Toleransi dikaitkan dengan kemampuan sesuatu untuk dapat menerima kelebihan atau kekurangan dari suatu keadaan ideal atau yang diharapkan, tanpa merubah atau mengganti karakteristik aslinya. Toleransi menjadi suatu topik penting mengingat tidaklah mudah dan sederhana untuk mendapatkan suatu keadaan ideal dan suatu lingkungan yang memberikan masukan yang senantiasa beragam. Perihal yang sekarang banyak digunakan untuk lingkup sosial budaya ini, semula banyak digunakan dalam science dan teknologi.
Sebagai contoh, tegangan listrik 220 volt dipakai sebagai patokan bagi satu pabrik peralatan rumah tangga. Akan tetapi karena berbagai sebab, sering terjadi tegangan itu naik atau turun yang untuk contoh ini misalnya anggaplah sekitar 10 volt, sehingga pabrik itu memberikan kemampuan pada peralatan produksinya untuk menerima fluktuasi voltase sebesar 10 volt itu tanpa mengganggu fungsi atau merusak alat tersebut. Kemampuan peralatan untuk menahan perbedaan tegangan listrik itu disebut sebagai toleransi peralatan terhadap tegangan listrik.
Pemahaman yang sama dapat diberlakukan pula dalam lingkungan sosial-budaya dan interaksi manusia, meskipun kelihatan ada sedikit perbedaan persepsi dalam implementasinya. Wikipedia menyebutkan bahwa toleransi yang juga istilah dalam konteks agama, partai politik, dan orientasi seksual, adalah “sikap dan perbuatan yang melarang adanya diskriminasi terhadap kelompok-kelompok yang berbeda atau tidak dapat diterima oleh mayoritas dalam masyarakat.” Sebagai contoh diberikan toleransi beragama yaitu penganut mayoritas dalam suatu masyarakat mengizinkan keberadaan agama-agama lainnya.
Entah siapa yang berkontribusi pada pengertian Wikipedia itu, pemahaman demikian terasa ada pembelokan dan mendikotomikan anatara kelompok mayoritas dan minoritas. Sebenarnya toleransi yang sampai pada sikap atau perbuatan yang diskriminatif terhadap kelompok yang berbeda adalah pengertian yang sangat didramatisir yang jika ada dalam prakteknya perlu pembuktian yang objektif. Pengertian Wikipedia itu juga mempertentangkan antara kelompok mayoritas dengan minoritas, dengan konotasi bahwa ada perilaku pihak mayoritas yang merugikan keberadaan kelompok minoritas yang tentunya harus dilihat case by case.
Di Indonesia sangat menonjol masalah toleransi beragama yang sering disalahartikan. Kelompok Islam sebagai mayoritas tentu mengakui keberadaan kepercayaan lain karena Nabi Muhammad SAW memberikan banyak contoh berinteraksi dengan, sangat toleran pada ajaran, dan bahkan melindungi ummat lain. Akan tetapi memang ada demarkasi berupa akidah yang ketat dan toleransi tidak boleh merubah atau merusak kepercayaan asasi. Itu lah sebabnya dulu ketika diminta untuk membolehkan merayakan natal atas nama toleransi, Buya Hamka memilih mundur dari Ketua MUI; bukan karena tidak toleran atau tidak mengakui eksistensi ummat lain tapi alasan akidah. Mudah-mudahan kita bisa saling mengerti dan tetap rukun dalam NKRI.
(Sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 28 Desember 2011 halaman 4, juga dimuat di blog http://riau2020.wordpress.com)