Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2011

G a m b u t

Gambut selalu disebut setiap musim asap yang diduga berasal dari titik api (hot spot) di Provinsi Riau.  Contohnya tanggal 8 Mei 2011, ada 110 hot spot dari 136 yang ada di Sumatera sehingga dan asapnya sampai ke negara-negara tetangga (Riau Pos, 22/5/2011).  Memang, di provinsi ini ada hamparan gambut lebih dari empat juta hektar atau sekitar 45 persen luas daratannya.

Lahan gambut terdapat di cekungan rendah berair atau rawa yang biasanya antara dua tanah tinggi atau tebing (levee) dua sungai besar dengan ketebalannya 50 cm sampai lebih dari 4 m.  Gambut adalah tanah organik jenuh air yang terbentuk dari akumulasi pelapukan sisa tanaman dalam waktu yang lama.  Bersama flora, fauna, air, dan lingkungan fisik keseluruhannya akan membentuk suatu ekosistem dengan keragaman hayati (biodiversity) yang kaya dan spesifik.

Sifat fisik lahan basah gambut yang khas berkaitan dengan air dan tidak pulih (unrenewable).  Ia sangat berongga (porous), kering tak balik, daya dukung rendah, dan mudah terbakar.  Ekosistem lahan gambut dapat menyerap air dalam jumlah besar pada musim hujan dan mengalirkannya secara perlahan pada musim kering sehingga potensial untuk pengendalian banjir.  Karena selalu basah, tanah gambut memiliki daya dukung sangat rendah yang menyebabkan biaya konstruksi di atasnya jauh lebih mahal sehingga orang cenderung menimbun atau mengeringkannya. Ditambah dengan usaha perkebunan, gambut banyak mengalami penurunan dan rusak permanen (kering tak balik) ketika terlalu kering, dibakar, atau terbakar.

Gambut kering, dengan puntung rokok saja akan mudah terbakar sampai ke lapisan bawah pada taraf muka air tanah.  Karena kaya dengan zat karbon dan api bersentuhan dengan kelembaban di lapisan yang basah maka gambut yang terbakar akan sulit dimatikan dan menimbulkan asap yang demikian banyak.  Kerusakan ini juga melepas gas karbon dalam jumlah besar yang berdampak pada pemanasan global.  Sementara emisi karbon pada kebakaran hutan biasa perlu 100 tahun untuk menetralisirnya, kebakaran gambut perlu 600 tahun (Riau Pos, 22/5/2011).

Menurut data Rona Lingkungan Hidup Univeristas Riau, sebagai akibat kerusakan lahan yang luas dan intensif, tertunya termasuk lahan basah gambut, dalam 30 tahun terakhir telah menaikkan suhu di Riau 2 derajat Celcius.  Pada saat banyak titik api tanggal 8 Mei lalu, suhu di Pekanbaru mencapai angka ekstrim 36,5 derajat Celcius.  Perubahan iklim lokal maupun regional yang juga merusak biodiversity ekosistem gambut, bukan tidak mungkin akan menimbulkan berbagai bencana lingkungan seperti ulat bulu, hama, atau serangga lainnya.

Karena itu, kita harus lebih peduli pada penjagaan dan penyelamatan lingkungan, khususnya lahan basah gambut yang merupakan karunia spesifik di Riau.  Konservasi hutan mesti mempertimbangkan keberadaan gambut yang moratorium konversinya adalah suatu keniscayaan sebagai menjadi kebijakan nasional, bahkan global.  Tentu kita tidak mau menjadi orang yang membuat kerusakan di muka bumi ini lalu mewariskannya.  Semoga.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 25 Mei 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Advertisements

Read Full Post »

M a d a n i

Madani adalah terjemahan yang dipakai untuk keadaan masyarakat yang disebut dengan civic society.  Ia menggambarkan tatanan masyarakat yang sangat kontributif-partisipatif dalam naungan suatu sistem pemerintahan atau negara yang teratur, tertib, berkepastian hukum, adil, dan sejahtera.  Kata itu turun dari kata Madinah, kota dimana Nabi Muhammad SAW membangun peradaban Islam yang demikian dengan penuh kejayaan dulu.

Menurut DR Akram Diya’ al Din al ‘Umari, seorang professor di Universitas Islam Madinah, masyarakat madani adalah suatu tatanan masyarakat berdasarkan keimanan dan komitmen pada Islam yang mengakui persaudaraan dan perlindungan yang hanya dari Allah, keberadaan kepemimpinan Rasulullah, dan para pengikutnya.  Tatanan masyarakat yang digambarkan professor ini diikat pula dengan perjanjian-perjanjian anatara lain yang disebut dengan Piagam Madinah, termasuk untuk melindungi dan bahu-membahu dengan para penduduk Yahudi dan Nasrani yang ada di Madinah.  Rasulullah berhasil merubah keadaan masyarakat di Madinah dari beragam status dan golongan menjadi persaudaraan yang sangat kuat dan terus berkembang menjadi pusat budaya, perdagangan, dan pemerintahan di Jazirah Arab.

Keberhasilan itu tidak terlepas dari ketauladanan akhlak dan kepemimpinan Rasulullah SAW yang berlandaskan keimanan yang sangat menghargai kemanusiaan.  Beliau sangat terkenal akan kejujurannya dan jauh dari perilaku mengutamakan kepentingan sendiri, keluarga, dan kelompok yang merugikan pihak lain.  Dengan mengefektifkan peran masjid, tata sosial berjalan secara baik dan proporsional yang didukung pula oleh penegakan hukum yang adil dan efektif.  Madinah lalu menjadi negeri yang maju dan kokoh sebagai basis Rasulullah untuk mengembangkan dakwahnya.  Tidak heran jika kekhalifahan yang meneruskan tradisi pemerintahan yang madani ini Islam berhasil mencapai Spanyol.

Praktik madani ini telah berkontribusi dalam konsep civic society yang dijadikan acuan ketata-negaraan modern.  Kita kenal asas good governance (kepemerintahan yang baik) dan clean government (pemerintahan yang bersih) sebagai jalur untuk sampai ke pemerintahan yang madani dengan prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi, produktivitas, dan penegakan hukum.  Tentu elaborasi dari kedua asas dan prinsip-prinsip ini memerlukan implementasi jika kita ingin menjadi sebuah negeri madani sebagaimana yang sudah pernah dicontohkan itu.

Ketika memilih pemimpinnya, masyarakat bisa jadi tak ingat dengan janji-janji kampanye yang masih tentatif dan nisbi itu.  Namun, dengan penerapan konsep madani Insya Allah akan menyenangkan semua pihak di negeri atau kota yang heterogen seperti Pekanbaru ini.  Kita sangat mendambakan Pekanbaru yang bebas dari kemaksiatan yang umumnya membonceng dinamika ekonomi seperti perjudian, dunia malam, miras, kriminalitas, dan berbagai penyakit masyarakat lainnya.  Semoga Pekanbaru menjadi kota yang aman, hijau, maju, cocok bagi generasi penerus, baildatun thoybatun warabbun ghaffur.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 18 Mei 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

Online

ONLINE adalah istilah teknologi komputer dan komunikasi dalam era digital ini.  Secara sederhana ia diartikan sebagai tersambung ke suatu sistem komunikasi media elektronik digital yang disebut internet. Media maya ini sudah demikian luas masuk ke ranah kehidupan manusia.

Hari ini, internet juga memarakkan interaksi ekonomi secara online dengan segala dampak dan eksesnya.  Melalui internet orang dapat memesan tiket, melakukan transaksi e-bank, atau mengetahui spesifikasi, gambar fisik, dan harga suatu produk yang jauh dengan mudah dalam hitungan detik.  Kemudahan ini menumbuhkan banyak kedai online yang menawarkan berbagai barang, termasuk electronic gadget yang ketat spesifikasinya itu.

Di sisi lain, transaksi online tak lepas pula dari ekses yang merugikan.  Selain penipuan dan penggerogotan kekayaan melalui media digital sebagaimana kehebohan belakangan ini, kedai online ini memiliki dua aspek legal yang perlu diperhatikan: legalitas usaha kedai itu guna perlindungan kepentingan konsumen, dan kepatuhan terhadap pajak yang menjadi hak negara.

Kedai online melalui jejaring sosial atau mailing list, menawarkan berbagai produk dengan harga miring.  Bagi konsumen, cara ini menguntungkan karena bisa tahu spesifikasi, harga, suatu produk dengan mudah dan harganya lebih murah karena lebih rendahnya modal usaha dan biaya operasional bisnis online serta tanpa pajak.  Akan tetapi bisnis online umumnya dilakukan oleh perseorangan tanpa badan usaha yang legal dan terdaftar.

Karena itu perlu dicermati identitas dan alamatnya, apalagi yang menjual suatu barang dengan harga miring tapi hanya mau transaksi tanpa temu muka.  Dari pengalaman langsung dan sharing beberapa orang lain, kedai online ini tidak mau didatangi langsung ke tempatnya, khususnya yang menjual electronic gadget dengan alasan barang black market atau masuk tanpa cukai.

Untuk meyakinkan pelanggan, penjual bisa saja menyatakan bahwa ia berbisnis dengan serius dengan jaminan rekening kemana kita akan mengirimkan pembayaran dan nomor telepon yang dipakainya.  Tapi perlu diingat cukup sulit untuk mengakses kedua jenis info itu.  Kalaupun ada alamat, perlu dicek kebenarannya bahwa itu tidak mencatut alamat orang lain.  Untuk menjamin barangnya sampai, kedai online juga “menjual” data ekpedisi yang bisa diakses secara online bahwa ada kiriman ke alamat kita.  Sementara kita tidak tahu isi paket itu, ada jasa ekpedisi yang tidak mau menerima pengiriman handphone.

Jadi, karena segala kemungkinan bisa terjadi di dunia maya dan dengan tetap menghargai mereka yang melakukan bisnis online secara akuntabel, tidak ada salahnya kita bersikap hati-hati.  Belanja barang gelap lebih murah di kedai online yang tidak akuntabel, selain tidak ada kepastian dan perlindungan terhadap kualitas barang, kita juga telah ikut jadi orang yang menghindarkan bea dan pajak yang jadi hak negara.  Semoga kita termasuk orang yang bijak.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 11 Mei 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

C a l o

Calo yang rasanya berasal dari bahasa Cina, dalam kehidupan sehari-hari bermakna orang yang memanfaatkan kepentingan para pihak yang ingin berjual beli demi mendapatkan upah yang cenderung ditetapkannya terlebih dahulu atau disebut komisi.  Profesi serupa dalam bentuk lain bisa disebut juga sebagai orang tengah, perantara, pialang, atau makelar.

Berbeda dengan calo, empat profesi lain itu dipandang lebih positif karena dianggap masih bermuatan keahlian atau ketrampilan yang berkaitan.  Seorang pialang saham misalnya, dianggap masih harus mempunyai comparative competitiveness yaitu kemampuan personalnya membaca trend dan menganalisis pasar saham.  Satu contoh lagi, ketika sebuah agen perjalanan menjual tiket kereta api, agen itu tidak disebut sebagai calo karena melakukannya secara sah, berlaku secara biasa (reguler), dan dengan harga dan aturan yang tetap.

Sebutan calo lebih berkonotasi negatif karena bernuansa pengambilan kesempatan dalam kesempitan dengan memanfaatkan keistimewaan (previledge) hubungannya dengan pemegang kewenangan urusan yang jadi objeknya.  Tanpa modal yang berarti, seorang calo menkonversi aksesibilitasnya pada otoritas menjadi produk yang harus didapatkan dengan biaya atau penebusan dengan sesuatu yang jauh lebih tinggi nilainya.  Seorang calo akan sangat jeli membaca suasana keterpaksaan konsumen atau yang memerlukan produk itu karena tidak pilihan.  Didukung kerjasama dengan otoritas yang tidak bertanggungjawab, calo dengan dingin akan tega membiarkan tidak terjadinya transaksi karena dia dan oknum otoritas konyol itu secara pribadi tidak akan ada kehilangan modal atau pengeluaran yang berarti.

Kita mungkin bisa menandai calo ketika akan menonton suatu pertunjukan istimewa atau di stasiun dan bandara pada saat musim liburan atau peak season. Ketika di loket karcis sudah mau habis atau antrian panjang sekali, biasanya tanpa tiket di tangannya calo dengan berani akan menawarkan tiket dengan harga yang berlipat.  Hebatnya, dia bisa saja mengajak calon pembeli masuk kawasan bertiket hanya dengan sedikit aba-aba pada penjaga pintu, untuk mengambil tiket dari dalam.  Meskipun sulit dibuktikan (karena itu juga sulit diberantas!), semua itu tidak mungkin terjadi tanpa kerjasama dengan orang dalam atau otoritas yang juga bermental calo.

Sikap mental calo yang buruk ini sangat merugikan jika ada pada mereka yang terkait ke publik atau perusahaan milik negara yang kurang peduli kinerja.  Sebagai pengusaha, mereka akan berpikir “sekali pukul” atau hanya mencari transaksi yang bisa menumpangkan kepentingan pribadi atau kelompok, apalagi jika audit akuntabilitasnya tidak ketat.  Karena itu, tidak heran jika terjadi laba yang kecil atau rugi pada perusahaan publik atau milik negara.  Akan lebih berbahaya lagi kalau mental calo ini menghinggapi para penguasa dan kroninya sehingga segalanya akan “diperdagangkan”, termasuk kepentingan rakyat demi kepentingan sempit dan jangka pendek.  Semoga kita terhindar dari orang-orang dan perilaku demikian.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 4 Mei 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

Energi

Energi berasal dari bahasa Inggris energy yang aslinya turun dari Bahasa Yunani kuna energia yang berarti aktivitas atau operasi.  Kata dalam ilmu fisika yang sudah mengglobal ini berarti sesuatu dalam jumlah tertentu yang difahami sebagai kemampuan sistem fisik untuk melakukan kerja sebuah sistem lain lagi.  Mudahnya, adalah tenaga yang dapat digunakan sebuah sistem untuk melakukan sesuatu gerakan.

 Dalam istilah praktis, energi yang sebenarnya tenaga sebagai hasil dari pengolahan suatu sumber untuk dapat dipakai guna berbagai kepentingan akhirnya dibaca sebagai sumber atau bahan bakar itu sendiri.  Sesuai dengan ketersediaannya di muka bumi, terdapat dua kelompok utama energi yaitu yang tidak terbarukan (unrenewable energy) dan yang dapat terbarukan (renewable energy).

Yang masuk dalam kelompok tak terbarukan adalah bahan-bahan yang berasal dari dalam bumi seperti minyak, gas, dan batubara yang merupakan endapan fossil atau pelapukan bahan organik yang sudah mengalami tekanan dalam lapisan bumi ribuan tahun.  Tidak terbarukan karena bahan bakar jenis yang sebelumnya ada di bawah permukaaan bumi ini akan musnah secara permanen setelah dipakai. Ketika dipakai atau terbakar maka bahan bakar fossil ini akan mengeluarkan gas karbon dioksida atau emisi karbon yang dapat menaikkan suhu udara di permukaan bumi (global warming).

Selain karena masalah lingkungan, ketersediaan yang tidak terjamin dan makin mahalnya harga menyebabkan orang mencari alternatif berupa renewable energy.  Energi ini tersedia di alam secara melimpah di  permukaan bumi untuk dimanfaatkan.  Energi baru dan terbarukan dikembangkan dari sumber non-fossil seperti panas bumi (geothermal), tenaga air, gelombang, pasang, biomass, sinar matahari, angin, dan lain-lain.

Banyak macam sumber energi ini sudah dikembangkan dan dipakai di negara-negara maju dan kesulitan energi konvensional.  Pada tahun 2008, sekitar 19 persen pemakaian energi dunia berasal dari sumber terbarukan seperti biomass, tenaga air, dan sumber baru energy terbarukan seperti angin, sinar matahari, panas bumi, dan biofuel.  Masing-masing jenis energi baru dan terbarukan ini menunjukkan perkembangan yang pesat.

 Sementara itu, meskipun kita sangat kaya dengan sumber energy terbarukan, pemakaian energy di Indonesia masih didominasi oleh energi fossil dengan porsi minyak bumi 47 persen, gas alam 21 persen, dan batu bara 26 persen.  Akhir-akhir ini bahkan kita semakin rakus dengan energi tak terbarukan dan bangga mengekspor batubara sementara pembangkit kita sering kekurangan pasokan.  Potensi panas bumi kita sekitar 40 persen dari yang ada di dunia.  Riau bahkan bisa jadi sumber biofuel dari sawit dan  nipah.

Karena itu, sangatlah naïf kalau kita terus hanya berwacana dan tetap tidak tertarik untuk mengembangkan sumber-sumber energi terbarukan yang demikian banyak tersedia.  Akan tetapi kita memang membutuhkan energi dan spirit baru untuk memulainya.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 13 April 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

Harakiri

http://www.google.co.id/imglanding?q=harakiri...Harakiri adalah tindak bunuh diri orang Jepang yang terkenal.  Dalam percakapan, harakiri berarti memotong perut.  Dulunya tradisi ini hanya dilakukan para samurai, sebagai bagian dari pelaksanaan semangat bushido, kode etik patriot kuna Jepang.

Tradisi yang dalam bahasa tulisan disebut seppuku ini adalah menusukkan sebilah tanto ke perut lalu menariknya dari kiri ke kanan sebagai upaya bunuh diri seorang samurai yang memegang teguh etika bushido.  Seorang samurai melakukannya secara sukarela karena ia yakin bunuh diri lebih terhormat dari pada jatuh ke tangan musuh dan didera atau menanggung malu akibat suatu perbuatan tercela atau kegagalan.  Pada zaman dulu, ritual yang bisa juga sebagai tanda kesetiaan pada seorang guru yang mati atau atas perintah seorang majikan ini, jika tidak di medan perang, seppuku dilakukan di depan para pendukungnya karena dianggap sebagai suatu jalan terhormat.

Zaman modern ini, pemahaman itu masih hidup sehingga Jepang jadi negara industri maju yang paling banyak penduduknya bunuh diri.  Paradigma dasarnya tetap menganggap bunuh diri sebagai langkah kesatria meski hari ini penyebabnya bisa karena tidak lulus ujian, tidak diterima di universitas, menghindar dari dipermalukan, tidak mendapatkan pekerjaan, dan sebagainya.  Data menunjukkan bahwa pada tahun 2010, jumlah bunuh diri di Jepang adalah 249 per sejuta orang dengan kelompok terbesar yaitu sepertiganya berusia 20-29 tahun.  Tamatan universitas yang bisa langsung berhasil masuk lapangan kerja masih di bawah 70 persen.

Fenomena bunuh diri di negeri matahari terbit ini jadi menarik pasca bencana gempa dan tsunami yang diikuti oleh ancaman radiasi nuklir.  Dengan sejarah bencana yang panjang, Jepang telah berhasil mengantisipasinya sampai tahap tertentu dan sejalan dengan keutamaan perilaku orang Jepang dalam tahap mitigasi, menunjukkan kemajuan Jepang secara materil dan sosial.  Namun masih demikian banyak puing dan sampah tsunami yang harus dibersihkan serta masalah radiasi nuklir yang terus mengancam kehidupan di Jepang.  Meski Kaisar dan para pemimpin menunjukkan keteguhan dan terus memberikan motivasi serta mengupayakan penyelesaian masalah-masalah, akan menarik untuk mengamatinya ke depan, khususnya pada kalangan muda.

Sebagaimana juga di negeri kita, kelompok usia ini masih rapuh secara mental karena belum menyerap nilai-nilai spiritual dengan baik dan terpesona pada kemajuan duniawi.  Jika sebelumnya demikian banyak para muda Jepang yang bunuh diri, sangat mungkin angka itu akan meningkat pasca-bencana ini.  Apalagi dengan sembahan matahari dan paradigma kesatria tadi, mereka akan terpapar pada pilihan untuk mem-bypass aktualisasi diri dengan harakiri.

Hikmahnya bagi kita, perkuatan sikap mental para muda berdasarkan nilai-nilai ketuhanan adalah prioritas.  Pembinaannya jadi tanggungjawab para orang tua dalam keluarga, masyarakat dalam memberikan lingkungan yang baik, dan negara dalam hal pendidikan dan kecerahan masa depan.  Pengaktualisasian diri seyogyanya dapat kita salurkan secara positif dan produktif.  Semuanya demi keberlangsungan NKRI yang baidatun thoyyibatun warabbun ghaffur.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 30 Maret 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

DR M

Datuk Sri Mahathir Mohammad, mantan Perdana Menteri Malaysia yang terkenal dengan panggilan DR M, belum lama ini diminta pendapatnya tentang ekonomi regional.  Ketika berbicara pada Islamic Finance Conference di Singapura sebagaimana yang dilaporkan oleh Filly Sumayku dari Industrial Post tanggal 1 April 2011, DR M mengemukakan prospek perbankan syariah di Asia Tenggara.  Beliau menguraikan hambatan pembiayaan yang dihadapi secara konvensional dan bagaimana peluang yang dapat dikembangkan pada perbankan syariah.

Pada waktu lalu, di kawasan ASEAN yang berpenduduk sekitar 500 juta jiwa, bisnis cukup sulit berkembang di kalangan orang Muslim meskipun jumlahnya separuh dari penduduk kawasan itu. Mereka tidak bersedia meminjam dari bank konvensional Barat yang mengenakan bunga atau riba, tidak ikut menanggung resiko yang ada pada peminjam, dan meminjamkan uang dengan jumlah jauh berlipat dari yang mereka punyai tanpa suatu jaminan asset.  Sirkulasi dana bank konvensional bisa terkait ke usaha yang dilarang syariah seperti alkohol, tembakau, dan judi.

Dewasa ini dengan perkembangan industri keuangan syariah global mencapai 15 sampai 20 persen, maka peluang bisnis jadi lebih terbuka.  Menurut para ahli, pertumbuhan keuangan syariah di ASEAN lebih tinggi lagi sehingga membuat DR M optimis akan kemajuan bisnis di kalangan ummat Islam di wilayah itu.   Ia juga membuat banyak perbandingan bagaimana sistem perbankan syariah banyak lebih unggul dari pada sistem perbankan konvensioanal Barat yang sudah terbukti gagal sehingga menimbulkan berbagai krisis pada waktu lalu.  Karena itu DR M mendesak agar ummat Islam di kawasan ini memperluas perbankan syariah sampai bisa sebesar perbankan barat sehingga dapat meminjam untuk mengembangkan bisnis.

Sekarang ini ASEAN adalah daerah yang sedang tumbuh pesat dan DR M melihat peluang yang ada di Malaysia yang sudah lebih dulu mengembangkan keuangan syariah dan Indonesia dengan penduduk Muslim yang demikian besar.  Apakah keberadaan keuangan syariah ini akan bermanfaaat tergantung dari bagaimana kemampuan ummat Islam dalam memahami dan melakukan bisnis.  Seyogyanya juga akan membawa manfaat tidak hanya dalam komunitas Muslim tapi juga pada yang lainnya; Singapura yang sedang giat mengembangkan sistem keuangan syariah bisa memanfaatkan Malaysia sebagai pusat keuangan syariah yang sudah lebih besar.  Hal ini penting karena ada kecenderungan modal dari Timur Tengah yang tertarik masuk ke ASEAN secara syariah, termasuk yang melalui Singapura dan Hongkong.

Kepada Indonesia DR M menyarankan agar mengurangi ketergantungan pada pertanian dan pertambangan tapi memperkuat manufaktur dengan memanfaatkan keuangan syariah yang sudah berkembang itu.  Dengan penduduk hampir 240 juta, memungkinkan Indonesia dengan mudah memimpin pertumbuhan keuangan Islam, yakinnya.  Pendapat dan saran DR M tentu sangat berharga; sekarang tinggal bagaimana kita melakukannya.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 27 April 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »