Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2010

B a n j i r

Banjir adalah adanya genangan air dengan ketinggian dan pada tempat yang tidak seharusnya atau tidak diinginkan;.permukaan air melebihi wadah tempat mengalirnya dan melimpas ke permukaan tanah di sekitarnya.  Jika kedalamannya tidak besar maka disebut banjir kecil atau genangan.  Ketika limpasan air itu besar dan membawa berbagai bahan padat yang disapunya maka disebut pula sebagai banjir bandang.

Banjir dikategorikan sebagai bencana karena merugikan dan dapat mengancam keselamatan manusia.  Air yang bercampur lumpur dengan deras melabrak perkampungan atau perumahan, menghancurkan infrastruktur, dan merusak tanaman di lahan-lahan pertanian.  Selain merendam dan merusak properti, banjir secara lebih luas dapat mengancam jiwa dan menghentikan berbagai kegiatan manusia akibat terganggunya transportasi, listrik, air bersih, dan fasilitas umum.

Sebagaimana yang terjadi tanggal 16 Juni lalu, banjir cukup besar melanda pusat wisata belanja Orchard Road Singapura.  Hari berikutnya terjadi pula banjir besar dengan lumpur di sebuah kawasan di Perancis.  Kejadian ini menghentakkan dan mengejutkan karena di kedua tempat ini sudah dipersiapkan infrastruktur pencegah banjir.  Penanganan banjir memang sudah menjadi kepedulian manusia sejak lama sebagaimana dikesankan berbagai fasilitas pengendali banjir di berbagai situs kuno dan abad-abad kemudian sampai dengan hari ini.

Banjir terjadi karena jumlah air yang melimpas (run off) melebihi kapasitas saluran atau sungai tempat air mengalir.  Kelebihan itu bisa berasal dari akumulasi air hujan yang intensitasnya sangat tinggi atau adanya kiriman dari daerah yang lebih hulu atau kombinasi keduanya serta dipengaruhi pula oleh pasang surut di sungai atau laut yang menampung air limpasan itu.  Secara alamiah sungai mempunyai ukuran yang dapat menampung volume air limpasan yang normal atau paling banyak terjadi; demikian pula prinsip dan teknik yang dipakai untuk mendisain saluran buatan untuk mengalirkan air agar tidak menjadi banjir atau untuk mengeringkan suatu kawasan (drainage).

Dalam disain, yang cukup menentukan adalah intensitas hujan sebesar apa yang ingin diperhitungkan.  Intensitas ini didapatkan dari stastik curah hujan harian dalam daerah tangkapan hujan (catchment area) kawasan tersebut dalam suatu perioda terdahulu yang diinginkan, misalnya 50 tahun.  Artinya, ukuran saluran dibuat untuk mengalirkan air limpasan hasil curah hujan terbesar yang mungkin turun dalam rentang 50 tahun sekali.  Ukuruan itu mempertimbangkan pula kondisi permukaan lahan dalam catchment area; makin penuh vegetasi makin rendah jumlah air limpasan sehingga makin kecil peluang terjadinya banjir.  Kelancaran saluran drainase juga sangat menentukan.  Jika sungai dan saluran-saluran darinase kapasitasnya mencukupi untuk intensitas tertentu dan lancar tanpa sumbatan-sumbatan, maka sangat kecil kemungkinan terjadinya banjir.

Dalam konteks ini mari kita lihat banjir besar Orchard Road yang tak pernah terjadi dalam 32 tahun terakhir (Republika 17 Juni 2010 halaman 11).  Pada tahun 1999 sebuah artikel di koran The New Paper sesumbar bahwa kawasan Orchard Road tidak akan pernah banjir karena sudah terhubung ke sistem drainase modern dan menyeluruh kecuali pasang laut sangat tinggi dan curah hujan yang tak normal mencapai lebih dari 100 mm per jam.  Kenyataannya, menurut Badan Lingkungan Hidup Singapura, curah hujan yang turun Rabu 16 Juni itu hanya 100 mm dalam dua jam atau sekitar 60 persen dari yang dipakai dalam perencanaan.  Dua hari kemudian, Badan Utilitas Umum (Public Utility Board) menyatakan bahwa penyebab banjir adalah saluran yang tersumbat sampah.

Dari kejadian ini dapat kita tarik beberapa hal. Pertama, secanggih apapun sistem yang kita buat, kegagalannya bisa dan akan datang dari hal yang tidak terduga.  Sudah demikian ketatnya aturan kebersihan dan sampah serta sistem pengendalian kerja di negara sekuler itu, ternyata drainasenya mengalami kegagalan secara sederhana dan tak terduga.  Sesumbar pada tahun 1999 itu tersapu hanya dalam waktu sekitar 10 tahun saja.  Kedua, drainase yang baik pun tidak dapat menjamin bebas dari banjir karena dalam perencanaannya biasanya dipakai intensitas curah hujan yang moderat; jika terlalu rendah akan mudah banjir, terlalu tinggi maka infrastrukturnya akan boros  Karena itu fasilitas yang ada itu harus diikuti dengan pemenuhan syarat-syarat lain yang diperlukan seperti tidak adanya sampah masuk ke dalam sistem drainase dan pengendalian sistem yang baik dan konsisten.  Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmahnya guna tidak ada lagi banjir di kota kita.

(Dimuat di kolom Makna pada Harian Riau Pos, Rabu tanggal 25 Agt 2010 dan juga dimuat di Notes FB/Feizal Karim)

Read Full Post »

Puasa sering dianggap menurunkan produktivitas karena banyak orang yang kinerjanya lebih rendah dari biasanya.  Pada siang hari, dalam masjid banyak orang yang berpuasa tidur dan ditengarai pelayanan di kantor-kantor juga melemah.  Mungkin keadaan itu terjadi akibat kesalahfahaman dan ketidaktepatan aplikasinya.

Orang tidur pada siang Ramadhan sering mengacu ke sebuah hadits: “Tidurnya orang puasa adalah ibadah.”  Namun perlu dipertanyakan apakah orang yang tidur itu tidak meninggalkan kewajiban pada keluarga, lingkungan, atau perkerjaannya untuk melayani orang lain atau umum? Hadits itu pula diragukan keshohihannya.

Menurut seorang ulama bernama Al-Khotib al-Baghdadi, di antara perawinya terdapat seorang yang bernama Sulaiman bin Amr an-Nakha’i yang tidak dapat dipercaya sehingga beliau menegaskan bahwa hadits ini do’if atau tidak dapat dipedomani.  Jadi, tidur dalam puasa tidak lebih bernilai ibadah dibanding kewajiban lain yang jika diniatkan karena Allah juga adalah ibadah.

Contoh lain yang cukup ekstrim adalah apa yang pernah terjadi di Tunisia, sebuah negera yang banyak menghasilkan zaitun dan hasil industri berupa kosmetik, sabun, dan rangkaiannya.  Karena produktifitas negerinya sering turun dalam bulan puasa maka Habib Bourguiba, presiden pertama Tunisia yang terkenal sekuler, muncul di televisi dengan makanan dan minuman pada siang bulan puasa dan mengajak rakyatnya untuk tidak puasa karena dianggapnya hanya menurunkan produktivitas.  Kejadian itu menimbulkan amarah rakyatnya yang masih menghadapi kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan.  Meskipun banyak yang sempat dilakukannya sebelum dikudeta, jadinya ia tidak meninggalkan kesan manis pada bangsanya.

Di Marokko menjelang puasa sekitar awal 2000an, majalah Al-Mukhtar al-Islami menulis di sampulnya: “Marhaban Ya Syahrul Infaq” (selamat datang bulan kemunafikan).  Majalah itu mengungkapkan perilaku munafik orang-orang yang berpuasa.  Kalau dinilai sepintas mungkin banyak yang demikian tapi sebenarnya itu akibat dari salah pemahaman terhadap makna dan hikmah puasa.

Ramadhan sebenarnya waktu untuk tune-up agar menjalani hari-hari biasa jadi lebih mudah dan ringan.  Sementara tetap diharuskan menjalankan kewajiban dan banyak menahan diri, dalam Ramadhan sangat dianjurkan untuk melipatgandakan ibadah seperti sholat malam, mempelajari Quran, bersedekah, dan sebagaimya.  Secara kesehatan pula, kerja sel-sel dan organ tubuh saat puasa lebih aktif dan optimal dibandingkan dengan saat nutrisi berlimpah yang menyebabkan mereka lebih pasif.  Karena itu jika syariat puasa dijalankan dengan baik dan benar, logikanya ketika puasa orang justru menjadi lebih produktif.

Tidak heran kalau banyak peristiwa besar terjadi pada bulan puasa.  Rasulullah meraih capaian-capaian besar kebanyakan dalam Ramadhan.  Proklamasi kita pun pada tanggal 10 Ramadhan.  Subhanallah (dirangkum dari kuliah subuh Ustad Abdul Somad tanggal 16 Agustus 2010 di Masjid An-Nur, Pekanbaru.  Sudah dimuat di Kolom Makna pada Harian Riau Pos Rabu tanggal 18 Agustus 2010 dan juga pada Notes akaun FB penulis).

Read Full Post »

Belimau

Belimau adalah salah satu prosesi menyambut puasa yang populer di negeri-negeri Melayu.  Pada petang menjelang magrib tanggal 1 Ramadhan, disebut dengan petang belimau atau petang megang ini, banyak orang bersih-bersih diri yang disudahi dengan mengusapkan air ramuan limau dan wewangian.  Di sementara tempat ada pula orang yang melakukannya dalam bentuk mandi bersama-sama, bahkan bercampur baur di sungai, sehingga tradisi yang disebut belimau ini jadi melenceng dari esensinya.

Konon, tradisi ini turun dari anjuran untuk membersihkan diri menyongsong bulan Ramadhan yang akan masuk pada magrib hari belimau itu.  Manifestasinya adalah mandi dengan bersih yang lalu disempurnakan dengan mengoleskan air limau sebagai pengganti minyak wangi yang langka dan mewah pada waktu lalu.  Ketika saya kecil dulu, selesai mandi air limau itu dioleskan ke kepala oleh ibunda dengan penuh kasih sayang sehingga berkesan sampai sekarang.  Belimau ini menjadi satu kesatuan dengan kegiatan menyiangi makam leluhur dan sanak saudara serta bersih-bersih lingkungan yang dilengkapi pula dengan meminta maaf kepada orangtua dan keluarga yang lebih tua sebagai jalan untuk membersihkan hati.

Runtutan kegiatan ini tentu dipandang positif sehingga menjadi tradisi yang memuat kearifan lokal Melayu yang identik dengan Islam.  Terlepas dari kesahihan anjurannya, berbagai kegiatan itu dapat menimbulkan rasa khidmat dalam menyambut Ramadhan.  Kalau dilihat pula dengan lebih menukik, ada dua hal yang memerlukan kehati-hatian dalam memahaminya.

Pertama, bersih-bersih makam, lingkungan, fisik diri, dan hati tentu dapat dilakukan kapan saja dan harusnya menjadi way of life karena kebersihan merupakan sebagian dari iman.  Seyogyanya kebersihan dijaga terus menerus sehingga harus difahami bahwa melakukannya pada petang belimau tidak boleh berubah menjadi suatu beban atau kewajiban, apalagi sampai menimbulkan kesan sebagai ritual.  Demikian pula meminta maaf; walaupun pada petang belimau tidak salah tapi meminta maaf seharusnya dilakukan sesegera mungkin setelah kita sadar akan kesalahan yang dilakukan.  Dengan demikian jika kita melakukannya pada petang belimau, maka itu lebih sebagai pamungkas saja karena diri kita, batin, rumah, dan lingkungan sudah senantiasa bersih.

Kedua, petang belimau akhir-akhir ini dirayakan pula dengan berbagai acara yang tidak pas lagi dengan suasana menyambut Ramadhan.  Ada yang melakukan acara belimau dengan mandi beramai-ramai di sungai dalam suasana berbaur dan suka ria, ada pula dengan lomba menangkap itik yang penuh gelak tawa, dan pertunjukan musik yang tidak nampak  benang merahnya dengan kegembiraan dalam menyambut Ramadhan.  Selain tidak ditemukan sunnahnya, kegiatan demikian rasanya miskin makna dan mudah menimbulkan ketidakbaikan; akibatnya, mungkin baru bisa membersihkan diri setelah magrib ketika Ramadhan telah masuk sehingga tidak sesuai dengan maksud semula.

Karena itu mari kita luruskan kembali tradisi yang mengusung kearifan Melayu itu, sesuai dengan alurnya.  Kebersihan seyogyanya terus dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari, baik pada fisik diri, kediaman, lingkungan (termasuk pemakaman), dan yang tidak kalah penting adalah kebersihan batin.  Bagi yang pernah merasakan diusapi air limau oleh ibu tercinta, tentu sepakat kalau petang belimau lebih kita konsentrasikan untuk memupuk silaturrahim dalam rumah kita atau bersama keluarga.  Mudah-mudahan petang belimau tahun ini dapat kita jadikan sebagai gerbang memasuki Ramadhan dengan penuh kegembiraan, khidmat, dan tekad untuk meningkatkan amal ibadah.

(Dimuat di Kolom Makna Harian Riau Pos hari Rabu 11 Agustus 2010 dan juga Notes akaun FB saya)

Read Full Post »

P i n i s i

Di sebuah pameran, saya membeli sebuah miniatur perahu pinisi sehingga anak-anak terheran-heran.  “Untuk apa itu, ayah? Apa artinya dan kenapa ayah beli?  Mau di taruh dimana?” adalah beberapa pertanyaan mereka.  Padahal perahu itu membawa sebuah pesan yang lebih jauh dari pelayaran Jakarta-Vancouver yang pernah dilakukan sebuah misi pelayaran promosi beberapa tahun yang lewat.

Perahu layar tradisional ini dibuat dan dipakai oleh para pelaut dari Sulawesi Selatan sejak lama.  Dalam sejarah, ia lah antara lain yang mengantarkan para pedagang dan penjelajah Bugis, Makassar, atau Wajo ke berbagai pulau di nusantara; bahkan sampai ke Afrika Selatan.  Tradisi dan keadaan geografis ini telah memuncul kata bahari yang menjadi kebanggaan bangsa.  Dulu, bahari sering disebut sebagai karakter dan basis kehidupan bangsa kita.  Dengan banyak laut, selat, dan sungai serta taburan pulau-pulau kita sering menyebut diri sebagai bangsa bahari.  Sebuah lagu anak-anak jaman dulu, syair awalnya: Nenek moyangku orang pelaut…

Bagaimana kita memandang kebaharian itu sekarang?  Sebagai sebuah archipelagic state kita memang cukup menyadari keberadaan dan potensi perairan kita.  Kabinet-kabinet kita mempunyai kementerian yang mengurus hal ini dalam berbagai nomenkaltur: perikanan, kelautan, pulau-pulau kecil, kepulauan, dan sebagainya.  Secara terbatas kita sudah memperkuat soft skill kebaharian kita di berbagai perguruan tinggi atau sekolah-sekolah keahlian pelayaran.  Kita juga menyadari betapa banyak kekayaan perairan yang belum dapat kita nikmati sebagaimana semestinya atau habis dicuri orang.

Namun upaya itu nampaknya belum cukup.  Wilayah perairan kita demikian luas, sementara kemampuan kita untuk mengawalnya atau mengamankannya masih jauh dari memadai.  Cukup sering kita dengar pencorobohan wilayah laut kita oleh para nelayan asing yang mencuri ikan.  Yang cukup prinsipil adalah kebaharian bangsa ini cenderung kita titipkan pada beberapa suku bangsa secara tradisional.  Ketika para generasi sekarang kurang tertarik ke laut maka kapasitas dan kapabilitas makro kebaharian kita juga menurun.  Industri perkapalan kita juga belum berkembang dan belum dikuasai oleh para anak negeri secara luas dan signifikan.

Tekad Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menjadikan Indonesia sebagai penghasil ikan terbesar pada tahun 2015 perlu kita dukung.  Jiwa dan semangat kebaharian kita harus pulih dan berkembang sampai ke pelosok negeri, khususnya wilayah laut atau perairan.  Budaya dan teknologi perkapalan dan pelayaran harus dikembalikan menjadi salah satu kapabilitas bangsa kita.

Rasanya ini bukanlah sesuatu yang utopis, apalagi di tangan seorang Fadel Muhammad yang sudah menunjukkan kiprahnya di dunia usaha dan pemerintahan di Provinsi Gorontalo yang sejauh ini sudah banyak melangkah.

Provinsi Riau yang kaya dengan potensi kelautan, perairan, dan pulau-pulau di pesisir tentu dapat memanfaatkan gerak nasional ini dengan sungguh-sungguh dan efektif.  Kita dapat mengembangkan iklim dan kapabilitas kebaharian kita guna meningkatkan kesejahteraan melalui laut dan perairan.  Empat sungai besar dengan banyak anak-anaknya serta perairan laut adalah potensi yang belum termanfaatkan secara baik oleh para nelayan.  Kita pun belum dapat menikmati cita rasa ikan secara mudah dan murah padahal faktanya bangsa-bangsa yang cepat maju seperti Jepang dan Korea banyak mengkonsumsi ikan.  Ataukah mereka yang lebih bersifat bahari dengan pinisi-pinisi modern?

(sudah dimuat di Kolom Makna Feizal Qamar Karim pada Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 4 Agustus 2010; juga dimuat di blog Notes FB saya)

Read Full Post »

Jalan Pintas

Jalan pintas (shortcut) secara harfiah adalah sebuah laluan baru yang dibuat untuk memperpendek jarak dari suatu tempat ke tempat yang lain. Berbeda dengan terobosan (breakthrough), jalan pintas cenderung bermakna terjadinya suatu pemaksaan yang menimbulkan turbulensi atau ketidakharmonisan dalam sistem di mana sesuatu itu berada.

Sebagai contoh, ketika sebuah sungai yang berliku-liku kita perpendek alirannya dengan sebuah terusan, maka akan terjadi perubahan keseimbangan aliran. Air yang melalui terusan akan mengalir lebih deras dan bergejolak kalau penampangnya lebih kecil dan karena pebedaan taraf atau kemiringan dasar sungai yang relatif besar antara awal dan akhir terusan. Perubahan akan muncul pula di bagian sungai yang lama berupa aliran yang melambat yang dapat menimbulkan pendangkalan dan perubahan ekosistem. Contoh lain adalah jika remaja kita terus dininabobokan oleh mimpi jadi selebriti yang popular dan kaya, maka mereka yang tidak potensial akan melakukan jalan pintas meskipun membentur etika dan aturan sehingga merugikan diri sendiri dan masyarakat.

Karena itu, jika shortcut benar-benar diperlukan, kita harus memperhatikan banyak hal dalam sistemnya; apakah ia akan membawa guncangan luas atau dapat kita kelola agar tidak menjadi bola liar ketika menuju keseimbangan baru? Jika itu menyangkut manusia sebagai makhluk sosial yang berbudi, jalan pintas yang dilakukan seseorang itu akan merugikan manusia lain karena terjadi pelanggaran aturan atau etika yang telah menjadi kesepakatan. Dalam suasana westernized dan materialistik ini orang jadi kurang sabar untuk tidak mengambil jalan pintas sehingga jalan pintas itu akhirnya berkonotasi negatif.

Dalam konteks pembangunan, ada pernyataan Presiden saat membuka Musrenbangnas 2010 di Jakarta, Rabu 28 April 2010 (Jurnal Nasional, Kamis 29 April 2010): “Keberhasilan pembangunan sangat ditopang pelaksanaan manajemen dan kepemimpinan yang efektif, tidak ada resep lain, tidak ada jalan pintas, tidak ada resep ajaib yang harus dilakukan untuk memenuhi keinginan rakyat.” Secara implisit berarti pembangunan memang harus dikelola secara madani oleh seorang pemimpin yang visioner dan efektif, tanpa ada upaya untuk mengambil jalan pintas atau mekasnisme lain yang tidak rasional.

Namun upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat ini jika dilihat dari kacamata terobosan, tentu akan melahirkan langkah-langkah strategis dan pemilihan prioritas. Harapan kita, para pemimpin di pusat cukup visioner dan efektif untuk mendahulukan penanganan yang akan memberikan hasil dan faedah yang besar dan luas pada masyarakat. Alasan pemerataan tidaklah tepat untuk tidak mendahulukan pengembangan potensi daerah seperti Riau yang dengan sedikit perhatian penyediaan infrastruktur, energi, dan pengembangan industri hilir berbasis produk pertanian seperti kelapa sawit, kelapa, dan karet maka akan memberikan dampak ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat yang signifikan. Semoga.

(sudah dimuat di Kolom Makna Feizal Qamar Karim pada Harian Riau Pos, Rabu tanggal 28 Juli 2010)

Read Full Post »