Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2008

Tulus versus Pamrih

Tulus dan pamrih adalah dua kata yang menggambarkan tingkah hati yang tercermin pada laku.  Keduanya melalui proses dan gerak yang sama, namun nilainya sangat bertolak belakang yang hanya dapat dibunyikan oleh nurani.  Bagaikan dipisahkan oleh selembar membran tipis, kita sulit menemukan arah tingkah hati ini yang sebenarnya, sampai gerak pelakunya selesai atau dihakimi oleh waktu jauh di kemudian hari.

Karena itu, dalam berinteraksi dengan sesama, senantiasa terjadi irama dan riak yang berangkat dari ekspektasi atau prediksi dan realita dari suatu gerak atau laku.  Pengalaman yang ada mendorong hati kita ke prediksi negatif (terminologi agamanya: su’uzhon) tapi akan mendapatkan keterkejutan jika realitanya positif. Sebaliknya, ekspektasi yang senantiasa positif (husnuzhon) akan menimbulkan kekecewaan dan appresiasi buruk jika realitanya negatif. 

Kemaren, saya mengalami kekecewaan itu karena terjadi pada lingkungan yang dekat sekali.      Berangkat dari sikap husnuzhon maka sudah semestinya memberikan kepercayaan pada pihak yang layak dan sepatutnya akan melakukan sesuatu dengan tulus.  Ternyata waktu menunjukkan realita yang berbeda; kepercayaan yang terang benderang disambut dengan pamrih secara diam-diam!

Sebagai komtemplasi, jadinya timbul tanya apakah demikian kehidupan itu; sudah demikian langka orang yang melakukan sesuatu dengan tulus?  Atau justru kepercayaan itu yang tidak proporsional dan tanpa saya sadari memberikannya tidak pula dengan tulus?  Mudah-mudahan Allah mengampuni kita semua.

Read Full Post »

Pantun hari ini hanya populer di negeri-negeri Melayu, itupun lebih banyak sebagai pelengkap dari ungkapan berbudaya Melayu. Padahal ia merupakan salah satu sastera lisan yang diwariskan oleh para pujangga sejak zaman kerajaan-kerajaan Melayu dulu yang merupakan kawasan asal Bahasa Indonesia. Tingginya falsafah dan muatan budaya pada pantun, sepatutnya jadi mendorong kita agar berupaya melestarikannya.
  

Menurut pemahaman saya yang awan, pantun merupakan ungkapan perasaan dan pikiran yang disampaikan melalui empat baris untaian kata-kata yang berkaitan. Dua baris pertama disebut sampiran; baris ke tiga dan ke empat adalah isi. Tiap baris terdiri dari 4 sampai 5 kata yang jumlah seluruh suku-katanya 8 sampai 12.

Antara sampiran dan isi terdapat kaitan kesamaan bunyi, terutama pada kata yang terakhir. Kesamaan bunyi antara baris sampiran dan isi ini sering dikatakan sebagai rima (dari ritme mungkin ya?) dengan diskripsi rumusan bunyi “ab-ab”, “aa-bb”, atau “aa-aa”. Makin dekat kesamaan bunyi ini dan makin banyak kata-kata pada sampiran dan isi yang mempunyai kesamaan bunyi, makin enak sebuah pantun didengar.

Jadi pantun gaul seperti berikut ini tidaklah masuk ke dalam kriteria pantun yang sebenarnya.

“Jaka Sembung makan kedondong,
Ya ga nyambung dooooong…..”

Selain jumlah baris, kata, dan suku katanya tidak memenuhi kriteria, pantun gaul ini lebih pada menekankan bunyinya yang “a-a” saja. Juga maknanya memang tidak menyambung antara sampiran (yang Cuma satu baris) dan isi yang juga satu baris. Mungkin lebih tepat kalau disebut sebagai “ungkapan ngepop” saja. Bagaimana pula pantun yang ini?

“Ikan sepat ikan gabus,
Ketiga dengan ikan lele,
Makin cepat makin bagus,
Juga jangan bertele-tele.”

Yang kedua ini sepintas sudah memenuhi kriteria pantun yaitu dari segi baris, jumlah kata dan suku kata, kesamaan bunyi, konteks baris-baris sampiran, dan baris-baris isi. Dari segi kandungan baris isi juga sudah bagus, namun sampirannya berbentuk frasa; padahal lazimnya dan akan setara bila juga berbentuk kalimat sehingga setara antara sampiran dan isi.

Dari segi arti yang meskipun tidak ada kaitan secara langsung, sampiran dan isi menggambarkan kualitas sebait pantun. Sampiran berfungsi sebagai pengantar atau pengkondisian menuju sebuah ledakan pikiran dan emosi pendengar atau pembaca pantun. Karena itu sampiran sering memakai perumpamaan atau keadaan alam yang menggambarkan atau berkaitan dengan kandungan yang disampaikan isi. Ketika pantun menjadi bahasa pergaulan yang disampaikan secara spontan, nampaklah betapa tingginya nilai seni sastera pantun yang memerlukan kepiawaian dan kecerdasan sang pembuat atau pengucapnya.

Ditinjau dari isinya, pantun bisa memuat berbagai misi mulai dari nasehat sampai humor. Karena itu ada yang disebut dengan pantun nasehat, pantun kasih, pantun adat, pantun jenaka, dan sebagainya. Jika waktu dulu dipakai untuk menyampaikan maksud secara santun dan halus, zaman sekarang pantun lebih sebagai bunga-bunga interaksi lisan dalam suatu kegiatan kolektif seperti sambutan, pidato atau orasi, acara adat, perkawinan, dan acara-acara hiburan.

Karena itu pula, untuk menjaga kelestarian sastera Melayu yang cerdas ini perlu dilakukan usaha-usaha pengenalan dan sosialisasinya secara baik dan konsepsual kepada generasi muda. Selain terus dipakai dalam acara-acara adat, sebaiknya diadakan acara berbalas pantun lebih sering dan berkelanjutan. Memahami dan menikmati pantun yang merupakan warisan tradisi Melayu ini kan bisa oleh siapa saja dan tidak mesti harus jadi seorang yang ahli dulu untuk bisa membuat pantun. Jika anatominya sudah kita pahami, ternyata membuat pantun itu mudah!!
  
Rimbun sungguh si dahan kayu
Tempat anak dara bercengkrama
Pantun adalah warisan Melayu
Hendaknya kita jaga bersama-sama

Sumber foto:
http://flickr.com/photos/11011091@N08/2566065056, melayuonline.com, http://flickr.com/photos/20947530@N06/2046480874, opiniindonesia.com/opini/?p=content&id=13

Read Full Post »