Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2010

Ujian Nasional tiap kalinya selalu menimbulkan heboh; di rumah, di sekolah, atau pun dalam masyarakat.  Sebagian murid merasa mendapat tekanan menjelang dan selama ujian, para orangtua kawatir anaknya tidak berhasil, para guru juga harap-harap cemas, dan ada pula orang yang ingin menagguk di air keruh.  Mekanisme evaluasi proses belajar-mengajar secara resmi ini mestinya menjadi suatu momen yang sakral dan bersejarah.

Dikatakan sakral karena ujian adalah alat untuk mengetahui tingkat keberhasilan proses pembelajaran pada tahap yang baru diselesaikannya dan kemudian diujikan.  Seseorang yang lulus ujian berarti dapat diakui penguasaannya tentang sesuatu atau ilmu sehingga sesungguhnya derajatnya naik satu tingkat lagi.  Dalam kehidupan perubahan tahapan itu adalah salah satu tonggak jejak kehidupan sehingga akan bersejarah dalam roadmap keberhasilan seseorang dalam hidup.

Apa yang kita lihat hari ini pada dunia pendidikan kita kok rasanya melenceng dari prinsip itu.  Banyak murid menganggap ujian adalah sebuah kegiatan yang mempersulit kehidupannya; mereka harus belajar, menghafal, memengerti, menganalisis, menghitung, memikirkan, berkreasi dan sebagainya yang memang memerlukan kesungguhan serta upaya yang tidak mudah.  Apa karena gangguan gaya hidup hari ini maka proses pembelajaran itu tidak dilihat lagi sebagai suatu usaha positif dan mulia untuk menjadi dewasa dan bermanfaat?  Dalam kultur kosmetik, kerja keras, fokus, dan kesungguhan memang dianggap sebagai “faham tua” yang tidak sesuai dengan zaman sekarang yang tanpa disadari sebenarnya penuh dengan hura-hura (lihat saja apa yang mereka lakukan ketika selesai ujian).  Karena itu lulus ujian dianggap hanya sebagai sebuah formalitas sehingga boleh saja didapat secara serong. (more…)

Read Full Post »

Taksi Tawakkal

Subuh tadi di pelataran parkir rumah Tuhan

aku melihat sebuah taksi
dekat jalurku akan menitipkan alas kaki
Baru pertama kali aku lihat demikian
Bukankah biasanya taksi-malam nongkrong di depan unit gawat darurat?
Atau di kaki hotel-hotel atau plaza yang di puncaknya orang bisa rempak dalam hingar
Meramu baur khayalan dan nafsu yang menguras daya
yang baru usai ketika seorang nenek-nenek bermukena berjalan tertatih-tatih
sambil menyahuti kumandang adzan

Di dalam rumah nan agung
Sambil menjawab seruan bilal aku menjangka-jangka taksi itu
Penyewa, pemilik, atau si pemandunya yang akan bahu membahu denganku?
Tak dapat kuduga diantara yang berkokokecuali seorang muda bercelana jean dan kemeja lusuh

Ketika teman-temannya sedang sibuk negosiasi tambang dengan orang-orang yang setengah waras

ia memilih ikut menegakkan shaf dan mengikuti takbir

menyelesaikan zikir dan mengaminkan doa

mengulurkan lengan silaturrahim

penuh senyuman nan tak kalah sejuk dari embun pagi itu di pelataran ia menyapaku

mengajak bercengkrama

polos, lurus, ikhlas

sambil menyapu embun di panduannya

berniat mengutip rimah-rimah yang baru ditaburkan atas perintah ar-Rahman

nampaknya bukan dari yang setengah waras

yang lupa pada ar-Rahim

karena ufuk dah terang

Subhanallah

moga dengan bekal tawakkal

rimah-rimah yang didapatnya lebih dari sekedar sepiring nasi

Read Full Post »

P a t e n

Sony AK dalam beberapa hari terakhir ini menghiasi layar digital kita karena perusahaan elektronik SONY menggugat agar ia tidak menggunakan nama itu untuk laman pribadinya.  Gugatan itu dikaitkan dengan kesamaan nama yang menurut SONY telah melanggar hak paten.

Kalau kita telusuri di Wikipedia, hak paten mulai muncul di Yunani kuna sejak tahun 500 Sebelum Masehi.  Paten adalah semacam hak ekslusif yang diberikan oleh negara atau pemerintah nasional untuk seorang penemu sesuatu yang baru dan berguna.  Hak ini diberikan dengan maksud untuk melindungi kekayaan intelektual penemunya sehingga jika ada aspek komersial dari penemuan itu masih dapat dinikmati oleh penemunya dan tidak jatuh pada orang yang tidak melakukan usaha apa-apa dalam upaya penemuan itu.

Paten kelihatannya sekilas benar dan bagus, karena itu berkembang dan didukung secara luas di negara-negara yang mengedepankan prinsip-prinsip ”kekayaan” itu.  Ketika kita mengedepankan harta dan kekayaan materi maka kita juga akan sepakat dan sangat fanatik pada konsep Hak Kekayaan Intelektual ini.  Akan tetapi kita perlu pula melihatnya dari sisi lain. (more…)

Read Full Post »

Merokok

Fatwa merokok adalah haram baru saja dikeluarkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah pada tanggal 7 Maret lalu.  Sebagaimana juga yang dikeluarkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) beberapa waktu yang lalu, fatwa yang mengharamkan merokok berdasarkan syariah ini membatalkan fatwa tahun 2007 yang menyatakan bahwa merokok hanya sekadar mubah, setelah mendapatkan berbagai masukan tentang bahaya merokok secara kesehatan dan ekonomi.

Merokok memiliki dampak negatif yang besar karena itu perlu dijauhi; bagi yang belum merokok agar menghindarkannya, yang sudah merokok wajib pula berupaya untuk berhenti.  “Karena dampak negatifnya, maka pembelanjaan uang untuk merokok adalah perbuatan mubazir,” ujar Dr Yunahar Ilyas, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Tarjih (Tribun Kaltim, 10 Maret 2010).

Akan tetapi meskipun tidak merokok, kita masih terancam oleh dampak ketika berada dalam lingkungan asap dari para perokok atau sebagai perokok pasif.  Sangatlah tidak adil jika para perokok pasif mendapatkan penyakit yang tidak lebih baik dari para perokok aktif yaitu rentan terhadap kanker, penyakit jantung, paru-paru, dan penyakit lainnya yang mematikan.  Berdasarkan penelitian di AS, orang yang dikelilingi oleh asap rokok lebih cepat meninggal dibandingkan dengan yang senantiasa menikmati udara bersih.  Angka kematian mereka juga lebih tinggi 15 persen.  Asap rokok mengandung sekitar 4.000 macam bahan kimia yang 60 diantaranya dapat menimbulkan kanker.   Di AS, pemerintah memperkirakan 3000 kematian perokok pasif akibat kanker setiap tahunnya dan secara global kebiasaan merokok akan menjadi salah satu penyebab kematian terbesar.  Menjelang tahun 2030, diperkirakan sekitar 10 juta orang akan meninggal setiap tahunnya akibat rokok yang 70 persennya adalah penduduk negara-negara berkembang. (more…)

Read Full Post »

“Asisten”

“Asisten” di rumah-rumah tangga daerah perkotaan (Inggeris: maid, housekeeper) memainkan peran yang penting namun nampaknya belum mendapatkan tempat yang pas.  Banyak rumah tangga jadi lumpuh, apalagi ketika lebaran, kalau sang “asisten” ngambek atau pulang kampung.  Banyak pula kita memperlakukan “asisten” sesuka kita tanpa peduli pada haknya yang menjadi kewajiban kita.

Kami bersyukur karena tinggal bertiga saja dan memang sudah lama tidak ada “asisten” di rumah yang ukurannya masih bisa kami urus sendiri.  Pernah beberapa kali punya “asisten” yang meskipun diperlakukan dengan baik dalam hubungan kemitraan yang memadai, tetap saja belum dapat membuat mereka bertahan sampai dua generasi seperti yang terjadi di rumah-rumah tangga pada waktu lampau.   Terlepas dari attitude dan kompetensi manusia yang berubah, ternyata ada sisi humanisme yang harus menjadi perhatian kita.

“Asisten” kami yang terakhir pulang kampung bukan karena tidak cocok dari segi kemitraan atau beban kerja tapi sesuatu yang lebih dari sekedar materil.  Pada hari kerja dan anak ke sekolah sampai jam 16.00, sang “asisten” tinggal sendiri dengan pekerjaan rutin yang biasanya bisa diselesaikannya sekitar jam 11.00. Waktu kosongnya sesudah itu banyak dilewatinya dengan menonton tv dan membaca sehingga tidak heran dia banyak tahu tentang sinetron dan berita aktual; kadang iklan kolom pun sempat dibacanya.

Nampak sekali banyak kemajuan pada wawasan dan pengetahuannya, termasuk tentang kota kami.   Kadang dia menolak kalau diajak pergi jalan-jalan ketika weekend, yang hal ini tentunya cukup fenomenal untuk ukuran seseorang yang datang dari daerah terpencil sebuah kabupaten.  Tanpa banyak cakap, dia lebih memilih tidur dari pada hanya sekedar jalan-jalan ke mall yang memang jadi objek hiburan di kota kami. (more…)

Read Full Post »

Ia ditunjuk menjadi gubernur oleh pimpinan tertinggi pemerintah. Ia pun ditawari gaji. “Berapa gaji yang engkau inginkan?” ujar sang pemberi mandat.
“Apa yang harus saya perbuat dengan gaji itu? Bukankah penghasilan saya sudah cukup?” jawab gubernur yang baru ditunjuk tersebut.

Waktu pun berjalan. Pimpinan tertinggi rupanya menyertakan pula sekelompok orang untuk mengamati jalannya pemerintahan sang gubernur, tentu tanpa sepengetahuannya. Suatu ketika sang pimpinan meminta kepada utusan itu untuk membuat daftar orang miskin di provinsi yang dipimpin gubernur tersebut agar dapat diberi bantuan dari pemerintah pusat.
Alangkah terkejutnya pimpinan tertinggi itu; ternyata utusan itu mencantumkan juga nama gubernur mereka dalam daftar.

“Betulkah gubernur kalian miskin?” selidiknya kepada utusan yang membawa daftar itu. Dengan penuh keyakinan, utusan itu membenarkan bahwa sang gubernur benar-benar hidup dalam kemelaratan.
Pemimpin tertinggi itu pun mengangis mendengar kabar tersebut. Ia lalu mengambil uang dan dititipkan kepada utusan itu untuk diberikan kepada sang gubernur.

Sesampainya di ibukota provinsi, para utusan itu pun menghadap gubernur mereka.
Apa tanggapan gubernur saat menerima uang titipan itu? Ia langsung menyingkirkan pundi2 uang itu dan berucap: “Innalillahi wainna ilaihi rojiun.”

Mendengar ucapan itu isteri gubernur terkejut. “Apa yang terjadi? Apakah pimpinan tertinggi kita meninggal dunia?” tanya isterinya.

“Bahkan lebih besar dari itu. Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup rumah tangga kita,” jawab sang gubernur.

Isterinya menyarankan suaminya untuk menjauhkan bencana itu dari keluarga mereka. Sang gubernur setuju dan mengambil pundi2 uang tersebut lalu meminta isterinya untuk membagi-bagikannya kepada fakir miskin.

Cerita ini cukup ganjil bagi kita, bukan? Sang gubernur bernama Said bin Amir al-Jumahi dan pemimpin tertinggi pemerintah pusat saat itu adalah Khalifah Umar bin Khattab. Mudah-mudahan jadi tauladan bagi kita.

(Dikutip dan diedit dari Majalah Tafaqquh Seri 1 hal 1. Websitenya: http://www.tafaqquh.com)

Read Full Post »