Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2010

B e s a r

layang2Besar adalah suatu sifat ukuran yang komparatif. Artinya selain mempunyai besaran nominal, kata ini memuat sifat relatif. Bagi seseorang, besar mempunyai makna yang melebihi kebutuhan atau ekspektasinya sementara bagi orang lain seukuran itu belum berarti atau masih kecil.

Karena itu, untuk menghindari jebakan relativitas, dalam menetapkan besar kecilnya sesuatu, akan lebih tepat mengacu pada perihal internalnya. Pada penghasilan misalnya; seorang sarjana yang memperoleh gaji Rp5 juta per bulan, apakah besar atau kecil? Kalau dia baru tamat dan masih bujangan, apalagi tidak kompeten tapi dapat masuk kerja karena KKN atau nyogok, gaji demikian tentu cukup besar. Sebaliknya jika sarjana itu sudah berkeluarga dengan beberapa anak, kompeten, berpengalaman, disiplin, dan produktif, maka jumlah imbalan itu tentu masih kurang.

Demikian pula dengan achievement lain, termasuk yang abstrak dan pemikiran. Sering kita dengar orang mengatakan bahwa sesuatu yang besar dihasilkan oleh pemikiran yang besar pula. “Think big,” kata orang sana, atau “Think globally, act locally.” (more…)

Read Full Post »

P a n g k a t

Pangkat, bagi para abdi negara dan seorang insan hamba Tuhan, mestinya bukanlah suatu hal yang utama dalam pengabdiannya. Namun itu merupakan suatu penghargaan yang memberikan motivasi sehingga berkinerja baik dan produktif. Karena itu banyak para abdi negara yang merasa malu untuk mengurus kenaikan pangkatnya dan cenderung menyerahkan hal itu pada otoritas dan kebijakan pimpinan sebagai penilai kinerja dan produktivitasnya.

Tentang hal ini, ada pengalaman menarik dan mengesankan ketika saya bertugas di Batam waktu Walikotanya Bapak R. A. Aziz. Beliau sangat peduli dengan disiplin dan kerapian kantor serta birokrasi, termasuk urusan kepegawaian. Kawan-kawan yang mengurus ini menunjukkan tanggungjawab dan profesionalisme yang tinggi, sesuai dengan prinsip penghargaan dari pimpinan pada para bawahan.

Berangkat dari paradigma itu, kenaikan pangkat merupakan urusan rutin yang mudah dan simpel. Data para pegawai terkumpul dengan baik dan lengkap sehingga tahapan-tahapan urusan dapat dilaksanakan secara sistematis. Jangan heran kalau suatu hari didatangi staf kepegawaian yang memberitahukan jadual kenaikan pangkat atau gaji berkala yang memang jarang kita ingat itu, kemudian minta kita melengkapi dokumen pribadi kita yang diperlukan.

Sikap dan pelayanan seperti ini tentu menjadi unggulan dari unit kerja tersebut karena sangat membantu dan memudahkan seorang pegawai untuk mendapatkan “reward” dari pimpinannya. Jasa dan kenangan yang berkesan pada kolega di unit kerja urusan kepegawaian ini Insya Allah akan mendatangkan rasa terima kasih dan akan mendapatkan apresiasi yang sepadan dari para pegawai. Tentunya yang tidak akan dilupakan adalah sang pimpinan yang membuat kebijakan agar keadaan ini berlangsung. Itulah kenangan baik pada pak R. A. Aziz sewaktu beliau jadi Walikota Batam.  Mudah-mudahn jadi amal sholeh beliau. Jazakallhu khairan.

Read Full Post »

B o h o n g

Bohong adalah perkataan atau pernyataan yang tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jadi ada perbedaan antara informasi dengan realita; dalam pemahaman manajerial, perbedaan itu disebut masalah. Karena itu, sederhananya, salah satu cara untuk mengurangi masalah adalah jangan berbohong.

Tanpa membedakan status dan profesi, mungkin sebagian besar kita pernah bohong, bisa jadi untuk hal yang sepele. Sebagai contoh, ketika ada yang menelepon untuk minta berjumpa guna suatu urusan yang menurut kita tidak penting, dengan mudah kita akan terdorong untuk bilang tidak ada waktu. Bisa terjadi pula ketika bos kita mencari melalui telepon, manakala ketika itu kita sedang di kedai kopi, kita katakan sedang mengurus kepentingan kantor.
Yang lebih buruk lagi kalau seseorang itu bohong dalam kadar atau atas alasan yang lebih penting dan prinsipil seperti untuk menghindarkan konsekuensi logis dari suatu perbuatan atau karena ada keuntungan yang akan didapat. Motif terakhir ini akan meluncur ke kecurangan atau penyelewengan.

Jadi, seseorang bisa berbohong karena didorong oleh tiga hal: 1). Penyepelean atau tidak menganggap penting sesuatu, 2). Penutup kesalahan atau kelemahan, dan 3). Godaan kepentingan atau keuntungan. Mungkin ada motif lain yang belum masuk atau merupakan kombinasi dari tiga motif itu, namun semuanya tetap akan memunculkan sebab-sebab berbohong seperti tidak mau direpotkan tamu yang tak penting bagi kita, takut pada sanksi bos, atau untuk mendapatkan uang dengan mudah. (more…)

Read Full Post »

K o r a n

Koran konon berasal dari bahasa Belanda Krant, meskipun rasanya lebih pas dari bahasa Perancis Courant. Surat Kabar dalam bahasa kita ini adalah penerbitan yang berisi berbagai berita yang menarik perhatian pembaca. Meskipun setelah “basi” langsung dibuang, media yang umumnya dicetak pada kertas yang murah dan terbit harian ini dirindukan penggemarnya.

Bagi saya koran juga demikian. Pagi-pagi merasa kehilangan kalau belum lihat halaman depan koran hari itu, paling tidak baca headlines sebuah koran lokal yang jarang luput dari perhatian saya. Kalau sibuk atau capai, koran akan jadi agenda sebelum tidur atau pagi-pagi esoknya sebelum datang yang baru.

Subuh sebelum membuat tulisan ini, saya juga meraih sebuah koran ibukota terbitan Minggu karena sudah dua hari bertungkus lumus dengan paper works. Koran besar itu memang sering memuat hal-hal yang besar dan jadi perhatian luas. Namun kali ini kok rasanya hambar karena nampaknya makin kurang asam-garamnya.

Kehambaran ini sebetulnya sudah lama saya rasakan dari mainstream isinya. Sebuah koran yang beroplah besar tentu akan menjaga stabiltasnya dengan tetap berada di jalur aman karena di balik oplah itu ada bisnis iklan yang besar. Ini masih dapat difahami namun yang lebih mengkhawatirkan kalau-kalau ada skenario besar. (more…)

Read Full Post »