Feeds:
Posts
Comments

UAS 21191894_1935000676712263_8984460293743637571_nUAS 21192383_1935000646712266_8963448009127443612_n

 

Mungkin kita heran kenapa sekolah dasar yang sangat diperlukan anak-anak dusun itu diadakan di Sadan yang hanya ada 11 rumah, sedangkan di Air Bomban ada 17 rumah.  Sadan terletak lebih di hulu dari Air Bomban  dan dengan jalan kaki perlu sekitar 40 menit menempuh hutan belukar yang berpacat dan naik turun bukit, termasuk menyeberangi satu sungai dengan mengharung, sebagaimana sudah digambarkan pada tulisan sebelumnya.

Anak-anak itu bergembira ketika mengetahui pahwa para peserta rihlah akan ikut berangkat bersama mereka ke Sadan pagi hari ke tiga itu.  Mungkin pengalaman ketika dikunjungi sebelumnya dan keingintahuan tentang acara hari itu di sekolah membuat mereka bersemangat dan bersepadu pula pada para peserta rihlah.  Sementara anak-anak berjalan dengan riang sambil ngobrol atau nyanyi-nyanyi kecil, para abang, paman, dan atuk pendatang terengah-engah dengan beberapa kali istirahat.

Dengan terengah-engah akhirnya kami sampai ke Sadan, langsung muncul ke sebuah lahan terbuka sekitar seluas setengah lapangan bola.  Di lapangan itu ada sebuah tempat tinggal guru, satu lokal ruang kelas, kantor guru dan tiang bendera yang diatasnya sedang berkibar selembar merah putih yang sudah kucal dan usang.  Acara kami hari itu memang tentang sekolah dan bendera itu.

Setelah istirahat sejenak, maka para “guru amatir” pun beraksi.  Berbagai materi spontan keluar: ada yang mencairkan suasana, ada yang mengenalkan adab kepada orangtua dan guru serta Allah Sang Maha Pencipta, mengajarkan matematika dengan materi semacam Sudoku, dan membahas konsepsi energi secara sederhana.  Anak-anak ini yang kecerdasannya tak kalah dengan teman-temannya di kota, demikian gembira dan responsif terhadap apa yang berlangsung di kelas.   Pembelajaran ditutup dengan interaksi yang menghibur oleh Ustadz Dede yang sebenarnya mengajar di Dusun Nunusan.

Sedikit gambaran tentang guru, Ustad Dede misalnya adalah seorang guru relawan yang dikirim oleh lembaga da’wah Dompet Dhuafa ke Nunusan yang berada di hilir Air Bomban.  Dengan dukungan sekadarnya beliau bermujahadah ke masyarakat Suku Talang Mamak dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh ini.  Alhamdulillah, masyarakat sangat menghormati seorang guru sehingga banyak kemudahan yang dibantu seperti keringanan biaya perahu kalau bepergian. Dengan jadwal mengajar yang bisa diatur sendiri kadang ia ikut mencari hasil hutan untuk tambahan belanja, demi terus bertahan mengajar anak-anak didik yang dicintainya.

Demikianlah sedikit gambaran sebagian orang-orang yang mewakafkan waktu dan kehendaknya untuk kepentingan tegaknya agama Allah di lingkungan pedalaman Riau ini.  Pengorbanan ini alhamdulillah sangat berarti bagi masyarakat Talang Mamak, khususnya para murid.  Alhamdulillah semangat mereka untuk maju secara parsial telah dapat tersalur melalui kegiatan sekolah, termasuk untuk mengenal dan mencintai Sang Merah Putih sebagaimana di Desa Sadan ini.  Bersatu padu dengan berbagai pihak dan lembaga amal, hasil sinergi da’wah ke Talang Mamak ini antara lain telah diangsur pendirian pondok tahfizh dan beberapa anak telah dikirim belajar ke luar.

Kiprah para pejuang yang bermanfaat dan memajukan masyarakat ini tentu bernilai amal sholeh, In sya Allah. Keadaan inilah yang telah menggugah lubuk hati UAS untuk mengagendakan kunjungannya ke daerah ini dua kali setahun di tengah kesibukannya yang super padat.  Mudah-mudahan Allah memudahkan upaya yang dilakukan para pejuang di jalan Allah.

Advertisements

L A B A N

LABAN

Ketika umroh 10 hari akhir Ramadhan tahun 2014, kami mendapatkan banyak kesan istimewa.  Ketika sampai di Makkah tanggal 20 Ramadhan, suasana Masjidil Haram sudah ramai sehingga sulit mendapatkan tempat untuk sholat.  Namun dengan upaya yang tak henti dan mempercepat kedatangan setiap kalinya, dua hari kemudian baru dapat tempat yang tetap untuk menjalani i’tikaf delapan hari yang tersisa.

Ketika itu sudah diberlakukan blok jama’ah yang tidak bercampur baur, khususnya dalam blok jama’ah i’tikaf.  Dengan pertolongan Allah, kami dapat tempat di sebelah seorang Melayu Pattani mukimin Makkah tapi masih bisa berbahasa Melayu.  Dalam blok yang diisi oleh berbagai bangsa itu, per shaf rupanya sudah ada konvensi saling tolong menolong agar dan menjaga tempat jika ada keperluan keluar.  Inilah kesan yang pertama karena Alhamdulillah kami dapat menjalani i’tikaf dengan baik, termasuk pelayanan buka puasa oleh orag yang berinfaq.

Empat shaf dalam blok itu dengan jumlah sekitar 100 orang rupanya merupakan lahan berinfaq seseorang pengusaha yang menurut si saudara Pattani itu selama sebulan yang didapat secara berebut. Shaf yang depan menghadap ke belakang dan diantaranya dibentangkan lembaran plastik sepanjang shaf; demikian pula dua shaf lainnya sehingga ada dua baris jamaah yang berhadap-hadapan yang kemudian di atas bentangan plastik oleh pelayan petugas dari yang berinfaq diletakkan ta’jil untuk masing-masing jama’ah.

Ini merupakan kesan kedua; dalam Ramadhan orang berebut untuk menyediakan ta’jil di Masjidil Haram, lengkap dengan seluruh pelayanannya. Dua orang melayani dengan sangat cekatan sejak membentang alas plastik, membagikan makanan, sampai mengumpulkan sampah dan menggulung   kembali alas plastik sehingga sholat Maghrib dapat berjalan dengan baik dan rapi.  Bagi jama’ah i’tikaf 24 jam yang memerlukan, juga akan diberikan makanan lebih.  Tidak hanya pelayan tersebut yang sibuk, para jama’ah juga saling membantu dan memberi sehingga terasa sebagai saudara.

Situasi yang penuh ukhuwwah ini menghentak ke dalam hati, khususnya ketika menikmati ta’jil yang dibagikan.  Hati yang semula gembira karena dapat kemudahan untuk berbuka puasa dan sholat Maghrib, merasa digugah: “Kok merasa senang menerima ta’jil ini, bukankah engkau yang seharusnya memberi?”  Alhamdulillah, dibukakan jalan untuk lebih membersihkan hati setelah empat hari bersama saudara-saudara baru jama’ah i’tikaf.

Esoknya, setelah berfikir keras diputuskanlah untuk membawa ke masjid sejerigen kecil laban, susu yang sedikit.  Dengan bagpack yang berisi jerigen itu berjalanlah dengan berdebar-debar ke pintu masjid.  Uupps… benar, lasykar penjaga langsung menghentikan dan dengan muka seram memrintahkan untuk ke tepi dan membuka bagpack.  Namun setelah dia melihat da meastikan jerigen berisi laban itu, dia tersenyum dan mempersilakan masuk yang dilengkapi dengan bahasa tubuh berupa gerakan tangan dan kepala; sangat ramah dan penuh appresiasi.

Kesan ini masih berlanjut di dalam masjid.  Ketika cangkir sudah diedarkan, kami mengeluarkan laban dan langsung menawarkan kepada yang di sekitar.  Alhamdulillah, minat jama’ah kuat sekali sehingga jerigen itu segera kosong.  Si saudara Pattani menjelaskan, laban memang sangat disukai saudara-saudara kita di Timur Tengah, apalagi untuk berbuka puasa.  Jadilah saya pemanggul laban selama lima hari sampai akhir Ramadhan. Semoga Allah mencurahkan rizki pada kita semua.

poster pilkada

Seseorang yang ikhlas In sya Allah akan jauh dari pamrih atau riya.  Pamrih adalah keinginan untuk mendapatkan keuntungan dari apa yang dilakukannya bagi diri yang bersangkutan.  Riya lebih berkonotasi untuk mendapatkan pujian yang tetap bermura pada keuntungan pelakunya.

Mungkin kita sepakat bahwa nilai-nilai praktis kepemimpinan hari ini bertolak belakang dengan tauladan Rasulullah dan para khalifah yang mestinya kita rujuk.  Rasulullah sangat berorientasi pada kepentingan ummat yang diikuti pula oleh para khalifah yang memahami bahwa pemimpin pemerintahan itu adalah pelayan ummat yang kelak akan Allah minta pertanggungjawabannya.  Karena itu, dengan niat yang ikhlas maka kepemimpinan yang diamanahkan dijadikan sebagai amal ibadah.

Sementara itu nilai-nilai praktis materialistik-hedonistik hari ini sangat mempengaruhi kepemimpinan.  Dalam sistem kehidupan bernegara kita, aspek material sangat menonjol sejak proses pemilihan sehingga muncul istilah money politik.  Para calon yang bisa maju mestilah yang “siap dengan amunisi” dalam jumlah yang mencengangkan.  Sebagai contoh, menurut Dr. Muradi, seorang pengamat politik dari Unpad, seorang calon gubernur lewat jalur independen yang berbiaya paling rendah, masih perlu biaya beli materai saja sampai Rp14,4 milyar (http://www.tribunnews.com/regional/2017/11/26/beratnya-calon-independen-pilgub-jabar-biaya-materai-saja-butuh-rp-144-miliar).

Kenapa tetap banyak orang yang berusaha jadi pemimpin formal atau politik?  Karena dalam kultur kenegaraan dan politik kita, pada jabatan-jabatan itu melekat berbagai fasilitas dan pendapatan yang memadai dan mudah.  Pada banyak kasus hukum, para pemimpin yang tergelincir adalah karena terbuka peluang penyalahgunaan kekuasaan untuk mendapatkan keuntungan pribadi, oranglain, atau kelompok.

Kadang yang ada pula orang yang membungkus niatnya dengan kata aktualisasi diri.  Bila dari satu sisi misalnya dunia usaha ia sudah berhasil maka timbul pula keinginan untuk membangun eksistensi diri dalam lingkup politik atau pemerintahan.  Banyak orang yang berhasil dalam bidangnya lalu berhasil pula menjadi politisi atau pemimpin formal namun tak kurang banyak pula yang akhirnya tergelincir oleh berbagai godaan duniawi.  Meskipun berkoar-koar sebagai orang yang membela kepentingan rakyat, tapi masuk juga ke dalam perangkap gemerlapnya fasilitas, sanjungan, dan rente sehingga lupa pada perjuangan untuk rakyat yang jadi tujuan semula. Sudah tersurat dalam sejarah kehisupan manusia dalam Al-Quran, bagaikan minum air laut, nafsu kekuasaan itu tak akan pernah memuaskan diri manusia.

Hal inilah yang menimbulkan kecederungan pamrih dan riya bukan merupakan aib tapi menjadi lazim.   Untuk itu pula orang yang maju dalam pilkada berani mengeluarkan biaya politik yang sangat besar.  Menurut Ahmad Rofiq, seorang guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Semarang, untuk tingkat gubernur, uang yang harus dikeluarkan bisa mencapai Rp 350 miliar lebih.

(https://regional.kompas.com/read/2018/02/13/17170031/biaya-untuk-jadi-kepala-daerah-lebih-dari-rp-350-miliar).

Pengeluaran ini jelas tidak sebanding dengan pendapatannya kelak bila terpilih.  Bila itu bukan dari kantongnya sendiri, dari sinilah nanti masalah akan bermula.  Kecenderungan ini cukup jadi indikasi bagaimana niat seorang calon itu, apakah ia akan mengurus rakyat dan negeri atau sebaliknya justru akan jadi bagian dari masalah yang menyusahkan.

Sesuai dengan ketauladanan Rasululah yang disebut tabligh yang artinya menyampaikan, salah satu karakter yang diharapkan dari seorang pemimpin adalah kemampuannya dalam menyampaikan atau mengajarkan underordinate-nya.  Sebagai panutan, dia hendaknya memiliki kemampuan komunikasi yang sangat baik, bernas, dan produktif.  Dia tahu cara berkomunikasi kepada para pihak yang sedang dihadapinya; apakah kepada seorang siswa sekolah, jajaran pegawainya, para ibu rumah tangga, atau tokoh masyarakat.

Belajar dari sejarah Rasulullah, baginda tidak pernah menyembunyikan kekurangan dirinya dan bahkan teguran yang diberikan Allah pada baginda melalui wahyu.  Karena itu seorang pemimpin yang baik juga harus siap untuk menyampaikan keadaan apapun yang berkaitan dengan dirinya dalam rangka meningkatkan kinerja atau memperbaiki keadaan agar lebih baik.  Bila tidak, suatu kelemahan atau keburukan yang disembunyikan tanpa diperbaiki, cenderung akan jadi “bom waktu” yang untuk memperbaiki kerusakannya makin lama makin berat dan sulit.

Bersama dengan ketauladanan fathonah, sifat tabligh ini tercermin dari bagaimana seorang pemimpin itu berkomunikasi dengan jajaran kerjanya dan jejaring pengembangan yang bisa dibangunnya.  Mengacu pada sifat Rasulullah berbahasa yang disebut jawami’ul kalim (berkata ringkas tapi padat makna), kepada jajarannya seorang pemimpin diharapkan mampu memberikan arahan yang jelas, tegas, dan terukur agar jadi kebijakan dan langkah yang produktif.

Dia tidak mengumbar janji, banyak slogan, dan berteori di awang-awang tanpa realisasi.   Dia faham mana yang patut dan yang tak patut dikatakan serta mana yang sanggup dan tidak sanggup dia lakukan.  Selanjutnya kepada berbagai fihak eksternal lembaganya dan publik, dia bisa berkomunikasi dengan baik dan santun sehingga mudah mendapat dukungan dari stakeholders dan membangun jejaring kerjasama.

Ketauladan ini membuat Rasulullah dapat mengembangkan negara madani yang berbasis di Madinah dalam waktu yang relatif singkat.  Tetap dengan dukungan para sahabat, beliau bisa berkomunikasi secara baik dengan orang Yahudi dan Nasrani dan tetap menjaga batasan akidah.  Mereka yang tidak berkhianat hidup dengan tenang dan damai bersama kaum Muslimin serta mendapat perlindungan Rasulullah.

Fathonah atau cerdas adalah sifat yang mutlak diperlukan oleh seorang pemimpin.  Cerdas itu juga mesti komplit: intelektual, emosional, dan spiritual.  Seorang pemimpin yang cerdas atau pandai tidak hanya cepat dan tepat dalam melakukan kalkulasi tapi juga dalam memahami suatu persoalan, termasuk yang mendadak, dan juga dalam mengambil keputusan.  Perlu jadi catatan, sifat ini tidak mutlak datang dari gelar akademis, apalagi jika gelar itu berorientasi pada upaya untuk menaikkan rating atau status tanpa pengaruh pada peningkatan kemampuan.

Seorang yang cerdas pada posisinya akan menunjukkan kemampuan dan wawasan yang sebanding dengan posisi yang diembannya.  Karena itu ia adalah seorang yang cergas dan bijak namun tegas dalam memimpin.  Jika dalam suatu hal ia kurang faham, ia tidak akan memendam masalah yang ada tapi tahu bagaimana cara untuk segera mengetahui masalahnya dan akan menggunakan narasumber atau referensi yang meyakinkan.  Ia juga seorang yang piawai dalam memanfaatkan potensi underordinate-nya.

Untuk negeri kita yang dalam keadaan memprihatinkan sekarang ini, kita memerlukan pemimpin seperti ini.  Sangat banyak masalah ummat dan negeri yang harus diselesaikan secara konsepsional dan komprehensip.  Sebagaimana tuntunan Rasulullah, bila suatu masalah tidak diberikan pada ahlinya, tunggulah kehancuran.  Sebagaimana peringatan Rasulullah, kita tentu tidak ingin mengalami fenomena ruwaibidhah yaitu orang bodoh yang turut campur dalam urusan masyarakat luas.

Karena kita ingin kemaslahatan ummat meningkat yang seiring kemajuan negeri, maka jangan sampai kita pertaruhkan kepemimpinan ini pada orang yang cuma pantai membangun citra, lamban dalam bertindak dan mengambil keputusan, tidak punya konsep yang komprehensip untuk memajukan rakyat dan negeri.  Ia bukan pula yang maju jadi pemimpin untuk menjalankan skenario seorang master mind.  Akan sia-sia bila kita mengandalkan gelembung-gelembung air yang lemah dan kosong.

Fenomena CPNS

fenomena PNS

Kita semua faham bahwa CPNS itu status seseorang calon yang dalam proses untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil.  Secara formal, ia lolos seleksi aministrasi, kesehatan, psikologi, dan sikap mental dan mungkin syarat-syarat yang lainnya lagi.  Sebagai masa percobaan, para CPNS pada umumnya menunjukkan karakter yang baik dan kinerja yang maksimal, tentunya dengan harapan dapat segera dihapus status calonnya itu.

Ketika telah menjadi pegawai tetap, anehnya kebanyakan mereka berubah secara signifikan.  Kalau biasanya rajin, mulai menurun atau menjadi malas; biasanya cekatan menjadi lebih lamban, dari disiplin bisa berubah jadi kurang tertib sebagaimana yang dikatakan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi pada tahun 2011.

Kita semua faham bahwa CPNS itu status seseorang calon yang dalam proses untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil.  Secara formal, ia lolos seleksi aministrasi, kesehatan, psikologi, dan sikap mental dan mungkin syarat-syarat yang lainnya lagi.  Sebagai masa percobaan, para CPNS pada umumnya menunjukkan karakter yang baik dan kinerja yang maksimal, tentunya dengan harapan dapat segera dihapus status calonnya itu.

Ketika telah menjadi pegawai tetap, anehnya kebanyakan mereka berubah secara signifikan.  Kalau biasanya rajin, mulai menurun atau menjadi malas; biasanya cekatan menjadi lebih lamban, dari disiplin bisa berubah jadi kurang tertib sebagaimana yang dikatakan Menteri Pendayagunaan Aparatus Negara dan Reformasi Birokrasi pada tahun 2011.  Terlepas dari penyebabnya, ini mungkin dapat disebut sebagai fenomena CPNS.

Akan tetapi, bila kita cermati, fenomena itu terjadi tidak hanya di lingkungan kantor pemerintah tapi juga di lingkungan swasta dan dunia usaha.  Bedanya, di swasta atau lembaga non-pemerintah, mungkin penurunan disiplin dan kinerja itu tidak terlalu nampak karena pengendalian produktivitas relatif ketat.  Apapun, disiplin dan kinerja terbaik yang pernah mereka tunjukkan ketika masih sebagai calon pegawai kemungkinan besar semu atau tidak datang dari hati.

Sesungguhnya, tanpa disadari ada dua kerugian yang diderita oleh seseorang yang terjebak fenomena ini.  Pertama, bila kerja berdasarkan niat yang lurus karena Alah maka ia akan jadi amal ibadah sehingga tidak ada pekerjaan yang dirasakan berat atau dibayar tidak setimpal.  Kedua, penilaian atasan dan orang yang mengamatinya jadi negatif yang biasanya akan menempel seterusnya atau untuk waktu lama.  Hal ini akan merugikan dirinya sendiri dalam pengembangan karir dan profesionalitasnya.

Pilih kelompok mana, yang banyak tapi terjebak fenomena CPNS atau yang sedikit yang banyak dicari orang karena lebih displin, rajin, dan produktif?  Semoga Allah membimbing kita.

erlepas dari penyebabnya, ini mungkin dapat disebut sebagai fenomena CPNS.

Akan tetapi, bila kita cermati, fenomena itu terjadi tidak hanya di lingkungan kantor pemerintah tapi juga di lingkungan swasta dan dunia usaha.  Bedanya, di swasta atau lembaga non-pemerintah, mungkin penurunan disiplin dan kinerja itu tidak terlalu nampak karena pengendalian produktivitas relatif ketat.  Apapun, disiplin dan kinerja terbaik yang pernah mereka tunjukkan ketika masih sebagai calon pegawai kemungkinan besar semu atau tidak datang dari hati.

Sesungguhnya, tanpa disadari ada dua kerugian yang diderita oleh seseorang yang terjebak fenomena ini.  Pertama, bila kerja berdasarkan niat yang lurus karena Alah maka ia akan jadi amal ibadah sehingga tidak ada pekerjaan yang dirasakan berat atau dibayar tidak setimpal.  Kedua, penilaian atasan dan orang yang mengamatinya jadi negatif yang biasanya akan menempel seterusnya atau untuk waktu lama.  Hal ini akan merugikan dirinya sendiri dalam pengembangan karir dan profesionalitasnya.

Pilih kelompok mana, yang banyak tapi terjebak fenomena CPNS atau yang sedikit yang banyak dicari orang karena lebih displin, rajin, dan produktif?  Semoga Allah membimbing kita.

Mendadak

Semua kita faham makna kata mendadak sebab sering kita gunakan atau jumpai.  Pada tulisan ini, mendadak maksudnya adalah suatu keadaan yang berubah ke keadaan lain secara tiba-tiba atau tanpa diketahui tanda-tandanya terlebih dahulu.  Sebagai contoh penggunaan kata ini: “serangan mendadak para gerilyawan” dan “mati mendadak karena serangan jantung.”

Sekarang kata ini sering pula dipakai dalam budaya pop.  Beberapa tahun lalu popular mendadak dangdut sebagai bahasa satir bagi orang yang dulunya tak akrab, bahkan benci, dengan musik dangdut tiba-tiba malah ikut-ikutan menyanyikannya.  Terlepas dari masalah budaya musik, perilaku pelakunya, dan syair-syairnya yang merupakan topik sendiri, ini sebagai contoh aktual saja untuk memahami apa yang ingin kita bicarakan.  Sebab seseorang jadi mendadak dangdut mungkin karena terus menerus diserbu oleh musik itu di berbagai tempat dan kesempatan sehingga akhirnya ikut-ikutan menyanyikannya atau karena motif suatu kepentingan sempit atau sesaat.

Motif kepentingan ini sah-sah saja selama tidak ada norma dan aturan hukum yang dilanggar. Namun terasa satir ketika ada etika yang ditabrak atau seperti setiap kalinya, dibalik kata kepentingan seperti itu ada konotasi negatif yang secara mendadak pula menurunkan martabat pelakunya.  Apatah lagi bila itu terjadi karena terkait ke harta, jabatan, atau keuntungan lain bagi kelompok atau dirinya tapi merugikan orang lain.  Hal ini karena kemuliaan seorang manusia bukan terletak pada kelebihan aspek kebendaan (fisikal) dan keduniawian tapi pada keunggulan kerohaniannya yang dimunculkan akal budi dan iman.

Itulah sebabnya akhir-akhir ini kita menjadi miris ketika seseorang disebut mendadak baik, mendadak menyumbang, mendadak peduli, mendadak blusukan, mendadak ke masjid, mendadak sholat, mendadak ngustadz, dan sebagainya.  Kita miris dan muak, bila kita tahu pelakunya sebelumnya tidak seperti itu, bahkan jauh dari perilaku terpuji demikian.  Apalagi bila kita tahu pula penyebabnya karena pencitraan yang berkaitan dengan kita seperti proses pemilu.  Mungkin banyak pula contoh perilaku yang muncul mendadak itu dengan cepat hilang pula setelah tujuannya tercapai sehingga secara otomatis  jatuhlah martabatnya.

Akan tetapi ada pula perilaku mendadak seseorang yang dinilai positif karena memang penuh kebaikan, ikhlas, konsisten, dan kemudian kebaikannya menyebar ke hal lain.  Sebagai misal, seseorang yang mendadak tobat adalah positif jika itu karena kesadaran yang dihayatinya, menyesalinya, dilakukan dengan ikhlas, tidak mengulanginya, konsisten (istiqomah) dalam kebaikan, dan ia lengkapi dengan memperbaiki akhlaknya serta memperbanyak ibadah dan amal kebajikan.  Ini tidak dapat dinilai secara tergesa-gesa tapi waktu yang akan membuktikannya.  Bagi seorang peserta pemilu, sejarah yang akan mencatat apakah ia memang berperilaku baik dan benar atau hanya sekedar pencitraan yang bisa jatuh ke sifat munafiq sehingga anak cucu jadi benci karena dapat warisan keburukan. Naudzubillahi min dzalik.