Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2010

Sex Appeal

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 22 Desember 2010 halaman 21, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Sex appeal berarti daya tarik berdasarkan jenis kelamin, yang dalam aplikasinya cenderung terasosiasi ke wanita.  Ketika daya tarik ini bukan dari keutamaan kepribadian (inner beauty) tapi dari sisi lahiriah maka sex appeal dipakai untuk membungkus sensualitas dan erotisme.  Untuk tujuan komersial banyak media menggunakan paradigma dengan pemahaman ini.

Kalau kita perhatikan isi media cetak atau elektronik maka dengan mudah kita temukan materi yang mengedepankan sex appeal quote and quote.  Jika di media cetak yang demikian terpapar saja kita masih menemukannya, apalagi ketika surfing di dunia maya yang mudah menghanyutkan dan menenggelamkan.  Ketika logging-in ke akaun email, pada halaman mukanya selain tentang berita, cuaca, ekonomi, iklan, sekilas selebriti, yang mungkin bermanfaat, juga terselip pintu masuk ke samudera kesia-siaan itu.

Anehnya, lebih buruk lagi kalau kita masuk ke akaun yang khusus untuk Indonesia.  Selalu ada bagian yang eye-catching tentang item sensual atau erotis yang dibungkus dengan sex-appeal dan headlinenya pun bisa menebarkan berita atau hal yang menggiring ke dunia lucah.  Daya tarik media masih cenderung dengan sex-appeal wanita berupa infotainmen, foto, atau berkedok artikel populer (ilmiah?) tentang hubungan fisik atau mental antara pria dan wanita.  Sebuah majalah mingguan terkenal juga sedang memasarkan sebuah majalah khusus lelaki yang nampaknya dengan paradigma yang sama.  Kalau itu kita nilai suatu kemajuan dan manfaat, maka isunya bukan soal aksesisbilitas tapi tentang sistem nilai untuk mengukur muatan media dan internet yang pantas terekspos untuk umum.

Di negara-negara barat sekali pun seperti Belanda, Norwegia, Jerman, Amerika, dan Kanada misalnya, isi dan tayangan media untuk dewasa tetap dikendalikan otoritas.  Aksesnya diatur sesuai usia; tayangan vulgar hanya pada waktu para remaja sudah tidak di depan TV lagi.  Di Cina, Thailand, Singapura, dan Malaysia yang secara materil juga sudah maju, TV tidak menayangkan yang ekstrim, ofensif, dan vulgar.  Bahkan Uni Emirat Arab dan Singapura yang liberal secara ekonomi, membatasi akses terhadap internet lucah.

Karena itu kita mesti awas serta mengambil kebijakan yang tepat demi masa depan bangsa.  Kepentingan komersial tidak boleh mengalahkan ketegasan untuk mengatur kandungan media sedemikian sehingga otoritas bisa bahu membahu dengan masyarakat.  Sementara kita alergi terhadap sebuah majalah dengan nama majalah porno asing (tidak perlu dihaluskan sebagai majalah dewasa!!), kita membiarkan banyak media lain dan tidak segera membatasi internet yang melecehkan kaum ibu yang adalah palang pintu keluarga dan tiang bangsa.

Sempena Hari Ibu 22 Desember ini, mari kita berfikir jernih, jauh ke depan, dan bersikap percaya diri untuk mengatur kandungan media yang meracun generasi masa depan, sekali gus sebagai tanda mengutamakan tiga kali lipat penghormatan kita pada kaum ibu dan wanita.

Read Full Post »

B e s a r

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Kamis tanggal 16 Desember 2010 halaman 21, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Besar adalah suatu sifat ukuran yang komparatif. Artinya selain mempunyai besaran nominal, kata ini memuat sifat relatif. Dalam era pemilukada yang berketerusan di berbagai daerah ini, bagi seseorang, besar mempunyai makna yang melebihi kebutuhan atau ekspektasinya sementara bagi orang lain seukuran itu belum berarti atau masih kecil.

Karena itu, untuk menghindari jebakan relativitas, dalam menetapkan besar kecilnya sesuatu, akan lebih tepat mengacu pada perihal internalnya. Pada penghasilan misalnya; seorang sarjana yang memperoleh gaji Rp5 juta per bulan, apakah besar atau kecil? Kalau dia baru tamat dan masih bujangan, apalagi tidak kompeten tapi dapat masuk kerja karena KKN atau nyogok, gaji demikian tentu cukup besar. Sebaliknya jika sarjana itu sudah berkeluarga dengan beberapa anak, kompeten, berpengalaman, disiplin, dan produktif, maka jumlah imbalan itu tentu masih kurang.

Demikian pula dengan achievement lain, termasuk yang abstrak dan pemikiran. Sering kita dengar orang mengatakan bahwa sesuatu yang besar dihasilkan oleh pemikiran yang besar pula. “Think big,” kata orang sana, atau “Think globally, act locally.”

Ini betul betul saja namun sesuatu yang besar itu berbeda pada tiap orang, tergantung pada dignity atau tujuan hidup masing-masing. Schumacher pernah menulis sebuah buku yang terkenal: “Small is Beautiful“.  Seorang siswa yang pintar akan memikirkan ranking satu, sementara yang pas-pasan dan malas hanya asal lulus saja.  Seorang Ms Pallin, meskipun gagal, mau melepas jabatan Gubernur Alaska karena mengharap jadi Wapres AS yang dianggap sebagai capaian politik yang lebih besar. Tapi seorang anggota legislatif yang memble, meskipun hanya membisu dan terkantuk-kantuk di ruang sidang, bisa jadi sudah sangat happy karena status itu jauh lebih besar dari capaiannya yang terdahulu. Belum lagi kalau kita kaitkan dengan proses atau cara mencapainya yang juga sangat bervariasi sesuai pandangan pelakunya.

Bagi seorang yang ambisius dan tidak peduli pada norma dan nilai, keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih besar bisa dilakukan dengan menghalalkan segala cara: mencurangi, berbohong, berkolusi, menyogok, mengancam, memfitnah, menelikung kawan sendiri, bahkan bertindak kriminal. Orang tipe ini bisa jadi nampak hasil capaiannya namun nuraninya yang fitrah akan resah karena tahu cara-cara yang tidak pantas itu. Batinnya pun akan tidak bahagia dan bukan tidak mungkin akhirnya akan rubuh bersama menara rapuh yang dibangunnya sendiri.

Demikian pula dalam hal pemikiran atau cita-cita, pada umumnya orang ingin berbuat atau mencapai sesuatu yang besar. Anak-anak yang masih murni pun banyak yang bercita-cita jadi presiden atau ingin membuat pesawat terbang. Pemikiran besar itu akan terus terbawa sampai dewasa ketika mana ia mulai menyadari berbagai realita berupa dorongan dan halangan. Keadaan ini menyebabkan ia harus me-rewrite pemikirannya menjadi lebih pas, realistis, dan implementable. Dalam dirinya akan terjadi proses “mengukur bayang-bayang” atau semacam analisis SWOT yang meninjau kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan yang terkait pada dirinya.

Proses ini lah yang harus dikawal dengan norma dan nilai kemanusiaan yang asasi dan bermarwah. Pencapaian sesuatu yang besar dan bermanfaat bagi orang banyak tentu suatu kehormatan bagi seseorang. Namun semu tidaknya kehormatan itu tergantung dari nilai substansi dan proses pencapaiannya; lebih pada besar dampak positifnya dan seberapa erat terkait pada nilai-nilai mutlak YME.

Read Full Post »

Tahun Baru Hijriah

Tahun baru 1432 Hijriah yang berdasarkan peredaran bulan (lunar calendar) baru saja masuk pada magrib 6 Desember kemaren.  Hijriah turun dari akar kata hajara yang artinya meninggalkan. Ini dihitung sejak Nabi Muhammad SAW meninggalkan kota Makkah pergi ke Madinah atau yang dikenal dengan peristiwa Hijrah empat belas abad lalu.

Ketika itu Rasulullah telah 13 tahun menyampaikan kebenaran Ilahiah di Makkah yang mengancam keistimewaan kasta belasan suku Quraish.  Karena itu, Kamis 26 Syafar para tokoh suku itu berunding untuk menghentikan Rasulullah.  Dengan mempertimbangkan Abu Thalib, paman beliau yang juga tokoh suku itu, disepakati usul Abu Jahal untuk menghabisi Rasulullah malam itu secara bersama oleh para pemuda yang paling kuat dari tiap suku.

Rasulullah yang mendapat info melalui wahyu, langsung mengatur strategi bersama para sahabat.  Ali bin Abu Thalib tidur berselimut menggantikan Rasulullah, sementara beliau  sudah pergi bersama Abu Bakar Siddiq tanpa terlihat para pemuda yang telah menghunus pedang.  Beliau dan Abu Bakar bersembunyi tiga malam di Jabal Tsur dengan bantuan dua anak Abu Bakar dan sahabat lain yang mengantar makanan, jadi mata-mata, dan informan.

Singkat cerita, setelah berjalan sekitar 500 km, delapan hari kemudian beliau dan Abu Bakar serta penunjuk jalan sampai di Quba, di luar kota Madinah dimana beliau mendirikan masjid yang pertama.  Empat hari kemudian beliau masuk ke Madinah yang disambut oleh para sahabat yang sudah hijrah dan penduduk tempatan (kaum Anshor).  Sebelum mendirikan masjid Nabawi, yang pertama dilakukan beliau adalah mempersaudarakan kaum Anshor yang sedang pecah belah menjadi aman damai dalam silaturrahim yang kental.  Dengan basis masyarakat madani ini Rasulullah kelak bisa masuk Makkah secara damai.

Ketika memerintah 17 tahun kemudian, Kalifah Umar bin Khattab menetapkan dengan musyawarah awal hitungan tahun Hijriah.  Itu sesuai dengan usul Ali atas pertanyaan seorang gubernur tentang penanggalan surat pemerintah untuk mengimbangi surat-surat dari Kaisar Romawi yang memakai penanggalan Masehi.  Bulan Muharram dipilih pula sebagai awal tahun mengingat ibadah haji baru saja selesai sehingga suasananya menjadi baru.

Peristiwa ini menjelaskan bahwa makna hijrah itu bukan hanya pindah ke tempat yang lebih aman tapi lebih pada meningggalkan yang buruk ke yang baik, yang syirik ke yang tauhid, dan berusaha kembali untuk memperbaikinya.  Dapat pula ditarik beberapa pelajaran: 1). Dalam menghadapi sesuatu perlu strategi dan pembagian peran yang direncanakan dengan baik.  2). Perjuangan memerlukan pengorbanan yang ikhlas dan sungguh-sungguh seperti keberanian yang telah ditunjukkan Ali dan harta benda serta bakti keluarga Abu Bakar Siddiq.  3). Dalam berusaha perlu tawakkal yang datang dari Allah; tekad harus didasari niat yang kuat dan baik.  4).  Silaturrahim sangat penting untuk keamanan dan kemajuan kolektif.

Karena itu seyogyanya kita peringati tahun baru dengan evaluasi hasil tahun lalu dan perencanaan dan target yang akan datang, guna meninggalkan yang buruk menuju yang baik secara progresif sehingga kita masuk ke kelompok orang-orang yang beruntung.  Amin

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 8 Desember 2010 halaman 21, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

Cakap Supir Taksi

Ketika naik taksi ke UI Salemba beberapa hari lalu, sang supir bertanya:  “Apa hubungan gunung dengan laut, pak?” Setelah menyelami arah pertanyaannya, saya balik bertanya: “Soal letusan Merapi dan gempa Mentawai ya?”  Setelah mengiyakan, dia melanjutkan keheranannya atas banyaknya bencana alam di negeri kita yang dikaitkannya dengan perilaku manusia.

Bisa jadi dia kira saya seorang dosen; tanpa presumsi itu pun saya punya kewajiban moral untuk merespon intelektualitasnya.  Penjelasan saya dengan pemisalan beberapa piring sop yang mengapung di atas air mendidih dan saling bersenggolan, membuat dia manggut-manggut.  Dia lalu mengkonfirmasi bahwa juga telah faham tentang keterkaitan gempa di Mentawai dengan aktivitas gunung api Sinabung, Anak Krakatau, dan Merapi yang tidak sebagaimana banjir bandang di Wasior yang disebabkan oleh tangan atau perilaku manusia.

Cukup menarik keingintahuan sang supir tentang keterkaitan bencana-bencana itu yang merupakan domain science.  Pada usia dan posisinya, dia masih penuh keingintahuan tentang kebumian padahal sekarang ini didorong oleh lingkungan strategis seperti media tertentu, minat pada science kalah dengan hasrat infotainment dan akrobat politik atau kekuasaan yang banyak mempertontonkan otot, aurat, atau perkeliruan perilaku.

Lainnya, bencana-bencana itu dia kaitkan dengan perilaku buruk manusia yang merupakan domain mental-spiritual, sebagaimana pro-kontra di media.  Minggu lalu dua artikel oleh dua penulis dari sebuah lembaga agamis malah menyalahkan para ulama karena kurang menjelaskan bencana dengan pendekatan fisik kecuali minta masyarakat yang terkena bersabar dan justru mengaitkannya dengan perilaku buruk manusia.  Cukup mengherankan jika kita mengharapkan hal yang di luar kompetensi mereka.  Sebagai orang yang beriman, selain memengerti fenomena sainsnya, tentu kita harus yakin bahwa azab akan menimpa suatu negeri yang banyak penduduk dan para pemimpinnya telah melampaui batas yang digariskan Allah, sebagaimana yang justru diungkapkan sang supir taksi tadi.

Ini saya jumpai lagi pada tiga supir taksi yang saya tumpangi berikutnya.  Mereka bukan mengeluhkan gaji tapi beropini tentang berbagai masalah dalam negeri yang tidak kena-mengena dengan mereka tapi mereka rasakan dampaknya.  Terlepas dari benar tidaknya, mestinya ini tidak mereka ungkapkan pada penumpang yang tidak mereka kenal.

Hal ini dapat jadi indikasi keadaan akar rumput yang rentan guncangan sosial-ekonomi.  Bisa jadi berbagai indikator makro dan pendapat mereka yang dalam pusaran kekuasaan belum berhasil menggambarkan keadaan ril masyarakat.  Rasanya perilaku dan percakapan para supir taksi juga demikian pada tahun sembilan puluhan.  Kini, semoga kita tidak termasuk orang-orang yang terkunci hati dan pendengaran serta tertutup penglihatan karena semua itu dapat disusul oleh azab yang berat.  Nauzdubillah.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 1 Desember 2010, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »