Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2011

G a r a m

Garam adalah istilah ilmu kimia yaitu suatu zat hasil reaksi antara asam dan basa. Dalam kehidupan sehari-hari, garam yang kita kenal adalah zat dengan rumus kimia NaCl, hasil reaksi antara natrium hidroksida (NaOH) yang bersifat basa dengan asam khlorida (HCl), berbentuk kristal putih yang tidak keras dan berasa asin.  Alhamdulillah, Sang Pencipta telah menyediakan sumber garam ini di alam dalam bentuk air laut.

Kita kenal Madura sebagai penghasil garam tradisional dengan cara menguapkan genangan tipis air laut di hamparan tambak sampai tertinggal kristal garam yang dengan pengolahan sederhana sudah bisa dikonsumsi.  Dengan potensi yang ada, cukup mengherankan kalau kita masih mengimpor garam dan petaninya belum sejahtera.  Selain banyak kegunaannya pada berbagai proses industri, meski dalam jumlah sedikit garam sangat vital untuk sajian makanan; sampai-sampai suatu keadaan yang kurang menyenangkan dikatakan “bagaikan makan tanpa garam”.

Sifat khas garam secara filosofis sering kita jumpai dalam peri bahasa dan kata-kata bijak. Salah satu yang menarik, sebagaimana yang disitir Direktur Lingkar Madani Indonesia Ray Rangkuti (Media Indonesia 1 Juni 2011), Proklamator RI Bung Hatta pernah berkata: “Pakailah filsafat garam (substansial), tak tampak tapi terasa. Janganlah pakai filsafat gincu (pencitraan), tampak tapi tak terasa.” Menurut Ray, jika perilaku seorang pemimpin tidak seperti garam tapi terjebak pada filosofi gincu maka hanya akan jadi retorika politik yang tidak bertanggung jawab.

Sitiran tersebut muncul di tengah hingar bingar pertelingkahan para elit yang perilaku pencitraan akhir-akhir ini.  Sudah beberapa tahun terakhir ini negeri kita memang dilanda berbagai krisis silih berganti, berkaitan dengan sosial, ekonomi, politik, dan khususnya hukum. Belum selesai satu kasus telah muncul lagi kasus yang lain sehingga masalah jadi timpa bertimpa yang mau tidak mau pembahasannya menyerempet atau bahkan masuk ke wilayah kepemimpinan.

Wilayah tersebut yang mestinya sakral dan tabu, telah dimasuki dengan berbagai versi dan penuh improvisasi.  Sudah sejak lama banyak pihak menuding pimpinan nasional kita lebih sibuk membangun pencitraan dirinya ketimbang menyelesaikan masalah-masalah rakyat dan kasus-kasus yang bertumpuk tadi.  Walaupun tidak kurang pula upaya yang dilakukan Presiden SBY dalam domainnya, akan tetapi karena masih banyak masalah yang terlihat tapi tidak selesai maka tingkat kepercayaan masyarakat nampaknya terlanjur menurun sebagaimana popularitas beliau (dan partainya).  Sebuah survey menunjukkan bahwa  responden menilai lebih baik zaman Suharto dari pada sekarang, yang bisa jadi karena pada era itu tidak terlalu banyak gincu.

Jadi, seperti yang ditamsilkan garam, hasil dan manfaat adalah lebih utama dari pada sekedar terlihat dan berkibar tapi tanpa makna serta tidak langggeng atau hanya sekedar artifisial.  Sementara hal yang serba gincu tidak akan meninggalkan bekas, kebaikan dan manfaat dalam kadar yang proporsional dan hakiki akan melukiskan cipta, karsa, dan karya nan indah dalam koridor sejarah.  Memang itulah misi kita dikirimkan ke muka bumi, menjadi khalifah dan membawa manfaat dan rahmat bagi sesama manusia dan berbagai makhluk lainnya.  Semoga.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 15 Juni 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

Pembusukan

Pembusukan adalah sebuah kata biasa yang sering dipakai dalam kaitan memburuknya keadaan suatu bahan organik atau makanan seperti sayuran, susu, daging, dan sebagainya.  Kecuali di laboratorium untuk penelitian, maka pembusukan bahan-bahan yang sangat berharga itu tidak diinginkan karena merugikan dan menimbulkan bau tak sedap, bahkan kesia-siaan.  Dalam tradisi kita, sangat tercela menyia-nyiakan makanan, apalagi dengan kesengajaan.

Karena itu kata pembusukan diaplikasikan pula pada memburuknya keadaan manusia yang bisa dalam arti luas (humanisme) maupun lembaga, kelompok, maupun perseorangan.  Dapat kita rasakan langsung bagaimana humanisme mengalami pembusukan melalui berbagai ideology filosofis dan pandangan hidup duniawi sehingga mengalami degradasi.  Falsafah Newtonian-Cartesian yang menurunkan pandangan antroposentris ini telah melahirkan faham materialisme, konsumtivisme, hedonisme, permisivisme, dan semacamnya.

Faham-faham yang mendewakan harta benda dan kesenangan duniawi ini mendorong terjadinya pembusukan peradaban manusia yang mestinya sebagai khalifah menjadi pihak yang membuat kerusakan di muka bumi.  Kapitalisme, kolonialisme, perbudakan, apartheisme menghalalkan perbedaan antar sesama manusia sehingga satu fihak berfoya-foya dengan kesenangan duniawi yang dihisapnya dari manusia lain yang mengalami pembusukan.  Kaum yang dibusukkan ini tidak dapat menjalankan misi kemanusiaannya dan akan menjadi bagian dari masalah.

Lembaga atau kelompok juga dapat mengalami pembusukan dengan tujuan melemahkannya.  Sesuatu pihak yang tidak suka dengan sebuah lembaga yang kuat bisa melakukan pembusukan dengan menggerogoti keunggulan, kekuatan, dan eksistensi lembaga itu.  Pembusukan juga dapat dilakukan dengan melemahkan manusia-manusia yang jadi tulang punggung atau penggerak dari lembaga itu.  Sebuah partai misalnya, musuhnya bisa jadi menyusupkan personil-personil yang tidak sejalan ideologinya atau untuk menyetirnya.  Lembaga dapat pula membusuk atau hancur apabila dikelola oleh orang yang meskipun secara manajerial hebat tapi bukan ahli dalam mainstream tugas pokok dan fungsi lembaga itu.  Seseorang yang potensial, berbakat, cerdik, dan berilmu juga bisa membusuk dengan pembunauhan karakter (character assassination).

Pembusukan yang secara makro sangat merugikan humanisme, komunitas, kelembagaan, dan perseorangan.  Sayangnya, tiap zaman tetap ada saja orang yang karena nafsu dan berbagai kepentingan non-Ilahiah dengan sengaja melakukan pembusukan yang sangat merugikan secara kolektif.  Tentu lah tidak semua orang bisa melakukan pembusukan dan bisa jadi karena kebodohan atau ketidaktahuannya akan tugas yang diberikan pada manusia di muka bumi.  Ketika ia seorang pemimpin, maka serta merta jadilah ia seorang yang tidak amanah dan zholim yang menyebabkan ia didera kelak dan terpapar pada akibat dari doa orang yang terzholimi. Naudzubillah.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 22 Juni 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

M a l u

Malu adalah satu perasaan yang ditanamkan dalam hati manusia.  Menurut http://www.artikata.com, salah satu maknanya adalah merasa sangat tidak enak hati (hina, rendah, dan sebagainya) karena berbuat sesuatu yang kurang baik atau kurang benar, berbeda dengan kebiasaan, mempunyai cacat atau kekurangan.  Jadi selain sebagai instrumen pengendalian diri antara seseorang dengan lingkungan sosialnya, rasa malu sangat terkait pada hubungannya dengan Sang Pencipta.

Dalam hubungan itu, tiap manusia memiliki kemerdekaan untuk memilih apakah akan patuh atau ingkar dengan aturan yang disodorkan padanya.  Tiap pilihan mempunyai konsekuensi; jika ingkar maka sanksi sudah menunggu, baik bersifat ukhrawi maupun sejak di dunia berupa bencana atau berbagai ketidakberuntungan.  Ketika seseorang atau suatu kaum sudah melampaui batas dan tetap saja melakukan kemungkaran maka kemurkaan Allah dapat muncul dalam bentuk bencana fisik yang tidak disangka-sangka atau dibinasakan dengan cara yang bukan fisik.

Berdasarkan sebuah hadits shahih riwayat Abdullah bin Umar bin Khattab disebutkan bahwa jika Allah murka dan ingin membinasakan seseorang maka salah satu cara adalah dicabut rasa malu dari dalam hatinya.  Akibatnya ia akan enteng melakukan hal-hal yang terlarang seperti menipu, berbuat curang, mengambil hak orang, melanggar susila, dan melawan hukum tanpa rasa malu.  Kalau dia sudah dalam keadaan amat sangat tidak punya rasa malu maka Allah akan mencabut amanah darinya.  Ketika sudah tidak amanah maka dia sudah tidak dapat dipercaya atau biasa dikenal sebagai munafik; dengan mudah dapat menyelewengkan kewenangan, memutarbalikkan fakta, lain kata dengan perbuatan, mau menggunakan cara-cara kotor dan jahat demi suatu kepentingan, memperturutkan hawa nafsu, dan sebagainya.  Jika ia terus menjadi orang yang sangat berkhianat maka akan dicabut pula rasa kasih sayang dari dalam hatinya.

Tanpa rasa kasih sayang maka ia akan menjadi orang yang terkutuk, terlaknat, dan dirajam di sisi Allah.  Dalam fasa ini ia tidak ragu lagi menyakiti, menyogok, merusak, melakukan kejahatan, dan bahkan membunuh.  Jika ia terus komit dan terbenam dalam kemungkaran demikian maka akhirnya Allah akan mencabut ikatan dan status Islam dari dirinya sehingga segala amal baiknya tidak akan diperhitungkan lagi.

Jadi, ketika kita banyak dosa namun tidak terkena bencana alam atau yang bencana bersifat fisik lainnya, jangan disangka kita tidak diberikan azab, siksa, musibah, ujian, atau teguran sehingga terus melakukan kemungkaran.  Sangat mengkhawatirkan jika yang dicabut rasa malu itu adalah orang yang berpengaruh atau secara kolektif sehingga akan terjadi pula kemungkaran kolektif yang akan melahirkan berbagai masalah yang luas dan tak habis-habisnya.  Jauh lebih berat siksa Allah yang akan membinasakan kita seperti yang digambarkan di atas karena bersifat lahir-batin dan dunia-akhirat.  Mari secara sabar dan berketerusan kita jaga rasa malu kita masing-masing karena kehilangan rasa malu adalah satu tanda murka Allah dan jadi pintu masuk ke kebinasaan yang menjadikan hidup kita sia-sia.  Naudzubillah.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 8 Juni 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

A p a t i s

Apatis sering diasosiasikan dengan suatu pemilihan umum legislatif atau kepala daerah yang hanya diikuti oleh sebagian pemilik suara.  Berasal dari bahasa Inggeris apathetic, kata ini berarti acuh tak acuh, tidak peduli, dan masa bodoh.  Ketidakhadiran para pemilik suara ke bilik-bilik Tempat Pemungutan Suara (TPS) sering dikatakan sebagai akibat dari sikap yang apatis.

Pada pemilukada Kota Pekanbaru tanggal 18 Mei 2011 lalu, tingkat partisipasi pemilih ternyata hanya sekitar 50 persen dari 536.113 pemilik suara.  Andi Yusran, seorang pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Riau, menengarai hal ini disebabkan oleh sikap apatis warga kota pemilik suara yaitu pandangan bahwa siapapun yang terpilih dari kedua pasang calon yang dianggap berkualitas hamper sama ini, tidak akan membawa perubahan dan pengaruh bagi para pemilih.  Adanya hari libur panjang menyebabkan kalangan menengah lebih memilih pergi liburan dan kalangan bawah yang pada umumnya pedagang tetap melakukan kegiatannya.

Sikap seseorang terhadap suatu kegiatan memang sangat tergantung pada rasa dan penilaiannya pada kegiatan itu, sejauh mana berguna baginya.  Sesuai dengan latar belakang dan paradigma berpikirnya, penilaian itu bisa berdasarkan pada manfaat langsung, popularitas, keuntungan komersial, kepentingan politik, atau hanya sekedar just for fun.  Orang Barat sering menambahkan lagi bahwa mereka baru mau melakukan apapun kalau suka atau menyenanginya.

Karena itu apatis adalah sikap yang tidak sesuai dengan visi dan misi kita, apa lagi kalau dikaitkan pula dengan hal duniawi seperti sekedar just for fun dan rasa suka atau senang tadi.  Bagi kita yang tidak hanya berorientasi pada dunia serta memiliki kekentalan sosial dalam bentuk tanggungjawab dan silaturrahim, melakukan sesuatu tentu berdasarkan panduan yang asasi lahir batin.  Kehadiran kita di dunia sudah diberi misi dan tugas mulia dengan kemerdekaan untuk memilih hitam atau putih, buruk atau baik.  Kualitas seorang manusia tidak hanya ditentukan oleh sebanyak apa ia berbuat, sehebat apa memenuhi kewajiban, dan tidak melakukan hal tercela tetapi juga seberapa banyak ia meninggalkan hal-hal yang tidak berguna.

Disini terlihat bahwa apatis mempunyai dua sisi kejelekan; kurang peduli pada kepentingan bersama yang lebih luas dan bisa jadi pula lebih mengutamakan hal  sendiri yang sepele, sia-sia, atau kurang berguna.  Sikap egois ini akan berpengaruh buruk dan menunjukkan kualitas pribadi kita sebagai manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika dihadapkan pada hal atau kegiatan penting seperti memilih pemimpin, apapun keadaannya mesti ditempuh dengan serius dan penuh tanggungjawab.  Jika tidak ada yang sesuai dengan kriteria, kita dapat memilih the best among the worst yaitu yang paling sedikit kekurangannya dan paling banyak kelebihannya.  Dalam segala hal, menyedikitkan mudharat dan memperbanyak manfaat bisa menyingkirkan sikap apatis supaya kita dapat ikut membawa kemaslahatan dan menjadi manusia yang amanah.  Insya Allah.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 1 Juni 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »