Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2010

S a m p a h

Sampah secara harfiah sudah berkonotasi sebagai barang yang tidak diinginkan.  Ia adalah sisa atau hasil ikutan dari suatu kegiatan manusia yang tidak diinginkan atau tidak diperlukan lagi.  Bukan hanya dianggap tidak berguna tapi mungkin juga membawa dampak buruk seperti kotor atau bau sehingga orang ingin segera menjauhkan diri darinya.

Akan tetapi, meskipun orang tidak mau ada sampah di dekatnya tapi perilaku manusia terhadap sampah berbeda-beda dalam suatu spektrum yang cukup lebar.  Di satu sisi, ada yang ingin bersih dan mau berkontribusi untuk menciptakan kebersihan, pada sisi lain ada yang tidak peduli dengan kebersihan di sekitarnya dan bahkan ikut membuat sampah atau menimbulkan ketidakbersihan.  Sikap tiap orang itu muncul tentu pengaruh pemahaman, kebiasaan, dan pengaruh lingkungan.

Sebagai contoh, ketika ada kegiatan massal seperti senam atau jalan santai, sudah biasa kita lihat sampah yang bertebaran ketika dan sesudah acara.  Sampah itu berupa kotak bekas konsumsi yang dibuang sesuka dan sekenanya karena memang tidak disediakan tempat penampungan sampah.  Kesempatan untuk memberikan pendidikan dan menanamkan sifat kebersihan dan perilaku terhadap sampah kepada umum sering kita sia-siakan.  Sangat jarang kita jumpai dalam suatu kegiatan massal adanya kepedulian pada pengelolaan sampah dan kebersihan.

Masyarakat kota kita juga sering menunjukkan perilaku yang kurang maju tentang sampah ini.  Tidak jarang kita lihat orang membuang sampah sekenanya di lantai kantor atau halaman, membuang tissu atau kulit buah-buahan dari dalam sebuah mobil mewah.  Yang akan sangat merugikan adalah bila hal itu dianggap hal biasa atau bahkan dianggap benar atau tidak merugikan siapapun sehingga bisa menempel sebagai sebuah kebiasaan ketika pergi kemana saja.

Menarik untuk mencermati laporan The Sunday Times 6 Juni 2010 tentang perilaku terhadap sampah di Singapura yang sudah terkenal sangat ketat soal sampah, rokok, permen karet, dan meludah di sebarang tempat.  Meskipun membuang sampah sembarangan (littering) diancam denda S$ 300, sampai dengan bulan ke empat tahun ini sudah 10.500 orang terperogok littering yang untungnya masih lebih baik dari tahun lalu yaitu sebanyak 14.500 pada perioda yang sama.

Aturan yang ketat rupanya belum berhasil membangun kedisiplinan warga Singapura soal littering.  Dari 4.400 orang yang disurvey, ternyata lebih dari sepertiganya juga akan membuang sampah sesukanya jika di sekitarnya tidak ada tempat sampah.  Hari Kamis 5 Juni 2010 petugas Badan Lingkungan Nasional Singapura (National Environment Agency) menangkap seorang remaja perempuan yang membuang puntung rokok sembarangan dengan alasan tidak ada tong sampah.  Untuk membela dirinya, kawan-kawannya juga mengemukakan alasan yang sama meskipun sekitar 30 meter dari mereka terdapat sebuah tong sampah.

Survey juga menunjukkan bahwa warga asing di Singapura juga memiliki mindset yang kurang memperhatikan masalah sampah.  Dari 27.572 orang yang tertangkap membuang sampah sembarangan tahun lalu, 11.059 orang adalah warga asing yang umumnya pekerja dari Bangladesh, Cina, India, Malaysia, Filipina, Vietnam, dan termasuk Indonesia.  Alasan yang paling kuat adalah karena mereka merasa seperti berada di negeri sendiri sehingga membuang sampah bisa sembarangan.

Kenyataan tentang perilaku buruk para pekerja kita di Singapura ini tentu memprihatinkan karena dapat menurunkan marwah bangsa.  Karena itu perilaku dan mindset terhadap sampah jangan sampai menjadi kebiasaan buruk di negeri kita.  Kita harus senantiasa memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pendidikan umum tentang sampah, utamanya karena kita tahu dampak buruk sampah terhadap kebersihan, kesehatan, keindahan.  Acara-acara publik yang massal seperti senam dan jalan santai harus kita kelola sedemikian sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat untuk membuang sampah pada tempatnya dan menjaga kebersihan.

Upaya-upaya ini tentu harus dilakukan secara terus menerus dan terintegrasi seperti penyuluhan, kampanye, muatan lokal pelajaran sekolah, contoh dan perhatian dari para pemimpin, serta penyediaan sarana-prasarana yang memadai di tempat-tempat umum.  Didukung dengan penegakan aturan, semua komponen masyarakat dan kalangan dunia usaha perlu digerakkan secara konsepsional dan terpadu.  Hari ini, sebuah perusahaan justru akan makin populer jika “go green”.

Mudah-mudahan tingkat kesadaran kita semua akan kebersihan makin tinggi, makin peduli pada masalah sampah sehingga dapat meingkatkan marwah kita sebagai sebuah bangsa yang besar dan maju.  Penghargaan Adipura bukan hanya sekedar untuk keperluan suatu upacara tapi dapat mendorong perilaku bersih masyarakat sehingga barulah dapat sebagai representasi kemajuan peradaban.

(sudah dimuat tidak lengkap di kolom Makna, Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 21 Juli 2010, juga di blog https://riau2020.wordpress.com/)

Read Full Post »

S u n g a i

Sungai adalah pembawa kehidupan. Sebagai suatu habitat yang kaya dengan keanekaragaman hayati (biodiversity), sungai mengusung rezeki dari Yang Maha Pencipta untuk para nelayan dan petani. Secara lebih luas, orang memerlukan sungai untuk sumber air baku dan prasarana transportasi.

Karena itu, tidak heran kalau secara tradisional manusia berorientasi ke sungai sebagaimana yang terlihat di Provinsi Riau. Pada banyak perkampungan lama di sepanjang sungai-sungai masih terlihat rumah-rumah penduduk menghadap ke sungai dan dihubungkan oleh jalan kampung yang ada di antara halaman dan sungai. Di depan masing-masing rumah biasanya terdapat pula tepian tambatan perahu dan sarana mandi-cuci-kakus (MCK). Meskipun kadang dipakai juga sebagai tempat membuang sampah, namun dengan kearifan lokal yang ada dan daya dukung lingkungan yang masih baik, di masa lalu manusia bisa hidup secara harmonis dan relatif sejahtera dalam habitat ekosistem sungai.

Pada era pembangunan ini justru terjadi perubahan perilaku terhadap sungai. Pembangunan fisik dan kurangnya wawasan lingkungan telah merubah orientasi manusia dari sungai ke darat. Berbagai aktivitas manusia masuk jauh ke daratan, merambah daerah aliran sungai (DAS) dan sungai dijadikan bagian belakang dan tempat membuang sampah dan kotoran. Kampung-kampung di sepanjang sungai tadi yang kemudian menjadi kota atau daerah industri makin membebani sungai sehingga rusak secara lingkungan. Sayangnya, banyak orang kurang menyadari hal ini; apa karena pepatah “Tak ada sungai yang tak bersampah” yang sudah harus direvisi itu atau sebagai akibat dari perlombaan ekonomi dan kemaruk kebendaan yang sudah melanda berbagai relung kehidupan masyarakat?

Kecuali masyarakat yang secara tradisional masih tergantung pada sungai, banyak dari kita tak peduli pada keselamatan lingkungan sungai-sungai. Berbagai laporan lingkungan sudah banyak melaporkan masalah yang muncul seperti kerusakan DAS, kekeringan, banjir, sedimentasi, pencemaran, erosi tebing sungai, dan kerusakan biodiversity dalam ekosistem sungai. Jangan-jangan tak lama lagi kita tidak dapat merasakan nikmatnya ikan selais atau udang galah.

Padahal berbagai kota pinggir sungai di banyak negara, sungai didayagunakan dengan baik. Kegiatan-kegiatan di daratan tetap memperhatikan keberadaan fisik dan potensi sungai sebagai pembawa kehidupan atau rezeki. Di Melaka dan Shanghai misalnya, sungai terpelihara dari sampah, sedimentasi, dan pencemaran sehingga selain untuk transportasi, kawasan riverfront menjadi tujuan wisata dan menikmati river cruise yang memberi pendapatan yang cukup besar pada dunia usaha dan melibatkan banyak tenaga kerja secara bermarwah.

Bagi kita di Riau, empat sungai besar dan anak-anaknya adalah rahmat dan amanah Ilahi yang harus kita pelihara dan manfaatkan secara baik. Kesadaran ini perlu ditularkan kepada berbagai lapisan masyarakat, termasuk melalui pendidikan lingkungan yang konsepsional dan implementatif di sekolah-sekolah. Berbagai kegiatan pembangunan harus memperhatikan keberadaan sungai dan tidak mengorbankan DAS untuk kepentingan-kepentingan sempit dan jangka pendek, melalui perencanaan pemanfaatan ruang yang terpadu, komprehensif, dan sustainable. Hasil-hasil kerja para ahli yang sudah ada dapat dimanfaatkan dan pemikiran-pemikiran baru harus kita himpun menjadi suatu kebijakan yang dapat mengembalikan dan menjaga fungsi sungai sebagai sumber kehidupan. Insya Allah masih belum terlambat.

(sudah dimuat di kolom Makna di Harian Riau Pos (tiap Rabu) tanggal 14 Juli 2010, juga dimuat di Notes FB)

 

Read Full Post »

H a l a l

Halal berasal dari bahasa Arab yang berarti dibolehkan atau sesuai aturan. Ia adalah tentang status sesuatu secara syariah yang dibolehkan, dapat diterima, atau boleh dilakukan yang berlaku untuk berbagai aktivitas, barang, atau makanan. Berlawanan dengan ini adalah haram yang berarti tidak dibolehkan dan bila dilakukan maka melanggar devine rules (aturan ilahiah) yang mengaturnya sehingga akan terkena sanksi syariah.

Akan tetapi, meskipun sangat prinsipil, kadang kita memandang halal dan haram ini lebih bersifat ukhrawi yang dianggap “masih jauh” untuk diambil berat. Karena kurang peduli pada penilaian dan pengendalian diri sendiri (self controlling and assesment) yang imani, kehalalan menjadi sepele atau tidak perlu jadi perhatian. Tidak heran jika kita masih terlibat pada riba, tak memastikan sumber rezeki yang halal, abai pada makanan halal, dan seterusnya.

Kita bukan akan membahas tentang aturannya yang sudah jelas dan pasti, yang menjadi domain para ulama itu tetapi bagaimana kita dapat mensiasati implementasinya dalam keseharian kita, antara lain dalam kegiatan ekonomi (muamalah), pergaulan, dan makanan. Tulisan singkat ini meninjau tentang makanan sebagai kebutuhan asasi kita setiap saat yang dilihat dari tiga sisi: 1). sumber atau cara mendapatkan, 2). jenis, dan 3). proses pengolahan.

Cara mendapat makanan adalah langkah yang paling awal; riski yang didapat secara baik dan benar ketika dimanfaatkan untuk makanan maka akan makanan itu otomatis jadi halal juga. Sebaliknya, meskipun itu sebuah mangga, kalau didapat dari mencuri maka ia tidak halal. Dari jenisnya, jelas sangat banyak makanan halal namun ada pula yang secara eksplisit sudah disebutkan tidak halal dalam kitab suci. Yang sering kita jumpai antara lain berkaitan dengan alkohol dan binatang-binatang yang diharamkan.

Alkohol yang tergolong zat yang memabukkan dan merusak tubuh sudah nyata tidak halal, namun sering dikonsumsi dengan alasan kadarnya rendah atau hanya sebagai zat aditif (additive) dan tidak sampai mabuk. Banyak orang meskipun tahu tapi demi sekedar pergaulan mengkonsumsi bir, minuman anggur (wine), atau makanan yang mengandung alkohol lainnya. Dengan analogi itu, banyak pendapat yang memasukkan rokok, narkotik, dan berbagai zat terlarang lainnya sebagai tidak halal. Bahkan zat-zat aditif yang membahayakan kesehatan juga digolongkan tidak halal.

Di antara daging yang tidak halal pula, yang berasal dari binatang ternak (herbivora) yang tidak disembelih secara Islami, binatang menjijikkan, binatang buas (carnivora), dan babi adalah yang paling banyak kemungkinan terkandung dalam makanan, khususnya di lingkungan atau negara-negara yang tidak mengharamkannya. Secara normal seorang yang mengindahkan aturan ilahiah tadi memang tidak akan memakan dagingnya akan tetapi tanpa sadar atau faham tetap sangat besar peluang termakan dalam bentuk lain.

Daging tidak halal dan produk-produk turunannya (derivatives, by-products) bisa muncul dalam berbagai bentuk olahan, antara lain: daging (pork: giling, potongan untuk campuran omelet), bacon, ham, sosis, salami, dan peperoni yang sering dijumpai di hotel, restoran, atau restoran cepat saji (burger dan pizza) yang kurang memperhatikan keberadaan orang yang tidak boleh mengkonsumsinya. Selain itu, yang tidak kasat mata adalah penggunaan peralatan dapur dan makan yang bercampur karena banyak pelaku usaha makanan tidak mengerti dan tidak peduli pada hal itu.

Di negara-negara yang penduduknya tidak menganut syariah, pemakaian zat aditif atau katalisator yang tidak halal adalah lazim dalam proses pengolahan suatu jenis makanan. Tidak halal karena mengandung atau berasal dari alkohol, zat-zat berbahaya, atau bahan turunan binatang yang tidak halal atau dari binatang halal yang tidak disembelih secara Islami yang tidak nampak lagi wujudnya. Roti dan biskuit agar renyah dan gurih sering dicampur lemak (lard), agar-agar (jelly) dan gum sering mengandung gelatin, keju dalam prosesnya dapat pula mengggunakan enzim yang dikembangkan pada zat yang tidak halal sehingga makanan itu jadi tidak halal pula.

Seorang ahli Nutrisi-Biokemistri bernama Prof Ahmad H. Sakr, Ph.D, menyebutkan berbagai zat dalam makanan olahan yang berbahaya bagi kesehatan yang biasanya bisa dibaca pada ingredient (daftar kandungan) di kemasannya, antara lain: saccharine, sodium nitrate dan nitrite, cocaine, codeine, coloring extracts (synthetics), DES (sex hormone), dan lain-lain. Sedangkan yang berkaitan dengan alkohol ataupun dengan binatang yang tidak halal antara lain: cider, fermented malt, gelatin, insulin (porcine), pepsin, shortening, vanilla extract, vanillin extract, kapsul vitamin, dan sebagainya.

Selain itu banyak pula yang tergolong zat–zat yang meragukan (masbuh) kehalalannya karena asal atau membahayakan kesehatan, seperti: yeast (brewers), phosphoric acid, artificial sweeteners, BHA dan BHT, bile salt, biotin, caffeine, chelates, cholesterol, cobalamine, cystine, diglycerides, diuretics, ADTA, emulsifiers, fatty acids, flavoring extracts, falic acids, gallic acid, glycerides, glycerol, glycogen, hormones, insulin, inositol, keratin, limit dextrin, lipids, monoglycerides, niacin, oleic acid, oxalic acid, paba, phospolipids, phosphoric acid, phytic acid, glycogen, polysaturated fatty acids, rennet, rennin, riboflavin, stimulants, tartaric acid, thiamin, tonic, trypsin, uric acid, soft carbonated water, whey, dan sebagainya.

Ini terlihat rumit kalau tidak dilandasi pada iman ilahiah untuk menjaga kehalalan makanan kita. Sebenarnya cukup sederhana dan mudah; di restoran tentu dengan mengetahui langsung bahan-bahannya; untuk makanan kemasan bisa dipastikan dengan tanda halal atau ingredient yang biasanya tertulis di bungkusnya. Kalau kita tidak dapat mengetahuinya, sebaiknya kita hindarkan.

Jadi mulailah dengan mencari riski yang halal, mengetahui kehalalan konsumsi kita, menghindarkan yang meragukan, lebih banyak memilih makan natural dan herbal yang clear dan mengurangi mengurangi makanan olahan kimiawi, serta tetap waspada dengan niat yang teguh. Insya Allah.

(Dimuat sebagian pada kolom Makna Harian Riau Pos tanggal 8 Juli 2010)

Read Full Post »

Sebuah acara di radio Robbani Pekanbaru yang membicarakan tentang kendaraan yang dipakai dalam kehidupan, memberi inspirasi pada tulisan ini. Kendaraan yang dimaksud adalah tamsil untuk pendekatan yang dipakai untuk menjelajahi bentangan kehidupan ini menuju ke tujuan yang kita rencanakan. Sebagaimana yang telah dijanjikan, jika kita inginkan kefanaan maka akan dapat kefanaan tapi jika inginkan keabadian dengan menyelesaikan babak kefanaan maka kita akan dapat kedua-duanya.

Kendaraan kehidupan itu dapat kita tamsilkan dengan kendaraan yang kita pakai dalam transportasi sehari-hari. Ia adalah alat yang kita pakai untuk mencapai keberhasilan sesuai dengan tujuan kehidupan tadi. Sesuai dengan tipe masing-masing, variabel yang menentukan jenis kendaraan itu antara lain ukuran, kekuatan, dan efektivitas.

Ada orang yang suka menggunakan truk; meskipun jalannya pelan dan belum tentu kuat menanjak tapi bisa membawa banyak barang dan berbagai kelengkapan lainnya. Orang tipe ini lebih mementingkan keberhasilan untuk banyak dan berbagai hal, meskipun pencapaiannya lambat dan mungkin dengan cara kurang nyaman. Namun dengan truk itu ia tidak khawatir dengan hambatan dan lobang-lobang kecil yang dijumpai sehingga tingkat keberhasilan dan sampai ke tujuan dapat diyakininya.

Ada pula yang suka menggunakan sedan; meskipun membawa sedikit orang atau muatan tapi mentereng, nyaman, dan bisa dipacu. Namun kendaraan tipe ini tentu hanya bisa lancar di jalan yang mulus dan akan mengalami hambatan yang sulit diatasi pada jalan yang permuakaannya banyak lubang atau bergelombang. Dalam kondisi demikian bisa jadi truk bisa lebih laju kecepatannya.

Mereka yang sedikit suka dengan avonturir atau gerakan akrobatis maka akan memilih kendaraan tipe off-road. Kendaraan jenis ini tenaganya relatif besar dan kuat dibandingkan dengan tubuhnya sehingga bisa menempuh medah yang berat sekali pun. Meski barang atau penumpang yang dapat dibawa tidak sebanyak yang dapat dibawa truk, tapi jenis kendaraan haus bahan bakar ini dipilih pemiliknya karena dia menginginkan keamanan kelancaran jika menjumpai medan yang berat dan tetap dapat melaju di jalan yang tidak mulus pun.

Apakah ada pula yang suka memakai sepeda motor? Sifatnya ”minimalis” yaitu sedikit yang terbawa tapi bisa lincah menyusup dan meliuk-liuk di berbagai rintangan, dan cepat sampai. Masalahnya hanya relatif kurang aman dan senantiasa merasakan kekurangnyamanan karena rawan jika kecelakaan, kena angin dan hujan namun irit.

Jika memang tamsil ini mengena, tipe manakah kendaraan kita masing-masing? Yang jelas, yang bisa mengantarkan kita bersama rombongan dan barang-barang yang diperlukan di jalan dan di tempat tujuan dengan selamat. Bisa jadi kita tidak bisa memilih tipe kendaraan atau jalannya karena itu kita harus pintar membuat rencana dan prediksi ke depan serta bekerja keras pada waktu menempuh perjalanan itu. Insya Allah.

Read Full Post »

Diriwayatkan suatu kali seorang raja pergi pesiar dengan memancing. Sudah demikian lama ia memancing tidak ada ikan yang didapatnya sehingga kecewa dan bermaksud pulang.

Ketika akan pulang, sang raja melihat seorang nelayan yang sudah dapat seekor ikan besar. Si nelayan senang sekali karena isteri dan anak-anaknya yang kelaparan sedang menanti untuk makan ikan itu rumah. Sang raja memerintahkan anak buahnya untuk merampas ikan besar itu dan membawanya pulang ke istana sehingga si nelayan miskin pulang dengan hati yang sedih.

Sampai di istana, tak dinyana tangan sang raja yang zholim itu terkena gigitan ikan besar itu sampai terasa sakit sekali. Seorang tabib yang pintar mengatakan bahwa gigitan ikan besar itu beracun yang kalau dibiarkan maka racun itu bisa sampai ke jantung dan akan membahayakan nyawa sang raja. Untuk mengatasinya tidak ada jalan selain segera memotong pergelangan tangan sang raja untuk mencegah racun itu mengalir lebih jauh.

Raja itu sangat terkejut dan menyesal telah berurusan dengan ikan besar itu sehingga ia teringat pada si nelayan. Ia menyuruh orang untuk memanggil nelayan itu ke istana. Ketika berjumpa ia bertanya:
”Hai nelayan, setelah ikan besar yang kau dapat kuambil, apa doamu ketika sampai di rumah tadi?”
”Satu saja ya baginda: Ya Allah, dia telah menunjukkan kekuasaannya, tunjukkan pula lah kekuasaanMu,”

Singkat cerita, sang raja kehilangan sebelah tapak tangannya dan dia sadar bahwa itu sebagai akibat dari dia telah menzholimi si nelayan. Rupanya doa nelayan yang telah dizholimi sang raja dikabulkan Allah Swt tanpa disadari oleh sang raja akan datang dari mana. Antara orang yang dizholimi dan Allah tidak terdapat hijab (tabir penutup atau pembatas).

Moral cerita: Jangan sekali-kali menzholimi seseorang, bahkan termasuk binatang dan tumbuhan. Zholim berasal dari kata zhulmu yang maknanya menempatkan sesuatu tidak pada tempat yang seharusnya yang dilakukan dengan lidah, tangan, atau kombinasi keduanya. Dalam pengertian hari-hari diartikan sebagai menyusahkan atau merugikan atau mengambil hak orang lain seperti menyiksa, merampas, memaki, memperkatakan, atau memakan milik orang. Hadits (dari Shohih Bukhari, riwayat Muslim): Setiap kamu pasti akan menunaikan hak pada orang yang berhak menerimanya di akhirat. Bahkan kambing yang tak bertanduk pun akan menuntut yang bertanduk (interpretasi ulama: karena kalah beradu secara tak seimbang atau kiasan pada orang yang tak berkuasa akan menuntut yang berkuasa). Karena itu Imam Muslim mengharamkan perilaku zholim.

(Dari kuliah subuh Ust Abdul Shomad Lc MA di Masjid Agung An-Nur Pekanbaru, 4 Juli 2010)

Read Full Post »

Vuvuzela

Vuvuzela meraung-raung sepanjang Piala Dunia sepakbola di Afrika Selatan.  Bunyi terompet khas sana yang bagaikan raungan gajah atau desingan rombongan lebah itu menyemangati tim negara yang didukung suatu kelompok warganya tapi sekali gus juga bisa mengganggu konsenstrasi tim lawan.  Penonton belum  merasa lengkap masuk ke stadion tanpa Vuvuzela yang telah jadi jembatan batin dengan tim mereka sehingga terjual ratusan ribu buah.

Yang hebat, terompet khas lokal itu diimpor oleh sebuah perusahaan Afrika Selatan dari Cina!  Meski  kesebelasannya tidak lolos ke Afrika Selatan, Cina berhasil memanfaatkan event besar empat tahunan ini dengan baik secara ekonomi.  Produksi massal vuvuzela di Cina tentu tidak ujug-ujug datang tanpa adanya upaya-upaya riset pasar dan deal bisnis dari kedua pihak.  Artinya, Cina telah mendapatkan transaksi bisnis, yang sebenarnya bisa juga dilakukan oleh berbagai negara sedang berkembang ini termasuk Indonesia, karena mampu menangkap peluang dengan jeli.

Peluang yang memang harus dicermati dan dikembangkan sedemikian sehingga menjadi kesempatan sering dibaca secara salah.   Memanfaatkan peluang cenderung diartikan sebagai koneksitas yang menguntungkan dengan otoritas beralasan keberpihakan.  Otoritas sebuah kegiatan menganggap kewenangan yang ada padanya sebagai sebuah keberpihakan jika ia “memberikan” kesempatan kepada orang yang diinginkannya, dengan berbagai cara.  Para pelaku usaha pula bisa menganggapnya sebagai koneksitas dengan otoritas yang harus merubah keberpihakan itu menjadi “pemberian” kesempatan dengan janji saling menguntungkan.

Padahal peluang itu berawal dari kejelian dalam melihat sesuatu kegiatan dengan sudut pandang tertentu; peluang ekonomi tentu ditilik dengan mata enterprener atau naluri bisnis, seperti yang dilakukan Cina di Afrika Selatan.  Keberpihakan, kebersamaan atau kekompakan memang diperlukan dalam memanfaatkan suatu peluang karena kita memang dianjurkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan saling berlomba dalam beramal.  Peluang harus ditangkap; kekompakan dalam memanfaatkan peluang itu (baca: koneksitas?) tentu harus tetap dalam koridor aturan dan nilai yang syah dan halal.

Karena itu cukup ganjil kalau ada seseorang dari otoritas dapat membagi-bagi proyek atau kegiatan pada teman-temannya kecuali dengan ia melanggar ketentuan.  Demikian pula sebaliknya, kroni dari suatu otoritas yang mendapatkannya tentu patut dicurigai menggunakan cara-cara yang haram pula.  Ketika ini yang terjadi maka kita sudah keluar dari koridor kebaikan dalam mengelola sesuatu di atas muka bumi Tuhan ini yang memang cenderung kita abaikan akibat miskonsepsi dan kelemahan diri terhadap godaan jalan pintas.

Padahal peluang itu tetap dapat ditangkap dengan cara yang diridhoiNya.  Untuk itu kita perlu memperkuat barisan, mengembangkan networking, mengutilisasi imformasi, menyinergikan potensi (koalisi, merger, join), melengkapi syarat-syarat formal, memenuhi kompetensi, dan berperilaku profesional.  Jalan lain adalah dengan melakukan inisiasi dan kreasi peluang itu sehingga mendapat previledge dan tidak diambil orang lain. Pemikiran ini mungkin terlihat terlalu normatif atau ideal, tapi jika tidak kita lah yg akan jadi pencuri hak orang lain yg mestinya lebih pantas mendapatkannya. Wallahualam.

(dari kolom Makna Riau Pos tanggal 30 Juni 2010)

Read Full Post »