CUCI TANGAN secara fisik baik-baik saja karena membersihkan tangan dari kotoran, terlepas dari penyebabnya. Sejak kecil kita sudah diajarkan untuk mencuci tangan sebelum makan dan tidur yang dalam manifestasi Ilahiah berupa wudhu. Namun bila seseorang mencuci tangan berulang-ulang tanpa penyebab yang pantas maka bisa jadi bersifat psikis,
Ada orang yang mencuci tangannya tiap beberapa waktu, apalagi jika sudah bersalaman atau bersentuhan dengan benda-benda yang bukan dalam kendali dia. Baginya washtafel di kantor atau di rumah mutlak harus bersih dan lengkap. Orang ini memang dari keluarga yang sangat pembersih dan bahkan ketika kecil dia digendong ke sekolah jika jalan becek.
Seorang dokter juga mengisahkan seorang temannya yang sering mencuci tangan karena masalah psikis. Dulu, ketika kuliah kerja nyata di sebuah desa yang banyak binatang haram, temannya itu tiap sebentar mencuci tangan karena dalam persaannya tangannya tercemar. Sang dokter terpaksa jadi personal assistant untuk memberitahu mana yang bersih dan yang kotor serta menjelaskan bahwa terlalu sering mencuci tangan, apalagi dengan sabun, bisa menyebabkan iritasi kulit yang mengundang penyakit lain.
Yang tak kalah penting adalah cuci tangan dalam arti kiasan. Ini ditamsilkan pada orang yang sudah melakukan keburukan atau tidak memenuhi kewajiban lalu ngeles bahwa dia tidak melakukannya. Entah bagaimana asbabunnuzul perumpamaan ini, orang itu dikatakan sebagai tidak bertanggung-jawab atau lebih buruk lagi sebagai pengkhianat bila menimpakan kesalahan itu pada temannya berbuat. Sebagai contoh, seorang pencuri ternak yang lalu membantainya tentu tangannya akan berlumuran darah yang kemudian ia cuci untuk menghilangkan jejak. Bisa pula sejak awal ia sudah mengatur agar tidak ada bukti di keliling dirinya meskipun ia menikmati hasil yang paling banyak.
Apapun, cuci tangan dalam arti kiasan berkonotasi negarif. Mungkin saja ada rekan kerja yang melakukan sesuatu kecurangan dengan alibi yang lihai. Bisa juga pihak superordinate tidak hanya sekedar mengambil muka pada atasan tapi mengelak dari suatu kesalahan yang juga tanggungjawabnya dan menjatuhkannya pada underordinate. Bukan tak mungkin pula orang menyuruh kita melakukan sesuatu keburukan tanpa sadar bahwa ekses dan implikasinya akan jatuh hanya ke kita. Ketika itu berkaitan dengan hukum, meski yang menyuruh mendapat bagian terbesar (lion’s share), hanya tinggal si bodoh yang bersembunyi di balik sehelai daun lalang.
Jadi, untuk menghindari seringnya cuci tangan secara fisik dan dalam arti kiasan, pagari lah diri dengan kebersihan hati, diri, badan, keluarga, dan lingkungan. Banyak cara yang dapat ditempuh tapi wudhu adalah salah satu cara yang jitu. Orang yang menjaga wudhunya, Insya Allah akan terhindar dari keburukan dan sifat jahat karena akan bersama kawan-kawan yang juga bersih lahir batin serta senantiasa ingat Allah Swt.
(Sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 4 Januari 2012 halaman 4, juga dimuat di blog http://riau2020.wordpress.com)