Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2010

Rekayasa

Rekayasa?  Tidak ada yang salah dengan kata ini jika dikembalikan ke artinya semula yaitu dengan bantuan alat atau proses melakukan pengolahan dan pengusahaan sesuatu di bahagian hulu, guna suatu hasil yang diinginkan.  Atau dengan modal dasar yang ada melakukan upaya-upaya untuk mendapatkan hasil optimal.

Rekayasa adalah terjemahan dari engineering.  Istilah ini memang turun dari proses yang dilakukan manusia untuk mengubah sesuatu dengan alat bantu dan proses tertentu guna menghasilkan secara efisien suatu produk baru yang berguna atau apa yang disebut dengan teknologi.  Jadi terlepas dari nilai substansi yang dikerjakan, rekayasa bernilai positif pada kepentingan kemajuan manusia.

Dalam perkembangannya, terutama pada tahun 70an, rekayasa ditarik ke khazanah politik.  Ia dipakai untuk menggambarkan bagaimana orang melakukan manipulasi dan stipulasi data atau keadaan secara negatif untuk keuntungannya tapi merugikan pihak lain.  Sebagai contoh, seorang peserta pemilu legislatif yang jumlah suara pemilihnya tidak cukup untuk mengantarkannya ke Senayan, bisa saja mengatur dengan berbagai cara sehingga akhirnya lolos.  Upaya-upaya yang tidak wajar dan tidak adil inilah yang akhirnya disebut rekayasa sehingga ia berkonotasi negatif.

Pada zaman sekarang, rekayasa dalam arti negatif ini tidak kurang-kurang pula dilakukan orang meskipun sulit untuk membuktikannya.  Ada rekayasa kasus, rekayasa hukum, rekayasa politik, dan bahkan rekayasa sosial sedemikian sehingga bak kata ungkapan ala ulama: “seorang yang cacat secara etika dan moral serta tidak pantas ditauladani, tiba-tiba bisa berubah jadi bintang yang dielu-elukan orang ramai.”  Dengan rekayasa orang dapat mengubah dan membentuk pencitraan dirinya atau seseorang sesuai dengan pesanannya.

Apa yang salah dengan rekayasa itu dalam era reformasi dan HAM ini?  Atas dua isu yang sering diterjemahkan secara keliru itu, menjadikan orang cenderung menabrak berbagai rambu.  Terdorong oleh syahwat kekuasaan atau materil, beban moril makin enteng dan pelanggaran hukum bisa mengalami mimikri atau metamorfosa menjadi komoditas yang bisa dijual-beli atau barter sehingga kesalahan-demi kesalahan jadi inheren dan makin laten.

Dapat kita bayangkan rusaknya kehidupan sosial-masyarakat kalau norma dan etika sudah tidak dihargai dan dipedomani.  Pencapaian kepentingan sempit pribadi atau kelompok bisa saja merugikan suatu pihak namun dengan berbagai rekayasa sosial menjadikannya bersih secara de yure atau bukti materil.  Akibatnya, bukan tidak mungkin pihak yang dirugikan membalas atau meniru cara yang sama sehingga berbagai kasus timpa menimpa dan terjadi hukum rimba yang menjurus ke social chaos.

Karena itu rekayasa yang negatif harus jadi musuh bersama, khususnya para pemangku penegakan hukum.  Pameo lama yang keliru harus dibalik menjadi: “sepandai-pandainya tukang rekayasa kasus, lebih pandai orang-orang yang cinta pada kebenaran.  Para opportunis dan mereka yang suka menghalalkan segala cara tidak patut lagi mendapat tempat yang enak dan menguntungkan.  Kita juga harus komit untuk tidak ikut melakukan dan menolak praktek buruk ini.  Atau kita menunggu kiamat kecil atau murka Sang Pencipta yang bisa datang dari sumber yang tak disangka-sangka?

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 27 Oktober 2010, juga dimuat di Notes http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

Coffee Morning

Coffee Morning beda beda tipis dengan minum ke kedai kopi pagi-pagi.  Kalau yang pertama adalah tradisi kantoran orang asing, yang kedua lazim disebut “ngopi” yang populer terutama di daerah pesisir Sumatera.  Di daerah ini jangan heran kalau pagi-pagi lebih mudah menjumpai seseorang di kedai kopi dari pada di kantornya.

Suatu kali dulu, isteri saya yang bukan dari Sumatera, heran melihat para pria di kantornya yang sesudah habis absen pagi suka pergi minum ke kedai kopi.  Persepsinya, mungkin tak seperti di rumah kami,  para lelaki itu tidak biasa sarapan pagi di rumah atau karena kurang family oriented.  Terlepas dari penyebabnya, saya membela para lelaki itu dengan alasan sifat atau kodrat untuk bersosialisasi.  Meskipun sudah sarapan bersama keluarga di rumah, mereka tetap ingin ke kedai kopi untuk hasrat kodrati itu.

Kedai kopi hanya sekedar tempat untuk bertemu muka satu sama lain.  Selain memang ingin sarapan atau menambah yang sudah didapat di rumah, berbagai hal dapat dibincangkan; sejak yang penting dan serius sampai yang remeh-temeh, sejak pemilihan ketua RT sampai pelantikan Obama sambil menebar dan menangkap peluang bisnis.

Lobbi kedai kopi ini dari tradisi di bandar-bandar dagang pesisir Asia Timur.  Kedai kopi populer di negeri-negeri pantai sejak pesisir Cina, Malaysia, pantai Timur Sumatera, sampai pantai Utara Jawa.  Sekarang tradisi ini telah diadopsi dan masuk ke pakem bisnis dengan nama coffee morning yang tetap mempunyai dua unsur pokok: sarapan yang tentunya menyediakan kopi dan pembicaraan atau bincang-bincang.

Di negara-negara Barat tradisi ini dipakai untuk pertemuan-pertemuan informal dan sebagai pencair suasana (ice breaker) antara para pihak yang berkepentingan.  Untuk keperluan non-bisnis pun sudah lazim hal itu dilakukan karena efektif dan relatif murah dengan cara self service, apalagi bagi mereka tidak masalah makan dan minum sambil berdiri.  Pada acara yang kadang berubah nama jadi morning tea atau highnoon tea ini, penyelenggara menyediakan air panas beserta bahan dan kelengkapan untuk membuat secangkir teh (juga kopi), plus makanan ringan atau snack.

Sebenarnya modus ini mengalihkan sarapan para peserta dari sendiri-sendiri menjadi bersama sambil membincangkan isu-isu strategis.  Duduk berkumpul sambil ngopi ini bahkan sering lebih efektif dari pada rapat pengarahan atau workshop yang belum tentu membangkitkan tindak lanjut.  Apalagi hal bisnis, tentu interaksi dan tindak lanjut akan terjadi dengan sendirinya setelah pintunya terbuka di coffee morning.

Modus ini dapat juga dimanfaatkan secara berkala oleh para eksekutif atau pimpinan formal untuk konsolidasi di jajarannya sambil bersilaturrahim.  Bagi kita tentu perlu disesuaikan, misalnya duduk melingkar untuk saling bertanya kabar dan progres masing-masing secara lebih lepas dan santai, sambil menikmati teh atau kopi dan roti jala.  Tempat dan topiknya dapat disesuaikan sedemikian agar lembaga jadi lebih produktif.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 20 Oktober 2010, juga dimuat di Notes http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

Nokturia

Nokturia adalah gangguan kesehatan manusia berupa keinginan buang air kecil berulang-ulang ketika tidur. Pengidapnya sering terbangun pada malam hari karena ingin buang air kecil.

Menurut penelitian di New York, AS (Media Indonesia 28/8/2010 halaman 1), penyebab tingginya risiko terkena penyakit ini adalah karena mengonsumsi alkohol, obat-obat terlarang (narkoba), dan pola hidup yang tidak teratur.  Dampak nokturia ternyata sangat serius. Penderitanya dapat menjadi kelelahan dan depresi, bahkan terganggu pencernaan dan beresiko penyakit jantung.

Dalam hal pencandu narkoba, seorang teman teman pernah menyebutkan bahwa jika seseorang pencandu sedang menuturkan sesuatu secara runtut, misalnya dalam rapat, diskusi, atau pidato, namun tidak kunjung tuntas atau tidak dapat memunculkan rui ntutan butir-butir yang semula ingin disampaikannya maka bisa jadi ia sedang mulai terganggu oleh rasa ketagihannya atau terkenal dengan istilah sakau.  Seorang yang sedang sakau akan tidak rasional, lupa pada norma, dan berbagai sikap tidak komit dan konsisten lainnya.  Ia bisa lupa pada moral dan etika yang harus dipegang teguh demi segera mendapatkan barang tersebut.

Tidak heran bila para pengedar akan mengincar remaja dari kalangan berpunya karena ketika tidak ada uang, ada harta benda orangtuanya sendiri yang bisa dicuri. Demikian pula seorang remaja putri atau wanita, akan mudah dieksploitir dan terjebak human trafficking ketika sakau. Sementara kedua kelompok sasaran ini menjadi salah satu penyebab lost generation beberapa tahun kemudian, dapat kita bayangkan pula apa yang akan terjadi kalau yang sakau itu seseorang yang harus mengambil keputusan penting.

Sebenarnya resiko nukturia dapat diturunkan dengan membebaskan diri dari alkohol dan narkoba serta menerapkan pola hidup sehat dan positif.  Sejak dini para generasi muda sudah dekenalkan dengan bentuk dan ekses penggunaan alkohol dan narkoba.  Lingkungan dan kawan-kawannya harus steril dari atau tidak terkontaminasi oleh kedua jenis barang haram ini.  Enerji dan potensi generasi harus dapat kita salurkan dan kembangkan untuk berbagai kegiatan seperti olahraga, seni, dan keagamaan yang bermuara pada peningkatan marwah kemanusiaan, baik secara perseorangan maupun kelompok.

Demikian pula resiko-resiko moral, etika, dan fisis akibat sakau. Selain haram secara dalil yang tidak perlu didiskusikan lagi, alkohol dan narkoba jelas akan merusak tubuh yang diamanahkan Sang Khalik yang seharusnya dijaga dengan baik. Naudzubillah, mudah-mudahan kita dan anak-cucu kita terhindar dari hal-hal yang tidak baik.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 13 Oktober 2010 dengan judul Nokturia, juga dimuat di Notes FB http://www.facebook.com/notes.php?id=562249101&notes_tab=app_2347471856)

 

 


Read Full Post »

Riverfront

Riverfront adalah kawasan yang mengikuti tepi (bantaran) sungai yang menjadi bagian dari suatu kepentingan.   Pada sebuah rumah yang menghadap ke sungai maka tepiannya adalah sebuah riverfront baginya; sebuah taman atau kampung di sepanjang sungai yang memiliki ruang sampai ke sungai maka kawasan tepinya adalah riverfront darinya.  Sebuah kota yang di dalamnya mengalir sebuah sungai maka kawasan sepanjang kiri-kanan sungai sampai selebar jarak pengaruh sungai itu dapat dikatakan riverfront dari kota itu atau waterfront kalau terhubung ke laut.

Sebuah kota di pinggir sungai seperti Pekanbaru misalnya, tumbuh dari permukiman kecil tradisional yang kehidupannya banyak bergantung pada sungai.  Sifat hidup manusia yang suka berkelompok membuat sebuah titik mula-mula ditempati oleh beberapa rumah saja, kemudian jumlahnya terus bertambah secara linier mengikuti sungai yang memang diandalkan untuk transportasi dan sumber kehidupan. Ketika jarak menjadi jauh untuk zaman itu maka sesuai dengan kearifan lokal yang ada daerah di seberangnya mulai diisi dan jalan setapak di sepanjang tepi sungai juga dibuat sehingga dari sebuah dusun ia menjadi kampung lalu sebuah kota.

Ketika pengaruh ekonomi berdasarkan filsafat Newtonian-Cartesian yang lebih berorientasi pada kepentingan materialsima manusia dan mengabaikan kepentingan alam maka orang berebut-rebut mendapatkan lahan dan cenderung memperlakukan sungai hanya sebagai prasarana yang dapat diutilisasi sesukanya.  Di banyak negara berkembang, riverfront secara alami menjadi kawasan berfungsi campuran untuk permukiman, rekreasi, pasar, pelabuhan, gudang, dan sebagainya.  Tanpa sentuhan otoritas sungai kemudian menjadi backyard dan riverfront yang sebenarnya berharga bagi peri kehidupan manusia ini malah berubah menjadi daerah kumuh dan kacau balau (slum area).

Pada siklus berikutnya, akan timbul kesadaran–bisa dari figur, komunitas, atau otoritas—untuk membenahi keadaan.  Di negara-negara maju, riverfront atau waterfront dijadikan suatu lingkungan bagus dan bermanfaat bagi manusia secara luas.  Sangat terkenal bagaimana indah dan menariknya penataan waterfront di Eropa seperti di Venesia, Amsterdam, dan Paris atau juga Sydney, di Australia, sehingga menjadi tujuan wisata dan bisnis yang mendatangkan uang.  Dublin juga sedang giat-giatnya mengikuti langkah itu sehingga berhasil merubah wajah riverfrontnya.  Di Asia kita jumpai pula keindahan riverfront di Shanghai, Singapura, Malaka, dan Kucing.  Bahkan beberapa kota di Indonesia secata terbatas telah pula berhasil melakukan menataan riverfront seperti Samarinda dan Semarang sehingga jadi lebih ramah lingkungan dan indah.

Pencapaian itu tentu berdasarkan kesamaan pandang dan usaha bersama yang konsepsional dan implementatif.  Pendayagunaan kawasan riverfront menuju suatu ikon kota harus dilakukan dalam suatu visi dan misi dengan pendekatan partisipasi dan pemberdayaan masyarakat serta kalangan dunia usaha, dukungan para tokoh, dan pengaturan kelembagaan yang kuat dari otoritas.  Dengan aturan dan pengaturan yang kondusif serta pelaksanaan yang madani maka dengan biaya publik yang terbatas pun maka sebuah perencanaan partisipatif yang baik, menyeluruh, dan marketable akan dapat mewujudkan sebuah riverfront yang ramah lingkungan, indah, manfaat, dan menghasilkan pendapatan.  Jika ada keinginan, hal yang sama dapat juga kita lakukan di Pekanbaru, Insya Allah.

(sudah dimuat di kolom Makna Harian Riau Pos Rabu tanggal 6 Oktober 2010 dan juga blog http:/riau2020.wordpress.com)

 

Read Full Post »

Religius

Religius berarti bersifat keagamaan (agamis) untuk menggambarkan orang atau suatu keadaan yang berbeda dengan biasanya karena lebih banyak mengusung dan mengadopsi nilai-nilai agama.  Pemaknaannya berada dalam suatu spektrum yang sangat lebar, sesuai dengan persepsi kehidupan beragama masing-masing yang menguat sekitar bulan puasa dan hari raya.

Berangkat dari Ramadhan adalah bulan yang penuh ampunan dan waktu untuk mendapatkan berbagai pahala dan kebaikan secara berlipat ganda, cara menyikapinya juga beragam.  Bagi sementara orang, iming-iming penggandaan pahala bisa jadi belum menarik; apatah lagi tobat yang berada pada tataran tingkat kesadaran religius yang lebih tinggi.  Religiusitas dianggap hanya milik para ustad dan orang-orang tua yang memang sudah harus rajin beribadah sehingga mereka tetap tenggelam dalam sikap salah persepsi itu berupa hiruk pikuk memoles diri atau memasang berbagai atribut religi.

Dalam pergaulan sehari-hari kita dapat merasakan persepsi religius yang salah makna ini.  Yang berpikiran “pokoknya saya tidak menganggu orang”, kurang tertarik untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal.  Bahkan karena merasa lebih banyak kesempatan dan waktu kosong, ia akan terus dengan keasyikannya yang tidak inline dengan Ramadhan dan mungkin menunjukkan religiusitasnya dengan sekedar berperilaku lebih tenang dan menghargai orang yang memanfaatkan Ramadhan dengan baik.  Kita mungkin pernah pula mendengar seseorang disapa “alim kau sekarang” ketika ia meningkatkan diri sementara si penyapa memarjinalkan diri sendiri dari sikap religius.

Salah persepsi lain yang menonjol adalah tentang ekspresi dan implementasi religius itu sendiri yang tanpa pemahaman mendasar serta internalisasi nilai-nilainya.  Religius lebih dimaknai dengan berbagai atribut seperti sarung, peci, mukena, dan sajadah atau berbagai aktivitas yang dianggap bernuansa religius karena menjadi tradisi atau festival dalam perioda ini tapi hakekatnya menjauhkan diri dari sikap religius.  Kita masih mendengar dentam-dentum mercon dan kembang api bersamaan dengan tarawih.  Di media publik, berjejalan berbagai tayangan atau materi yang menyebut diri religi, walaupun tidak ada otoritas yang melabelnya, seperti tayangan sinetron, banyolan, dan pentas musik (dengan kemasan dan lagu-lagu religius!) pada prime time untuk beribadah dalam perioda religius ini.

Salah kaprah ini akibat kurang baik dan mendasarnya persepsi religius itu yang selanjutnya tentu harus diikuti dengan implementasi dan internalisasi nilai-nilai yang dikandungnya.  Langkah-langkah yang harus ditanamkan sejak dini ini bukan hanya menjadi tanggung jawab para ustad tapi juga sekolah dan yang utama adalah dalam keluarga yang pelaksanaannya tidak mudah.

Sesuai Visi Riau 2020, semoga kita bisa menbentuk masyarakat yang agamis (religius).  Minal Aidin wal Faidzin.

(sudah dimuat di kolom Makna Harian Riau Pos Rabu tanggal 29 September 2010 dan juga blog http:/riau2020.wordpress.com)

 

Read Full Post »