Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2011

Kalau kita simak, dalam bulan Januari 2011 media kita memuat berbagai masalah nasional yang masih didominasi dua hal signifikan: kesulitan atau musibah yang menimpa masyarakat dan politik atau hukum yang makin memprihatinkan.  Kepedulian kita mau tak mau terbangkitkan karena kedua lingkup itu menyangkut masyarakat luas dan diri kita sendiri.

Dalam lingkup hal yang pertama, sering dilaporkan bahwa para petani dan nelayan kesulitan mencari nafkah karena cuaca ekstrim yang terjadi sekarang.  Di berbagai tempat para petani terhalang untuk berusaha-tani dan terancam gagal panen karena curah hujan yang tinggi; para nelayan tidak berani melaut akibat tinggi gelombang yang melebihi normal sehingga hal ini selain mengganggu nafkah  mereka juga menaikkan harga bahan pangan yang menyusahkan kita semua.  Dipicu pula oleh kenaikan harga cabai dan pengaturan pemakaian bahan bakar minyak yang belum mantap, maka harga beras dan berbagai kebutuhan pokok jadinya merangkak naik. (more…)

Read Full Post »

Humor Dua Kali Sunting

Saya membaca wall Azmi Rozali, seorang teman FB. Ada posting humor yg dia sunting dari sumbernya. Karena idenya orisinil dan bagus, berikut saya sunting lagi tiga diantaranya untuk kita nikmati bersama sebagai Humor Dua Kali Sunting.

PLANK TANAH
Seorang makelar tanah melewati sebuah jalan di pedalaman. Tiba-tiba dia lihat sebuah plank (board kecil) di tepi jalan, berdiri di atas tanah kosong dengan luas kira-kira 1000 meter persegi. Tulisan pada plank berbunyi: ”Tanah ini tidak dijual, hubungi Ratno HP nomor 0813 768 … …”
Penasaran dengan info itu, si makelar lalu mengontak nomor tersebut.
“Halo Pak Ratno,”
“Ya, saya sendiri,”
“Ini, Pak. Saya baca pada plank di tanah kosong itu, tulisannya tidak dijual dan hubungi Pak Ratno. Saya mau tanya Pak, kenapa tanah itu tidak Bapak jual?”
“Karena itu bukan tanah saya….”

SAHABAT
Rijal sangat terpukul mendapat kabar bahwa sahabatnya yang belum sempat dijenguknya waktu dirawat lama di rumah sakit, wafat. Untuk menebus rasa sesalnya, Rijal langsung pergi dari kantor ke tempat pemakaman, tanpa memberi tahu seorang pun, padahal siang hari itu dia harus memimpin rapat.
Dia tiba di pemakaman beberapa saat sebelum jenazah datang. Merasa almarhum sahabatnya itu sudah seperti keluarga sendiri, Rijal  langsung loncat ke dalam liang kubur. Dia bertekad untuk dapat memeluk dan melihat wajah sahabatnya itu untuk terakhir kali dan meletakkannya di liang lahat.
Tiba-tiba HP-nya berbunyi; ada telepon dari stafnya di kantor: “Maaf pak, …posisi dimana, pak?”
Rijal tanpa sadar langsung menjawab: “…di dalam kubur!”

BELAJAR BAHASA ARAB
Sudah 5 bulan Anto belajar bahasa Arab tapi belum pernah ia praktekkan.
“Coba praktekkan, akhi. Kalau ada orang Arab datang ke kampung kita atau orang yang baru pulang haji, antum ngomong bahasa Arab dengannya. Antum sambut pakai bahasa Arab,” kata temannya.
“Wah, ana nggak berani. Bahasa Arab ana masih cetek. Apalagi kalau ngomong sama orang Arab, atau orang yang baru pulang dari Mekah. Waduh, bisa macet bibir ana.”
Ketika mereka sedang mengobrol, tidak jauh dari situ, ada orang mabuk.
“Nah, kalau sama orang mabuk, ana berani ngomong Arab. Sebab kalau ana salah ngomong, dia kan nggak tahu,” kata Anto.
Pergilah Anto mendekati orang mabuk itu, lalu melontarkan satu kalimat dalam bahasa Arab. Tiba-tiba orang mabuk itu tersungkur sambil menangis memohon ampun dan minta tobat sehingga temannya heran.
“Anto! antum ngomong apa ke dia? Kok tiba-tiba dia minta ampun dan bertobat?”
“Ana cuma ngomong, MAN RABBUKA!”
“Oh, pantas! Dia kan mabuk, dia kira antum malaikat mau melakukan hisab kubur…”

 

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Dalam berita sebuah TV hari Jumat 29 Januari lalu, Rizal Ramli, mantan Menko Ekonomi yang merupakan salah seorang tokoh pergerakan anti mafia hukum dan kebohongan, melontarkan istilah Demokrasi Kriminal. Menurutnya demokrasi kita hari ini sudah demikian buruk karena terjadi berbagai praktek tidak sehat seperti kecurangan dalam pengumpulan suara, sogok dalam perolehan suara dan penyelesaian masalah-masalah hukum.

Kita tidak akan bahas tentang yang melontarkannya karena mending berbaik sangka saja pada Rizal Ramli. Yang disampaikannya itu rasanya tidaklah akan meragukan kita terhadap kesetiaannya pada NKRI karena beliau adalah aktivis mahasiswa tahun 1978 yang dengan penuh pengorbanan berani mengoreksi otoriterisme Orde Baru. Sebagai seorang doktor tentu beliau tidak sekedar asal ucap tanpa dasar pemikiran yang kuat dan luas tentang keadaan yang diamatinya.

Memang, hari ini kita prihatin pada situasi politik dan hukum dalam negeri. Domain politik dengan syahwat kekuasaannya demikian kuat mempengaruhi berbagai sisi kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Yang paling banyak muncul jadi berita adalah bagaimana polah para pemain politik dari satu pentas ke pentas berikutnya memainkan layangan kepentingan dan popularitas tanpa tampak terkait ke kemaslahatan masyarakat.

Masyarakat sendiri tanpa mereka sadari, telah diperalat dan dimanfaatkan syahwat politik yang haus kuasa. Sudah jadi rahasia umum bahwa untuk memenangkan pertarungan kekuasaan orang tidak segan dan malu untuk melakukan berbagai hal yang tidak terpuji, bahkan melanggar aturan. Sudah sering kita dengar perolehan suara diupayakan mulai dengan cara-cara tidak etis sampai curang seperti membujuk dengan janji, memberi imbalan, sogok, manipulasi data pemilihan, memalsukan informasi sumbangan dana kampanye, menggunakan akses dan fasilitas publik, menggerakkan jajaran kedinasan, dan sejenisnya. Tidak lah heran kalau banyak terjadi sengketa pemilu wakil rakyat atau kepala daerah yang meskipun bisa masuk ke perkara perdata atau pidana, sering “tuntas” bagi kemenangan yang “kuat”.

Barangkali inilah yang disebut kriminalisasi proses demokrasi yang nampaknya sudah lumrah dan tidak memalukan lagi. Dapat kita bayangkan dampaknya belakangan hari jika seseorang mendapat kuasa atau kursi dengan cara-cara demikian. Dia akan berusaha mengembalikan biaya yang telah dikeluarkannya atau membayar kembali bila ia berhutang atau bila dengan uang sendiri pun maka akan ada perasaannya bahwa ia sudah keluar biaya sehingga harus ada untungnya. Maka akan terjadi abuse of power dan kembali kepentingan masyarakat lah yang akan jadi korban.

Mudah-mudahan kita terhindar dari para politisi dan calon pemimpin demikian, kita juga diberikan kekuatan untuk menolak hal demikian. Atau karena kita tak henti-henti melakukan demokrasi kriminal (baca: kemungkaran) kita menunggu azab Allah.

 

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Kita sering menyebut diri sebagai bangsa yang besar karena tanah air kita yang terdiri dari ribuan pulau dan hamparan lautan luas sekali dengan penduduk terbanyak ke empat di dunia. Kekayaan alam dan budaya kita juga luar biasa sehingga menenggelamkan kita dalam kebesaran potensial itu. Namun bagaimana kualitas sumberdaya manusia (SDM) kita hari ini dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain?

Pertanyaan ini mungkin lebih mudah dijawab jika kita keluar dari kotak kebanggaan itu. Jika tidak, kita akan terjebak dengan mengaji ke belakang tentang sejarah, dampak penjajahan, garis start peradaban modern, dan sebagainya yang hanya akan membuat kita tetap tenggelam dalam kebesaran semu itu.Untuk menyederhanakannya mari kita mengambil perbandingan kualitas bangsa kita dengan negara tetangga seperti Fillipina, Thailand, dan Malaysia. (more…)

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Suatu bekas yang merebahkan tanaman padi dengan pola teratur di tengah sawah yang disebut crop cirle telah terjadi tanggal 23 Januari lalu sekitar jam 17.00 di desa Jogotirto, Berbah, Sleman, DIY. Bekas yang menimbulkan heboh masyarakat ini pernah pula terjadi pada tahun 1980an di sebuah ladang jagung di Pacitan. Melihat polanya yang rumit dan teratur, crop circle ini dikaitkan dengan kehadiranUnidentified Flying Object (UFO) atau benda asing dari makhluk lain luar angkasa (alien) sehingga menimbulkan kehebohan.

Meskipun sampai saat ini belum diketahui penyebab pastinya, berbagai ahli asing dan kita sependapat bahwa itu bukan akibat dari pendaratan pesawat UFO. Dari berbagai laporan kejadian di luar negeri diyakini bahwa itu ada yang terjadi karena angin dan bahkan ada hasil kerja manusia sebagaimana yang terjadi di Inggeris. Pada tahun 1991, Doug Bower dan Dave Chorley mengaku telah membuat crop cirlcedi tengah sebuah ladang agar orang mengira bahwa alien atau UFO telah mendarat di situ. Mereka dapat mencontohkan pembuatan crop circle itu hanya dalam beberapa waktu sebagai karya seni, komersial, maupun hanya lelucon kreatif. Hal ini lalu dikatakan oleh kolumnis Benjamin Radford sebagai salah satu kebohongan terbesar di dunia (2009). (more…)

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Popularitas SBY dilaporkan berbagai lembaga survey terus menurun. LSI misalnya, menyebutkan bahwa tingkat kepuasan persepsi publik terhadap kinerja beliau menurun dari 85% pada bulan Juli 2010 menjadi hanya 63% pada bulan Desember 2010. Secara detil Metro TV melaporkan bahwa selama 15 bulan itu popularitas SBY dalam bidang Ekonomi turun dari 45% menjadi 28,6%; bahkan dalam bidang Politik dan Keamanan yang mestinya jadi kompetensi beliau, juga turun dari 58% menjadi 39,6%.

Menanggapi penurunan ini, Syarief Hasan, Menteri Koperasi dan UKM yang juga anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, menganggap biasa hasil survey tentang kepuasan publik terhadap kinerja presiden itu. Itu biasa pada pemerintah yang terus bekerja dan mengelola isu dan persoalan, katanya. Ia mengaitkan pula dengan kemungkinan keberpihakan masyarakat yang masih akan tetap pada partainya pada pemilu 2014. Juru bicara kepresidenan Julian Aldrin Pasha yang mengaku belum tahu rincian hasil survey itu, juga menilai wajar ada fluktuasi pada persepsi publik terhadap kinerja pemerintah dan itu masih dalam batasan normal dan belum ekstrim.

Survey itu dilakukan LSI pada 18-30 Desmber 2010 dengan wawancara secara tatap muka terhadap 1229 orang responden. Melemahnya tingkat kepuasan terhadap kinerja SBY itu dikaitkan dengan kegagalan mengatasi masalah ekonomi yang ditunjukkan dengan harga kebutuhan hidup yang tinggi, tingkat pengangguran, dan angka kemiskinan. Juga dikaitkan dengan lemahnya pemberantasan korupsi.Kita tidak tahu nilai persepsi itu sekarang, setelah adanya tudingan kebohongan oleh para tokoh lintas agama tanggal 10 Januari lalu. (more…)

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Presiden SBY beberapa hari lalu dituding oleh sementara pihak berbohong. Ini bermula ketika pada tanggal 10 Januari ada kritik keras dari mantan presiden Megawati dalam HUT PDIP dan pernyataan politik tokoh lintas agama dalam rangka pencanangan Tahun Perlawanan Terhadap Kebohongan. Kritik itu tentang berbagai kegagalan dan kekurangan pemerintah yang oleh Megawati dikatakan sebagai akibat pemerintah hanya fokus pada pencitraan sedang oleh para tokoh lintas agama itu dikemukakan sebagai 18 kebohongan.

Dua peristiwa ini dijadikan bahan editorial oleh Media Indonesia tanggal 13 Januari dengan judul Hanya Gayus Boleh Berbohong yang lalu menggelinding menjadi bola panas politik. Pemerintah bereaksi dengan rapat terbatas di istana dan konferensi pers Menko Polkam serta reaksi langsung Presiden SBY.Terlepas dari kebenaran substansi apakah Presiden SBY bohong atau tidak terhadap data dan informasi yang disebutkan, karena sudah merugikan kita semua maka perlu kita tinjau dari sudut pandang perilaku manajerial mereka yang terlibat. (more…)

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Blackberry (BB) dan cabai sama-sama sedang hot, tulis sebuah laporan di Republika 11 Januari 2011.Dua jenis benda yang sangat berbeda jauh ini dalam beberapa hari terakhir memang sedang dalam perbincangan dan perhatian banyak orang dari level yang berbeda pula.

Bagi orang kita cabai adalah bahan masakan yang harus ada setiap hari. Karena itu ketika harganya melambung tidak karuan, banyak orang jadi limbung. Kebiasaan makan yang berasa pedas rupanya sudah jadi ciri kita.

Sebetulnya tak perlu limbung kalau kita siasati dengan bijak. Saat harganya mahal ini bisa kita jadikan waktu untuk mengurangi atau mengistirahatkan selera dan perut dari cabai. Kita bisa belajar hikmah dari cabai untuk mengendalikan nafsu makan guna manfaat kesehatan. Kenaikan harga ini mudah-mudahan dapat mengalirkan lebih banyak riski ke petani cabai dari orang-orang yang masih sanggup membeli cabai seperti ketika harganya normal. Bagi yang tak sanggup, barangkali bisa diganti dengan yang lain, misalnya blackpepper. (more…)

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Bagaimana kita memanfaatkan waktu dalam sehari yang 24 jam itu? Pernahkah kita mencermati berapa banyak waktu kita yang terbuang setiap harinya?

Ketika saya hitung berdasarkan kegiatan-kegiatan pokok dan primer saya pada peak performanceharian, ternyata masih banyak waktu yang tersisa. Kita mulai untuk ke belakang, dalam satu hari saya perlu waktu total sekitar 1 jam atau 4 persen. Untuk sarapan dan makan juga 1 jam (4%), tidur 5 jam (21%), bekerja 7 jam (29%), dan beribadah yang sekomplit-komplitnya dengan doa, sholat sunnat, tahajud, dhuha, serta menghadiri majelis ilmu seluruhnya kurang dari 3 jam (sekitar 12%). Kalau dijumlahkan semua keperluan pokok dan primer pribadi itu baru menghabiskan waktu harian saya 70%dan menyisakan 7 jam 12 menit.

Kemana sisa waktu itu? Kalau untuk baca koran bisa terpakai 1 jam dan urusan rumah tangga 1 jam lebih, maka masih tersisa 5 jam lagi. Kalau lah saya tidak memakainya untuk yang manfaat seperti olahraga, baca biku, menulis, berorganisasi, kegiatan pribadi, interaksi sosial dan keluarga, maka bisa jadi waktu itu akan terpakai untuk sekedar nonton tayangan tv yang banyak kurang bermutu, kongkow-kongkow yang potensial untuk menambah dosa, serta yang tidak manfaat lainnya atau akan berlalu sia-sia.

Sebaliknya kalau sisa waktu itu bisa kita kelola dengan baik dan efektif maka akan menimbulkan implikasi keharmonian diri dan keluarga serta dapat juga membawa manfaat ekonomi.  Tidak kurang jalan yang dapat dijalani seorang pekerja di luar kantor yang akan meningkatkan silaturrahim dannetworking serta kegiatan usaha guna penghasilan tambahan.   Kegiatan-kegiatan usaha itu tidak mesti dengan kapital dan melibatkan jumlah pegawai yang banyak tapi di era digital ini bisa juga dalam format usaha kecil atau bahkan dengan mengandalkan kemampuan atau potensi personal sendiri.

Hitung-hitungan (muhasabah) saya ini jelas bisa tidak sama pada sebagian orang tapi mungkin hampir sama atau bisa jadi sekedar patokan bagi sebagian yang lain. Bagaimana pun dapat lah kita katakan bahwa tanpa upaya yang baik dan teratur, sekitar 30 persen waktu kita potensial hilang sia-sia setiap harinya. Semoga kita tidak termasuk kelompok orang yang merugi dengan memanfaatkan waktu secara baik dan efektif setiap harinya, dan kesia-siaan itu tidak masuk ke hitungan kehidupan kita dan keluarga masing-masing.

 

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Sepakbola memang olahraga yang paling populer di muka bumi, termasuk di Indonesia. Minggu-minggu terakhir 2010 kita hiruk pikuk dengan kejuaraan sepakbola Asean (AFF Cup). Meskipun kita tidak memenangkannya tapi squad Firman Utina dkk mendapat dukungan penuh dari segenap komponen bangsa.

Ternyata olahraga, dalam hal ini sepakbola, mampu membangkitkan semangat nasionalisme yang sudah lama tidak kita lihat. Para pendukung tim kita yang datang dari berbagai sudut negeri telah menunjukkan dukungan mereka yang luar biasa. Kostum dan pernak-pernik merah-putih membajiri pasar, jalan-jalan, stadion, dan juga di acara nonton bareng di Cikeas. Bahkan Presiden SBY dan Ibu Ani serta para tokoh menyempatkan menonton langsung di Gelora Bung Karno ketika tim kita berlaga pada leg 2 babak final.

Tim kita yang kalah terhormat di final memang berangkat dari segala kekurangan dan sedikit berbau jalan pintas dari persepakbolaan kita. Di Bukit Jalil waktu leg 1 sempat dibentangkan spanduk dengan tulisan “100% Malaysia” untuk menyindir adanya pemain naturalisasi kita. Sementara sebagian besar pemain Malaysia hasil pembibitan beberapa tahun lalu itu berusia pada awal duapuluhan, pemain kita banyak yang sudah pada penguhujungnya dan bahkan beberapa sudah tiga puluhan. Kompetisi perserikatan atau klub bukan tumbuh dan dengan pembinaan dari bawah tapi berjalan lebih karena topangan pemerintah daerah.

Karena itu, momentum AFF Cup harus kita manfaatkan untuk membenahi persepakbolaan kita secara mendasar dan konsepsional dengan cakrawala baru sampai ke daerah. Ini melingkupi tiga hal sistemik dan mengedepankan berkibarnya merah putih di masa mendatang: organisasi, pembinaan, dan prasarana/sarana. Dalam lingkup organisasi, kini lah saatnya untuk merapikan kelembagaan dan fungsionaris PSSI agar lebih efektif dan berkinerja. Kita perlu mengonsolidasikan masyarakat persepakbolaan dan dengan cara yang bijak dan membentuk kepengurusan yang kuat, profesional, dan didukung dengan kuat oleh berbagai pihak untuk menjalankan program kerja yang baik dan efektif.

Kegiatan pembinaan persepakbolaan telah berjalan demikian panjang yang sudah tentu memberikan banyak pengalaman. Namun semuanya perlu dicatatkan dengan baik agar dapat dievaluasi dan disempurnakan untuk sebuah rencana pembinaan yang lebih konsepsional dan efektif dalam jangka menengah dan panjang. Jalan pintas hanya menghasilkan manfaat jangka pendek dengan segala kekurangannya sehingga kita harus menggerakkan pembibitan dan kompetisi yang mengakar sejak dari klub-klub dan perserikatan. Keberhasilan di Amerika Latin dan Cataluna dapat jadi inspirasi jangka panjang bagi sepakbola kita.

Yang jadi pilar lagi adalah adanya lapangan olahraga yang memadai untuk jutaan anak Indonesia. Kalau PSSI mengeluhkan kurangnya lapangan untuk berlatih di Jakarta, tentu akan lebih kekurangan lagi di berbagai daerah. Sebaliknya lapangan yang baik adalah titik awal tumbuhnya kecintaan dan aktivitas berolahraga, bisa dimulai dari atletik, sebagai salah satu prasarana strategis untuk meningkatkan kualitas fisik dan mental serta secara positif menyalurkan energi generasi muda yang akan jadi penerus kehidupan bangsa ini.

Memang akan sangat berat jika kita harus menyediakan demikian banyak sekali gus lapangan olahraga yang mempunyai lintasan atletik, lapangan basket serta volli, cepat kering setelah hujan, lengkap dengan sarana ganti serta km/wc. Akan tetapi kita bisa membuat roadmapnya untuk jangka panjang dan rencana-rencana tipikal untuk yang baru atau perbaikan yang ada, termasuk kelembagaannya.Implementasinya memerlukan pula kebijakan secara nasional yang melibatkan pemerintahan, dunia usaha, dan masyarakat yang hari ini sedang kompak.

Pemerintahan memulai secara bertahap mewujudkan lapangan olahraga dimaksud di tiap kecamatan yang pengelolaan dapat seperti pola masyarakat mengelola rumah ibadah. Dengan sentuhan teknis dan manajerial, dengan pimpinan Camat/kepala daerahnya, stakeholder didorong untuk berkolaborasi mewujudkan sebuah lapangan yang bagus di lingkungan masing-masing, termasuk menerapkan pola insentif dalam berbagai bentuk bagi yang berhasil. Sekolah-sekolah secara fisik diharapkan mempunyai lapangan olahraga yang diperlukan secara minimal (di Malaysia sudah dijumpai demikian sejak 20 tahun lalu). Para pengembang perumahan juga dipastikan membangun kompleks olahraga untuk tiap klaster rumah sejumlah tertentu.

Upaya ini bersama-sama dengan dua hal lainnya dan langkah-langkah lainnya perlu dilakukan secara sistemik dengan inisiasi dan pimpinan otoritas. Semangat pembangunan olahraga yang menjadi bagian dari pendidikan dapat dimulai di Jakarta dan terus digelorakan ke daerah secara komprehensif dan berkesinambungan. Hasilnya akan terlihat sejak jangka menengah berupa sehat, cergas, dan sportifnya generasi muda kita.  Lalu banyak Firman Utina baru akan lahir dan prestasi pun akan bermunculan. Insya Allah.

Read Full Post »

Older Posts »