Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2009

Masjid Jami’ Air Tiris merupakan salah satu objek wisata Provinsi Riau yang jangan sampai terlewatkan. Masjid antik ini terletak di Pasar Usang, Desa Tanjung Berulak, Air Tiris, Kabupaten Kampar, sekitar 52 km dari Pekanbaru. Meskipun terletak agak ke dalam dari jalan Pekanbaru-Bangkinang namun masjid yang mempunyai keunikan tersendiri bisa dicapai langsung dengan kendaraan darat melalui jalan aspal yang mulus.

Masjid sebelum direhabilitasi

Masjid sebelum direhabilitasi

Masjid ini didirikan tahun 1901 atas prakarsa Engku Mudo Sangkal, seorang ulama yang mengonsolidasikan potensi ninik-mamak dan cerdik-pandai dari 20 kampung di kenegerian Air Tiris. Sebagai panitia pembangunannya adalah yang disebut dengan “Ninik Mamak Nan Dua Belas” yaitu para ninik-mamak dari berbagai suku yang ada dalam seluruh kampung. Mereka mengerjakannya bersama anak kemenakan, termasuk tukang dari Trengganu, Malaysia, yang membuat mimbar yang dikerjakannya di Singapura. Tahun 1904 masjid ini selesai yang diresmikan dengan meriah oleh seluruh masyarakat Air Tiris dengan menyembelih 10 ekor kerbau.

Masjid nan megah tapi antik

Masjid nan megah tapi antik

tangga depan

Bentuk masjid ini konon merupakan campuran arsitektur “Rumah Lentik” Melayu Kampar dan Cina. Masjid dengan bahan konstruksi utama kayu ini terdiri dari bangunan induk yang ukuran aslinya 30X40 m, mihrab 7X5 m, menara, dengan tinggi bangunan 24 m, serta dilengkapi dengan 2 mimbar, 1 buah telaga, dan 3 buah kulah air. Atapnya berupa limas tiga tingkat yang meruncing ke atas dengan tiang dan konstruksi kayu yang masih asli terlihat sangat indah. Demikian pula dindingnya yang miring, penuh dengan ornamen atau ukiran yang mirip dengan ukiran yang terdapat di dalam sebuah masjid di Pahang, Malaysia. Engku Mudo Sangkal juga menukilkan ukiran di depan mimbar dan pada dua tonggak panjang dalam masjid masing-masing basmallah dan dua kalimah syahadat.

Keunikan lainnya, pemasangan komponen bangunannya tidak menggunakan paku dari besi tapi dengan teknik lidah dan pasak yang juga dari kayu. Pada keadaan aslinya dulu, atapnya pun berupa kepingan-kepingan papan kayu tetangu yang tahan berhujan panas dengan panjang 1 meter. Pada tahun 1971 dilakukan rehabilitasi bagian-bagian masjid yang sudah lapuk sehingga hari ini masih berdiri dengan megahnya dan banyak dikunjungi penziarah.

Sangat disayangkan, ada hal yang kurang pas pada properti masjid ini. Di dalam salah satu kulah air itu terdapat sebuah batu alam yang besar dan bentuknya seperti kepala kerbau tanpa tanduk dan telinga. Konon batu itu bisa berpindah posisi dalam kulah itu dengan sendirinya sehingga dikeramatkan yang mempercayainya. Para penziarah yang banyak datang pada hari raya puasa enam, bukannya mengagumi keindahan bangunan kayu hasil karya arsitektur yang sudah berumur 108 tahun itu atau mengambil kesempatan untuk sholat sunnah di dalam masjid itu, malah banyak yang lebih mementingkan untuk menziarahi “kepala kerbau” itu. Mencuci muka atau tangan dengan air dari kulah itu dipercaya dapat memberi berkah. Tidak heran jika pihak Departemen Agama tidak memasukkan “kepala kerbau” ini dalam info tentang masjid ini. Karena itu kita pun tentu harus hati-hati agar tidak terjerumus ke dalam syirik.

Hal kedua yang masih perlu ditingkatkan adalah pengelolaan Masjid Jami’ sebagai objek wisata yang potensial. Jaraknya yang dekat dengan Pekanbaru dan dapat dikombinasikan dengan wisata kuliner dan Kampung Asli Pulau Belimbing di Kuok tentu sangat potensial sehingga harus dikelola secara lebih baik dan profesional. Dengan infrastruktur jalan yang sudah memadai, seyogyanya objek itu dilengkapi dengan publikasi yang lengkap, tanda dan penunjuk arah yang jelas, penataan kawasan sekitar yang sesuai untuk dikunjungi wisman, informasi yang tersedia dan lengkap, pemandu wisatak, dan aspek-aspek penunjang objek wisata lainnya.

Tentunya peningkatan dan pengelolaan ini harus dilakukan secara, konsepsional, komprehensif, dan efektif dengan mengikutsertakan semua pemangku kepentingan yang ada. Mudah-mudahan langkah itu akan membuat makin banyak orang berziarah sepanjang tahun sehingga membawa kemaslahatan pada masyarakat setempat khususnya, Provinsi Riau umumnya. Amin.

Read Full Post »

Pepatah

Dalam masyarakat Melayu sangat lazim penggunanan peribahasa atau pepatah. Peribahasa adalah ayat atau kelompok kata yang mempunyai susunan yang tetap dan mengandung pengertian tertentu, bidal, atau pepatah (Wikipedia). Insterumen pepatah ini digunakan untuk menyampaikan sesuatu kekurangan atau kelemahan secara tidak langsung agar tidak menjadi perselisihan atau tetap dapat menjaga tali silaturrahim.

Bagi sebagaian orang atau generasi sekarang cara ini mungkin dianggap kurang efisien atau bertele-tele namun kalau kita kembalikan ke martabat kemanusiaan, pendekatan social-budaya ini tentu masih sangat relevan. Ia akan dapat menghindarkan gesekan atau menekan eskalasi tensi antara para pihak yang berbeda pandangan tentang suatu hal. Cara-cara yang langsung dan lugas (straight forward) bisa jadi efektif namun akan menjadi bahan bakar pada pihak lain yang merasa dirugikan atau yang terpojok. Selain bahwa pepatah itu suatu instrumen pergaulan dalam peradaban, kunci lain adalah pemahaman awal (biasanya mentradisi) terhadap maksud dari masing-masing pepatah sehingga ketika kita mendengarnya sudah otomatis tahu konteks dan kemana arah percakapan orang yang menyampaikannya.

Ada dua pepatah yang dapat dijadikan contoh pada era pemilihan langsung hari ini. Pertama, “Buruk muka, cermin dibelah”; maksudnya seseorang yang ketika bercermin melihat mukanya yang buruk atau tidak sesuai keinginannya lantas karena marah memecahkan cermin itu. Maknanya adalah orang yang tidak mau mengakui kekurangan diri sendiri tapi lebih cenderung mempermasalahkan dan menyalahkan orang lain. Terlepas dari kekurangan orang lain itu, secara akal-budi dan kemanusiaan yang bermartabat seyogyanya kita lebih melihat kekurangan dan kelemahan diri sendiri agar bisa melakukan koreksi terlebih dahulu. Akan jadi kontroversi jika kelemahan kita lebih besar dari kelemahan orang lain yang kita kritisi.

Pepatah kedua adalah: “Hidung tak mancung, pipi disorong-sorongkan.” Maksud pepatah ini adalah seseorang yang ternyata hidungnya tidak mancung sebagai salah satu lambang kegagahan atau kecantikan tapi mencoba menggantikannya dengan pipi yang fungsinya tentu berbeda. Agak sejalan dengan yang pertama, pepatah ini menggambarkan orang yang memaksakan kehendak agar diterima sebagai menantu, dalam jabatan tertentu, atau pemimpin sementara orang tahu ada kekurangannya sehingga tidak dipilih.

Sebenarnya ada banyak lagi peribahasa atau pepatah yang senada dengan keduanya, seperti: ”Kaki yang pincang, dikatakan lantai berjungkat” dan ” Tak lalu dandang di air, di gurun ditanjakkan juga” (dandang = perahu, pen). Sebaliknya, yang tidak akan kita kaji pada kesempatan ini, juga terdapat beberapa pepatah yang mengajarkan kearifan, kerendahan hati, dan sikap mau mengintrospeksi diri dalam tradisi Melayu.

Tunjuk ajar Melayu ini tentu lahir dari tradisi kehidupan yang sudah teruji dan disepakati. Karena itu sudah sepatutnya kita simak kearifan yang diusungnya. Mudah-mudahan kita termasuk pada orang yang mau menyimak kaearifan itu.

Read Full Post »

J o k i

Sebuah koran ibukota terbitan Jumat 3 Juli 2009 memuat berita tentang tertangkapnya 10 orang joki yang diduga mempunyai jaringan nasional. Jika berita ini dibaca ketika zaman pacuan kuda Pulomas Jakarta atau Bukit Ambacang Bukittinggi masih aktif, orang tentu akan bertanya-tanya: terlibat kasus apakah 10 anak pacuan kuda itu?

Joki memang orang yang profesinya menunggang kuda dalam pacuan. Supaya ringan, biasanya dipilih yang masih anak-anak atau tubuhnya relatif kecil tetapi sangat pintar mengendalikan kuda. Bukan supaya baik jalannya seperti dalam lagu Naik Delman itu tapi supaya kencang dan unggul mencapai garis finish dibanding kuda lainnya.

Joki yang dimaksud dalam berita itu bukan anak pacuan atau si penunggang kuda karena sedang tidak ada kegiatan pacu kuda. Penangkapan itu dalam konteks ujian Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di Makassar. Joki adalah seseorang yang ikut ujian itu untuk menuntun orang atau calon lain dengan berbagai cara supaya lulus untuk masuk perguruan tinggi favorit pilihannya yang tingkat peluangnya kecil.

Jadi, calon itu dengan sedikit “maksa” ingin diterima di fakultas pilihannya di suatu perguruan tinggi favorit. Karena kemampuan akademiknya sebenarnya tidak memadai atau karena kurang rasa percaya diri, dia cenderung mencari jalan pintas dengan bantuan seseorang dalam ujian itu. Orang yang biasanya pintar dalam mata-ujian mata-ujian itu lah yang disebut joki yang melakukan itu dengan imbalan. Diantara kedua pihak sudah membuat komitmen sejak awal tentang trik bagaimana mendapatkan tempat yang berdekatan dan cara berinteraksi dalam ruang ujian serta apa imbalannya.

Bukan untuk maksud “mengajarkan” cara kotor ini (“jangan ditiru,” pesan acara-acara demonstratif-akrobatis yang berbahaya), dapat kita duga bahwa trik yang dijalankan sangat beragam yang kadang tidak terbayangkan sebelumnya. Sebagaimana yang dilaporkan koran itu, sang joki memberikan jawaban soal kepada kliennya. Jaringan joki di Makasar ternyata terdiri dari 10 orang (1 orang mahasiswa Unhas dan 9 mahasiswa ITB!!!) dengan 6 orang klien yang dikoordinasikan oleh seorang sarjana kedokteran Unhas. Para pengguna jasa joki itu akan membayar Rp 135 juta jika nanti lulus SNMPTN.

Sementara itu dilaporkan pula di Bandung, ada dua peserta SNMPTN yang melakukan kecurangan dengan alat komunikasi canggih berupa microchip mini seukuran kurang dari koin Rp 100. Panitia juga menyita dua telepon seluler, transmitter, dan kabel yang berwarna seperti kulit manusia. Karena itu panitia SNMPTN lokal Bandung menduga masih ada 13 orang pelaku lain yang terkait ke jaringan organisasi nasional.

Mencermati trik-trik yang dipakai, penggunaan joki ini bisa saja dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung-jawab pada berbagai taraf dan jenis pendidikan. Dengan berbagai trik, joki bisa beroperasi pada tes masuk SMU atau masuk jenjang S2 dan S3. Bisa pula terjadi pada tes bahasa seperti TOEFL, seleksi pendidikan penjenjangan karir PNS, atau ujian sertifikasi profesi. Semuanya tentu kembali pada nurani dan moral para joki dan pelakunya.

Terlepas dari masalah moral, seseorang yang “berhasil mengelabui diri sendiri” itu belum tentu akan bisa berhasil dalam proses belajarnya. Sewaktu-waktu bisa muncul dari nuraninya rasa malu atau bersalah telah menempuh jalan serong itu, apalagi jika dia menemui hambatan atau kegagalan secara parsial. Jika pun lolos dari jerat hukum dan berhasil lulus, mungkin dengan nilai yang pas-pasan, rasa bersalah atau tidak percaya diri yang baru akan muncul lagi ketika menghadapi realita kehidupan di lapangan yang sering tidak mudah. Sebenarnya, antara atribut yang didapat dengan cara yang berbau off-side atau semu dan harkat kemanusiaan, manakah yang lebih berharga bagi para pelaku ini?

Read Full Post »

M a r w a h

Manusia adalah ciptaan terbaik di muka bumi. Secara fisik ia memiliki tubuh yang paling lengkap dan sempurna. Yang lebih istimewa dari manusia adalah karena ia berakal-budi.

Berakal maksudnya manusia itu bisa berfikir, memahami, berinisiatif, menilai, berkarya, dan membedakan. Artinya manusia itu merdeka atau punya kebebasan untuk memilih mana yang baik dan buruk, antara yang putih dan hitam, serta antara yang bermanfaat dan sia-sia. Namun selain mengacu pada akal, gerak langkah manusia dikawal pula oleh rasa yang menurunkan budi. Budi adalah kesepakatan-kesepakatan tentang pilihan manusia akan sesuatu berdasarkan suatu keyakinan, misalnya norma hukum, sosial atau agama.

Pilihan-pilihan manusia sebagai makhluk sosial atau berkelompok, tidak bisa hanya berdasarkan saringan akal atau karena keinginan tapi harus pula mengacu pada budi tadi. Makin jauh dari budi maka makin kurang berharga secara sosial; makin dekat dan mengikuti nilai-nilai budi maka manusia itu akan makin dihargai oleh kelompoknya. Disini lah manusia berbeda dengan makhluk lainnya; manusia memiliki martabat atau marwah.

Karena itu meskipun merdeka, pilihan atau tindakan manusia harus berdasarkan pada suatu keinginan yang etis dan komit pada budi tadi. Dalam bahasa agama disebutkan bahwa nawaitu atau niatnya haruslah ikhlas dalam rangka mengabdi pada dan merelasikan diri dengan Sang Khalik, sesuai dengan misi penciptaan manusia. Selain niat, pilihan itu selain akan bermanfaat buat diri sendiri tentu juga buat orang lain sehingga akan menaikkan martabat si manusia. Yang terbaik secara falsafi adalah bila Suatu tindakan atau kebijakan membawa manfaat terbesar bagi sebanyak mungkin orang (the greatest good for the the greatest number).

Hari ini kita melihat banyak tingkah orang yang berada di luar koridor itu, kalau tidak mau menyebut sebagai orang banyak tingkah. Terlepas dari niat yang memang sulit kita ketahui, banyak orang yang dengan tanpa sungkan melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan marwah dirinya sendiri. Pekerjaan atau keberhasilan orang lain bisa diakui sebagai karyanya, pekerjaan ramai-ramai dikatakan sebagai hasil kerjanya sendiri. Ada pula yang mau menghalalkan segala cara demi keberhasilan lahiriah meskipun orang tetap tahu bahwa itu hanya tingkah akrobatis atau artifisial semata.

Dalam konteks hari-hari ini, orang bahkan bukan hanya tak peduli pada marwah dirinya tapi malah meruntuhkan marwah kemanusiaan itu. Marwah manusia yang melekat ke akal-budi tadi, dengan mudah dikikis dengan pamrih atau berbagai kepentingan sesaat yang bermuatan politis, popularitas, atau dagang. Banyak tokoh tanpa sungkan membagi-bagi sembako atau paket bantuan kepada orang-orang tak mampu untuk menarik simpati dan suara pemilih, meskipun sebelumnya tidak pernah peduli pada kesusahan orang lain. Dengan maksud yang sama, ada pula orang yang tanpa beban menghamburkan janji-janji yang tidak rasional dan tidak realistis, padahal meskipun sebelumnya mampu tapi dia tidak berbuat banyak sebagaimana janjinya itu. Tidak kurang pula orang yang tanpa malu-malu mengkritisi kekurangan suatu sistem yang dia sendiri ada dan punya peran dalam sistem itu.

Hal ini terjadi karena kita kurang berpegang kuat pada akal budi yang sudah dikaruniakan pada manusia. Kita terkesima pada gemerincing mata uang, silau dengan gemerlapnya harta benda, dan menyembah kekuasaan. Tanpa perlu tahu niatnya pun kita bisa melihat banyak orang menghamba pada hal-hal yang temporer dan artifisial sehingga tampak hampa dan tak bermarwah. Mestinya segala gerak langkah kita dimulai dengat niat yang baik dan bersifat hakiki atau substansial yang bersumber dari akal-budi tadi. Akal-budi juga kita gunakan untuk mendapatkan kesuksesan dalam hal apapun secara lebih bermarwah. Di tengah derasnya arus materialistik-hedonistik-sekularistik yang mengglobal hari ini, mampukah kita merefleksikan akal-budi yang menjunjung marwah kemanusiaan itu pada diri kita masing-masing?

Read Full Post »