Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2008

Hamka tidak hanya produktif menulis tapi juga aktif di lingkungan media massa cetak. Sejak tahun 1920-an beliau menjadi wartawan beberapa koran antara lain Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam, dan Seruan Muhammadiyah. Karirnya meningkat jadi editor majalah Kemajuan Masyarakat pada tahun 1928. Empat tahun kemudian, sebagai editor beliau sekali gus penerbit majalah al-Mahdi di Makasar. Selain itu Hamka juga pernah menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.
     
Segala aktifitas dan produktifitasnya ini membuat Hamka mendapat appresiasi secara nasional dan antarbangsa. Pada tahun 1958 Universitas al-Azhar, Kairo, memberikan Hamka anugerah kehormatan Doctor Honoris Causa dan tahu 1974 Universitas Kebangsaan Malaysia menganugrahkan gelar yang sama. Sementara itu pemerintah Indonesia memberikan kepadanya gelar Datuk Indomo dan Pengeran Wiroguno.

Kiprahnya yang bersinggungan dengan pemerintah berlanjut ketika pada tanggal 26 Juli 1977 Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. Mukti Ali melantik Hamka sebagai ketua umum Majlis Ulama Indonesia (MUI). Majelis ini dibawah kepemimpinannya telah menunjukkan reputasi yang disegani karena Hamka tegas dan sangat memegang keyakinannya. Ketika nasehatnya tentang larangan menghadiri perayaan Natal bagi orang Islam tidak diindahkan pemerintah, Hamka memilih mengundurkan diri pada tahun 1981.     

Sejak itu beliau lebih banyak berdakwah dan beribadah sampai tidak lama kemudian jatuh sakit. Setelah dirawat selama tujuh hari di RS Pusat Pertamina akibat komplikasi penyakit gula dan jantung, pada hari Jumat tanggal 24 Juli 1981 atau 22 Ramadhan 1401 Hijriah jam 10.41 Hamka berpulang ke Rahmatullah. Berita duka ini terasa sangat menghentak dan nusantara berduka secara mendalam.

Hamka telah lama menghadap Sang Khalik yang dirindukannya namun jasa dan pengaruhnya masih terasa sehingga kini dalam memartabatkan ummat dan agama Islam. Sikap istiqomah yang diperlihatkannya sepanjang hidup telah membawanya dari seorang anak guru di kampung menjadi seorang tokoh besar yang telah mengukir sejarah perjuangan, pergerakan, sastera, jurnalistik, dan kemajuan agama Islam di rantau Asia Tenggara. Dengan otodidak beliau berhasil mendapat pengakuan sebagai scholar melalui berbagai karya tulis dengan gelar Prof. DR. dari universitas terkemuka. Sudah sewajarnya rintisan yang telah dibuat Hamka dapat diteruskan oleh para generasi penerus sebagai salah satu wujud dari upaya mengisi kemerdekaan. Allahuakbar.

Advertisements

Read Full Post »

HAMKA adalah akronim dari Haji Abdul Malik bin Haji Abdul Karim Amrullah, seorang tokoh legendaris yang mengisi hidupnya dengan penuh makna sebagai ulama, sasterawan, dan politikus. Beliau yang sering dipanggil dengan Buya yang berarti ayah atau orang yang dihormati ini lahir di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat tanggal 17 Februari 1908 dan meninggal di Jakarta 24 Juli 1981. Lahir dari keluarga guru dan ulama di desa yang indah di pinggir Danau Maninjau, Hamka mulai mengembangkan dirinya di surau, masjid, dan sekolah agama sampai menjadi seorang muda mandiri yang kemudian menjadi sosok yang besar.
  
Kiprahnya dimulai dari dunia pendidikan. Setelah mendalami agama dan mempelajari Bahasa Arab di Sumatera Thawalib, sekolah agama yang didirikan ayahnya di Padang Panjang, ketika baru berusia 19 tahun Hamka menjadi guru agama di Tebing Tinggi, Sumut; dua tahun kemudian dia mengajar di Padang Panjang. Kemampuannya yang didapat secara otodidak membawa Hamka menjadi dosen di Universitas Islam, Jakarta, dan Universitas Muhammadiyah, Padang Panjang, tahun 1957-1958. Kemudian Hamka menjadi rektor Perguruan Tinggi Islam, Jakarta, dan Profesor di Universitas Mustopo, Jakarta.
    
Dengan kemampuan bahasa Arabnya Hamka mendalami filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat. Karya ulama dan pujangga besar di Timur Tengah seperti Zaki Mubarak, Jurji Zaidan, Abbas al-Aqqad, Mustafa al-Manfaluti, Hussain Haikal, serta pemikiran para scholar Barat seperti Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti dilalapnya dengan tekun. Hamka juga senang berdiskusi dengan HOS Tjokroaminoto, Raden Mas Surjopranoto, Haji Fachrudin, AR Sutan Mansur dan Ki Bagus Hadikusumo yang menjadikannya pandai dalam banyak hal dan seorang orator handal.
     
Sesuai dengan keinginannya untuk memerangi khurafat, bid’ah, dan kebatinan sesat yang masih membelenggu umat, rekam jejak Hamka dalam pergerakan Islam sangat kuat di organisasi Muhammadiyah. Beliau mengikuti perkembangan Muhammadiyah sejak tahun 1925 dan tiga tahun kemudian menjadi ketua cabang di Padang Panjang. Tahun 1929 Hamka membentuk pusat latihan pendakwah Muhammadiyah sebelum dijadikan konsul Muhammadiyah di Makassar tahun 1931. Berbagai aktifitas ini mengantarkan Hamka menjadi ketua Majlis Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat tahun 1946 dan sebagai penasihat pimpinan Pusat Muhammadiah tahun 1953. Selain aktif berdakwah di dalam negeri, beliau juga aktif dalam berbagai forum ulama internasional.
                                   
Hamka juga sempat berkiprah di lingkungan pemerintahan tapi tidak bertahan lama karena lebih tertarik dengan pergerakan dan politik. Pada tahun 1951 Menteri Agama menunjuk Hamka jadi Pegawai Tinggi Agama namun jabatan itu ditinggalkannya ketika Presiden Soekarno meminta Hamka memilih sebagai PNS atau aktifis politik di Majlis Syura Muslimin Indonesia (Masyumi). Keterlibatan Hamka dalam politik sebenarnya sudah dimulai pada tahun 1925 sebagai anggota Sarekat Islam. Pada zaman pra-kemerdekaan, beliau berjuang secara oral dan perang gerilya dalam hutan di Sumut agar Belanda tidak menjajah Indonesia kembali.
                  
Pasca kemerdekaan Hamka makin merasakan asam garam politik. Tahun 1947 Hamka terpilih menjadi ketua Barisan Pertahanan Nasional Indonesia dan anggota Konstituante Masyumi yang bertugas sebagai orator utama dalam Pilihan Raya Umum 1955 sampai kemudian pemerintah Indonesia mengharamkan partai itu pada tahun 1960. Dengan tuduhan pro Malaysia, Presiden Soekarno memenjarakan Hamka dari tahun 1964 hingga tahun 1966. Justru bagi Hamka “Penjara bukan sekedar tempat tahanan tetapi adalah Universitas kedua” yang dibuktikannya ketika dalam penjara itu beliau berhasil menulis Tafsir Al-Azhar yang merupakan karya terbesarnya; satu-satunya Tafsir Al-Qur’an tulisan seorang ulama Melayu yang gaya bahasanya mudah dicerna, sekali gus membuktikan kualitas intelektual Hamka sebagai seorang ulama besar nusantara.
  
Memang, selain seorang aktivis keagamaan dan politikus, Hamka adalah seorang penulis, wartawan, editor, dan penerbit yang sangat luar biasa. Selama hidupnya, Hamka melahirkan tidak kurang dari 79 karya tulis yang dimulainya sejak masih berusia dua puluh tahunan. Dari jumlah judul tulisannya, Hamka sangat produktif menulis ketika berumur 30 sampai 58 tahun. Puncaknya adalah pada tahun 1950 ketika beliau bisa menerbitkan 11 judul karya tulis.
      
Berbagai karya ilmiah Islam serta novel dan cerpen yang dihasilkannya mendapat perhatian yang luas ketika itu. Bahkan beberapa novelnya seperti Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah, dan Merantau ke Deli, selain mendapat sambutan di nusantara, juga menjadi buku teks kesusasteraan di Malaysia dan Singapura (bersambung).

Read Full Post »

No News Good News

No News Good News merupakan ungkapan yang sering dipakai sebagai excuse jika berita yang mestinya ada tidak dapat dikirim atau disampaikan. Saya sudah beberapa hari ini merasakan hal yang sama karena belum berhasil menyelesaikan tulisan untuk mengisi blog.
         
Bukannya kurang bahan tapi waktu dan kesempatan lah yang masih membatasi menyelesaikan sebuah tulisan yang sedang terbengkalai. Bagaikan membaca alam ini, kalau kita mau rasanya tidak akan pernah habis yang dapat kita luahkan dalam buah pikiran kita. Tapi rupanya keterbatasan itu lah yang sudah pasti milik kita. Mudah-mudahan saya tetap diberi kemampuan dan keleluasaan untuk berpikir, menulis, dan berbuat yang mungkin baik dan bermanfaat bagi siapapun, sebagai pemenuhan fungsi manusia sebagai khalifah di muka bumi.
                
Alhamdulillah, so far, memang no news good news.

Read Full Post »

Gubernur Riau dan Wakil Gubernur Riau untuk masa jabatan 2003-2013 dilantik oleh Mendagri hari ini, Jumat tanggal 21 November 2008 di Gedung DPRD Provinsi Riau. H.M. Rusli Zainal, SE, MP sebagai Gubernur dan H.R. Drs Mambang Mit sebagai Wakil Gubernur adalah hasil pemilihan umum kepala daerah (pemilukada) Provinsi tanggal 22 September 2008 yang dilakukan secara langsung. Meskipun tingkat partisipasi hanya 40,68 persen atau 1.912.433 dari jumlah yang ada dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 3.223.967 jiwa, pasangan ini adalah Gubernur dan Wakil Gubernur tahun 2008-2013 yang legitimate .
                
Sebagai konsekuensinya, seluruh komponen pemerintahan dan masyarakat harus mendukung dan membantu keberhasilan pelaksanaan tugas keduanya. Adanya perbedaan pandangan dan aliran politik selama proses pemilihan adalah suatu hikmah dan hal yang wajar saja namun sejak hari ini semuanya harus dikonvergensikan kembali mengarah pada kejayaan Riau dan kemaslahatan masyarakat. Tentu banyak keinginan dan harapan positif yang ditumpukan pada kedua pimpinan daerah ini tapi lebih penting lagi memberikan waktu dan kesempatan kepada keduanya untuk bekerja dengan leluasa.
   
Riau dengan segala problematika, tantangan, dan peluangnya memerlukan konsentrasi, upaya yang fokus, kerja keras aparatur, dan partisipasi seluruh komponen masyarakat. Masih banyak yang harus dilakukan untuk menekan angka tingkat kemiskinan masyarakat, meningkatkan kualitas sumberdaya manusia (lahir dan bathin), dan mengembangkan infrastruktur yang diperlukan untuk peningkatan ekonomi daerah secara luas.
            
Selamat bekerja pak Gubernur dan Wakil Gubernur, semoga Allah meridhoi kita semua.

Read Full Post »

Pantun, menurut saya, adalah ekspresi yang cerdas dalam budaya Melayu. Kata demi kata sarat makna dan kiasan yang diungkapkan dalam khazanah tempatan. Antara sampiran dan isi tidak hanya sekedar ada kesamaan bunyi tapi mempunyai tautan kultural yang kontekstual.

Di Riau, banyak orang ketika mengakhiri sambutan –khususnya para pejabat atau tokoh–sering menyampaikan pantun tapi dalam kehidupan sehari-hari tidaklah seperti pada zaman kesultanan dulu ketika orang bisa berbalas pantun secara spontan. Kelihatannya, makin muda suatu generasi maka akan makin terasinglah pantun jika tidak jadi menu budaya yang dihidangkan dengan baik.

Sesuai pengalaman pribadi saya yang bukan sasterawan, membuat pantun memang tidak mudah. Pernah suatu kali, saya memberikan kata perpisahan pindah kerja dalam bentuk pantun sebanyak 12 bait yang mengherankan hadirin karena dikira dibuat hanya bebrapa menit sebelum acara. Padahal bait-bait itu saya siapkan berhari-hari ; dalam dua hari terakhir jadi susah tidur karena kawatir sambutan itu sekedar jadi pantun akrobatik semacam pantun gaul di ibukota: Jaka sembung makan kedondong,…. Ya ga nyambung dooong…

Karena itu pada blog ini, sebagai sesama awam saya ingin sharing tentang pantun ini.  Pada tahap ini bait-bait yang pernah saya buat dan pampangkan sebelumnya di blog saya yang lain  http://riau2020.blogspot.com saya pindahkan ke bawah ini karena sudah cukup banyak dan isinya sudah lewat “masa tayang” yaitu tentang puasa dan pemilukada Riau berikut hasilnya. Ke depan saya berupaya menampilkan pantun-pantun yang lain dan coba menuliskan penerokaan saya yang awam dalam membuat pantun.

Pantun-pantun terdahulu:

Cantik sekali gelang suasabaju-melayu-kuning
Digosok dengan si kain satin
Bersihkan hati jelang puasa
Mohon maaf lahir dan bathin
(29 Agustus 2008)

Jika shaum sekedar formal
Ketika siang lemas terkapar
Hendaknya diisi dengan amal
Agar tak cuma haus dan lapar
(3 September 2008)

Awal Ramadhan penuh rahmah
Sepuluh hari puasa berlalu cepat
Sekarang sudah penggal magfirah
Tubuh terasa fit pahala pun dapat
(13 September 2008)

Bila tukang tegak bangunan
Berdoa sebelum memecah tanah
Ramadhan masuk penggal ampunan
Senin Riau pilih pemimpin amanah
(21 September 2008)

Anak kerapu dari Prabumulih
Hendak dipelihara di air payau
Peminpin baru sudah terpilih
Semoga amanah majukan Riau
(23 September 2008)

Membayar zakat kepada fakir
Zakat dibayarkan pagi hari
Puasa segera akan berakhir
Kita rayakan Idhul Fitri
      
Minal Aidin wal faidzin
Pantun sebagai ganti diri
Mohon maaf lahir dan batin
Semoga kita kembali fitri
(24 September 2008)
           
Songket dicuci menjadi cantik
Enak dipakai berlama-lama
Gubernur baru tinggal dilantik
Mari kita dukung bersama-sama
(8 Oktober 2008)

Read Full Post »

Bintan juga punya kawasan wisata Lagoi yang ekslusif yang akan kami kunjungi di hari ke tiga, sebelum meneruskan perjalanan ke Batam yang merupakan kota nostalgia The Backpackers (the B).   Setelah sarapan kami check-out dan meluncur menuju ke kawasan wisata Lagoi di Bintan Utara. Jalan yang kami ikuti, sebelum berbelok ke Barat di daerah Berakit untuk masuk kembali ke jalan arteri Bintan, masih menyusuri tepi pantai melewati kawasan wisata Pantai Trikora. Selain beberapa resort, daerah ini merupakan kawasan wisata umum yang banyak dikunjungi pada hari-hari libur.

Pantai Trikora
 
Terletak di sebuah teluk, Pantai Trikora merupakan pantai yang landai dengan hamparan pasir putih yang disambut oleh lidah laut nan biru dan tenang. Tebing pantainya juga masih kombinasi antara pepohonan dan singkapan batuan granit yang terajut menjadi gubahan alam yang mendecakkan. Ketika saya mampir beberapa waktu dulu, cukup ramai pengunjung yang menikmati keindahan pantai atau bermain di laut sambil menikmati kelapa muda di bawah lambaian pohon kelapa.

Sayang sekali objek wisata ini baru dikembangkan sekedarnya. Tempat pengunjung dikelola oleh masyarakat secara tradisional; ketersediaan sarana dan layanan masih sangat minimal dan seadanya, termasuk urusan kebersihan. Entah karena lahan-lahan disepanjang pantai itu milik perorangan atau karena hanya mengandalkan sumberdaya manusia dan dana pemerintah daerah saja, kawasan wisata ini bagaikan batu mulia yang belum diasah. Selain pantai, kebun kelapa yang sudah tua dan rerimbunan hutan belukar sepanjang jalan merupakan pemandangan yang menarik.

Jalan menuju Lagoi di sekitar pantai Trikora

Jalan lokal dari Trikora ke Lagoi ini sangat cocok untuk mereka yang suka road cycling, pikir saya. Ketika saya surfing di internet, ternyata memang sudah ada klub sepeda demikian yang didirikan oleh orang dan bermarkas di Singapura!! Kadang sedih juga kok banyak tempat-tempat di negeri kita lebih dinikmati oleh orang dengan murah tanpa banyak membawa dampak kemakmuran pada masyarakat setempat.

Perjalanan ke Lagoi makan waktu hampir dua jam, termasuk di jalan dalam kawasan wisata Lagoi. Jalan yang dibuat oleh pengembang sangat mulus dengan geometri yang baik. Tempat yang kami tuju adalah Pantai Mana-Mana yang sekarang namanya Nirwana Beach Club.


Nirwana Beach Club (dulu pantai Mana-Mana), Lagoi

Kawasan Lagoi yang diresmikan oleh Presiden Soeharto dan PM Singapura Goh Chok Tong 18 Juni 1996 ini memang ekslusif. Disana terdapat beberapa resort pantai mewah dengan hotel bintang lima dan lapangan golf yang lebih cenderung dipasarkan untuk orang asing melalui Singapura. Ada satu hole par 3 di padang golf Ria Bintan yang terkenal karena pemandangannya sungguh breathtaking. Jumlah kunjungan wisman mencapai 40 ribu orang per bulan dengan tarif dollar sehingga menjadi kawasan yang asing bagi masyarakat Bintan sendiri. Karena itu juga, the B memilih menginap di Teluk Bakau dan hanya mencoba berbagai alat water sports di Nirwana Beach Club sampai sekitar jam 14.00, kemudian menuju Tanjung Uban.

Breathtaking Hole 9 (Par 3) of Ria Bintan Golf Course (from Internet)

                       
Setelah makan siang di Tanjung Uban kami langsung menyeberang ke Telaga Punggur, Batam, dengan speedboat umum dan menuju ke arah kota. Di daerah Sukajadi kami mampir untuk sholat di sebuat masjid yang cantik dan bersih, sebelum mengenang masa lalu ketika kami tinggal di Sungai Harapan, Batam, tahun 1993-1994. Pertama kami mengantarkan Affan melihat sekolah TK Kartini-nya, ke rumah yang pernah kami tempati, terus ke SD Kartini tempat Ashri dan Dani sekolah, dan Kantor Dinas PU Batam.
             
                   
Tak lupa kami juga menyempatkan berputar-putar di kawasan perbelanjaan Nagoya. Sangat terasa saat ini tidak begitu ramai lagi pengunjung di Nagoya; selain keperluan wanita seperti parfum, tas, sepatu, dan semacamnya, barang-barang yang dijual juga terbatas dan kurang uptodate. Kami coba window shopping di toko kamera dan alat-alat komputer, lebih baik kita membeli barang-barang sejenis di Jakarta yang lebih lengkap dan harganya hampir sama.
                                 
Malam itu kami kembali menyempatkan menikmati kuliner ikan di Seafood Sampan. Disebut demikian karena tempat makan ini memajangkan ikan mentahnya dalam wadah berupa sampan untuk dipilih oleh peminat; bisa dibakar, goreng, steam, masak asam manis atau tauco. Kami memilih menikmati ikan lobam (baronang) bakar, kangkung belacan (cah terasi), dan lokan asam manis di meja di bawah langit, sesuai dengan ke khasan makan di situ.
               
Setelah beristirahat malamnya, hari berikutnya adalah perpisahan. Anggota the B terbagi dua; tiga orang yang kuliah di Bandung langsung dari Batam ke Jakarta sedangkan saya bertiga kembali ke Pekanbaru. Meskipun kami sudah bersama-sama tiga hari, perpisahan itu terasa cukup menyesakkan karena tidak berlangsung di rumah. Dengan sedikit sendu dan mata berkaca-kaca the B masuk ke dua ruang tunggu bandara yang berbeda. Anyway, alhamdulillah kami sudah diberi kesempatan untuk mengagumi kebesaranNya dengan penuh rasa kebersamaan.

Read Full Post »

Bintan memang lingkungan bahari nan kaya.  Hari kedua di Bintan, kami menghabiskan hari untuk melaut. Jam 10 pagi The Backpackers (the B: saya, isteri, Ashri, Dani, Affan, dan Dinda) serta dua orang wisatawan Singapura yang dikawal dua orang pemandu, dengan menggunakan speedboat meninggalkan jetty Bintan Agro menuju kawasan Pulau Mapur, lokasi snorekeling. Perjalanan dalam cuaca cerah dan tenang itu ditempuh dalam waktu sekitar 45 menit. Pulau ini dan beberapa pulau lainnya yang berada di depan Teluk Bakau melindungi teluk itu dari terpaan langsung gelombang Laut Cina Selatan.
        
Laut di Teluk Bakau membiru berkilauan diterpa cahaya mentari pagi itu. Masing-masing the B yang sudah siap dengan perlengkapannya penuh keingintahuan seperti apa keindahan laut dan karang di sekitar Bintan ini. Salah seorang anggota the B yang sudah pernah menyelam di Lampung, Pulau Seribu, dan Tulamben Bali banyak memberi info tentang keindahan terumbu karang dan fauna di tempat-tempat lain itu.
             
                    
Jika anda sudah menonton film Laskar Pelangi, di gugusan pulau-pulau sekitar Bintan juga banyak singkapan batu granit seperti di Belitong. Meski kami tidak mendarat di pasir putih yang membentang, pulau-pulau itu sangat indah dan jika direnungkan ia mampu mengecilkan kita sebagai hamba Allah Sang Maha Pencipta. Keindahan pulau-pulau yang kebanyakan kosong ini membangkitkan rasa ingin berlama-lama di sana.
                               
                                     
Sampai di lokasi di depan pantai Pulai Mapur boat berhenti dan jangkar dilemparkan. Ditemani dua pemandu itu, satu persatu peserta termasuk dua Singaporean itu mencebur ke air, kecuali saya dan isteri, yang tetap mengenakan pelampung sampai beberapa waktu kemudian dilepasnya karena kepanasan. Si gadis kecil kami juga sempat menikmati pemandangan indah dasar laut itu beberapa puluh menit dengan kawalan abang-abangnya secara bergantian. Lautnya sangat jernih dan bersih dengan kedalaman 2 sampai 4 meter sehingga dari atas boat kami juga dapat melihat dasar laut yang penuh karang.
                                                  
                  
Ketika beristirahat di atas boat, mereka menceritakan pengalaman masing-masing. Ashri melihat banyak rumpun karang yang lebih indah dengan ikan yang relatif lebih banyak di daerah tubir (tebing curam dasar laut) yang agak jauh dari boat. Saat kami disitu, ikan agak kurang di karang karena sedang pergi ke bagian yang lebih dalam melewati tubir; setelah hari agak teduh sorenya, ikan-ikan itu baru akan kembali ke daerah karang yang lebih dangkal.
                                                
Dani yang aktivis Unit Kegiatan Mahasiswa “Nautika” (pencinta selam) di ITB menyebutkan bahwa meskipun tidak seindah di Tulamben Bali, karang yang ada disitu cukup indah seperti yang ada di Pulau Seribu. Bahkan dia menjumpai jenis yang berwarna hijau-biru yang dia tidak tau jenisnya dan habitat karang yang masih sangat perawan. Karena itu dia sangat menyayangkan adanya jangkar besi yang dilemparkan tadi yang mana pada saat diangkat nanti akan merusak karang yang baru akan tumbuh jadi seukuran itu lagi sekitar 10 tahun kemudian. Jangankan kena jangkar, dipegang manusia pun karang itu akan terpengaruh pertumbuhannya. Terlepas dari environmental concern itu, yang pasti semua sangat senang menikmati keindahan karang disitu sehingga tak terasa hari sudah siang.
                              
Perjalanan pulang diarahkan ke dua pulau yang lebih dekat dengan pantai Bintan di Teluk Bakau. Yang pertama, di Pulau Beralas terdapat resort kecil dengan cottage-cottage ala Papua di depan pantai yang berpasir sangat putih yang hanya kami lewati saja. Menurut pemandu, untuk menikmati resort yang sangat indah dan tenang itu kita harus merogoh kocek tak kurang dari S$1.000 per malam. Itu pun harus booking dulu sebelumnya melalui agen pemasaran di Singapura.
               
                                   
Pulau yang kedua adalah Pulau Pasir Putih yang tidak kalah cantiknya namun di sana hanya ada beberapa pondok tempat nelayan berhenti. Kami turun untuk bermain-main di pantainya yang lautnya jernih. Ketika kami datang beberapa orang putih (bule) sedang bersiap-siap akan kembali ke salah satu resort di pantai Teluk Bakau. Sangat luar biasa pengalaman bahari hari itu, sampai jam 14.00 tidak terasa bahwa perut sudah lapar. Sesegera sampai kembali di resort kami makan ala fastfood dan istirahat atau bermain-main sampai menjelang maghrib.
            
            
Hari kedua ini kami memang benar-benar dapat menikmati keindahan ciptaan Allah yang tidak jauh dan asing dari kediaman kami di Pekanbaru. Kegiatan melaut dan snorekeling terasa sangat memuaskan, sepadan lah dengan biaya Rp400 ribu per orangnya.
     
Malamnya kami kembali candle light diner dengan menu seafood yang berbeda. Ada menu khusus malam itu: gonggong, semacam siput laut yang direbus kemudian makannya dicacah dengan saus kacang agak pedas. Gonggong ini didapat dari laut sekitar Bintan karenanya itu memang hanya populer di sekitarnya dan Batam. Cara makannya mula-mula “kaki”nya yang seperti kuku kepiting ditarik keluar, jika tidak terjangkau jari digunakan garpu kecil atau tusuk gigi. Kemudian ditarik pelan-pelan sehingga seluruh badannya terbawa. Tinggal dicacah dan hm.. ke dalam mulut… kecuali kukunya yang berzat tanduk itu…
                         
Selesai makan malam, selanjutya kami simpan tenaga karena pagi besoknya akan melanjutkan perjalanan ke kawasan wisata Lagoi, Bintan bagian Utara yang terkenal itu.

Read Full Post »

Older Posts »