mengemudi kurang meyakinkan sehingga kami tanya ulang.  Dia tetap menjawab bahwa dia sudah biasa dan menolak tawaran kami untuk menggantikannya utnuk menyetir.

Hati saya mulai tidak tenang karena mobil sudah “ngageol” beberapa kali.  Di persimpangan jalan ke sumur-sumur minyak pun dia sering mengerem dan menekan gas kembali secara agak mendadak sehingga sering mobil itu oleng karena slip.  Kawan yang duduk di sebelah saya mulai gelisah dan dia minta izin untuk buka puasa dengan merokok dengan alasan tidak tahan jika tidak merokok.  Dengan berat hati saya hanya bilang bahwa puasa saya tidak terganggu oleh asap rokok.

Belum lagi lima menit kawan itu merokok dan baru dapat beberapa kali isap, sang supir mengulangi kesalahan yang sama di sebuah simpang jalan ke sumur minyak.  Ketika dia menekan gas lagi secara mendadak, dengan kecepatan sekitar 50 km/jam mobil slip ke arah kiri dan ban kiri depan menabrak pipa minyak yang cukup besar sehingga mobil rolling ke sisi kanan dua kali dan kembali berdiri dalam keadaan terhenti beberapa puluh meter dari tempat slip semula.  Bagian atas mobil cukup remuk dan beberapa kaca pecah.

Yang luar biasa, ketika mulai oleng saya bereaksi dengan cepat untuk berpegangan ke dashboard sehingga tidak terbentur secara fatal.  Pada rolling yang pertama, lembaran langit-langit mobil itu lepas dan terletak di jalan dalam keadaan menghadap ke atas.  Alhamdulillah, dengan kehendakNya saya terduduk di dalamnya bersama tas pakaian saya tanpa cedera apapun kecuali ada sedikit memar di dagu yang saya tidak tahu kejadiannya.

Bagaimana dengan kawan-kawan perjalanan saya?  Dua kawan yang di belakang merasakan bagaikan diguncang dalam suatu kotak bersama beberapa tas pakaian dan alat ukur itu.  Namun Alhamdulillah tidak mengalami cedera apa pun kecuali memar-memar kecil.  Rekan yang duduk di sebelah saya mengalami memar-memar karena benturan ketika mobil itu rolling dan di belakang daun telinga kirinya luka cukup besar sehingga mengucurkan darah ke bajunya.  Sang supir juga memar-memar dan dadanya terasa sangat sakit karena terbentur ke stir.

Dengan keadaan yang paling fit, saya berusaha membantu kawan-kawan saya dan mencari bantuan.  Kejadian itu di daerah yang masih hutan dan sepi; ketika itu belum ada handphone sehingga dalam waktu lama baru kami akhirnya sampai ke camp PT CPI di Bangko untuk mendapat perawatan dan istirahat.  Dengan kondisi yang masih normal, saya tetap puasa.

Berita kecelakaan itu rupanya sudah dulu sampai ke pihak-pihak berkenaan dan keluarga sehingga keluarga masing-masing merasa kawatir.  Melalui telepon di camp kami bisa member kabar bahwa kami dalam keadaan selamat dan mendapat rawatan di Camp Bangko.   Hikmah lainnya adalah kami juga jadi tahu bahwa bos saya meninggal dunia kemarennya dan akan dikebumikan hari itu.  Sayang sekali kami tidak dapat mengejar acara pemakaman beliau.

Atas kecelakaan ini, belakangan saya dapat mengetahui bahwa sang supir rupanya baru pertama kali ke daerah tersebut dan belum biasa menempuh jalan minyak.  Jadi dia yang memang tidak beribadah puasa dengan ringan saja berbohong pada kami maupun pada bosnya yang menugaskan.  Dua kawan yang duduk di belakang juga mendapat hikmah dari puasa mereka; meskipun bagaikan diguncang dalam kaleng, Alhamdulillah hanya memar-memar kecil saja.  Jadi hanya rekan yang di sebelah saya yang sudah terlanjur membatalkan puasanya demi rokok itu dan sang supir saja yang relatif menderita pada kecelakaan itu.

Juga  ada kelemahan kami; ban mobil itu ternyata dengan corak atau kembang yang tidak sesuai untuk jalan minyak dalam keadaan basah.  Sebagai pengguna mestinya kami tidak boleh percaya begitu saja pada sang supir tapi harus lebih teliti melakukan cross check terhadap kemampuan dan pengalaman si supir.  Demikian pula keadaan mobil seperti rem, ban, bahan bakar, kemampuan mesinnya, lampu dan lain-lain.

Kesalahan kolektif itu lah yang telah menimbulkan akibat yang diterima pula secara bersama.  Namun, alhamdulillah tidak ada korban fatal dalam kecelakaan yang cukup meremukkan mobil hardtop itu.  Naudzubillah, semoga jangan terjadi lagi kelalaian yang mengakibatkan kecelakaan seperti ini pada siapa pun.

Pengalaman kecelakaan mobil pernah saya alami tiga kali; pertama ketika mengemudikan dan yang dua kalinya ketika menjadi penumpang.   Alhamdulillah, dengan kuasa Allah saya terhindar dari cedera yang berarti dalam kedua kejadian itu.

Ketika masih bekerja di sebuah kontraktor di Jakarta tahun 1984, saya bersama beberapa young engineers difasilitasi kendaraan operasional “kijang kotak” station yang multifungsi, sebagai “mobil dinas”, angkutan staf/pekerja, ataupun beli material yang kecil-kecil.  Karena jumlah supir terbatas, saya yang sering jadi pengemudi ketika pergi bersama rekan-rekan kerja lainnya.  Maklum, saya baru masuk di kantor itu.

Sebagai fresh graduate dan sesuai dengan usia, masih banyak kebanggan diri; mengemudikan kendaraan juga masih senang menginjak pedal gas dari pada rem.  Di jalan tol Jagorawi, kijang kotak itu bisa lari sampai 120 km/jam, apalagi kalau para staf yang menumpang di belakang makin memberi semangat.  Biasanya, rekan saya yang duduk di sebelah yang mulai bergumam namun tidak jelas karena desis angin dan suara kendaraan lain dari jalur berlawanan yang masuk dari jendela yang terbuka sebagian.  Pokoknya lebih seru dari mikrolet…!

Suatu kali sekitar jam 15.00, kami lewat di sebuah jalan kecil di daerah belakang Taman Mini dalam keadaan hujan kecil.  Jalan dua arah itu sempit dengan bahu jalan yang rendah karena tergerus air dan aspal dalam keadaan basah.  Sebagai jalan tembus, jalan itu ramai, termasuk sepeda motor dan juga menjadi rute Metro Mini.

Pada suatu segmen yang lurus, kami berpapasan dengan sebuah Metro Mini yang seperti biasa sedang “kejar setoran”.  Sebenarnya pada bagian yang lurus jalan itu sangat pas untuk berpapasan jika masing-masing kendaraan berada pada posisi yang tepat.  Akan tetapi si mikrobis oranye tidak peduli yang membuat saya harus mengalah lebih ke pinggir sehingga ban mobil kami jatuh ke bahu yang rendah itu.  Karena juga dalam kecepatan sekitar 60 km/jam, tepat sesaat habis berpapasan, “mikrolet” kami melintir ke arah belakang kembali dan menabrak pohon di seberang jalan.  Anehnya mobil tidak terguling; hanya remuk pas di tengah-tengah bagian depan yang merusakkan radiatornya.  It costed me about a month of my wage. Alhamdulillah, kami tidak cedera sedikit pun dan biaya itu akhirnya ditanggung oleh perusahaan karena kami memang sedang pergi tugas.  Bagaimana pun, timbul juga rasa sesal; karena menegakkan ego, keselamatan dipertaruhkan.  Sejak saat itu, saya lebih memilih mengalah ketika mengemudi karena nampaknya jalan-jalan kita (makin) banyak dipenuhi oleh orang-orang nekad.

Moral cerita: Kebanggan diri (ego) ketika muda dan penuh keberhasilan kadang bisa membuat kita lupa pada keberadaan dan kepentingan pihak atau orang lain, bahkan pada keselamatan diri dan orang banyak.  Sayangnya kesadaran itu sering datang terlambat, ketika kecelakaan itu sudah terlanjur menimbulkan kerugian jiwa, tubuh, atau harta benda.  Bagi kita yang masih dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, ketika mengemudi, mari lebih mengutamakan keselamatan dari pada ego, apalagi jika sedang bersama orang-orang yang kita sayangi.  Tapi bagaimanakah memberikan pengertian ini pada mereka yang masih “menggelegak” tanpa harus ada korban lagi?

Older Posts »