Thaghut mungkin kata yang jarang kita dengar atau pakai meskipun maknanya banyak di sekitar kita. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Ustaz Bachtiar Nasir dalam kolom konsultasi agama di sebuah media nasional, kata yang berasal dari Bahasa Arab thughyan ini berarti melampaui batas. Secara terminologi thaghut bermakna sesuatu yang disembah selain Allah Swt. dan setiap pemimpin kesesatan adalah thaghut.
Ada beberapa lagi penjelasan makna kata ini. Menurut Ibnu Jarir al-Thabari, thaghut adalah sesuatu yang melampaui Allah sehingga ia disembah di sampingNya. Bisa karena paksaan ataupun ketaatan,thaghut dapat berupa manusia, setan, patung, atau lainnya. Ibnu Taimiyyah mendefenisikannya sebagai sesuatu yang disembah selain Allah dan yang disembah itu menerima dan tidak menolaknya. Menurut Ibnu al-Qayyum, thaghut adalah apa saja yang diperlakukan hamba secara melampaui batas; disembah, diibadahi, diikuti, atau ditaati.
Dari penjelasan itu dapat kita fahami bahwa segala sesuatu selain Allah yang disembah, diibadahi, atau ditaati secara melampaui batas dan ia menerima atau bahkan menuntut perlakuan itu maka ia adalah thaghut yang sudah jelas suatu kesesatannya sebagaimana kelakuan Fir’aun dulu. Sesembahan atau yang biasa disebut tuhan itu adalah sesuatu yang melebihi pengaruh lainnya atau mendominasi atas diri si penyembahnya. Sebagai makhluk, kedua pihak sembah-menyembah ini sesat karena telah mengambil hak dan sifat Sang Khaliq sebagai satu-satunya zat yang boleh disembah.
Banyak yang menyebutkan bahwa thaghut ini dapat kita jumpai antara lain dalam bentuk syetan (dari bangsa jin atau manusia), penguasa yang zalim, orang yang memutuskan sesuatu dengan selain apa yang telah Allah turunkan, orang yang mengaku mengetahui hal yang ghaib selain Allah, dan orang yang diibadati selain Allah dan dia ridha dengan peribadatan itu. Yang dianggap lebih berbahaya adalah manusia yang mempunyai kuasa untuk membuat dan menjalankan undang-undang atau aturan yang memangkas ketentuan-ketentuan Ilahiah dengan penuh kamuflase dan biasanya lengkap dengan para pendukung yang yang mengalu-alukannya.
Dalam kehidupan duniawi hari ini, memang cukup sulit untuk mengidentifikasi dan mengelakkan keterlibatan kita dengan thoghut modern. Sebuah contoh sederhana, ketika rapat dengan seorang bos yang galak, kita sering tidak berani menyatakan kebenaran jika dijangka akan berbeda pendapat dengan sang bos. Bahkan ketika sampai waktu istirahat untuk makan atau shalat, kita tidak berani untuk meninggalkan rapat.
Lemahnya diri kita untuk membedakan antara pengabdian pada Sang Pencipta dengan kepatuhan pada thaghut menuntut kewaspadaan agar tidak mematuhi atau mendukungnya sehingga ikut masuk ke golongan orang yang sesat. Semoga kita senantiasa berada di jalan yang lurus.
(Sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 21 Desember 2011 halaman 4, juga dimuat di blog http://riau2020.wordpress.com)