Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2009

Presiden SBY dan Wakil Presiden SBY sudah dilantik tanggal 20 Oktober lalu.  Pelantikan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II pilihan SBY telah pula berlangsung dua hari sesudah itu.  Sebagai warga Negara, selain wajib mendukung pemerintah yang legitimate ini, kita tentu juga mengucapkan rasa syukur dan tahniah atas kepercayaan yang diamanahkan rakyat yang dapat kita curahkan dalam berbagai bentuk dan cara.

Saya juga berkeinginan untuk mengekspresikan rasa itu secara ikhlas dengan cara saya sendiri.  Mengirimkan karangan bunga kepada beliau-beliau semua tentu tidak praktis dan mungkin kurang besar manfaatnya, bukan dalam arti pamrih agar mereka mencatat nama saya, karena tidak akan memberikan implikasi yang signifikan bagi orang ramai.  Memasang iklan di media, selain akan makan biaya yang sangat mahal untuk manfaat yang juga kurang mengena pada kepentingan umum, bisa pula mendorong ke pamrih atau riya.

Dua buku yang berisi prophetic leadershipSebagai gantinya saya akan “membingkiskan” dua buah buku kecil tentang kepemimpinan untuk pak SBY dan Budiono beserta para menteri dengan harapan mudah-mudahan isinya relevan dan bermanfaat bagi mereka sebagai para pemimpin yang telah dipercaya rakyat.  Mereka adalah orang-orang yang punya reputasi dan teruji sudah dalam kancah politik, pemerintahan, profesi, ataupun kemasyarakatan kita namun demi makin mantapnya upaya mereka menjalankan tugas menyejahterakan bangsa kita, tidak ada salahnya kalau kado ini saya kirimkan sebagai bahan bacaan.  Saya sebut buku kecil karena secara fisik kedua buku yang saya jumpai dengan tidak sengaja di toko buku ini memang kecil namun ternyata memuat sesuatu yang besar tentang kepemimpinan.

Kejadiannya bermula ketika saya penasaran dengan isu kepemimpinan (leadership) yang ketika itu menghangat dengan pelantikan presiden dan wakil presiden, munas partai, dan proses pemilihan para calon menteri.  Rasa penasaran tentang leadership itu berkaitan dengan paradigma kepemimpinan, persepsi tentang jabatan, proses pemilihan, dan pelaksanaan dari yang diamanahkan.  Berbagai pendapat dan komentar bersilang siur di berbagai media dari bermacam ragam orang sehingga tidak nampak lagi main stream dari kepemimpinan yang baik dan benar serta acuan yang dipakai.  Karena itu, ketika saya melihat kedua buku ini waktu saya melintas di rak buku-buku agama di toko buku itu, langsung saya ambil.

Buku pertama merupakan kompilasi tentang nash Quran dan Hadits yang dilakukan oleh Imam Nawawi berdasarkan koleksi terpilih dari Kitab Riyadus Solihin.  Berbagai ayat Quran dan Hadits Nabi (yang diriwayatkan oleh para perawi terpercaya) yang berkaitan dengan kepemimpinan menurut tuntunan syariah didedahkan sehingga dapat kita pakai dengan mudah.  Banyak hal yang kita jumpai hari ini sudah diidentifikasi sejak zaman Nabi dulu dan diperlihatkan juga berbagai aspek yang relevan dengan kita hari ini.

Buku kedua berjudul PROPHETIC LEADERSHIP Kepemimpinan Para Nabi ditulis oleh Achyar Zein, seorang dosen IAIN Sumetera Utara yang sedang mengikuti pendidikan S3 di IAIN Ar-Raniry (mudah-mudahan beliau sekarang sudah selesai).  Buku yang diterbitkan tahun 2008 ini memuat sejarah dan aspek kepemimpinan yang berkaitan dengan 25 orang nabi.  Hikayat itu dikutip dari Quran melalui berbagai tafsir dan beberapa buku agama karangan para ulama Timur Tengah.  Yang menarik, penulis dapat memberikan pencerahan dan pemahaman yang baik dan menarik serta mampu pula membuat berbagai interprestasi dan kajian implementatif yang sesuai dengan keadaan lokal kita di Indonesia.

Dengan modal dua buku sederhana ini, akan saya coba buat sintesis tentang bagaimana konsep kepemimpinan yang sudah ditunjukkan para Nabi dan praktek-praktek dalam kehidupan pada masa madaniah Rasulullah dahulu.  Meskipun saya bukan seorang ahli manajemen yang berkaitan dengan kepemimpinan , norma-norma yang dapat kita petik Insya Allah akan tetap bermanfaat dan relevan dengan kepentingan kita zaman sekarang.  Mudah-mudahan saya bisa mengangsurnya dalam bentuk serial tulisan yang akan saya muat di blog saya riau2020.wordpress.com dan riau2020.blogspot.com serta akan saya kutipkan untuk Notes jejaring Facebook saya.  Ini lah yang saya maksud sebagai kado sederhana yang mampu saya berikan untuk keberhasilan dan kelancaran pelaksanaan tugas Presiden,  Wakil Presiden, para Menteri, dan para pejabat tinggi Negara dalam Kabinet Indonseia Bersatu II.  Semoga.

Read Full Post »

Pengalaman kecelakaan mobil yang saya tumpangi mencederai orang lain pernah pula saya alami, kalau tidak salah bulan Ramadhan tahun 1994. Ketika itu saya dan seorang rekan kantor sedang melaksanakan tugas ke Tembilahan (Inderagiri Hilir) dan Rengat (Inderagiri Hulu) dengan menggunakan sebuah mobil dinas. Ketika itu belum zaman handphone seperti saat ini dan kondisi jalan belum sebagus sekarang dan penyeberangan Sungai Inderagiri di Teluk Kiambang masih menggunakan ferry.

Mengingat penyeberangan itu sering menjadi bottle neck maka kami mengatur strategi agar pelaksanaan tugas kami berjalan lancar dan bisa segera pulang bersama-sama ke Pekanbaru. Setelah “duduk” urusan di Tembilahan, pagi-pagi saya berangkat menuju Rengat agar mobil tidak terjebak di penyeberangan dan saya bisa berurusan pula di Rengat. Rekan saya akan menunggu penyelesaiannya di Tembilahan dan kemudian akan menyusul ke penyeberangan dengan kendaraan umum . Setelah mengantar saya ke Rengat, mobil nanti akan akan kembali ke penyeberangan dan menunggunya di sisi arah ke Rengat. Yang pernah mengalami perjalanan ke Inderagiri Hilir pada zaman masih ada rakit atau ferry penyeberangan rasanya bisa membayangkan suasananya.

Kembali ke cerita perjalanan, setelah menyeberang dan dalam perjalanan menuju Rengat, sekitar pukul 10 pagi, kami berpapasan dengan seorang teman baik saya (seorang pengusaha) yang sedang mengendarai sebuah mobil sedan bagus ke arah Tembilahan. Teman itu menghentikan saya dan mengajak berbual karena memang sudah lama tidak jumpa. Saat itu dia sedang dimintakan tolong untuk membawakan sedan mewah milik seseorang yang pindah dari Pekanbaru ke Tembilahan. Karena senang nyetir dan mobil itu comfortable maka dari Pekanbaru dia menyupiri mobil itu sendiri.

Kemudian dia menawarkan untuk mengantarkan saya sampai ke Rengat, dengan alasan masih ingin ngobrol. Saya merasakan, sebenarnya dia ingin mengantarkan saya dengan mobil bagus itu karena merasa selama ini saya banyak memotivasi dan membantunya. Selain itu jalan sepanjang sekitar 40 kilometer lagi ke arah Rengat dalam keadaan tidak mulus.

Berkali-kali dan dengan serius saya menolak tawarannya karena tidak praktis dan tidak efisien. Alasan saya bahwa Rengat sudah dekat dan kita harus bergerak lebih efisien dalam bulan puasa yang ketika itu panas dan kering diabaikannya. Dia tetap memaksa untuk mengantarkan saya ke Rengat.
“Nanti capek dan tak terkejar buka di Tembilahan, “ kata saya. “Puasa kan? “ tanya saya lagi.
“Iya pak,” jawabnya singkat dan mempersilakan saya naik ke mobil itu.

Akhirnya dengan rasa sesuatu yang masih mengganjal, entah apa, saya penuhi juga keinginannya. Kami berdua berangkat ke arah Rengat dan mobil dinas saya minta kembali ke penyeberangan menunggu rekan saya. Sepanjang jalan kami banyak bernostalgia dan saling cerita pekerjaan masing-masing dalam suasana santai, meskipun hati saya berkata-kata bahwa dia nanti akan cape dan mungkin jadi tidak bisa berbuka puasa di rumahnya. Sampai terjadi lah kejadian yang naas itu.

Kecepatan mobil ketika itu rasanya tidak tinggi karena saya dapat memperhatikan keadaan kiri kanan jalan dengan baik. Kecelakaan itu berlaku di suatu segmen jalan yang lurus sesudah sebuah tikungan di daerah yang tidak ramai, baik penduduk maupun lalu lintasnya. Mula-mula saya melihat seseorang keluar dari halaman rumahnya yang lebih rendah, naik ke bahu jalan. Saya yakin teman itu juga melihatnya, seorang ibu yang mengenakan kain dan memakai kain tutup kepala (biasa disebut tengkuluk) berjalan searah dengan kami, karena dia segera menggeser posisi lintasan mobil lebih ke tengah untuk menjauhi orang itu.

Akan tetapi yang namanya naas, ketika mobil kami sudah hampir sejajar dengannya, ibu itu tanpa menoleh ke belakang tiba-tiba berjalan serong ke tengah jalan. Teman saya yang tidak menyangka kejadian itu membanting stir ke kanan namun tidak sempat lagi menginjak rem. Ibu itu tertabrak sisi samping kiri mobil seakan-akan saya bertumburan dengannya waktu ia jatuh terpental. Mobil kami segera berhenti sekitar 40 meter dari tempat kejadian dan dua orang kampung datang berlari ke tempat kejadian. Semula mereka “agak tinggi” tapi menjadi wajar kembali ketika mereka melihat kami juga berlari ke arah korban sambil beristighfar. Akhirnya disepakati untuk segera menaikkan sang korban yang tidak sadarkan diri dan sedikit luka ke mobil dan bersama kedua orang itu kami segera ke rumah sakit di Pematang Rebah, Rengat.

Singkat cerita, setelah melalui proses yang panjang di UGD alhamdulillah ibu itu tertolong dan kami berbuka hanya dengan sepotong roti dan air putih. Setelah maghrib, mobil dan rekan kerja saya muncul ke rumah sakit. Dia dapat kabar dari mulut ke mulut tentang kejadian itu dan langsung mengambil langkah yang perlu sehingga tugas di Rengat juga telah selesai. Beberapa keluarga korban juga sudah sampai di rumah sakit dan kami berunding dengan penuh rasa kekeluargaan dan saling pengertian, sebagaimana lumrahnya budi-bahasa masyarakat desa kita yang sebenarnya. Setelah semuanya jelas dan sepakat, dengan berat hati saya pamit untuk meneruskan perjalanan ke Pekanbaru dan teman tadi berangkat ke Tembilahan.

Beberapa bulan kemudian saya bertemu lagi dengan teman itu dan dia bercerita beberapa hal yang berkaitan dengan kecelakaan itu. Pertama, ibu itu sudah pulih meskipun harus mendapat perawatan jalan beberapa bulan. Terungkap kemudian bahwa ketika kecelakaan itu sang ibu akan pergi mandi ke sungai karena kepanasan. Dia tidak begitu mendengar suara mobil kami dan memang terbiasa dengan cara menyeberang yang demikian karena daerah itu sepi. Kedua, ketika kecelakaan itu terjadi sebenarnya teman saya itu tidak berpuasa tanpa alasan yang kuat, kecuali karena ingin merokok dan tidak ada orang lain bersamanya di perjalanan. Ketiga, kebohongannya kepada saya tentang puasa itu telah menjadi beban mental baginya. Dia sudah berniat untuk “ngaku dosa” kepada saya pada kesempatan pertama bertemu.

Semua itu membuat dia dapat menerima dengan ikhlas kejadian kecelakaan itu sebagai tegoran dari Allah kepadanya. Sejak saat itu dia menjadi sadar akan kekurangan dan kelalaiannya sebagai manusia, kepada manusia, dan kepada Tuhan. Yang sangat disayangkan adalah hikmah positif itu memerlukan pengorbanan si ibu dalam kecelakaan itu. Tapi itu lah rahasia Allah Swt.

Read Full Post »

Pengalaman kecelakaan mobil yang ke dua kalinya saya alami tanggal 9 September 1987 sekitar jam 10 pagi di jalan minyak di daerah Simpang Benar, Rokan Hilir, Riau.  Sebagai tenaga teknis, saya ditugaskan untuk membantu penyiapan program pembangunan dan pemeliharaan jalan ke daerah-daerah.  Untuk itu saya dan beberapa orang akan pergi melihat kondisi daerah dan jalan di Teluk Nilap yang ketika itu masih masuk Kabupaten Bengkalis.

Daerah Teluk Nilap merupakan daerah terisolir yang dihubungkan oleh jalan yang kondisinya belum memadai sama sekali.  Sebagian jalan menuju ke sana merupakan jalan operasi ladang minyak yang juga dimanfaatkan masyarakat; di pinggirnya ada pipa minyak yang diameternya bisa mencapai 1,0 meter.  Jalan yang biasanya disebut jalan minyak ini dibangun PT Caltex Pacific Indonesia (CPI) dari tanah kemudian disiram dengan crude oil (minyak bumi mentah)dan dipadatkan sehingga sangat licin ketika hujan atau basah.

Jenis mobil yang kami tumpangi (gambar dari internet)

Jenis mobil yang kami tumpangi (gambar dari internet)

Mengingat itu bulan puasa maka dari Dumai kami memakai kendaraan Toyota Hardtop 4 Wheel Drive yang diharapkan dapat membawa kami menembus medan yang berat itu.  Saya duduk di depan bertiga dengan supir; di belakang ada dua rekan lain dan beberapa tas pakaian dan satu set alat ukur geodesi.  Ketika supirnya kami tanyakan apakah sudah biasa menempuh jalan minyak, dijawabnya “ya” dengan meyakinkan.  Akan tetapi di jalan minyak yang ketika itu basah terasa dia mengemudi kurang meyakinkan sehingga kami tanya ulang.  Dia tetap menjawab bahwa dia sudah biasa dan menolak tawaran kami untuk menggantikannya utnuk menyetir.

Hati saya mulai tidak tenang karena mobil sudah “ngageol” beberapa kali.  Di persimpangan jalan ke sumur-sumur minyak pun dia sering mengerem dan menekan gas kembali secara agak mendadak sehingga sering mobil itu oleng karena slip.  Kawan yang duduk di sebelah saya mulai gelisah dan dia minta izin untuk buka puasa dengan merokok dengan alasan tidak tahan jika tidak merokok.  Dengan berat hati saya hanya bilang bahwa puasa saya tidak terganggu oleh asap rokok.

Belum lagi lima menit kawan itu merokok dan baru dapat beberapa kali isap, sang supir mengulangi kesalahan yang sama di sebuah simpang jalan ke sumur minyak.  Ketika dia menekan gas lagi secara mendadak, dengan kecepatan sekitar 50 km/jam mobil slip ke arah kiri dan ban kiri depan menabrak pipa minyak yang cukup besar sehingga mobil rolling ke sisi kanan dua kali dan kembali berdiri dalam keadaan terhenti beberapa puluh meter dari tempat slip semula.  Bagian atas mobil cukup remuk dan beberapa kaca pecah.

Yang luar biasa, ketika mulai oleng saya bereaksi dengan cepat untuk berpegangan ke dashboard sehingga tidak terbentur secara fatal.  Pada rolling yang pertama, lembaran langit-langit mobil itu lepas dan terletak di jalan dalam keadaan menghadap ke atas.  Alhamdulillah, dengan kehendakNya saya terduduk di dalamnya bersama tas pakaian saya tanpa cedera apapun kecuali ada sedikit memar di dagu yang saya tidak tahu kejadiannya.

Bagaimana dengan kawan-kawan perjalanan saya?  Dua kawan yang di belakang merasakan bagaikan diguncang dalam suatu kotak bersama beberapa tas pakaian dan alat ukur itu.  Namun Alhamdulillah tidak mengalami cedera apa pun kecuali memar-memar kecil.  Rekan yang duduk di sebelah saya mengalami memar-memar karena benturan ketika mobil itu rolling dan di belakang daun telinga kirinya luka cukup besar sehingga mengucurkan darah ke bajunya.  Sang supir juga memar-memar dan dadanya terasa sangat sakit karena terbentur ke stir.

Dengan keadaan yang paling fit, saya berusaha membantu kawan-kawan saya dan mencari bantuan.  Kejadian itu di daerah yang masih hutan dan sepi; ketika itu belum ada handphone sehingga dalam waktu lama baru kami akhirnya sampai ke camp PT CPI di Bangko untuk mendapat perawatan dan istirahat.  Dengan kondisi yang masih normal, saya tetap puasa.

Berita kecelakaan itu rupanya sudah dulu sampai ke pihak-pihak berkenaan dan keluarga sehingga keluarga masing-masing merasa kawatir.  Melalui telepon di camp kami bisa member kabar bahwa kami dalam keadaan selamat dan mendapat rawatan di Camp Bangko.   Hikmah lainnya adalah kami juga jadi tahu bahwa bos saya meninggal dunia kemarennya dan akan dikebumikan hari itu.  Sayang sekali kami tidak dapat mengejar acara pemakaman beliau.

Atas kecelakaan ini, belakangan saya dapat mengetahui bahwa sang supir rupanya baru pertama kali ke daerah tersebut dan belum biasa menempuh jalan minyak.  Jadi dia yang memang tidak beribadah puasa dengan ringan saja berbohong pada kami maupun pada bosnya yang menugaskan.  Dua kawan yang duduk di belakang juga mendapat hikmah dari puasa mereka; meskipun bagaikan diguncang dalam kaleng, Alhamdulillah hanya memar-memar kecil saja.  Jadi hanya rekan yang di sebelah saya yang sudah terlanjur membatalkan puasanya demi rokok itu dan sang supir saja yang relatif menderita pada kecelakaan itu.

Juga  ada kelemahan kami; ban mobil itu ternyata dengan corak atau kembang yang tidak sesuai untuk jalan minyak dalam keadaan basah.  Sebagai pengguna mestinya kami tidak boleh percaya begitu saja pada sang supir tapi harus lebih teliti melakukan cross check terhadap kemampuan dan pengalaman si supir.  Demikian pula keadaan mobil seperti rem, ban, bahan bakar, kemampuan mesinnya, lampu dan lain-lain.

Kesalahan kolektif itu lah yang telah menimbulkan akibat yang diterima pula secara bersama.  Namun, alhamdulillah tidak ada korban fatal dalam kecelakaan yang cukup meremukkan mobil hardtop itu.  Naudzubillah, semoga jangan terjadi lagi kelalaian yang mengakibatkan kecelakaan seperti ini pada siapa pun.

Read Full Post »

Pengalaman kecelakaan mobil pernah saya alami tiga kali; pertama ketika mengemudikan dan yang dua kalinya ketika menjadi penumpang.   Alhamdulillah, dengan kuasa Allah saya terhindar dari cedera yang berarti dalam kedua kejadian itu.

Ketika masih bekerja di sebuah kontraktor di Jakarta tahun 1984, saya bersama beberapa young engineers difasilitasi kendaraan operasional “kijang kotak” station yang multifungsi, sebagai “mobil dinas”, angkutan staf/pekerja, ataupun beli material yang kecil-kecil.  Karena jumlah supir terbatas, saya yang sering jadi pengemudi ketika pergi bersama rekan-rekan kerja lainnya.  Maklum, saya baru masuk di kantor itu.

Sebagai fresh graduate dan sesuai dengan usia, masih banyak kebanggan diri; mengemudikan kendaraan juga masih senang menginjak pedal gas dari pada rem.  Di jalan tol Jagorawi, kijang kotak itu bisa lari sampai 120 km/jam, apalagi kalau para staf yang menumpang di belakang makin memberi semangat.  Biasanya, rekan saya yang duduk di sebelah yang mulai bergumam namun tidak jelas karena desis angin dan suara kendaraan lain dari jalur berlawanan yang masuk dari jendela yang terbuka sebagian.  Pokoknya lebih seru dari mikrolet…!

Suatu kali sekitar jam 15.00, kami lewat di sebuah jalan kecil di daerah belakang Taman Mini dalam keadaan hujan kecil.  Jalan dua arah itu sempit dengan bahu jalan yang rendah karena tergerus air dan aspal dalam keadaan basah.  Sebagai jalan tembus, jalan itu ramai, termasuk sepeda motor dan juga menjadi rute Metro Mini.

Pada suatu segmen yang lurus, kami berpapasan dengan sebuah Metro Mini yang seperti biasa sedang “kejar setoran”.  Sebenarnya pada bagian yang lurus jalan itu sangat pas untuk berpapasan jika masing-masing kendaraan berada pada posisi yang tepat.  Akan tetapi si mikrobis oranye tidak peduli yang membuat saya harus mengalah lebih ke pinggir sehingga ban mobil kami jatuh ke bahu yang rendah itu.  Karena juga dalam kecepatan sekitar 60 km/jam, tepat sesaat habis berpapasan, “mikrolet” kami melintir ke arah belakang kembali dan menabrak pohon di seberang jalan.  Anehnya mobil tidak terguling; hanya remuk pas di tengah-tengah bagian depan yang merusakkan radiatornya.  It costed me about a month of my wage. Alhamdulillah, kami tidak cedera sedikit pun dan biaya itu akhirnya ditanggung oleh perusahaan karena kami memang sedang pergi tugas.  Bagaimana pun, timbul juga rasa sesal; karena menegakkan ego, keselamatan dipertaruhkan.  Sejak saat itu, saya lebih memilih mengalah ketika mengemudi karena nampaknya jalan-jalan kita (makin) banyak dipenuhi oleh orang-orang nekad.

Moral cerita: Kebanggan diri (ego) ketika muda dan penuh keberhasilan kadang bisa membuat kita lupa pada keberadaan dan kepentingan pihak atau orang lain, bahkan pada keselamatan diri dan orang banyak.  Sayangnya kesadaran itu sering datang terlambat, ketika kecelakaan itu sudah terlanjur menimbulkan kerugian jiwa, tubuh, atau harta benda.  Bagi kita yang masih dalam keadaan selamat dan sehat walafiat, ketika mengemudi, mari lebih mengutamakan keselamatan dari pada ego, apalagi jika sedang bersama orang-orang yang kita sayangi.  Tapi bagaimanakah memberikan pengertian ini pada mereka yang masih “menggelegak” tanpa harus ada korban lagi?

Read Full Post »

Tidak ada seorang pun dari kita yang ingin mengalami bencana. Disebut bencana karena selain memberi beban psikis, secara lahiriah senantiasa membawa kesulitan atau kesusahan, sejak dari kerugian harta benda sampai ke kehilangan jiwa. Karena itu jika kita lolos dari suatu bencana merupakan suatu pengalaman yang luar biasa berharga yang perlu dan Insya Allah bermanfaat untuk diceritakan kembali.

Sampai hari ini, saya sudah pernah mengalami beberapa kali selamat dari bencana. Semua pengalaman itu selain menuntut kerugian materil sebenarnya juga mengancam jiwa dan raga. Alhamdulillah, berkat Rahman dan RahimNya, saya selamat dari dari kejadian-kejadian itu.

Pengalaman pertama saya terkait ke suatu bencana adalah ketika  terhindar dari penerbangan maut Garuda GIA 152 Jakarta-Medan tanggal 26 September 1997. Saat itu sedang puncak-puncaknya gangguan kabut di Indonesia bagian Barat sehingga aktivitas penerbangan banyak yang terganggu, termasuk bandar udara Sultan Syarif Kasim II (SSK II) Pekanbaru tidak bisa melayani penerbangan.

Ketika itu saya dan beberapa kolega mengikuti Konferensi Regional Teknik Jalan (KRTJ) ke 5 di Yogyakarta tanggal 22-24 September 1997. Setelah sampai di Yogyakarta, karena bandara SSK II sudah tidak bisa didarati akibat kabut asap yang sangat tebal maka kami dengan segera merubah tiket pulang dari Jakarta ke Pekanbaru menjadi ke Medan yang masih bisa melayani penerbangan dengan maksud berikutnya akan menggunakan jalur darat ke Pekanbaru. Semula semua berencana untuk berhenti dan menginap dulu sehari di Jakarta sambil menunggu kemungkinan terbukanya kembali penerbangan ke Pekanbaru atau jika tetap tidak memungkinkan baru pulang melalui Medan pada tanggal 26 September.

Akan tetapi ketika memesan tiket di biro perjalanan yang ada di hotel, dengan kuasa Allah Swt, semua kami sepakat untuk langsung saja dari Yogyakarta ke Medan tanggal 25 September. Karena itu kami membatalkan penerbangan Jakarta ke Medan dengan flight GIA 152 tanggal 26 September yang sudah kami pesan beberapa saat sebelumnya dan menggantinya dengan connecting flight dari Yogyakarta tanggal 25 September.

Sesampainya di Medan kami menyempatkan olahraga di padang golf Tuntungan, daerah perbukitan ke arah Sibolangit, sebelum kembali ke Pekanbaru. Waktu di Tuntungan, di salah satu hole menjelang selesai, secara pribadi saya memang mendengar suara aneh; seperti mesin yang meraung dan tiba-tiba mati. Ketika saya konfirmasi kepada teman-teman lain, tidak ada yang mendengar dengan jelas sehingga kami semua lupa dengan suara aneh itu sampai berangkat menuju Medan kembali.

Keheranan itu kembali muncul ketika kami melintas dekat ujung landasan Polonia, Medan. Bandara kelihatan ekstra sibuk kemudian dapat kabar bandara ditutup karena ada pesawat yang jatuh. Ketika di perjalanan dari Medan ke Pekanbaru, di sekitar Tebing Tinggi akhirnya kami mendapat kabar tentang jatuhnya pesawat Airbus A300-B4 Garuda Flight GIA 152 itu yang rencana semula akan kami tumpangi itu di Desa Buah Nabar, Sibolangit, Deli Serdang yang jaraknya sekitar 32 km dari bandara Polonia. Kecelakaan yang memakan 234 orang korban ini diduga akibat pendeknya jarak pandang karena gangguan asap sehingga pesawat menabrak tebing di pegunungan.

Dengan rasa campur aduk antara bersyukur telah terhindar dari bencana maut dan dukacita yang mendalam, di perjalanan kami berkomunikasi dengan keluarga masing-masing yang cemas serta terus memantau dan nama-nama korban yang kami kenal karena memang jalur penerbangan melalui Medan adalah cara yang paling laik untuk ke Pekanbaru. Selain itu, diantara para korban, banyak kolega-kolega kami termasuk para peserta KRTJ ke 5 dari Aceh dan Sumut sebagaimana terlihat dari berserakannya tas gift peserta KRTJ itu dalam liputan-liputan berita TV. Beberapa diantaranya kami kenal secara langsung!!! Naudzubillahi.

Memang, jika belum waktunya ajal kita atau sakit, dan cedera, ada saja sebab yang menghindarkan kita. Kadang-kadang hal itu sangat tidak rasional dan tidak logis sehingga kita sering jadi tidak sabar atau bahkan menggerutu menerima suatu keadaan yang tidak sesuai dengan keinginan kita semula.  Ketika itu, yang saya ketahui kemudian, ada beberapa orang kolega yang kecewa tidak jadi berangkat dengan pesawat naas itu karena telat, tidak dapat tiket, dan bahkan kena kensel.  Sebaliknya, sepasang suami-isteri kolega kerja yang menetap di Jakarta, ikut jadi korban setelah melalui pemilihan mereka memenangkan dua tiket yang disediakan sebuah keluarga yang akan menyelenggarakan hajat di Medan, mewakili teman-temanya se kantor.  Setelah kejadian kita baru melihat mana baik dan mana buruk yang mungkin juga berbeda pada orong per orang.  Yang selamat belum tentu baik sedangkan yang menjadi korban belum tentu pula tidak baik.  Wallahu alam, hanya Allah lah yang tahu.

Karena itu lah kita harus tetap berbaik sangka (husnuzhon) pada Allah karena kita tidak tahu apa yang ada di balik suatu hal atau keadaan yang sekalipun kita rasakan pahit. Bencana harus kita baca sebagai peringatan atas kekurangan kita dan agar segera memperbaiki diri.

Hikmahnya dalam kehidupan, pertama, sekarang tiap kali naik pesawat saya pasrah saja sambil berdoa kepada Allah mengharapkan perlindungan dan keselamatan. Kedua, ketika boarding saya selalu mengirim sms kepada keluarga, misalnya: “Boarding now on Garuda GA 171 leaving for Jakarta.” Semoga Allah menghindarkan kita semua dari segala bencana.

Read Full Post »