Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2010

Sri Mulyani Indrayani (SMI) atau popoler juga dengan Mbak Ani, sejak awal tahun 2010 menjadi “bintang” media dalam panggung tarik menarik berbagai segi kepentingan di negara kita.  Puncaknya adalah ketika Presiden SBY menyetujui SMI untuk mundur dari kabinet dan akan “hijrah” menjadi Managing Director dari World Bank (WB) di Washington, sementara belum ada kejelasan permasalahan hukum kasus bailout Bank Century yang melilitnya.  Langkah ini menggemparkan nusantara dan bahkan mengguncang pasar saham dan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Reaksi berbagai pihak atas langkah ini dan keterkaitannya ke berbagai aspek politik,hukum, dan ekonomi mungkin akan terus berlanjut dan belum dapat kita pastikan akan mengarah ke dan berhenti di mana.  Terlepas dari semua itu, seperti mata uang, kejadian ini sebenarnya mempunyai dua sisi yang menarik bagi dalam kerangka suatu bangsa.

Sisi pertama, banyak kita yang memuji reputasi SMI sejak dia menjadi pengamat ekonomi beberapa tahun lalu sampai menjadi Menteri Keuangan perioda kedua ini.  Sebagai pakar ekonomi, pandangan dan analisisnya tajam dan akurat dan disertai pula dengan integritas pribadi yang kuat.  Tidak mengherankan kalau Mbak Ani jadi salah seorang direktur eksekutif di IMF sebelum Presiden SBY memilihnya sebagai Ketua Bappenas dan akhirnya sebagai Menteri Keuangan pada Kabinet Indonesia Bersatu dulu.  Meskipun disebut-sebut sebagai menganut mazhab ekonomi neoliberal, SMI diterima pasar dan berhasil meyakinkan banyak pihak internasional.  Keberhasilannya menunjukkan indikator ekonomi Indonesia yang makin baik, meningkatkan pendapatan negara, dan melakukan reformasi birokrasi di kementerian yang dipimpinnya telah menjadikan SMI terpilih sebagai Menteri Keuangan terbaik.

Reputasi ini lah agaknya yang memungkinkannya “hijrah” untuk yang ke dua kali ke “rumah lama”nya di Washington.  Ia dikatakan akan menjadi orang kedua yang pekerjaannya mencakup penanganan lebih dari 70 negara.  Terlepas dari “slip” yang terjadi dalam kasus Bank Century, kepercayaan ini memang dapat jadi kebanggan kita bersama dari sisi kompetensi seorang anak bangsa.

Pada sisi kedua, tidak kurang banyak pula yang menyayangkan kepergian SMI ke WB yang dikaitkan dengan dua hal prinsipil.  Pertama, kepergian itu dinilai sebagai suatu klep dari permasalahan politik dan hukum yang sedang membelit SMI.  Entah sejauh mana kedalamannya, pernah pula koran mengungkapkan ekspresi SMI bahwa bos seharusnya melindungi anak buah.  Hari-hari berikutnya terjadi pula pembenahan koalisi partai di DPR yang koordinasinya akan dinakhodai oleh Aburizal “Ical” Bakri yang sebelumnya pernah mempunyai friksi dengan SMI.

Kenyataan ini tentu dapat menimbulkan kesan tidak manis dan mengurangi reputasi hebat pada sisi yang pertama tadi.  Seorang SMI yang punya kemampuan intelektual tinggi dan sebelumnya terkenal integritas pribadinya, mestinya berani “kembali ke fitrah”nya untuk menyelesaikan masalah yang membelitnya secara konsekuen dengan segala resiko yang memang harus dipikul.  Jangan sampai ada arogansi intelektualitas yang tidak dapat menerima atau terkalahkan oleh konsekuensi yang mungkin timbul dari suatu tindakan yang salah.  “Hijrah” itu bisa diinterpretasikan sebagai mengelak padahal jika masalah sebenarnya dapat diklirkan dan dan dihadapi dengan semangat seorang srikandi, Insya Allah orang akan banyak menaruh simpati dan mungkin bisa balik mendukung SMI.  Seandainya SMI memang benar-benar bersalah, penjara sekali pun hanya suatu lambang ketidaknyamanan fisik tapi akan jadi penenang bagi jiwanya sebagai seorang yang beriman.

Kedua, kepergian SMI ke WB di AS mungkin bukanlah suatu hijrah yang lurus mengikuti sunnah.  Apabila kepergian itu mengandung secuil keinginan untuk membalas sakit hati karena merasa kerja kerasnya tidak dihargai dan dia tidak dilindungi atasan, maka tidak dapat lagi masuk pada kategori pindah dari suatu negeri yang tidak baik ke negeri yang lebih baik atau lebih aman agar terhindar dari ancaman keselamatan demi kepentingan yang lebih besar dan jauh ke depan.  Jika alasannya adalah untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik, tentu juga terlalu naif karena seorang SMI adalah seorang menteri yang jauh dari sengsara.  Kecuali menempatkan tumpukan dollar lebih tinggi dari kelayakan kehidupan yang madani, seandainya tidak jadi menteri pun SMI Insya Allah akan tetap akan hidup relatif baik dan cukup di negeri ini.  Jadi apapun Mbak Ani nantinya, tetap akan membantu dan membawa manfaat untuk bangsa dan saudara-saudaranya sendiri.

WB dan AS pula tidak lah dapat dikatakan sebagai suatu tempat atau negeri yang lebih baik dan aman dari tanah air kita.  WB adalah sebuah organisasi keuangan dunia yang sangat kental dengan rente uang atau tidak bebas riba (yang sesungguhnya dilarang oleh semua ajaran agama).  Sudah jadi pengetahuan umum dan gugatan sejak lama bahwa arus dana akan lebih besar dari sebuah negara yang mendapat pinjaman WB ketimbang nilai pinjaman yang diberikan berikut nilai manfaatnya.  Bekerja apalagi mengabdi untuk lembaga semacam ini secara rohani tentu sangat tidak layak jika kita tidak hanya mencari reputasi dunia tapi juga mulai mempertimbangkan “masa depan”.  Tentang nilai dan tata kehidupan di AS sendiri tentu kita juga tidak perlu membanding-bandingkannya dengan negeri kita, kecuali bahwa negeri kita lebih sesuai dengan latar belakang sosial, budaya, kekeluargaan, dan keyakinan agama kita yang rasanya belum tergantikan.

Mudah-mudahan Mbak Ani tidak jadi “hijrah” tapi hanya sekedar menenangkan hati saja beberapa waktu.  Semoga Allah membuka hati Mbak Ani untuk tetap berbuat yang terbaik bagi bangsa dan saudara-saudaranya yang masih memerlukan tenaga dan pikirannya, di sini.

(Tulisan ini sudah dimuat Riau Pos pada kolom Opini Kamis 13 Mei 2010 dengan judul Hijrah Sri Mulyani)

Advertisements

Read Full Post »

R i d h o

Ridho Allah sangat sering kita dengar ketika orang beribadah atau berbuat baik (amal sholeh). Ridho maknanya menyamakan kehendak; dipakai terhadap orangtua atau Allah yaitu sama kehendak kita dengan kehendak pihak yang kita harapkan itu.

Apa kehendak manusia yang punya fisik tubuh, keinginan, dan fikiran (yang dipengaruhi nafsu)? Kita tentu ingin hidup sehat, senang dan mudah, menikmati berbagai hal, memiliki harta yang banyak, keluarga yang bahagia, dst. Dengan pengaruh nafsu, kehendak ini tidak akan pernah terpuaskan kecuali muncul dari dalam diri kita unsur roh yang beriman pada Allah dan dapat memuliakan diri kita, sesuai dengan kehendak Allah.

Apa pula kehendak Allah terhadap manusia? Jelas, secara umum agar kita mengabdi kepadaNya. Secara khusus, apapun kejadian pada orang per orang adalah atas izin atau kehendak Allah. Ada yang jadi konsekuensi dari perbuatan kita sendiri (Sunnatullah), ada pula yang memang atas ketentuanNya.

Sakit misalnya, bisa menimpa karena kita lalai menjaga kesehatan. Namun orang yang hidup bersih dan sehat tetap bisa sakit jika dikehendakiNya dengan berbagai hikmah. Karena itu, kewajiban kita adalah berusaha dan memohon agar kita berada dalam kehendakNya yang sesuai dengan kehendak kita.

Semuanya tentu berangkat dari iman yang diusung oleh roh. Dalam penerapannya, jika kita sakit yang sudah merupakan kehendak Allah misalnya, maka dengan iman kita harus menyesuaikan kehendak kita dengan kehendakNya itu. Sakit itu harus difahami sebagai suatu mekanisme yang bisa jadi peringatan agar tidak lalai menjaga kesehatan, ujian, cobaan, menebus kesalahan, menghindarkan kita dari sesuatu yang lebih buruk, atau lainnya yang kita tidak tahu.

Yang jelas jangan sekali-sekali berburuk sangka pada Allah dan imani lah kehendakNya itu karena itu lah jalan mendapatkan Ridho Allah Swt. Wallahualam.

Read Full Post »

Hari Pendidikan Nasional (HPN) kita peringati setiap tanggal 2 Mei, hari dimana dianggap lahirnya pendidikan di Indonesia modern.  Tanggal ini diambil dari hari lahir Ki Hajar Dewantara (KHD) yang telah mendirikan taman siswa untuk sekolah kerakyatan tanggal 3 Juli 1922 di Yogyakarta.  Beliau ditetapkan sebagai seorang Pahlawan Pergerakan Nasional dan hari ini kita memperingati tanggal lahirnya HPN karena upaya, kerja keras, dan kiprah beliau di dunia pendidikan.

Bagaimana cara kita memperingati HPN hari ini?  Kalau pun ada hal-hal yang prinsipil atau substansial namun kita belum melihat itu dimaknai secara baik dan konsepsioanal dan tidak pula merasakan adanya peringatan yang “menggigit” atau menjadi suatu gerakan yang sampai ke berbagai stakeholder.  Nama KHD dan sejarah perjuangannya pun kita mungkin lupa menyebutkannya karena kita lebih sibuk untuk mengemukakan keberhasilan sesaat yang lebih melekat pada nama para pihak yang berkepentingan (quick yielding mindset).

Sebagai contoh dapat kita lihat pada peringatan HPN tahun ini.  Apakah kita telah mengulangi pembacaan sejarah perjuangan KHD dan mencoba menggali nilai-nilai pendidikan yang dibibitkannya?  Apakah kita mengevaluasi sistem pendidikan kita yang harus kita akui masih babak belur dan belum berhasil melahirkan insan-insan didik yang berilmu, berkepribadian luhur, dan berakhlak mulia?  Berdekatan dengan pengumuman hasil-hasil Ujian Nasional untuk berbagai tingkat sekolah, kita makin miris dan gamang melihat bagaimana kualitas dan akhlak anak-anak sekolah kita hari ini. (more…)

Read Full Post »