BOBOT yang banyak digunakan dalam kultur Jawa artinya besaran dari sesuatu nilai yang melekat pada orang atau benda. Besi lebih besar bobotnya dari pada kayu karena dengan bentuk dan ukuran yang sama, besi lebih berat. Orang dikatakan berbobot bila ia mempunyai ilmu pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang lebih baik dari orang awam.
Kata ini bisa pula digunakan untuk yang maya berupa capaian ilmu hasil penelitian, kemapuan, atau prestasi. Ceramah yang disampaikan dengan sistematis, jelas, informatif, padat dengan argumentasi dan kesimpulan baru dikatakan sebagai berbobot atau berkualitas , berikut juga penyampainya. Capaian seseorang bisa dikatakan berbobot jika tidak hanya sekedar hal yang “remeh-temeh” tetapi bisa berpengaruh besar pada orang lain atau lingkungannya yang memang relative sulit mengukurnya.
Pada akhir tahun atau awal tahun baru seperti sekarang ini, bobot menjadi penting ketika orang mengevaluasi capaian kerja (kinerja) pribadi atau kolektif kelembagaan. Yang paling banyak dihitung-hitung adalah bobot dari suatu pekerjaan atau beban tugas yang tenggat waktunya berakhir sama dengan tahun kalender. Capaian bobot dalam persen ini lazim untuk mengukur kinerja dibandingkan dengan rencana atau beban yang diberikan.
Dalam suatu kegiatan yang berkaitan dengan pembiayaan, bobot dihitung secara tertimbang yang biasanya sejalan tapi tidak sama dengan nilai biayanya. Suatu kegiatan yang terdiri dari lima komponen A sampai E dengan nilai masing-masing misalnya, capaiannya dihitung berdasarkan nilai tertimbang komponennya. Misalnya nilai suatu kegiatan Rp 1.000,- dengan nilai komponen A Rp 100,- (berarti tertimbang 10% terhadap keseluruhan) dan jika dapat diselesaikan semua maka progres atau kinerja komponen A 100%. Lalu andaikan nilai komponen B Rp 200,- (tertimbang 20 persen, misal selesai 90%), C Rp400,- (terimbang 40%, selesai 90%), D Rp 250,- (tertimbang 25%, selesai 80%), dan E Rp50,- (tertimbang 5% selesai 100%), maka bobot capaian kegiatan bukan jumlah tiap-tiap capaian dibagi lima yaitu (100+90+90+80+100)%/5= 92%. Bobot yang benar adalah jumlah dari nilai tertimbang dikali progres masing-masing komponen yaitu (10×100+20×90 +40×90+25×80+5×100)%=89%, yang nilainya lebih rendah tapi benar.
Hitungan ini sebenarnya mudah tapi kadang orang kurang peduli atau salah yang tak diketahui apa karena sengaja untuk menampilkan kinerja yang lebih tinggi. Seorang professional yang mengusung prinsip amanah, tepat, dan jujur tentu menghitung kinerjanya dengan cara tertimbang atau bobot karena padanya terbawa bobot pribadinya. Ia lebih menghargai hasil evaluasi yang tidak manipulatif guna masukan pada kebijakan selanjutnya, selain untuk menghindarkan pembohongan publik jika menyangkut kepentingan umum. Semoga kita termasuk orang-orang yang jujur pada diri sendiri dan orang banyak.
(Sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 11 Januari 2012 halaman 4, juga dimuat di blog http://riau2020.wordpress.com)