Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2009

P N S

PNS (Pegawai Negeri Sipil) beberapa hari belakangan ini merupakan satu topik berita yang bisa menyeruak di hiruk pikuk pentas drama Bank Century.  Nampaknya PNS masih menjadi incaran kebanyakan masyarakat kita.  Seleksi penerimaan kali ini pasti bisa memuaskan sedikit orang yang diterima namun pada saat yang sama telah mengecewakan banyak orang yang luput.

Sebagai PNS, saya merasa cukup heran dengan fenomena PNS ini. Dengan perjalanan karir dan posisi saat ini yang sangat saya syukuri, saya merasa PNS bukan lah segalanya bagi seorang Indonesia.  Seandainya sejarah bisa diulang, saya ingin memilih pengembangan diri secara maksimal di lingkungan swasta yang berkaitan dengan sektor ril.

Tidak ada yang salah dengan PNS.  Berkarya sebagai PNS merupakan pengabdian yang mulia pada negara dan masyarakat karena penuh dengan pengorbanan, tantangan, dan kendala yang semuanya memerlukan keikhlasan, kesiapan mental, kompetensi, kreativitas, dan kejujuran intelektual.

Betapa tidak penuh pengorbanan, ketika seseorang sarjana yang baru masuk jadi PNS misalnya, ia tidak akan menemukan ekspektasi ideal sebagai seorang sarjana yang baru keluar dari kampus.  Dari segi pendapatan, ia akan terheran-heran dengan gaji yang diterimanya kok tidak memadai.  Jangan kan bisa menabung untuk menikah atau merbantu orangtuanya, bukan tidak mungkin ia malah masih harus bergantung sama orangtuanya.

Pengorbanan itu akan tambah terasa ketika idealisme dan semangat seorang sarjana baru yang ingin berbuat sesuatu perbaikan, tidak tersalurkan.  Di kantor ia bahkan akan dianggap sebagai seorang green horn (anak bawang) oleh lingkungan kerja dan kolega-kolega seniornya meskipun mereka tidak lebih kompeten dan qualified.  Kalau pun ia mampu melakukan sesuatu yang istimewa, belum tentu akan mendapatkan appresiasi atau imbalan materi secara progresif, kecuali bahwa itu suatu pengabdian darinya, sebagai belum baiknya reward system bagi PNS.

Seorang PNS juga akan menghadapi berbagai tantangan, baik secara struktural maupun implementatif.  Dengan kondisi masyarakat dan bangsa kita serperti yang ada saat ini, sangat banyak permasalahan yang harus diselesaikan dan dilakukan kantor-kantor pemerintah dan pada banyak lini.  Sudah terpatri pula dalam mindset masyarakat bahwa segala macam adalah tanggung jawab pemerintah, sejak sesuatu yang prinsipil sampai sekedar pembersihan parit di depan rumah mereka.  Masyarakat cenderung menuntut tanpa peduli kendala dan duduk perkara sesuatunya.

Dalam implementasi pekerjaan pula, idealisme dan semangat seorang PNS baru sangat mungkin akan berbenturan dengan orang-orang lama dalam sistem yang ada.  Upaya perubahan menuju pada kebaikan cenderung akan ditantang karena biasanya mengganggu kepentingan orang-orang yang sudah berkarat dalam sistem itu.  Keadaan inilah yang lambat laun bisa melunturkan si pemula dan akhirnya terkooptasi oleh sistem yang ada.

Sementara itu, tidak sedikit pula kendala yang dihadapi para PNS. Mereka umumnya bekerja dalam berbagai keterbatasan biaya, fasilitas, alat kerja, akses informasi serta pengembangan diri.  Tidak jarang akhirnya tercampur antara keperluan dinas (plat merah) dan pribadi (plat hitam) yang melahirkan istilah pelat coklat.  Hal ini cenderung membuat mandeg pengembangan kemampuan para PNS kecuali dia seorang yang jeli dan pandai mencari terobosan secara perseorangan.  Jangan dilihat keadaan para petinggi PNS yang mungkin sudah mendapat berbagai fasilitas dan dukungan pegawai bawahan karena pimpinan itu jumlahnya sangat sedikit dan itu sudah melalui jalan yang panjang dan waktu yang lama.

Itu lah sebabnya kalau ada kolega atau sanak saudara yang meminta pendapat atau minta tolong untuk memasukkan anaknya jadi PNS, saya tidak meng-encourage dan menyarankan agar mencari peluang di swasta saja.  Selain memang tidak mungkin membantu supaya diterima jadi PNS, saya juga mengingatkan masalah yang akan dihadapi oleh seorang PNS jika tidak siap sebagai abdi negara yang ikhlas dan konsekuen.  Makanya aneh jika orang masih berlomba-lomba ingin jadi PNS dan profesi-profesi aparatur negara lainnya; apa karena tidak berani berjuang di dunia ril (sebab tidak kompeten dan tidak kapabel) atau sudah punya niat lain yang penuh hitung-hitungan materil sehingga menyogok pun mau.  Anehnya orangtua sang calon pun setuju dan mengusahakan dengan cara haram itu. Kalau cara mendapatkannya haram maka akan tercemar pula lah hasilnya sampai jauh ke hilir. Astaghfirullah, naudzubillah.

Advertisements

Read Full Post »

Teladan

Tulisan yang ditujukan khusus untuk anak-anakku ini, dibuat setelah membaca kolom Cakap Lepas DR Alaiddin Koto, seorang Guru Besar UIN Suska, di sebuah koran  terbitan hari Senin 7 Desember 2009 dengan judul ‘Jangan Bilang “Tak Ada Teladan”’.  DR Alaiddin menunjukkan kegeraman dan kerisauannya tentang kedangkalan para mahasiswanya yang tidak mengenal lingkungan perguruan tinggi tempat mereka belajar.

Bayangkan saja, ketika beliau bertanya kepada enam mahasiswa tentang siapa nama dekan mereka, tidak ada satu pun yang tahu.  Pertanyaannya tentang nama rektor juga tidak mendapat jawaban.  Sampai-sampai beliau mempertanyakan apakah para mahasiswanya itu bodoh atau masa bodoh; jangan-jangan juga tidak mengenal siapa diri mereka sendiri.  Kejengkelan DR Alaiddin semakin bertambah melihat gaya berpakaian para mahasiswa yang “modern” tapi tidak sebanding dengan isi kepala mereka.

Syukurnya kerisauan dan kejengkelan itu tidak berlarut-larut di dalam kelas tapi beliau kembalikan ke keadaan lingkungan kehidupan kita hari ini.  Katanya, kerisauan itu juga lah yang dialami oleh kebanyakan orangtua akhir-akhir ini.  Anak-anak tidak lagi menghormati apalagi mengidolakan orangtuanya sendiri sebagai figur teladan; juga tidak terhadap para pemimpin negara sebagai tokoh yang pantas ditiru.

Anak-anak sekarang tidak tahu siapa yang pantas jadi panutan tapi mengidolakan tokoh yang sering tampil di depan publik dengan lagak dan gaya “selera muda” meskipun berwawasan dangkal.  Tanpa disadari, generasi muda kita sedang terjebak pada pola hidup serba dangkal dan serba sesaat yang tidak melahirkan prestasi yang membanggakan dalam jangka panjang.  Dimana salahnya sehingga menjadi fenomena yang sangat merisaukan para orangtua hari ini?

Munurut DR Alaiddin, adalah kesalahan fatal kita yang sering mengatakan bahwa sekarang tidak ada tokoh teladan padahal di sisi lain kita membutuhkannya.  Anggapan ini akhirnya menjadi paradigma dalam kepala kita bahwa negeri kita tidak punya tokoh teladan.  Hal ini menyebabkan para generasi muda mencari tokoh lain yang sesuai dengan selera dan kecenderungan hidup mereka yang hedonistik.  Mereka asyik dengan diri sendiri dan cuek dengan lingkungan karena merasa tidak ada teladan.

Apakah memang kita tidak punya seorang teladan yang pantas untuk diidolakan?  Sebagai umat beragama, kata DR Alaiddin, Rasulullah SAW adalah teladan agung bersama para sahabatnya.  Kita juga punya demikian banyak para pahlawan pejuang yang telah mendedikasikan hidupnya secara ikhlas dan cerdas untuk bangsa dan negara.  Sayangnya suasana dan iklim komunikasi di negeri kita ini lebih kepada keasyikan sendiri itu dan kurang mendorong ke pengenalan para teladan.

Anak-anakku…, pendapat DR Alaiddin itu patut menjadi perhatian kita.  Selain factor lingkungan dan eksternal, kita juga harus melihat ke dalam lingkungan kita sendiri.  Karena itu ayah ingin menambahkan hal-hal yang terkait ke diri ayah sendiri.

Dalam hal ini mungkin ayah juga termasuk yang lalai untuk mengenalkan para teladan itu atau tidak cukup memadai dalam memberi contoh secara langsung pada kalian.  Karena berbagai sebab, ayah kurang intensif membimbing kalian dalam berbagai hal, khususnya menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai satu alat ampuh untuk menyelamatkan hidup kalian.  Ayah belum cukup baik memberi contoh berupa rasa takut pada Allah yang mengalahkan rasa takut pada yang lainnya, bagaimana harus berlaku pada orangtua, berbuat baik pada keluarga dan sesama, berakhlak yang sesuai dengan tuntunan dengan penuh kesadaran sendiri, dan beribadah dengan tekun.

Kalian memang sekolah di tempat yang baik tapi ayah tidak cukup membimbing kalian di rumah; kalian memang mempunyai guru mengaji yang baik tapi kan seyogyanya ayah yang langsung mengajar kalian saban ba’da maghrib; kalian memang sering sholat berjamaah dengan ayah di rumah tapi anak-anak lelaki kan mestinya ayah ajak sholat berjamaah di masjid; kalian sudah belajar dengan baik dan berprestasi tapi kita belum membiasakan kerja keras dengan disiplin serta menghargai waktu. Kita memang punya orang-orang yang membantu kita tapi kan banyak hal yang mestinya bisa kita kerjakan sendiri sehingga kita lebih kenal dengan problematika kehidupan.

Alhamdulillah hari ini kalian adalah anak-anak yang cukup baik dan menyenangkan hati ayah, namun kalau mengacu pada keteladanan tadi, masih banyak hal yang harus kita tingkatkan.  Ada hal positif yang dapat kita contoh dari orang-orang di belahan bumi lain.  Mereka bisa merubah diri mereka dari suatu keadaan ke keadaan lain yang bertentangan tanpa makan waktu lama dan memerlukan syarat-syarat yang rumit.  Dari menangis karena sedih akan sesuatu, setelah memahami ada hal yang menggembirakan mereka bisa jadi tertawa-tawa atau bahkan menyanyi sambil mengusap air matanya ketika masuk ke suasana baru yang lebih menyenangkan.

Karena itu supaya kita tidak menyesali garis kehidupan kita kelak, seraya memohon perkenan Yang Maha Pengampun dan Yang Maha Pemaaf, mari kita lakukan perubahan yang positif-effektif mengacu pada tuntunan teladan Rasulullah SAW.  Jangan dilihat kesalahan dan kekurang ayah selama ini; kalian tentu ayah doakan menjadi anak-anak yang lebih baik dari ayah.  Tidak ada kata terlambat untuk perubahan menuju kebaikan.

Mulailah melaksanakan kewajiban kalian untuk bersikap lebih baik pada orang tua, berakhlak lebih mulia, bertutur kata dan berpenampilan yang baik dan sopan, belajar dan bekerja lebih giat dan disiplin, menerapkan pola hidup lebih sehat, dan lebih gandrung beribadah.  Mengatur dan memanfaatkan waktu kalian dengan baik untuk berbagai kegiatan yang sehat (termasuk olahraga) dan bermanfaat.  Mari sama-sama membiasakan membaca kitabNya, sholat tepat waktu dan yang lelaki upayakan berjamaah di masjid, tanggung jawab pada tugas dan kewajiban diri sendiri, belajar karena ingin tahu dan memahami, sayang pada keluarga, peduli pada sesama, menghargai alam, dan sebagainya.

Untuk bisa melakukan apa yang ayah sampaikan ini, bukakanlah hati dan pikiran kalian untuk merenungkan dan menerima kebenaran.   Teguhkanlah pendirian kalian setelah kalian mengetahuinya.  Hanya dengan keinginan yang kuat dan sambil berdoa lah yang bisa membuat kita kuat dalam menjalankan ketentuan dan tuntunanNya.  Insya Allah anak-anakku, hidup kalian akan selamat lahir dan bathin.  Amin Ya Rob (Jazakallahu khairan, DR Alaiddin Koto yang telah memberi inspirasi).

Read Full Post »

Simptomatik vs Sistemik

Kita sedang menonton drama peradilan masyarakat kecil Nenek Minah-Kakao, Kholil-Semangka, dan sekarang Prita yang menggulirkan gerakan Coin for Prita untuk pembayaran hukuman ganti rugi ke RS Omni.  Sementara ada oknum yang diduga makelar kasus masih gentayangan.  Aparat yang main-main dengan barang bukti narkoba bukannya dihukum jauh lebih berat tapi dihukum ringan dan satunya malah bebas. Rasa keadilan orang ramai terusik; mestinya dapat kita ambil hikmahnya.

Reaksi dan solidaritas itu apa karena jalan lain terlihat buntu dan/atau tingkat kepercayaan pada aparat menurun? Yang jelas, kita harus berfikir dan bertindak tidak sekedar simptomatik tapi harus menyentuh dan menyelesaikan masalah keadilan ini secara sistemik  (Terlepas dari substansi masalahnya, istilah ini lah yang dipakai oleh Sri Mulyani).

Simptomatik artinya hanya menangani penyelesaian gejala atau masalah2 di permukaan sebagai akibat dari suatu masalah yang lebih prinsipil.  Pendekatan ini, secara sekilas bisa jadi akan memuaskan karena kita tidak melihat lagi masalahnya itu namun secara esensial ia belum selesai dan potensial muncul lagi sewaktu-waktu.  Jadi pendekatan ini mungkin menarik karena mudah terlihat karena itu ia hanya bagus dan bermanfaat untuk sementara waktu.

Berfikir dan bertidak secara sistemik dalam menyelesaikan suatu masalah artinya kita menyentuh dan menyelesaikan masalah itu secara komprehentif, holistik, dan terintegrasi.  Kita tidak hanya mengobati gejalanya tapi menyelesaikannya sampai ke akar masalahnya.  Sekali kita dapat menyelesaikannya secara sistemik makan Insya Allah kita menuntaskan gejala dan penyakitnya itu sendiri.  Memperbaiki keadaan yang sudah demikian kronis memang harus secara sistemik.  Karena itu tinggalkan lah cara  simptomatik tapi mari kita berfikir dan bertindak secara sistemik.

Read Full Post »

Listrik oh listrik….

Sudah sekian lama Kota Pekanbaru (juga hampir seluruh Provinsi Riau serta sekarang juga di Jakarta) mengalami permasalahan hidup matinya arus listrik secara tidak teratur dan dalam waktu yang lama. Hajat hidup orang banyak, khususnya di perkotaaan ini memang sangat mempengaruhi denyut nadi kehidupan di perkotaan yang memang sangat tergantung pada perdagangan dan jasa yang rely on listrik.

Masalah pokoknya adalah bahwa PLN tidak punya kemampuan untuk membangkitkan daya sesuai dengan yang diperlukan oleh konsumen. Dari berita-berita yang ada, PLN mengaku kekurangan itu antara lain karena tidak maksimalnya kapasitas PLTA Koto Panjang (dan juga di Sumbar yang inter-koneksi dengan Riau) serta banyaknya generator2 diesel yang rusak atau harus overhaul. Jadi terjadi ketekoran sekian ratus megawatt yang bagi kalangan dunia usaha dan masyarakat tentu tidak dapat terus menunggu tanpa ada solusi yang jelas. Banyak usaha terpaksa mencari solusi dengan genset sendiri yang tentu menaikkan biaya produksi atau yang tidak kuat sekarang jadi megap2 atau menutup usahanya. Pengembangan investasi juga mengalami gangguan atau hambatan serta kehilangan peluang ketika ternyata supply listrik kita tidak dapat diandalkan.

Secara jangka panjang, Pemprov Riau sudah mengupayakan supaya Riau masuk ke dalam scheme proyek 10.000 MW program nasional tahap pertama itu. Dengar2, sekarang sedang dalam proses pengadaan jasa pelaku pembangunannya. Mudah2an. Upaya jangka pendek untuk menyelesaikan masalah ini telah dilakukan oleh PLN dan berbagai pihak namun belum memberikan hasil yang menggembirakan karena listrik masih on-off secara harian sampai saat ini.

Upaya memanfaatkan sisa atau cadangan kapasitas produksi listrik dari perusahaan-perusahaan besar cukup sulit karena mempunyai sisi-sisi teknis yang harus diselesaikan terlebih dahulu. Untuk menyalurkan daya dari Sumatera Bagian Selatan misdalnya, menurut PLN, masih ada kendala jaringan transmisi. Sementara itu utnuk memanfaatkan daya dari perusahaan besar swasta secara temporer ada yang menghadapi masalah perbedaan frekuensi yang juga memerlukan pengelolaan teknis tertentu terlebih dahulu. Anehnya, ketika Munas Golkar di Pekanbaru kemaren, listrik dapat menyala tanpa giliran selama beberapa hari. Ini diatasi PLN dengan memobilisasi generator mikro ke Pekanbaru yang sekarang sudah dibawa pergi lagi. Kepada seorang teman saya pernah bercanda, apa harus ada munas partai lain lagi (Demokrat misalnya) di Pekanbaru agar listrik tidak mati2 lagi? Tentu kepentingan masyarakat dan dunia usaha, khususnya yang menengah ke bawah tidak boleh kalah penting dengan munas partai yang tentu juga memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Nah, kita jadi sulit memahami masalah listrik ini kan (di Jakatra aja bisa mati juga!!)? Di sisi lain, Riau adalah negeri penghasil minyak bumi dan gas yang telah berkontribusi selama ini bagi kepentingan nasional. Riau juga punya potensi batubara, gas, dan angin, sumberdaya air yang bisa dikembangkan untuk tenaga listrik. Alhamdulillah Allah Swt juga telah melimpahkan sinar surya yang juga dapat sebagai sumber energi alternatif. Dari sisi regulasi pula, telah pula ada UU Kelistrikan baru yang membuka peluang pihak lain selain PLN untuk ikut dalam pengusahaan listrik. Barangkali yang belum terjadi adalah para stake holder kelistrikan duduk semeja untuk mengidentifikasi, merumuskan, mengkonsolidasikan, dan menyusun rencana2 aksi penyelesaian masalah listrik ini.

Stake holder ini bisa siapa saja yang berkepentingan dan kompeten untuk membicarakannya. Diskusi ini juga bisa jadi salah satu usaha ke arah itu. Hayo, siapa yang akan memulai?

Read Full Post »