Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2011

Ulat Bulu

Seekor ulat bulu (sumber: http://difaulhaq.wordpress.com/)

Ulat bulu saat ini sedang menyaingi Briptu Norman dalam hal popularitas.  Kalau Norman diusung ke sana sini dan mendapat sambutan fans dadakan, ulat bulu justru mendadak muncul di tidak kurang dari 25 lokasi.  Sesuai berita, gerombolan ulat bulu telah muncul di berbagai tempat di Pulau Jawa, Bali, Lombok Timur, Banjarmasin, Bukittinggi, dan terakhir Asahan.

Menurut seorang pakar dalam berita sebuah stasiun TV hari Kamis 14 April pagi, ulat bulu yang merupakan mata rantai pembiakan kupu-kupu ini sebenarnya adalah dari satu family yang sudah dikenal di Indonesia selama ini yang mana mempunyai 350 genus dan 3500 species.  Secara scientific, munculnya diduga karena terjadi perubahan ekosistem yang menyebabkan perilaku bertelur kupu-kupu berubah dan jumlah predator alamiah ulat berkurang sehingga terjadi ledakan atau peningkatan jumlah ulat secara eksponensial.  Para ahli mengingatkan agar tidak membasminya dengan racun kimiawi karena bisa memunculkan species baru yang kebal insektisida tapi kembali ke pendekatan alamiah seperti dengan predator dan racun alami.

Kalau lah tepat analisis para pakar itu, melihat luasnya sebaran kejadian fenomena ini, berarti telah terjadi perubahan iklim atau ekosistem yang juga sangat luas di negara kita.  Maka bukan tidak mungkin dalam satu dua hari ini akan muncul ledakan ulat bulu pula di berbagai tempat dalam lingkaran 25 tempat terdahulu itu, kalau tidak makin meluas. Karena itu memandang fenomena yang menimbulkan rasa geli dank iris ini tidak cukup hanya dalam lingkup yang scientific itu tapi perlu juga secara komprehensif melihat kausalitas yang memungkinnya terjadi.

Pertama, perubahan ekosistem sudah pasti merupakan hasil kumulatif dari pola hidup dan tindak manusia yang kurang menjaga keselamatan lingkungan sejak lama.  Makin berkurangnya hutan, tingginya emisi karbon, banyaknya muka bumi yang terkelupas, tanaman monokultur, berkurangnya jumlah species flora dan fauna, penggunaan bahan kimiawi di permukaan terbuka, dan sebagainya telah menyebabkan perubahan iklim dan ekosistem.  Karena itu kepentingan ekonomi manusia tidak boleh menimbulkan konflik dengan kepentingan untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan cara melakukan berbagai aktivitas ekonomi di mana pun secara terbatas dan terpilih dengan memepertimbangkan daya dukung lingkungan alam.

Kedua, kegiatan ekonomi yang tidak mengindahkan keselamatan lingkungan itu bersumber dari paradigma Newtonian-Cartesian yang menganggap alam boleh dieksploitasi untuk kepentingan manusia sebanyak yang disukai.  Dasar pemikiran ini mendahulukan materialisme dan menimbulkan keserakahan ekonomi sehingga orang berlomba-lomba mengeduk dan mengeruk kekayaan alam tanpa memikirkan dampak lingkungannya.  Turunan dari sikap ini adalah berkembangnya sikap konsumtivisme, hedonisme, permisivisme, kleptomania, dan lainnya.  Tidak ada jalan lain yang lebih aman kecuali kembali ke pangkal jalan, berpegang pada ketentuan dan petunjuk Yang Maha Kuasa yang bertebaran sebagai ayat-ayat Kauniyah.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 20 April 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Advertisements

Read Full Post »