AKHLAK berasal dari Bahasa Arab khuluq yang artinya perangai; bentuk jamaknya akhlaq yang sebenarnya berkonotasi kelakuan buruk. Kelakuan yang baik lazim disebut akhlaqul karimah atau akhlaqul mahmudah dengan lawannya kelakuan buruk sebagai akhlaqul madzmudah. Namun walau tidak tepat pemakaiannya dalam bahasa kita, kata ini sangat esensial bagi manusia.
Dengan pemahaman sebagai perangai baik, akhlak merupakan manifestasi ultimate dari syariat dalam kehidupan kita. Orang bisa mengaku beriman, berilmu, dan banyak beramal-ibadah namun tidak dapat dikatakan sempurna bila belum berakhlak mulia (akhlaqul karimah). Bahkan Nabi SAW sendiri dipuji dan dikagumi bukan karena banyak beribadah sampai kakinya bengkak akibat lama berdiri waktu shalat tahajjud tapi karena keutamaan akhlaknya; ketika masih berumur 13 tahun sudah digelari al-amin yang bermakna dapat menjaga hak orang.
Secara asasi berdasarkan instink, manusia sudah memiliki akhlak yang baik walaupun relatif atau nisbi. Suku-suku terisolir yang tidak mengenal ajaran agama langit pun tahu bahwa mencuri itu tidak baik menurut akhlak di lingkungan mereka. Sejak dulu kita juga diajarkan untuk tidak memberikan atau menerima sesuatu dengan tangan kiri tapi ini biasa bagi orang barat. Bagi mereka membuang ingus ketika makan biasa saja tapi akan jadi masalah kalau batuk atau bersin yang semuanya bernilai terbalik bagi kita.
Jadi, akhlak yang nisbi yang sebelumnya sudah ada atau yang sudah melenceng, disempurnakan oleh Nabi SAW berdasarkan ajaran Ilahiah. Syari’at mengajarkan secara mutlak dan universal nilai-nilai akhlak manusia yang berlaku dalam segala hal dan keadaan. Akhlak yang mulia juga tanpa syarat kepentingan atau atas dasar keuntungan.
Banyak contoh yang dapat dikemukakan. Akhlak makan dan minum dengan tangan kanan dan tidak sambil berdiri adalah agar tidak meniru cara-cara syetan sehingga perlu modifikasi dalam penggunaan garpu dan standing party, kecuali kalau mau berperilaku seperti syetan. Seseorang yang menemukan uang yang bukan miliknya tetap tidak boleh menggunakannya meskipun sedang lapar; perilaku seperti Robin Hood yang merampok untuk membantu orang juga bukan akhlak terpuji. Karena itu prinsip politik praktis “Tidak ada kawan yang abadi, yang ada hanya kepentingan yang abadi” sebenarnya sangat tercela tapi malah dibanggakan. Mungkin ada pula orang ketika kuat berlaku zalim lalu saat tidak bisa bertahan lagi, untuk pencitraan publik segera berbalik seakan-akan tak pernah terjadi apa-apa. Namun, bagaikan berperilaku syetan, ia tetap tidak sadar apalagi meminta maaf.
Manusia harusnya bukan berperilaku “Jatuh di mata dipicingkan, jatuh diperut dikempiskan” tapi berakhlak terpuji tiap saat berdasarkan nilai-nilai Ilahiah yang mutlak dan universal. Marwah dan kemuliaan manusia ditunjukkan oleh akhlaknya, kecuali jika ingin dikenang sebagai syetan.
(Sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 18 Januari 2012 halaman 4, juga dimuat di Note Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)