Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2010

K o t a

Dari berbagai kegiatan pembangunan yang kita lihat di jalan-jalan protokol Pekanbaru, kota ini terus bersolek menuju visinya dan sebagai ibukota dari provinsi yang menjangkakan jadi pusat perdagangan dan kebudayaan Melayu di Asia Tenggara pada tahun 2020.  Kota ini juga sudah banyak menuai prestasi dan mendapat pujian orang-orang yang berkunjung, khususnya terhadap kebersihan dan jaringan jalannya.  Sebagai warga kota tentu kita cukup bangga  meskipun masih ada berbagai hal di sana sini yang masih kita harapkan perbaikannya.

Kota yang merupakan suatu kawasan padat hunian dengan berbagai fungsi campuran masih merupakan pilihan utama untuk tinggal.  Berbeda dengan di daerah pedalaman atau perdesaan (rural area), daerah perkotaan memiliki berbagai infrastruktur dan fasilitas dasar serta berbagai penunjang seperti hiburan dan pasar.  Karena itu bagus tidaknya suatu kota, orang awam pun dapat menilainya berdasarkan kriteria yang sederhana pula.

(more…)

Advertisements

Read Full Post »

H a t i

Indahnya hati nan lembut...

Hati manusia bisa bersifat lembut atau keras, bukan dalam arti kemauan tetapi pemahaman dan penerimaan pada kebaikan.  Menurut sunnatullah, orang yang berhati lembut karena iman sebagai rahmat dari Allah, akan didekati banyak orang.  Yang berhati keras karena penuh nafsu dan amarah dalam dirinya, akan dijauhi orang serta menimbulkan ketidakbahagiaan.

Hati anak manusia ketika lahir pada kodratnya adalah lembut.  Tapi hati yang asalnya lembut itu akan menjadi keras karena pengaruh se keliling yang juga memuat banyak kekerasan dalam pergaulan, tingkah laku lingkungan, tontonan, game, komunikasi, kepentingan yang penuh pamrih, dan sebagainya. Ciri-ciri orang yang keras hati karena tanpa iman antara lain: tidak sensitif, kasar, tidak sopan, tidak menghargai orangtua, mudah meremehkan orang lain, sombong dan lain lain.

Sebaliknya, hati akan tetap lembut dengan iman yang terpelihara, senantiasa bersama nilai-nilai yang ada dalam Firman Allah dan Sunnah Nabi, takut pada Allah, menjauhi kekerasan yang tidak berguna, banyak beribadah, dan sebagainya. Ciri-ciri hati yang lembut diantaranya: sensitif terhadap kepentingan orang lain, mudah dan senang menjaga silaturrahim, tidak mendahulukan kepentingan sendiri, sabar, sopan, dan semacamnya.

Oleh sebab itu, keluarga adalah tempat yang paling awal dan strategis untuk menjaga hati seorang manusia agar tetap lembut.  Perlu kiranya dijauhkan dari anak-anak dalam rumah: material tontonan, tulisan atau barang catakan, mainan atau game, percakapan, serta perilaku orangtua  yang miskin nilai-nilai kebaikan dan atau penuh kekerasan.  Perlu diwaspadai dan dicermati material-material yang zaman sekarang sangat menarik minat anak-anak (bisa karena ketidaktahuan atau by design oleh pembuatnya!) namun akan mendorong hati menjadi keras sehingga seorang anak menjadi egois, tertutup, kasar, meremehkan orang dan sebagainya.  Sebenarnya tidak kurang banyak material yang positif dan Islami yang juga sangat menarik bagi anak-anak asal para orangtua menaruh perhatian pada perihal ini.

Apabila diduga hati sudah terlanjur menjadi keras, Insya Allah masih dapat dilembutkan.  Salah satu cara yang dianjurkan adalah berzikir dengan rajin dan sungguh-sungguh, di luar ibadah-ibadah lainnya.  Selain itu tentu secara sungguh-sungguh pula mengikuti perintah-perintahNya dan menjauh dari hal-hal yang menyebabkan hati keras tadi.  Mudah-mudahan kita dan keluarga kita termasuk orang-orang beriman yang hatinya lembut.  Amin.

(Disarikan dari kuliah Sunnatullah DR Musthafa Umar, Sabtu 19 Januari 2010 di Masjid Agung An-Nur Pekanbaru.   Gambar dari: http://maramissetiawan.files.wordpress.com/2009/05/love.jpg)

Read Full Post »

D u k u

Buah duku yang berkualitas cukup baik.

Duku (Lansium domesticum atau Aglaia dookoo) adalah salah satu jenis buah yang sangat saya sukai. Buah buni berkulit kuning ini berbentuk bulat lonjong dengan diameter 2-6 cm dengan daging buah berwarna putih kekuningan bening yang membungkus bijinya yang sangat pahit. Kalau dapat yang bagus dan manis, saya bisa makan buah ini relatif banyak sekali duduk.

Duku juga mempunyai “saudara” yang mirip yaitu langsat yang kulitnya lebih banyak getahnya; di Kabupaten Bengkalis ada juga drendan. Namun, duku yang menjadi aikon Sumatera Selatan ini muncul di pasaran tidak sepanjang tahun tapi sesuai musimnya. Ketika musim banyak sekali dijual orang sejak di toko buah sampai berderet-deret di pinggir jalan.

Harga jual duku juga tergantung dengan tempat menjualnya, suplai atau musim, kualitas, dan ukurannya. Di gerobak atau kaki lima bisa Rp 7.500,- per kilo untuk yang berukuran besar dan tidak ada yang busuk atau rata-rata Rp 5.000,- per kilogram pada saat suplainya banyak dengan kualitas dan ukuran yang tidak tertentu. Sementara itu di toko buah harganya Rp 8.500,- per kilogram dengan kualitas terpilih dan lebih terjamin disbanding dengan yang dijual oleh para pedagang kecil di pinggir jalan.

Gerobak duku yang banyak di sepanjang Jalan Yos Sudarso.

Tulisan ini bukanlah bermaksud untuk membahas lebih jauh tentang nature dan nurture dari duku ini tapi lebih pada apa yang ada di balik musim duku ini. Pertama, bagaimana buah lokal ini bisa jadi tuan rumah dan tidak hanya aikon Sumatera Selatan tapi juga secara nasional. Hal ini tentu terkait pada pengembangan jenis dan mutu biogenetikanya, budidaya, dan pengolahan pascapanen seperti packaging, serta pengawetan agar para petani mendapat porsi keuntungan terbesar dari rantai produksinya. Kita harus bisa mengambil pelajaran dari apa yang sudah dan terus dikerjakan oleh Thailand terhadap buah-buahan tropis.

Kedua, tata-niaga yang banyak melibatkan para pengusaha kecil ini seyogyanya mendapat sentuhan sehingga terjadi transaksi yang sehat. Jika kita membeli duku di toko buah, dengan harga yang lebih tinggi kita akan merasa lebih nyaman karena ada jaminan kulaitas. Sebaliknya ketika kita membeli di para pedagang pinggir jalan maka kita akan masuk ke situasi “lihai-lihaian” dengan penjualnya. Jika lengah atau kalah maka tidak jarang akhirnya kita akan dapat buah duku yang sudah turun kualitasnya karena tercampur dengan yang busuk atau kecil-kecil yang rasanya asam.   Para penjual pinggir jalan itu juga ada yang menyediakan duku dengan kualitas terpilih tapi tidak dengan harga “published price” tapi minta dinaikkan sampai 25 persen. Artinya, dengan pembinaan atau sentuhan tangan otoritas, sebenarnya para pedagang duku pinggir jalan ini bisa jadi lebih profesional dan jujur dalam berusaha. Tapi kalau kita tak peduli dan tak pernah memikirkan itu maka entah sampai kapan maka buah duku yang berkualitas hanya akan kita dapatkan dengan cara bersitegang dulu atau lihai-lihaian yang tentunya tidak menunjukkan marwah manusia.

Ketiga, otoritas juga seyogyanya peduli dengan pengaturan para pedagang pinggir jalan ini. Apakah menyangkut pengaturan tempat berjualan sehingga ada aikon kota berupa pusat penjualan dulu atau bagaimana pengaturan gerobak penjualnya sedemikian agar tidak mengganggu pemanfaatan jalan atau arus lalu lintas. Sekali lagi, tanpa kepedulian san sentuhan tangan otoritas maka keadaan ini mungkin tidak akan menjadi baik, bahkan bisa menjadi lebih tidak karuan dengan sampah kulit duku yang bertaburan dimana mana. Semuanya adalah pilihan kita, peduli atau tetap menjalankan kehidupan ini sebagai business as usual sehingga tidak ada progres, sekali pun hanya soal duku.

Read Full Post »

Merantau

Di salah satu halaman bagian depan novel Negeri 5 Benua karya A. Fuadi, tercantum kata-kata mutiara dari ulama terkenal Imam Syafei:

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampong halaman

Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang

Merantaulah, kau akan dapat pengganti dari kerabat dan kawan

Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan

Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa

Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam

Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang

Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa

Jika di dalam hutan.

Mungkin kita setuju atau bisa juga tidak setuju dengan pesan imam yang manjadi pencetus mazhab Syafii yang diikuti di Indonesia ini.  Terlepas dari itu, berkaitan dengan masih hangatnya perubahan tahun Hijriah (dan Masehi), perihal merantau ini tentu jadi cukup menarik.

Bagi saya, tak banyak yang dapat dikomentari kecuali bahwa hal itu banyak terasa.  Pertama, merantau itu berarti hijrah secara fisik.  Jika di suatu daerah kita merasa sudah maksimal dan tetap tidak dapat lagi berbuat banyak kebaikan bagi orang lain, keluarga, dan diri sendiri maka dengan mencontoh Nabi SAW dulu tentu dapat saja hijrah ke negeri yang lebih baik.  Hal ini tentu dapat pula berarti memperbaiki lapangan kehidupan dengan sebuah lapangan kehidupan baru yang lebih baik.

Dengan izin Allah, mungkin achievement saya tidak seperti sekarang kalau tidak berani merantau ketika didorong orang tua setamat SMP dulu.  Pergi mencari tempat kuliah pun dengan keberanian seperti anak panah itu; demikian pula ketika menuntut ke negeri orang.  Selain mendapatkan tambahan pengetahuan, dengan merantau juga mendapatkan  rasa convidence dan visi serta melihat berbagai bukti-bukti kekuasaan Allah Swt sehingga tidak lupa dengan asal diri sendiri.

Selain itu, menurut saya merantau tadi dapat pula kita artikan merubah paradigma berfikir atau mind set kita dari yang kurang baik ke statu yang lebih sesuai dan berada dalam koridor yang diridhoi Allah Swt.  Karena itu jangan pernah takut untuk perhi merantau atau berubah.

Hal ini biasanya tidak mudah karena rasanya ada status beban mental, pengorbanan nafsu, atau rasa malu yang sangat berat untuk melakukan perubahan.  Jika meminjam istilah ESQ, itu hanya bisa kita lakukan kalau kita bertekad melepaskan diri dari belenggu itu.  Mestinya, akan lebih buruk dan malu lagi kalau kita tetap berada dalam keadaan yang tidak baik tadi.  Mudah-mudahan kita senantiasa diberi kemudahan untuk menuju ke arah kebaikan dan meningkatkannya.  Amin.

Read Full Post »