Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2010

F i t r i

Fitri berasal dari akar kata yang berarti berbuka atau kondisi yang suci dan lurus.  Ia dipakai pada nama hari raya untuk mensyukuri keberhasilan menjalankan perintah Allah berpuasa dalam Ramadhan.  Kegembiraan itu adalah resultan dari keberhasilan penyelesaian puasa per harinya namun tetap dalam nuansa dan konteks rasa syukur serta selalu mengingatNya.

Pengejawantahan kegembiraan itu bisa dalam berbagai bentuk.  Makanan sekedarnya sudah tersedia untuk dinikmati sebelum pergi sholat Ied, pakaian baru terutama bagi anak-anak, bersihnya rumah dan lingkungan dan sebagainya.  Para warga berkumpul di lapangan untuk sholat Ied atau bagi wanita yang berhalangan dapat ikut mendengarkan khutbah yang disampaikan oleh ulama yang diharapkan memiliki kompetensi dan integritas terbaik.

Nilai-nilai Ramadhan juga dilanjutkan dalam bulan Syawal, misalnya puasa sunnah enam hari.  Lalu, berangkat dari keyakinan bahwa dalam hal hubungan dengan Allah kita kembali ke fitrah karena telah mendapatkan keampunan dalam Ramadhan, maka harus diselesaikan pula segala salah dan khilaf dengan sesama manusia.  Inilah yang memunculkan silaturrahim dan saling mengucapkan selamat, saling mendoakan, atau permohonan maaf yang redaksinya bisa berbeda dari satu tempat ke tempat lain, sebagai syarat untuk mendapatkan keampunanNya atas segala kesalahan antar sesama.

Penyelesaian ini diutamakan kepada orangtua, sanak famili, kaum kerabat, teman-teman, dan orang-orang yang berhubungan dengan kita dan dilakukan secara jelas, bersungguh-sungguh atau dari hati ke hati.  Sesuai dengan perubahan zaman dan keadaan masing-masing, tidak lah salah jika itu melalui sms, iklan, telepon, kartu, atau cara-cara yang tidak langsung lainnya tapi apakah kita yakin akan menyentuh hati kedua belah pihak agar tercapai maksud dan tujuannya saling maaf-memaafkan?  Karena itu lah orang akan lebih merasa puas dan afdhol ketika melaksanakannya dengan langsung berkunjung, misalnya sungkem pada kedua orangtua, yang menimbulkan tradisi pulang kampung atau mudik itu.

Sebaliknya, tidak kurang banyak pula perayaan yang tidak sesuai dengan nuansa dan konteks tadi.  Entah turun dari mana dalilnya, banyak orang merayakan Idul Fitri malah dengan membakar mercon, makan-minum secara berlebih-lebihan, menikmati barang-barang konsumtif dan sekunder atau tersier yang baru dibeli sehingga makin jauh dari kesederhanaan yang diusung nilai-nilai puasa.  Di sementara tempat, banyak orang bukannya bersilaturrahim tapi malah ngelayap, ke mall, atau mengunjungi tempat-tempat wisata, termasuk mengunjungi “nenek moyang” ke kebun binatang.

Karena itu, Iedul Fitri harus difahami dalam konteks kesenangan beribadah.  Masing-masing perlu mengelola perayaan ini agar menjadi lebih positif sesuai dengan ketentuan.  Yang lebih penting lagi, bagaimana Ramadhan dapat meningkatkan ketaqwaan kita dan selanjutnya dengan modal sudah kembali ke fitrah, kita bisa tetap istiqomah di jalanNya.

(Sudah dimuat di kolom Makna pada harian Riau Pos hari Rabu tgl 22 Sept 2010 dan juga dimuat di Notes http://www.facebook.com/Feizal Karim/)

Read Full Post »

I’tikaf

I’tikaf merupakan kegiatan yang banyak dilakukan dalam penggal akhir Ramadhan.  Dari bahasa, i’tikaf berarti menetap pada sesuatu (tempat) sedangkan sebagai istilah syariah adalah menetap di masjid jami’ (tempat diselenggarakannya sholat Jumat) dengan niat untuk beramal khusus.  Karena itu, jika dalam puasa ini orang pergi melengah puasanya dengan pergi memancing misalnya, meskipun sambil berzikir maka tidaklah dapat disebut sebagai i’tikaf.

Kegiatan ini sering luput dari perhatian mungkin karena kita belum pas memahami cara pemanfaatan waktu dalam Ramadhan.  Selain dikuasai nafsu ngantuk dan terengah-engah kekenyangan setelah berbuka, waktu kita lebih banyak kita manfaatkan untuk tidur (kadang dalam masjid) dan melepas lelah atau melengah puasa dengan cara yang tidak tepat dan manfaat.  Malam hari misalnya, mungkin kita lebih senang melihat anak-anak main kembang api atau mercon atau jalan-jalan ke mal karena sudah dekat lebaran.

Mengutip penjelasan Ustad H Abdul Somad, Lc., MA, kegiatan yang berdasarkan nash Al-Quran dan hadits shohih ini, sangat dianjurkan dalam bulan Ramadhan, khususnya dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan.  Setiap harinya sesuai dengan ketersediaan waktu dan kesempatan masing-masing lamanya; sedikit lebih panjang dari ruku’ yang thuma’ninah pun sudah dapat dikatakan i’tikaf.  Selama melakukannya seorang muslim tidak dibenarkan keluar dari masjid tanpa alasan yang dapat dibenarkan menurut syariat, melakukan hubungan intim, dan hilang ingatan seperti mabuk, pingsan, atau gila.  Waktunya dapat diisi dengan berbagai sholat sunnat, membaca Al-Quran, berzikir, tafakur, dan mempelajari berbagai kitab kajian keislaman lainnya seperti tafsir, hadits, fiqh, sirah (sejarah Rasulullah SAW).

Rasulullah SAW melakukan i’tikaf setiap Ramadhan sejak perintah puasa atau delapan tahun terakhir masa hayat beliau.  Selama i’tikaf, beliau tetap berdiam di masjid melakukan kegiatan-kegiatan ibadah langsung kepada Allah sementara berbagai kebutuhannya seperti makan, mandi, dan berganti pakaian tetap dilakukan di masjid.  Dalam konteks kekinian tentu pelaksanaannya dapat kita sesuaikan dengan memperhatikan kepentingan lainnya seperti melaksanakan kewajiban profesi yang dengan niat karena Allah juga bernilai ibadah (ghair mahdhah).

Kegiatan akhir Ramadhan ini sangat dianjurkan karena dapat menjaga kesucian hati.  Selama i’tikaf seseorang berkonsentrasi pada mengingat Allah; memohon ampunan dan mengharapkan ridhoNya.  Sebagai salah satu cara mendekatkan diri pada Allah, ia akan merasakan bahwa ia dalam pengawasan dan penjagaan Allah karena dapat melepaskan diri dari berbagai kegiatan duniawi dan berserah diri sepenuhnya pada Allah SWT, dengan harapan mendapatkan karunia beribadah pada malam lailatul qadar yang setara dengan seribu bulan atau 83 tahun empat bulan.  Dengan demikian akan timbul kebiasaan untuk beramal sholeh dan rasa mencintai masjid.  Semoga kita termasuk yang dapat memanfaatkan waktu dalam Ramadhan ini dengan sebaik-baiknya.

(Sudah dimuat pada Kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 1 September 2010, juga dimuat di Notes Akaun FB).

Read Full Post »