Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2010

D e m o

Demo yang disingkat dari kata demonstrasi, pada era reformasi ini jadi lumrah.  Kata itu sendiri sebenarnya lebih tepat untuk menunjukkan kepada sejumlah orang berkenaan tentang cara kerja suatu alat, mekanisme, atau sistem seperti alat berat, program komputer, atau memasak.  Namun saat ini demo lebih dipahami sebagai kegiatan menyatakan pendapat atau unjuk rasa secara massal yang bisa terjadi hari-hari.

Modus ini dipakai untuk menarik perhatian, mencari dukungan, menyampaikan kepentingan yang dirugikan, dan bahkan sebagai alat penekan ketika saluran komunikasi dengan otoritas tidak efektif atau mampat.  Sejak pintu demokrasi dibuka lebar, orang dengan mudah unjuk rasa bila suatu otoritas tidak adil atau menimbulkan ketidakpuasan seperti telat membayar gaji buruh, merusak lingkungan, memecat anggota kelompok secara semena-mena, melakukan proses hukum atau politik yang sesat, dsb.

Sebagai contoh, 20 Oktober 2010 yang angkanya unik telah dipakai oleh berbagai pihak di Jakarta dan kota-kota Indonesia lainnya sebagai momentum untuk unjuk rasa tidak puas terhadap pelaksanaan pemerintahan Presiden SBY dan Wakil Presiden Budiono.  Sementara para pemimpin ini sudah merasa bekerja maksimal yang dibuktikan dengan indikator-indikator resmi, pengunjuk rasa justru menilai mereka tidak sesuai dengan harapan, ingkar janji kampanye, dan bahkan dianggap gagal sehingga dituntut mundur.

Terlepas dari benar-salahnya, yang jelas gerakan massal ini meskipun sudah dikoordinasikan dan dikawal ternyata tetap menimbulkan dampak yang merugikan kita semua.  Menurut berita, telah terjadi benturan fisik di lapangan antara pengunjuk rasa dengan aparat keamanan; mulai yang memar sampai dengan ada yang tertembak di kakinya.  Selain Jakarta, beberapa kota juga mengalami gangguan lalu lintas yang sedikit banyak memberikan rasa tidak nyaman pada warga masyarakat dan makin merugikan citra negara kita di mata orang asing, khususnya terhadap para wisatawan, pengusaha, dan calon investor yang kedatangan mereka sangat kita harapkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi guna kesejahteraan masyarakat.

Masing-masing tentu punya idealisme dan pendapat; lebih baik bukan mempersoalkan substansi dalam unjuk rasa itu karena semua pihak punya argumentasi, tapi bagaimana semua itu menjadi sebuah harapan yang akan kita perjuangkan bersama.  Kita tidak perlu mempertahankan posisi masing-masing jika tidak akan menyelesaikannya.  Perbedaan mestinya kita komunikasikan dan tangani sejak awal dan ketika masih dalam skala kecil.

Untuk itu perlu sensitivitas dan kepedulian terhadap persoalan orang lain, apatah lagi masyarakat luas yang selalu kita sebut sebagai pihak yang kita perjuangkan.   Memimpin tentu bukan untuk menikmati kekuasaan yang nanti akan diminta pertanggungjawabannya.  Sebaliknya yang dipimpin bukan pula hanya bisa menuntut tanpa menjalankan kewajiban.  Atau kita hanya akan tenggelam dalam urusan satu demo  ke demo berikutnya yang membuat wajah kita makin hitam dan kusam?

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 17November 2010, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Advertisements

Read Full Post »

Reshufle

Reshufle saya dengar pertama kali dari guru Bahasa Indonesia di SMA yang dengan penuh kecintaan sering menceritakan ulang di kelas apa yang dibacanya di koran dalam kaitan adanya pemakaian sebuah kata baru.  Kata reshuffle muncul ketika Presiden Suharto melakukan perubahan kabinet secara cukup mengejutkan karena jarang terjadi dan sosok seorang menteri zaman itu pada umumnya para teknokrat atau pakar yang memang pantas dan kompeten.

Suharto yang cuma tamat SMP pada akhirnya menjadi piawai karena ia tidak segan untuk bertanya sesuatu hal dan mendiskusikannya sampai berjam-jam dengan menterinya.  Ia juga mampu  memimpin dan mengarahkan anggota kabinetnya yang banyak bergelar profesor dan doktor.  Para menteri kabinet era Suharto memang punya latar belakang akademik unggul, reputasi dan track record baik, serta tidak tercela sehingga menjadi sosok yang terkemuka dan dikagumi.  Terlepas dari karya dan kinerja masing-masingnya yang berangkat dari arahan The Smiling General, penunjukan dan pencopotan seorang menteri selalu jadi bahasan.

Penunjukan pejabat publik memang selalu menarik perhatian karena pada jabatan itu tertumpang harapan akan peningkatan keadaan menuju yang lebih baik.  Zaman sekarang sudah ditambah pula dengan intervensi politik yang terkait ke kekuasaan.  Perhatian itu menyangkut berbagai kepentingan dan harapan tadi.  Karena itu sejak sebelum seorang menteri ditunjuk sampai ia mulai bekerja, para stakeholder ramai membicarakan tentangnya, sejak dari kompetensi sampai ke kedekatan ke istana.

Tentang penunjukan jabatan ini banyak panduan yang populer.  Dalam manajemen dikenal Merit System yang menitikberatkan penilaian kompetensi (basis atau latar belakang keilmuan) dan kemampuan (mental dan manjerial) dan dalam penunjukan seorang pemegang jabatan dan ada pula ungkapan yang terkenal: The right man on the right place.  Karena semua itu masih bersifat antroposentris yang berorientasi ke kesenangan dan kemewahan karena berkuasa serta tidak mengaitkannya dengan misi manusia di muka bumi, tidak heran kalau menjelang pengumumam menteri kabinet zaman Suharto banyak orang berdebar-debar menunggu telepon.  Ada pula yang ketika terpilih bukannya mengucapkan Innalillahi wainna ilaihi rojiun tapi  langsung pesta pora tanpa sadar bahwa amanah itu berat dan di bibir neraka.

Sebenarnya ada divine guidelines yang justru mulai dilupakan.  Bahwa suatu jabatan itu bukan dibeli dengan berbagai bentuk dan cara tetapi haruslah diamanahkan agar mendapat dukungan para stakeholder dan dengan demikian baru Allah akan membantu dalam menjalankannya dengan baik dan benar.  Lalu berikan pulalah suatu amanah itu kepada ahlinya agar tidak terjadi kegagalan atau kehancuran dari misi yang diemban karena nanti akan diminta pertanggungjawabannya.  Semoga Allah mengampuni dan membimbing kita semua.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 10 November 2010, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

Culture Shock

Culture shock atau gegar budaya sering dikaitkan dengan orang yang berkunjung lama atau mukim ke luar negeri. Orang itu terkejut dengan berbagai hal baru yang dijumpai karena berbeda sangat menyolok dengan budaya kita. Guna mengurangi dampak gegar budaya itu, yang akan berangkat dianjurkan untuk mengikuti predeparture program yang mengenalkan perbedaan itu.

Sebagai contoh, di negeri western menghembus-hembuskan ingus ke saputangan meskipun sedang makan di restoran bukan hal yang buruk; sebaliknya kalau bersin atau batuk dalam acara makan atau pertemuan bisa membuat banyak orang memandang heran. Contoh lain, cara kita berbicara yang sopan adalah kalau agak menunduk dan tidak menatap langsung mata lawan bicara. Untuk memberi kesan cepat akrab pada orang yang baru kita jumpai, kadang kita bicara dengan cara berdiri dekat sekali sambil menyentuh-nyentuh tangan atau lengannya. Padahal bagi orang sana cara demikian kurang sopan dan membuat risih.

Kita tidak perlu berdebat soal mana yang lebih baik karena tiap budaya punya cara pandang dan sisi positif masing-masing.  Yang penting adalah bagaimana kita bisa mengelola perbedaan itu agar tidak menghambat atau kontraproduktif dalam pergaulan global.   Bagusnya, entah karena kurang pede atau karena tidak kurang pula banyaknya kebiasaan sana yang lebih baik, orang kita mudah beradaptasi. Karena itu kalau orang kita sudah mengikuti predeparture program sebelum ke negara-negara barat, tidak lah signifikan dampak gegar budaya itu.

Inspirasi menulis ini muncul ketika melihat sebuah buku asing mengenai culture shock kalau berkunjung ke negeri kita. Jelas, orang asing bisa mengalami culture shock masuk ke Indonesia karena perbedaan budaya yang signifikan. Sementara sejak dari kecil mereka diberitahu “Don’t talk to a stranger,” ketika mendarat di bandara bisa jadi tiba-tiba ada yang ngajak bicara lalu nawarkan ini-itu.

Gegar budaya ini pun bisa menimpa orang-orang kita yang telah tinggal relatif lama di luar negeri, khususnya negara-negara maju, ketika pulang ke Indonesia. Selain cenderung membanding-bandingkan, mereka juga kurang sabar terhadap berbagai keadaan yang tentu tidak sama, khususnya menyangkut pelayanan dan kemudahan publik seperti transportasi, taman, dan kebersihan. Yang juga sangat terasa adalah budaya atau perilaku yang merugikan hak orang lain seperti merokok di keramaian, tidak mau antri, lalu lintas yang tidak displin, ketidakamanan, dan sebagainya.

Hari ini, sudah waktunya kita bisa memanfaatkan pergaulan global untuk kemajuan diri tanpa kehilangan jati diri. Sebagai contoh, Cina sudah berhasil menghilangkan kebiasaan buruk warganya yang suka meludah sembarangan. Sesuai sifatnya, budaya atau kebiasaan buruk bisa diperbaiki dan yang baik bisa diadopsi guna kebaikan dan kemajuan kita sendiri. Semoga.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 3 November 2010, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »