Feeds:
Posts
Comments

Archive for March, 2011

Jepang

Jepang hari ini jadi pusat perhatian dunia.  Setelah diguncang gempa 9 SR tanggal 11 Maret 2011 lalu, yang terkuat dalam sejarah, Jepang Timur Laut disapu tsunami 7 sampai 10 meter yang juga merusakkan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Fukushima.  Diperkirakan korban sekitar 20.000 orang dan kerugian materil sangat besar yang diikuti oleh bencana radiasi.

Tsunami di Jepang Timur Laut tanggal 11 maret 2011 (google, internet)

Dalam hal bencana, Jepang memiliki sejarah yang panjang.  Negeri itu terletak di sisi lempeng Pacific yang rawan gempa dan berpotensi tsunami sejak ratusan tahun lalu.  Tahun 1945 Amerika Serikat menjatuhkan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki sehingga menjadi bencana atom pertama di dunia.  Tapi semua pengalaman itu bisa membuat bangsa Jepang bangkit.

Puing-puing bom atom di Hiroshima (google, internet).

Untuk mengantisipasi bencana, Jepang telah melakukan banyak hal untuk menyelamatkan bangsanya.  Sejak berbagai kebijakan pemerintah, tata ruang, pembangunan infrastruktur, teknologi bangunan, pengembangan permukiman, sarana antisipasi bencana, program mitigasi, sampai standart operating prosedur (SOP) bagi masyarakat sudah mereka miliki.  Pada kejadian kemaren, korban lebih sedikit dari yang diperkirakan untuk gempa dan tsunami sedahsyat itu.

Kita patut mengapresiasi sikap dan perilaku orang Jepang yang tetap disiplin, solider, dan bahu membahu dalam menghadapi bencana.  Ketika gempa, mereka terlihat tenang dan mengikuti SOP.  Dalam masa mitigasi mereka tetap tertib dan displin, misalnya ketika mengantri air bersih.  Para pedagang tidak mengambil kesempatan atau tidak terjadi penjarahan keadaan ini mencitrakan Jepang secara sangat positif yang berbeda dengan pengalaman tetua kita dulu.

Para tetua yang mengalami masa penjajahan Jepang menggambarkan mereka sebagai bangsa yang keras, bengis, kejam, dan penyembah matahari.  Pada rakyak main tampar.  Pribumi pekerja pagi-pagi diharuskan menghormat kepada matahari dan Kaisar Jepang dengan ritual tertentu.  Juga menyanyikan Kimigayo dan menghormati bendera Jepang jika tidak ingin kena hukuman yang berat dan sadis.  Kesalahan dalam bekerja bisa menimbulkan sanksi hukum pancung dari para opsir Jepang yang banyak pula mencemari kaum wanita pribumi.

Namun setelah kalah perang tahun 1945, Jepang modern telah melakukan transformasi pemikiran dan kehidupan tanpa kehilangan budaya dibawah komando kaisarnya.  Setelah insiden bom atom yang banyak makan korban nyawa itu, yang pertama kali ditanyakan Kaisarnya adalah berapa guru yang tersisa.  Lalu ia mengirimkan banyak mahasiswa belajar ke luar negeri dan memerintahkan penerjemahan buku-buku pengetahuan ke dalam bahasa Jepang.  Sambil memperbaiki citra dan hubungan dengan berbagai negara, akhirnya tanpa kehilangan budaya Jepang muncul sebagai bangsa yang besar dalam kekuatan ekonomi.

Kini, Jepang sedang mengatasi masalah; kelak tentu akan berprogres melalui satu roadmap yang konsepsional dan jelas.  Patut kita jadikan referensi untuk memulihkan dan memajukan bangsa.

 

Advertisements

Read Full Post »

Tsunami

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 16 Maret 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Tsunami pertama kali saya kenal ketika seorang guru SD menjelaskannya 43 tahun yang lalu yaitu sebagai gelombang pasang akibat letusan gunung api.  Kami para anak murid hanya bisa membayang-bayangkan saja bagaimana besar dan daya rusaknya gelombang tsunami karena terbatasnya informasi dan bahan ajar ketika itu.  Kebetulan pula, baru lah tahun 2004 kita mengalami terjadinya tsunami di Aceh yang makan korban sekitar 250 ribu jiwa itu dan Jumat tanggal 11 Maret lalu di Timur Laut Jepang.

Dalam bahasa Jepang tsunami adalah ombak besar di pelabuhan.  Dalam keilmuan berarti gelombang akibat gempa dengan epicentrum di laut, baik karena letusan gunung api maupun gempa tektonik.  Yang menimbulkan tsunami adalah gempa akibat pergesaran lempeng kontinen dengan gerakan vertikal sehingga terjadi perubahan volume air laut secara mendadak.  Gelombang yang dengan energi besar sekali ini merambat dengan cepat dan tinggi yang lebih dari gelombang badai yang akan bertambah tinggi ketika mendekat ke pantai karena dangkal.

Energi dan volume air yang sangat besar ini lah yang menerpa apa saja yang dilalui.  Bila daerah itu tidak terlindung barrier atau sudah terkena dampak gempa yang mendahului maka akibat gelombang tsunami akan sangat parah sebagaimana yang terjadi di Aceh dan Jepang hari Jumat lalu.  Jika dibandingkan dengan di Aceh, di Jepang korban manusia jauh lebih sedikit.

Jepang memang sudah terbiasa dan banyak pengalaman dengan gempa dan tsunami.  Terlihat di tv bagaimana orang-orang Jepang terlihat relatif tenang ketika melakukan langkah keselamatan.  Dilaporkan juga bagaimana mereka tetap tertib untuk naik bis meskipun bumi sedang guncang.  Setelah terjadi gempa dan tsunami pun pembagian air bersih, pembelian bahan makanan, di stasiun bahan bakar dapat berjlan tertib serta tidak terdengar adanya penjarahan.

Ini tentu bukan hasil dari satu dua hari.  Pemerintah dan segenap komponen masyarakat di Jepang cukup memahami antisipasi bencana alam.  Tata ruang dan bangunan sudah mengacu pada keperluan itu; rumah-rumah penduduk dibangun jauh dari pantai dan infrastruktur dibangun dengan memperhatikan kemungkinan bencana.

Program mitigasi bencana sudah menghasilkan kesiapan menghadapi bencana, tanggap darurat, dan pemulihan.  Pemahaman ini sudah masuk dalam kurikulum sehingga anak-anak sekolah dan masyarakat memahami standart operating procedures (SOP) menghadapi bencana.  Sebagai contoh, ketika ada gempa dengan tenang mereka akan berlindung ke bawah meja, menjauhi dinding kaca, atau mendekat ke bagian pojok yang ada tiang yang kokoh.

Momentum ini, sepatutnya jadi hikmah bagi kita.  Selain untuk introspeksi sikap dan perilaku diri dan kolektif, juga untuk mengingatkan apa yang belum kita lakukan untuk mengantisipasi bencana.  Naudzubillahi, semoga kita senantiasa terhindar dari berbagai bencana.

 

Read Full Post »

Anarki

Sebuah contoh buruknya anarkisme (sumber: putrapemberontak.wordpress.com)

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 6 April 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Anarki sudah diadopsi jadi bahasa kita yang arti praktisnya kekerasan.  Kata asalnya anarchy yang berarti tanpa pemerintahan (sementara monarki berarti pemerintahan tunggal, kerajaan); bermakna tidak ada hukum dan tata-sosial yang mengatur kehidupan masyarakat (law and social order) sehingga orang bisa berbuat sekehendaknya atau memaksa orang lain dengan kekerasan.

Dalam kehidupan sehari-hari, anarki sering digunakan untuk menggambarkan perbuatan sekelompok orang yang melakukan pemaksaan atau kekerasan pada pihak lain yang dapat menimbulkan kerusakan harta-benda atau korban manusia.  Tindak kekerasan bisa terjadi apabila orang dengan persepsi dan perasaan yang sama akan sesuatu seperti pendukung tim sepakbola, penonton konser, dan unjuk rasa, berkumpul dalam jumlah yang banyak.  Lalu mereka terprovokasi untuk berhadapan dengan pihak lain, bahkan dengan aparat keamanan.

Jika kita perhatikan kemungkinan terjadinya, selain tergantung pada kualitas penegakan hukum yang ada, dipengaruhi pula oleh tingkat intelektualitas, lingkungan sosial-budaya, dan kelompok usia.  Makin tinggi atau baik tingkatan itu, makin kecil pula kemungkinan orang melakukan tindak anarki.  Karena itu di negara-negara maju orang yang suka melakukan kekerasan dianggap rendah karena lebih pandai menggunakan tangannyanya dibandingkan kepalanya.

Di negeri kita, anarkisme menjadi tontonan sehari-hari yang dipicu antara lain oleh perselisihan antar-ummat beragama, salah faham antar-kampung, saling ejek para pemuda, saling senggol dalam konser, atau unjuk rasa yang tak tersalurkan dengan baik.  Anarkisme juga bisa terjadi berupa tawuran antar-mahasiswa di kampus yang sama, antar-kampung secara turun temurun, atau oleh pendukung tim sepakbola yang kalah terhadap objek atau orang yang mereka temukan (hooliganisme).  Melihat cara-cara dan senjatanya, kita bisa merinding karena sangat membuka terjadinya kerusakan berat harta benda, cedera parah, atau korban nyawa manusia.

Anarki juga bisa dalam bentuk lain seperti vandalisme dan graffiti.  Mungkin ada yang merasa bangga ketika merusak fasilitas umum atau menganggap coret-moret tembok umum itu sebagai sebagai kreativitas, tapi secara jujur kita tidak suka jika rambu lalu-lintas hilang dan WC umum atau tembok pagar kita penuh graffiti.  Yang pasti semua anarkisme adalah akhlak yang buruk.

Buruknya akhlak kolektif anak bangsa itu bisa jadi karena himpitan hidup, ketimpangan sosial, ketiadaan keteladanan, kelemahan penegakan hukum, atau berbagai kebobrokan?  Mungkin para sosiolog dan psikolog lebih dapat menjelaskan hal ini serta para alim-ulama dapat melihat kekosongan rohani generasi muda sekarang.  Yang jelas kita wajib memperbaikinya yang bisa dimulai dari menentukan batasan kekerasan sebagai titik acuan dan membuat roadmap rencana tindak dengan baik dan lengkap.  Jika tidak, kita akan melahirkan lost generation masa datang, itu pun kalau negeri ini belum kiamat karena anarkisme yang masif.

Read Full Post »

Sponsor

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 23 Februari 2011 halaman 21, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Sponsor adalah seseorang atau suatu pihak yang membiayai suatu kegiatan pihak lain.  Kata ini berkonotasi kekuatan modal yang sedia menanggung berbagai keperluan yang berkaitan dengan kegiatan yang dipilih.  Kesediaan itu tentu tidak lah for free melainkan ada imbal balik yang biasanya berkaitan dengan promosi merk dagang.

Terlepas dari posisi pasarnya, promosi merk dagang senantiasa dilakukan karena dalam iklim konsumtif ini orang tidak terlalu memperhatikan esensi produk tapi lebih terpesona pada daya pikat promosi.  Untuk meraih pasar, banyak perusahaan tidak segan-segan mencurahkan biaya promosi dalam berbagai bentuk dan jangkauan lokasi.  Promosi global membuat produk-produk dagang bisa dikenal di berbagai belahan dunia.

Promosi dalam berbagai bentuk, termasuk sponsorship, telah jadi cara utama untuk memajukan usaha.  Yang tidak peduli dengan promosi global cuma akan jadi jago kandang dan akhirnya melemah, sebagaimana produk-produk Amerika Serikat dan Eropa.  Produk baru atau lemah bisa sukses dengan promosi yang gencar untuk penetrasi pasar yang jenuh atau sudah dikuasai pemain raksasa, seperti yang dilakukan oleh Korea untuk menembus pasar yang dikuasi Jepang.  Cara yang efektif untuk itu antara lain melalui sponsorship event olahraga yang jadi pusat perhatian seperti golf, sepakbola, tenis, balap mobil, dan sebagainya meski pun kadang-kadang tidak ada korelasi antara event yang bereputasi itu dengan sponsor.

Upaya sponsorship ini mungkin dapat pula kita amati pada beberapa perusahaan Malaysia yang jadi sponsor di dunia balapan otomotif.  Kita tahu bahwa sudah sejak lama Petronas yang lebih muda dari Pertamina itu pasang nama pada salah satu tim balap mobil Formula 1 yang mendunia.  Malaysia bisa pula memposisikan Fairuz Fauzy, seorang pengemudi F2 untuk Tim Lotus.  Tahun ini, atas sponsorship dari Proton ia akan disewa oleh Lotus-Renault GP sebagai pengemudi F1.  Sementara itu, dengan sedikit aroma nasionalisme, Air Asia telah bersedia pula menjadi sponsor dari seorang pembalap motor kelas 125 cc Malaysia yang akan muncul pertama kali pada balapan tingkat dunia Maret datang di Qatar.

Yang ingin kita tarik pembelajarannya adalah bahwa untuk masuk pasar global suatu produk juga harus berani melakukan promosi secara global pula.  Kepuasan pada pasar lokal dan tidak peduli pada promosi global hanya akan menyisakan suatu produk jago kandang.  Salah satu cara yang nampaknya efektif untuk mengglobal adalah mensponsori event yang menarik perhatian secara luas atau menyandang reputasi serta prestasi yang besar dan spesifik.

Untuk itu potensi dunia usaha nasional kita perlu lebih didayagunakan untuk mensponsori kegiatan dan event olahraga internasional atau pun dalam negeri dalam hubungan win-win. Dengan sinergi penyelenggara, sponsor, dan atlet maka prestasi kita diharapkan akan meningkat dan produk produk perusahaan sponsor akan dikenal lebih luas.  Pada tataran nasional, sempena PON XVIII Tahun 2012, sponsorship adalah alat untuk masuk pasar nusantara secara efektif dan elegan, sebelum mengglobal.

Read Full Post »