Feeds:
Posts
Comments
Perjalanan dengan perahu motor selama 5 jam (sumber foto: UAS, Bismar, Feizal)

 

Setelah sekitar lima jam mengharungi Batang Gansal ke hulu menggunakan perahu motor, termasuk singgah di “rest area”, kami sampai di Dusun Air Bomban sebagai tujuan pertama.  Di dusun ini ada 23 unit rumah dengan penduduk yang umumnya hidup dari hasil hutan dan kebun karet atau berladang di sekitar sungai.

Perahu merapat di tepian rakit bambu yang sekaligus sebagai jamban.  Para peserta rihlah mengangkat barang bawaannya masing-masing mendaki tebing sungai menuju ke sebuah sebuah masjid sederhana dan tua.  Setelah sholat, waktu bebas bagi para peserta digunakan untuk berbagai kegiatan.  Para “panitia” langsung sibuk melakukan persiapan-persiapan yang perlu untuk malam dan keesokan harinya.  Para peserta ada yang longok sana sini, ada yang duduk-duduk dan bercengkrama dengan warga dusun, ada yang langsung mandi ke sungai, atau langsung menggeletak dalam masjid.

Masjid ini jadi “markas” sekali gus penginapan peserta rihlah, sebagaimana kesepakatan “advance team” dengan masyarakat, khususnya Pak Yahya sebagai imam masjid dan guru agama di dusun itu.  Karena masjid yang baru sedang dikerjakan maka peserta berbagi tempat dengan bahan bangunan di dalam masjid itu.  Namun keadaan yang ada nampaknya tidak mengurangi nikmat istirahat dan tidur yang diberikan Allah Swt.

Sementara itu, Ustadz Abdul Somad (UAS) termasuk yang paling dulu siap untuk menyambut maghrib tanpa kelihatan lelah.  Menyimak apa yang beliau lakukan dalam perjalanan, memang ada kiat yang beliau amalkan.  Pertama, nampaknya UAS makan sedikit sehingga gerakannya ringan (sementara kita, mungkin sedikit-sedikit makan).  Kedua, pembawaan beliau simpel dan mudah memahami berbagai keadaan yang dihadapi sehingga tidak menyulitkan diri menghadapi keadaan yang sulit.  Ketiga, beliau mengatur waktunya sangat efektif ketika di kendaraan, baik mobil maupun perahu motor.

Bagaikan punya kenop, ketika kendaraan sudah jalan maka beliau langsung memejamkan matanya dan kembali terbangun ketika sampai.  Hanya sesekali beliau bangun untuk mencermati keadaan lingkungan atau makan sesuatu.  Dalam perjalanan ke Air Bomban ini, tak dinyana UAS jadi “pramugara” dadakan dalam perahu yang kami tumpangi; beliau dua kali mengedarkan makanan yang beliau bawa.

Selepas sholat jamak dan makan malam bersama yang nikmat di rumah Pak Yahya, tim  menayangkan tontonan untuk masyarakat menggunakan laptop, proyektor, dan sound system warga dekat masjid.  Sudah disiapkan beberapa bahan tayangan yang dinilai baik dan bagus untuk saudara-saudara kita di Air Bomban namun sayang sekali ada gangguan teknis berupa tidak sinkronnya peralatan yang dipakai.  Sementara warga dusun dengan antusias menikmati tontonan, sebagian besar peserta sudah rebahan dalam masjid dengan penerangan listrik seadanya sambungan dari genset penduduk.  Lalu menjelang subuh dilanjutkan dengan sebuah lampu emergensi sampai subuh.

Ketika subuh para peserta dengan senter masing-masing turun ke tepian untuk bersuci sambil menyenter kesana kemari.  Sholat subuh berjama’ah di masjid terasa lebih khusyuk di tengah ketenangan alam kawasan hutan perawan itu dan kebersamaan antarpeserta dan juga dengan beberapa penduduk yang ikut berjama’ah.  Seesai sholat, sekali lagi jama’ah beruntung bisa mendengarkan tausiah singkat UAS di keheningan subuh itu.  Semoga dengan pelaksanaan sholat subuh berjamaah dan majelis ilmu yang menyenangkan pada subuh itu, Allah memperkuat iman para peserta dan saudara-saudara kita di Air Bomban serta mendatangkan hidayah pada mereka yang masih belum mengambil “langkah baru”.

Rihlah da’wah ke Suku Talang Mamak ini memang harus dimulai dengan niat yang lurus, lalu dilengkapi dengan kemauan, komitmen, daya juang, dan ketegaran yang lebih dibanding jika “berjuang” di kota.  Selain harus mengurus hampir semua keperluan diri sendiri, peserta juga harus bisa membawakan diri agar “nyambung” dengan masyarakat setempat.  Kebiasaan dan perilaku mestilah disesuaikan juga sehingga bukan kita yang jadi orang aneh di tengah kampung.  Alhamdulillah, semua itu sebenarnya tidak sulit karena adat dan tradisi Suku Talang Mamak sangat dekat dengan orang Melayu yang sudah kita kenal.  Ketegaran diri juga In sya Allah dapat kita jaga bila melihat bagaimana anak-anak disana bisa survive dalam keseharian mereka.

Tekad dan komitmen ini diuji ketika pagi harinya kami ikut berjalan kaki bersama anak-anak SD ke sekolah mereka di Dusun Sadan.  Perjalanan menempuh jalan setapak dalam kebun karet atau hutan-belukar dengan naik turun bukit tiga kali.  Kami juga harus mengharungi sungai satu kali untuk menyeberang dan sepanjang jalan terbuka kemungkinan kaki masing-masing ditempeli pacat.  Anak-anak itu senang-senang saja, apalagi ditemani oleh banyak orang dan UAS yang mereka sudah akrab, padahal yang menemani umumnya sudah ngos-ngosan berjalan naik turun sekitar 40 menit itu.

 

Mungkin keramahtamahan dan kebersamaan sejak awal itulah yang telah meruntuhkan tembok psikologis antara peserta rihlah dengan masyarakat Talang Mamak, khususnya anak-anak.  Mereka tidak canggung untuk duduk berdempet-dempet dan bergelayut ketika berjalan dengan para mahasiswa UIN penggiat da’wah dan dengan UAS.  Muka-muka yang lugu, cahaya mata yang jernih, dan senyuman yang cerah sangat mudah didapatkan pada masing-masing masyarakat dan anak-anak tempatan.

Ketersambungan ini dan akhlak yang baik nampaknya sudah jadi pintu masuk para penda’wah terdahulu.  Kita rasanya juga bagaikan sedang pulang ke kampung sendiri sehingga ketika melihat berbagai hal dan masalah yang harus diperbaiki maka secara sendirinya akan muncul hasrat untuk berbuat apa yang mungkin kita lakukan.  Mudah-mudahan kepekaan melalui rihlah ini sebagai recharging iman dalam hati, sebagaimana kata UAS, dan dengan segala nikmat yang telah didapat dalam kehidupan bisa mendorong diri untuk menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain.

Advertisements
Kiri: Ustadz Abdul Somad (UAS) bersama Pak Taktung (baju kuning), Reza (baju merah kanan), dan seorang warga di Masjid Desa Rantau Langsat. Kanan: Reza dan para peserta rihlah (termasuk UAS) tidur dengan keadaan seadanya dalam rumah warga di Dusun Bengayawan (foto: Hanif Muis)

 

Kita tahu bahwa banyak sekali jama’ah masjid-masjid di daerah perkotaan yang  menunggu kehadiran Ustadz Abdul Somad (UAS).  Jadwal beliau sampai Juni 2018 sudah penuh sehingga sering beliau minta maaf kepada yang meminta untuk beri tausiah.  Karena itu, mungkin kita akan bertanya: “Kenapa beliau mau blusukan ke daerah Suku Talang Mamak?” atau “Bagaimana ceritanya itu sampai terjadi?”

Pertanyaan yang pertama sudah dijawab pada tulisan yang pertama, “RihlahTalang Mamak (1):  Da’wah Untuk Menyimak”. Yang jelas ini bukan perjalanan piknik untuk menikmati kursi pesawat business class, limousine, kapal pesiar, atau kamar hotel bintang lima.  Tidak pula singgah ke restoran mewah, bahkan sinyal HP pun tak ada.

Kiri: Kadang harus turun dari perahu dan mendorong (foto: Asep). Kanan: perahu bisa juga bocor karena menabrak batu atau kayu (foto: Hanif Muis)

 

Sedangkan untuk menjawab pertanyaan kedua kita mesti menelusuri kisahnya ke belakang dan kepada mereka-mereka pelaku kejadiannya.   Tentu ada banyak orang yang dulu berkaitan dengan kisah UAS sampai ke Talang Mamak ini, namun bisa kita pilih orang yang mungkin banyak berperan yang masih bisa kita jumpai dan ikut dalam aktivitas yang sama sampai sekarang.  Alhamdulillah kita dapat menggali sedikit cerita dari karib kita Reza Fahlevi, seorang muda penggiat da’wah yang tunak dari Yayasan Muara.

Yayasan ini baru berdiri 9 September 2016 namun kegiatan yang sekarang diwadahinya sudah dimulai oleh Reza dan kawan-kawan sejak beberapa tahun sebelumnya.  Berawal ketika sebagai Ketua OSIS tahun 2011 di Tembilahan, Reza mula mengenal Suku Talang Mamak saat ikut kegiatan rihlah ilmiah ke air terjun granit di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) dalam Kabupaten Inderagiri Hilir.  Kepadanya diceritakan tentang keangkeran daerah itu, banyaknya harimau, dan adanya Orang Talang yang hidup di kawasan hutan.  Reza malah jadi tertarik untuk berjumpa dengan Orang Talang dan ingin sekali bisa berbaur dan mengikuti kegiatan sehari-hari suku pedalaman itu, serta banyak lagi yang ingin dilakukannya bersama mereka.

Ketika sudah Smester 3 di Uversitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim, Reza bersama teman-temannya ikut program UIN Suska Mengajar yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa UIN.  Ketika kegiatan itu tidak diteruskan lagi sehingga Reza menjadikan kegiatan ini sebagai satu komunitas dengan basis di Desa Rantau Langsat.  Karena banyak dan kompleksnya masalah yang ditemukan di desa itu, Reza kurang puas jika kegiatan itu berlangsung hanya tiga pekan dalam setahun.

Subhanallah, pada Smester 5 Reza minta ridho kepada orangtuanya untuk berhenti kuliah.  Ini pasti satu ujian berat bagi orangtua Reza serta jadi keheranan bagi para dosen dan sahabat-sahabatnya.  Dengan alasan kuliah nanti bisa dilanjutkan atau diulang, Reza melihat dirinya bisa berbuat lebih banyak hal yang bermanfaat bagi saudara-saudara kita Suku Talang Mamak.  Langkah drastis ini ternyata jadi awal dari tapak yang kokoh bagi da’wah ke Suku Talang Mamak selanjutnya.

Mulailah Reza terjun langsung ke dalam masyarakat Talang Mamak dengan mitra kerja diantaranya Pak Taktung, seorang tokoh dan pendidik dalam masyarakat Talang Mamak. “Proyek” pertama adalah pembangunan sekolah secara bergotong royong bersama masyarakat di Dusun Bengayawan, tempat kami menginap pada malam terakhir waktu rihlah kemarin.  Bersama Pak Taktung ia keluar masuk dusun dan singgah dari rumah ke rumah untuk berkomunikasi dan menggalang kebersamaan.  Pada kesempatan itu Reza juga berusaha memahami berbagai masalah yang ada dan mendalami aspek sosial budaya Suku Talang Mamak sampai akhirnya berkesimpulan bahwa salah satu faktor kunci adalah pendidikan berupa pesantren untuk membina masyarakat.

Hal ini mendorong Reza berinteraksi secara intensif dengan kalangan alumni pesantren, dengan kampus, dan nyambung komunikasi kembali secara informal dengan para dosen/guru.  Diantara dosen/guru yang memberi Reza pemahaman dan dorongan dalam kegiatannya adalah Ustadz Saleh Nur, Dr Iskandar Arnel, Dr Saidul Amin, dan Pak Elviriadi.    Ia tak segan untuk belajar dengan mereka, baik di kelas, mushollah, bahkan tak jarang tidur di rumah mereka.  Ia juga pernah tinggal di asrama mahasiswa bersama temannya Muhmud Hibatul Wafi dan Muhammad Bagus untuk mengetahui kehidupan dan pelaksanaan kuliah para alumni pesantren.  Ia juga menyempatkan ikut pengajian di asrama itu.

Ketika suatu kali UAS mengisi pengajian tentang Budaya Menulis, Reza langsung mengadakan pendekatan dan menyampaikan bahwa dia ingin membuat perpustakaan di daerah-daerah pedalaman, khususnya daerah Suku Talang Mamak.  UAS langsung merespons dengan meminta Reza mengambil buku-buku tulisannya di Toko Buku Tafaqquh.  Reza juga sempat mengikuti kelas internasional UAS di UIN tentang Tafsir Hadits dengan bahasa pengantar Inggeris dan Arab.  Meski jarang jumpa lagi dengan UAS, ia dan teman-temannya terus belajar, diskusi, merancang program, membangun jaringan, dan merangkul mitra, serta menjalankan berbagai kegiatan.

Suatu kali temannya Wafi membawa pesan bahwa UAS ingin jumpa yang akhirnya terlaksana sambil ngopi di kantin kampus (UAS ketika itu minum susu).  UAS ingin melakukan rihlah da’wah ke Talang Mamak dan minta buatkan jadwal yang akan dipaparkan dulu ke jama’ah pada kajian UAS pada hari Sabtu subuh di Masjid Raya An-Nur, Provinsi Riau.  Ketika itulah Reza baru tahu bahwa kajian itu dihadiri oleh banyak sekali jama’ah dan kendaraan yang terparkir demikian banyak.  Reza dan kawan-kawannya galau: minder, deg-degan, dan merasa “terjebak”.  Mereka tak dapat lagi menghindar dari keterlibatan para pihak secara lebih luas.  Alhamdulillah rihlah da’wah yang pertama itu dapat terlaksana dengan baik dan lancar bersama peserta dari jama’ah dan penggiat da’wah, diantaranya Ir Mahmud Arifien yang sangat giat.

Kiri: Para penggiat da’wah berjumpa di Pekanbaru (foto: Ir Mahmud Arifien). Kanan: Pekerjaan Pembangunan Masjid di Dusun Air Bomban yang sudah ditangani oleh Lazis PLN dan infaq lainnya. Masih banyak keprluan lain yang menunggu (foto: Riki Bagus).

 

Sepulangnya dari rihlah, UAS membawa oleh-oleh cerita menarik dan dokumentasi foto yang disampaikan di depan jama’ah kajian Sabtu subuh sehingga menimbulkan minat lebih luas.  Dukungan dan perhatian terus mengalir dan untuk mewadahi kegiatan da’wah ini maka bermuara ke berdirinya Yayasan Muara.  Alhamdulillah, ukhuwwah telah terjalin dan dengan dukungan berbagai pihak upaya membantu agama Allah ini telah berbuah; saat ini sedang dibangun satu masjid di Dusun Air Bomban (didukung oleh Lazis PLN), pondok Tahfizh dan Tahsin Quran di Dusun Lemang (didukung oleh Dewan Dawah), dan beberapa orang anak sedang belajar Tahfizh di Pekanbaru dan Jawa.  Ada pula yang sudah diterima belajar di Akademi Perawat RS PMC Pekanbaru.

Masih banyak lagi yang mesti kita lakukan secara bersama.  Semuanya In sya Allah bisa kita upayakan dengan kebersamaan, asalkan kita bisa menjaga niat yang tetap ikhlas, integritas, akuntabilitas, dan mengharap ridho Allah semata.  Semoga Allah memberikan kesehatan dan rasa istiqomah pada para penggiat da’wah ke Suku Talang Mamak dan dimudahkan segala urusan guna tegaknya kalimah Allah dalam hati saudara-saudara kita tersebut.

Pagi-pagi hari kedua dimulai dengan jalan kaki beberapa ratus meter dalam kebun karet di belakang rumah Pak Tabri menuju ke Sungai Batang Gansal.  Memperhatikan karakternya, Batang Gansal di daerah rihlah ini nampaknya masuk kategori rejim tengah dan hulu dengan ciri dangkal, airnya jernih, berarus cukup deras, dasarnya berbatu dengan beberapa jeram, dan lintasannya relatif stabil.  Sungai ini jadi salah satu urat nadi kehidupan masyarakat tempatan.

Ketika memanfaatkan sungai ini, tingkah para “orang kota” sangat beragam megikuti pengalaman dan latar belakang masing-masing.  Sementara ada yang terlihat sudah biasa dan bahkan mungkin sedang menikmati memori masa lalunya, ada pula yang ragu-ragu, khususnya ketika hendak membenamkan kepalanya ke air atau menyikat gigi.  Namun interaksi dengan sungai pagi itu, menjadi satu proses adaptasi dalam utilisasi sungai untuk bersuci dan MCK sehingga hal itu jadi lebih mudah ketika kami mudik ke dusun-dusun tujuan di hulu.

Perjalanan mudik menggunakan tujuh perahu motor yang kami naiki dari sebuah tepian dekat rumah Kepala Desa.  Ketika menunggu berangkat, giliran telinga pula yang beradaptasi dengan bahasa setempat yang mirip Bahasa Melayu.  Di perahu yang berisi penumpang emat atau lima orang, tenyata perlu juga adaptasi dari kebiasaan duduk di jok mobil yang empuk dan bersih jadi mencongkong atau duduk senyamannya di lantai perahu berupa kisi-kisi papan. Namun dengan azam yang kuat untuk ikut beramal dan berda’wah maka perjalanan dengan perahu bermotor ini jadi sangat menarik dan In sya Allah akan mengingatkan kita pada Allah.

Ke tujuh perahu motor ini membawa kami di sungai yang berlika-liku dalam hutan tropis yang perawan.  Bagaikan memagari perjalanan kami, pohon-pohon besar dan tinggi di kiri kanan sungai terajut indah dengan kekayaan hayati yang sangat beragam disertai oleh desiran bayu dan dendangan fauna. Karena sedang musim kering, air sungai yang dangkal dan jernih membayangkan mozaik batuan di dasar sungai.  Bersama dengan keberadaan tebing cadas, pulau kerikil, dan singkapan batu masif di sepanjang sungai, semuanya memberikan lukisan alam yang membuat kita makin kagum pada kesempurnaan dan kekuasaan Al-Khaliq.

Untuk mengharungi sungai ini menuntut keahlian dan kerja keras awak perahu; seorang di buritan mengendalikan satu mesin tempel 15 PK yang dibantu oleh seorang lagi di haluan dengan sebatang galah.  Yang mengantar kami memang hafal alur sungai dan sangat piawai mengelakkan batu-batu masif dalam air; juga kapan harus tancap gas dan kapan menggunakan galah atau harus turun untuk mendorong perahu melawan arus sungai di tempat dangkal.

Puncak dari perjalanan di sungai ini adalah di jeram di Pemuatan yang berada sekitar pertengahan antara Dusun Lemang dan Sadan, dengan beda tinggi muka air hulu dan hilir saat itu sekitar satu meter. Untuk keselamatan dan kelancaran perahu mendaki jeram, para penumpang dan barang-barang berat atau penting diturunkan ke sisi sungai yang penuh batu cadas, kerikil, dan pasir.

Disaksikan oleh para penumpang dengan penuh kagum, awak perahu menunjukkan kebolehannya mendaki jeram sampai mencapai palung di bagian hulunya untuk menambat perahu. Di “rest area” ini para awak perahu melepas lelah dan menambah kekuatan sambil bercengkrama.  Sedengkan peserta rihlah ada pula yang berenang atau mengeksplor sungai di sekitar jeram itu

Setelah semua perahu dan barang-barang melewati jeram, bekal makan siang berupa nasi bungkus dengan lauk ikan asin dan terung balado serta sambal lado terung asam pun dibuka; ada yang duduk di atas batu cadas, kerikil atau pasir, atau di atas perahu, sesuai dengan keinginannya dalam menikmati lingkungan jeram dalam hutan itu.  Luar biasanya tempat itu dan kebersamaan dalam pengalaman unik itu menjadikan apa yang dimakan minum menjadi lebih nikmat dan keakraban bertambah.  Perjalanan dengan perahu motor memudiki Batang Gansal selama lima jam sampai ke Dusun Air Bomban ini menjadi uji kesadaran akan nikmat Allah Swt.

Kenikmatan ini bisa jadi memunculkan berbagai kata hati.  Mungkin  ada yang mengaitkannya dengan gambaran surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya atau berfikir bagaimana keindahan di dunia saja sudah demikian, apalagi kelak di surga.  Padahal jika masih bisa kita bayangkan, itu berarti belum sehebat surge yang dijanjikan Allah untuk kita.  Sangat patut pula kiranya kalau keadaan itu mengingatkan kita pada firman Allah yang diulang-ulang dalam Surat Ar-Rahman: “Maka nikmat Rab kamu yang manakah yang kamu dustakan?”

Hikmahnya bagi kita, ni’mat Allah pada hambaNya tidak dapat ditakar secara materil atau berdasarkan hawa nafsu, tanpa melibatkan iman dalam hati.  Kita yang hidup bergelimang kebendaan dan kemudahan, punya kesempatan yang terbatas dan harus bersusah payah terlebih dahulu untuk menikmati pemberian Allah di Sungai Gansal sebagaimana yang digambarkan tadi.  Sebaliknya saudara-saudara kita dari Talang Mamak di kawasan TNBT itu yang menurut kita banyak keterbatasan ternyata hari-hari dapat menikmatinya dengan mudah, meskipun banyak di antara mereka menikmatinya masih belum dalam kerangka iman kepada Allah Al-Khaliq.

Karena itu, sebagai uji kesadaran kita terhadap nikmat Allah, perlu adanya berbagi nikmat dan iman dalam dua arah antara kita dengan saudara-saudara kita Suku Talang Mamak itu dengan saling berkunjung dan menjalin ukhuwwah.  Kekurangan pada mereka kita perkuat dengan pemberdayaan malalui kelebihan kita dan sebaliknya.  Makin kuat kesadaran kita pada nikmat Allah, kita mesti makin kuat pula mendekat padaNya.  Dengan demikian In sya Allah hidup kita bisa untuk berbuat yang bermanfaat bagi sesama dan dalam kebersamaan maka hidup kita jadi lebih penuh makna, selama dalam ketentuan dan ridho Allah Subhanahu Wata’ala.  Semoga.

 

 

(Sumber Foto: UAS, Nesdi, Mahmud, Bismar)

Berbeda dengan rihlah atau perjalanan ke daerah maju yang mungkin banyak menyajikan hal yang baru, rihlah ke daerah pedalaman ini lebih banyak menjumpai hal yang biasa dikenal namun cenderung tidak lagi kita simak.  Alhamdulillah tanggal 28-31 Agustus 2017 lalu, penulis ikut perjalanan da’wah Ustadz Abdul Somad, Lc, MA, seorang ulama hadits dari Riau (selanjutnya disingkat UAS), ke dusun-dusun Suku Talang Mamak di Desa Rantau Langsat, Kecamatan Batang Gansal, Kabupaten Inderagiri Hulu, Provinsi Riau.

Suku Talang Mamak secara tradisonal banyak mendiami kawasan hutan Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT), khususnya sepanjang sungai Batang Gansal sejak dari dalam kawasan hutan itu sampai ke sekitar Seberida.  Kelompok masyarakat ini termasuk suku Proto Melayu (Melayu Tua) yang menurut Obdeyn, seorang Asisten Residen Indragiri zaman dulu, berasal dari Pagaruyung, Sumatera Barat.  Bahasa yang mereka pakai adalah Bahasa Talang Mamak yang terpengaruh Bahasa Minang dan Bahasa Melayu, sedangkan kepada orang luar mereka berbahasa Melayu.

Mereka masuk ke hutan-hutan di pedalaman karena terdesak konflik adat dan agama.  Ada pula yang berpendapat bahwa Suku Talang Mamak masuk ke pedalaman untuk menghindari penjajahan.  Alhamdulillah dengan terkuaknya isolasi, hari ini mereka menunjukkan diri sebagai bangsa Indonesia dan berinteraksi dengan komponen bangsa yang lain secara baik meskipun ketergantungan dengan hutan dan alam masih sangat kuat dalam tradisi kehidupan mereka.

Dari tradisi yang masih bisa kita jumpai sampai sekarang seperti mantera, sya’ir, dan alat musik gambus, nampaknya mereka pernah mengenal Islam lalu terkikis sehingga kembali mendekat ke animisme yang mereka sebut sebagai “adat”.  Mereka terbagi jadi beberapa golongan: masih kukuh dengan adat, mengikuti “misi” yang datang, atau masuk Islam yang mereka sebut mengambil “langkah baru”.  Kepada saudara-saudara kita golongan yang terakhir inilah rihlah da’wah ini ditujukan.

Perjalanan rihlah yang diikuti sekitar 30 orang ini dimulai dari Pekanbaru dengan mobil sampai ke Dusun Lemang, Desa Rantau Langsat, sebagai lokasi terakhir yang terjangkau mobil.  Selain berasal dari kelompok UIN Suska Mengajar dan Yayasan Muara yang “membuka” pintu da’wah pada awalnya, para peserta rihlah berasal dari berbagai lembaga yaitu: Lazis PLN, Badan Kesejahteraan Masjid Raya An-Nur, Tafaqquh Studi Cub, Persatuan Insinyur Indonesia Wilayah Riau, Rumah Zakat, dan Dewan Da’wah yang juga melakukan kegiatan pengumpulan infaq untuk kegiatan di Talang Mamak melalui Tabligh Akbar UAS di Rengat.

Malam itu, setelah tabligh akbar, jam 23.00 kami bertolak dari Rengat ke arah Belilas dan sampai di Lemang jam 01.30. Setelah bercengkarama dengan para penggiat Da’wah dari Yayasan Muara yaitu Sdr. Reza Pahlevi dan kawan-kawan yang telah sampai beberapa hari sebelumnya serta Pak Tabri yang rumahnya dengan senang hati jadi markas kegiatan sejak awal, jam 02.00 baru kami mulai menghampar untuk tidur.

Sekitar jam 04.00 para peserta mulai bangun lagi dan sayup-sayup dari masjid yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Pak Tabri terdengar suara UAS mengaji.  Di desa yang gelap dan penuh suara jangkrik serta fauna malam, reflek peserta adalah mengambil senter masing-masing untuk pergi berwudhu ke anak sungai kecil dalam belukar di seberang jalan antara rumah Pak Tabri dan masjid.  Gerak sorot senter silang siur, mungkin mengikuti mata dan telinga para peserta yang orang kota untuk menyimak keadaan sekeliling.

Selesai sholat subuh berjamaah, kami beruntung dapat mendengarkan tausiah UAS. Dengan jadwal yang demikian padat, beliau masih menyempatkan diri untuk rihlah ini sehingga kami bisa bersama seorang guru dalam komunitas kecil selama empat hari. Kami lalu sarapan bersama sebelum menyerahkan hewan kurban untuk Dusun Lemang yang diterima oleh Bapak Supno Hatiro, Kepala Desa Rantau Langsat.

Bersempena Idul Adha, sebelum rihlah telah diadakan program pengumpulan hewan Qurban dari jamaah melalui mimbar dan media sosial. Sebelum rombongan datang, telah ikut “rihlah” lebih dulu 48 ekor domba qurban.  Pada kesempatan rihlah, kesemua calon tunggangan akhirat para peserta qurban ini akan diserahkan secara simbolis kepada masing-masing dusun untuk dipotong dan dibagikan pada hari Raya Idul Adha.

Memang rihlah ke Suku Talang Mamak membawa misi yang menarik.  Menarik karena diusung oleh UAS, seorang ulama kebanggaan Riau yang sudah membuana.  Juga diikuti oleh orang-orang sibuk yang In sya Allah punya daya juang (mujahadah) yang tinggi dan ikhlas. Sebagaimana yang dapat disimpulkan dari tausiah-tausiah lapangan UAS, paling tidak ada tiga misi pokok dari rihlah ini: 1) Menyampaikan risalah da’wah melalui ukhuwwah sebagai jawaban dari pertanyaan Allah kelak, 2) Recharge kembali diri setelah kesibukan yang padat dengan menyimak alam, lingkungan, dan masyarakat dalam lingkungan kehidupan khusus suku asli, dan 3) Menyambungkan antara orang punya kelabihan materi dengan yang membutuhkan melalui orang yang punya waktu untuk rihlah da’wah.

Sungguh rihlah ini satu pengalaman yang takkan terlupakan.  Empat hari bersama ke tempat-tempat yang tidak mudah yang menuntut perjuangan dan keikhlasan dalam interaksi serta adab yang baik.  Rasa pegal duduk dalam perahu motor berjam-jam, tidur tanpa kasur, mandi di sungai, makan secukupnya, berjalan naik turun bukit, dan menyeberang sungai yang ada pacat dan nyamuk terobati dengan kepuasan batin ketika kita menyimak kebesaran Allah melalui keindahan dan keaslian alam di TNBT.

Kebersamaan dengan UAS dan masyarakat serta anak-anak Suku Talang Mamak nan masih asli, mudah-mudahaan menjadi amal bagi para peserta.  Sebagaimana misi yang disampaikan UAS di atas, semoga Allah meridhoi apa yang telah UAS dan peserta lakukan di lingkungan Suku Talang Mamak yang dikunjungi. Ingin kan anda ikut pada kesempatan rihlah yang akan datang?

“Awang, kau ni busuk lah… Entah bau ojol entah bau jering ni?” kata Atan pada kawan akrabnya pedagang ojol itu, ketika mereka jumpa di teras rumah guru Pudin.

“Ah engkau juga sama, bau kambing…,” balas Awang tak mau kalah.

“ Menyanyah engkau…! Kalau bau jering tu aku serius,” kata Atan. Mereka saling mencium bahu untuk membuktikan.  Mendengar kehebohan itu Pudin segera keluar.

“Eh eh eh… apa terjadi pada kalian ni?” Tanya Pudin.

“Atan ni yang memulai, bang” jelas Awang, “dibilangnya aku bau jering,” jawab Awang.

“Betul bang, saya cium ada bau. Entah ojol entah jering… jering agaknya,”

“Biasalah tu,  pedagang ojol bau ojol, peternak kambing bau kambing.  Tak apa apa, kejab lagi kan kita bersih-bersih sebelum Zuhur,” kata Pudin.

“Betul bang.  Cuma aku tak suka dia bilang aku bau jering karena aku tak suka makannya, banyak mudharatnya,” tambah Awang.

“Engkau tak makan tapi mungkin ojol kau tu kena getah jering,” kata Atan ngotot.

“Sudah lah, tak perlu diributkan.  Jangan kita macam tangkai jering,“ kata Pudin.

 “Apa maksudnya tu, bang? Tanya Atan.

“Maksudnya, kalau ada sesuatu yang kurang baik pada diri kita, kita sibuk membela diri. Heboh kesana kemari menunjukkan kelebihan dan jasa kita atau kita timpakan kesalahan pada pihak lain. Sudah ada yang menyebutkan salah kita pun kita tak peduli, macam tangkai jering memegang buahnya tu lah.  Saking liatnya, sampai lesut pun tak dilepasnya sehingga mesti dipatah baru dapat buahnya,” jelas Pudin yang membuat mereka terdiam beberapa sa’at.

“Jadi baiknya macam mana, bang?” Tanya Atan sambil menarik nafas.

“Sederhana saja, lebih baik segera introspeksi dan minta ma’af, tobat bahasa agamanya.”

“Tapi tak semua orang mudah begitu, bang,” kata Atan.

“Betul.  Dalam psikologi ada yang disebut lima tahap mental orang untuk menerima keadaan yang buruk: penyangkalan, marah, menawar, depresi, dan penerimaan. Kalau tetap di tahap awal terus maka kita tak kan pernah menyesal dan tak mau tobat.  Padahal Nabi saja istighfar tak kurang dari 100 kali sehari. Tiap malam sebelum tidur beliau juga muhasabah,” jelas Pudin.

 Kemudian Pudin meminta Atan dan Awang bersalaman, meskipun kegaduhan tadi tidak serius. Setelah berbincang beberapa hal lain, lalu keduanya pulang untuk persiapan Shalat Zuhur.

Dr Abdurrahman Al-Awaji web_article_213_M_1440120478

Dr. Abdurrahman Awaji di Masjid Al-Munawwaroh, UIR, Pekanbaru.

Sudah dua kali Dr. Abdurrahman Awaji datang ke Pekanbaru dan jadi imam Ramadhan di Masjid Raya Senapelan, yaitu tahun 1436 dan 1438 Hijriyah.  Dr. Abdurrahman berasal dari Madinah, belajar sejak S1 sampai sampai tingkat doktoral dalam bidang Akidah di Universitas Islam Madinah dan sekarang adalah seorang guru besar dan Wakil Rektor di Universitas tersebut.

Tentu beliau seorang yang kompeten dan istimewa, namun selama di Riau beliau bersikap sangat arif dan rendah hati serta sangat menghargai perbedaan pendapat.  Meskipun datang dari negeri yang dominan bermazhab Hambali, tapi tidak mengalami benturan yang azasi di negeri Melayu yang dekat ke mazhab Syafi’I ini. Beliau menekankan pentingnya umat Islam memiliki sifat saling menghormati dan saling menghargai dalam beribadah serta kehidupan sehari-hari selama masih dalam lingkaran Dua Kalimat Syahadat.

Dalam dua kali Ramadhan tersebut, di masjid tertua di Pekanbaru ini Dr. Abdurrahman memimpin sholat tarawih 20 raka’at dan witir 2+1 rakaat yang diselingi dengan sholawat oleh muadzin.  Gerakan takbir beliau dan cara melipat tangan sama seperti  jama’ah setempat dan beliau mengeraskan bacaan Basmallah di awal Surat Al-Fatihah.  Ketika sholat subuh beliau juga membaca doa qunut dan tidak memasalahkan dzikir dan doa sesudah sholat sebagaimana yang biasa di masjid itu.

Dalam berpakaian beliau juga menunjukkan cara yang wajar saja.  Tentu sesuai dengan kebiasaanya, beliau memakai gamis jenis biasa saja dengan ukuran sedikit di atas mata kaki dan tutp kepala surban kotak-kotak merah yang sudah kita kenal itu.  Perilaku keseharian beliau juga biasa saja dan akrab dengan para remaja Masjid Raya.  Bahkan bulan Ramadhan lalu, selepas tarawih secara tak diduga dan diantar para remaja itu, beliau sempat muncul dua kali ke Masjid Raya An-Nur.

Pada kedatangan ke An-Nur yang kedua, beliau didaulat untuk ikut tadarus dan sempat membaca beberapa ayat yang disimak oleh para peserta tadarus lainnya.  Tahun 1436 lalu, ketika diberikan kesempatan memberikan tausiah di Masjid Al-Falah Darul Muttaqin, Dr. Abdurrahman mengemukakan topik Manhaj Da’wah Rasulullah.  Rekaman tausiahnya dapat kita simak di media sosial dan ringkasan transkripnya bisa dibaca di link https://riau2020.wordpress.com/2017/08/10/skrip-ringkas-tausiah-dr-abdurrahman-awaji-di-masjid-al-falah-pekanbaru-tanggal-4-juli-2015/.

Dari perilaku keseharian, cara beliau menyikapi tata cara ibadah, dan kandungan tausiah beliau, dapat kita fahami bahwa beliau adalah seorang yang sangat arif dan berilmu.  Beliau mendalami apa yang dilakukan dan disampaikannya sehingga tak dapat kita tolak kecuali mengakui beliau sebagai orang yang mengerti dan menghargai perbedaan yang bersifat khilafiyah.  Mudah-mudahan imu dan kearifan beliau terus menyinari pemahaman dan menyejukkan ummat dalam melaksanakan syariat agama. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepada Dr. Abdurrahman Awaji dan keluarga serta terus menambah ilmu beliau.  Amin.

Sumber foto: http://uir.ac.id/wb/pg/article/news/detail/213/

abdurrahaman awaji di alfalah

(Videonya bisa disimak di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=sfOC-5cBHCY)

Nabi Muhammad membawa syariat penutup untuk seluruh alam dan ummat manusia. Kemuliaan seorang manusia bukan dilihat dari Arab atau bukan Arab tapi dari ketaqwaannya dan bagaimana ia berpegang teguh pada syariat Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad bekerja keras menyampaikan risalah Islam sehingga sampai kepada kita dan tugas kita pula untuk meneruskan kepada generasi berikutnya.  Rasulullah amat sangat mencintai kita, meskipun beliau hanya bertemu dengan para sahabat dan beliau tidak pernah melihat kita sebagai orang-orang yang datang kemudian.  Karena itu kita wajib membalas cinta Nabi itu kepada kita, melebihi cinta kita kepada yang lain.  Nabi juga memerintahkan kita sabar dalam berbagai keadaan sampai kita kelak berjumpa dengan Nabi SAW.  Risalah itu sampai kepada kita melalui para sahabat dan para periwayat yaitu orang-orang yang terpercaya.

Sesuai dengan riwayat dalam Al-Quran dan hadits, Rasulullah melalui jalan dan perjuangan panjang dan berat dalam menyampaikan risalah itu namun Nabi SAW selalu mendoakan kebaikan dan bukan kebinasaan terhadap orang-orang yang mengingkari beliau.  Karena itu kita harus menunjukkan bukti cinta kepada Nabi SAW dengan mengikuti Al-Quran dan Sunnah sehingga jawaban kita kepada Allah kelak sesuai dengan perintahNya.

Setiap syariat ada hikmah di dalamnya namun kita tetap menjalankannya, terlepas dari nampaknya manfaat hikmah itu atau tidak.  Islam itu mudah maka tidak boleh mempersulit-sulit agama sehingga orang lari dari agama Islam.  Islam prinsipnya menjaga diri manusia dari kebinasaan, kepada orang-orang yang beriman diperintahkan bukan untuk mengajak kepada berpecah belah tapi membawa pesan kedamaian, menghormati perbedaan pendapat sekalipun dengan yang berbeda keimanan, dan meyebarkan kedamaian misalnya dengan senyum.

Islam mengajarkan agar menyantuni orang lemah, sayang pada anak kecil, menghormati orang tua, memuliakan orang-orang Muslim yang seakidah, berkasih sayang sampai dengan kepada hewan.  Jadi ajaran Islam menebarkan kedamaian dan kasih sayang, bukan mempersulit, menimbulkan konflik, dan menebarkan masalah.

Para ulama berijtihad dalam berbagai masalah, mungkin sepakat dalam satu masalah tapi berbeda dalam satu masalah. Banyak ulama besar berijtihad tapi ada empat ulama besar Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Mereka para ulama ahli ijtihad sedangkan kita orang yang bertaqlid dan mengikuti mazhab mereka dalam beramal.  Harus diketahui dengan benar bahwa mereka punya titik-titik temu dan sangat bersahabat dan tidak ada konflik diantara murid-murid para imam maka tidak ada konflik dan permusuhan diantara mereka.

Semua para ulama itu adalah ahli ijtihad berdasarkan dalil sedang kita pengikut kepada dalil maka kita tidak mengatakan kepada orang sebagai pelaku bid’ah karena berbeda dalam masalah ijtihad.  Para imam yang empat itu menyuruh buang pendapat mereka jika ditemukan hadits yang bertentangan dengan pendapat mereka itu.  Banyak terjadinya ikhtilaf, contohnya dalam sholat ada duduk istirahat sebelum berdiri.  Dalam mazhab Syafi’i duduk itu sunnah sementara dalam mazhab Hambali duduk istirahat itu tidak ada.

Kenapa bisa ikhtilaf?  Karena hadits yang sampai kepada masing-masing imam berbeda bunyinya, yang sampai kepada Imam Syafi’i ketika Nabi sudah tua, yang sampai kepada Imam Hambali ketika masih muda.  Demikian pula dalam hal membaca bismillah, bisa sir bisa jahar yang kedua-duanya sunnah dan shahih.  Demikianlah agama itu mudah dan kita diperintahkan untuk mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW. Karena itu kita wajib kembali kepada tuntunan Al-Quran.  Mari kita kembali kepada ajaran Islam.

Dari Tanya Jawab:

Kata-kata pelaku bid’ah sudah dipakai oleh para ulama zaman dulu tapi kepada para syiah dan khawarij. Apa boleh mengatakan pelaku bid’ah kepada yang berbeda pada masalah amalan yang berdasarkan ijtihad ulama?  Terlalu mudah mengeluarkan kata pelaku bid’ah itu tasahul atau bertentangan dengan hadits Nabi SAW yang melarang untuk mengatakan kafir kapeda orang karena bila dikatakan kepada yang tidak benar demikian maka akan kembali kepada yang mengatakannya.

Hukuman bagi homoseksual dan lesbian, tidak hanya diharamkan dalam Islam tapi dalam Taurat dan Injil pun diharamkan.  Zaman pemerintahan Umar Bin Khattab mereka dihukum mati.  Ini bertentangan dengan fitrah yang sudah digariskan Allah Swt: Laki-laki suka dengan Perempuan dan Perempuan suka dengan Laki-laki.

Kaki celana atau kain atau jubah yang haram bila di bawah mata kaki bila angkuh dan sombong, bila tidak angkuh dan sombong tidak termasuk yang diancam oleh Rasulullah SAW.

Nabi bersabda: potongah kumis, biarkan jenggot.  Para ulama berbeda pendapat tentang  “biarkan jenggot” ini, apakah maknanya wajib atau sunnat, sebagaian mengatakan wajib sebagian mengatakan sunnat.

Boleh memberikan zakat hanya pada satu kelompok ashnaf saja.

Syi’ah adalah orang-orang yang mencaci maki dan mengkafirkan para sahabat Nabi SAW.

Tentang Nuzulul Quran, semua hal yang baik selama tidak bertentangan dengan syari’at maka itu boleh dan sah untuk dilakukan.

Catatan: Mungkin catatan ini tidak selengkap tausiahnya dan ada yang tercecer. Segala kekurangan dari saya yang dhoif, mohon maaf bila ada kekuragan dan kesalahan.