Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2011

HAI PEMUDA…!

Sejak bersumpah lantang
Sudah tak terbilang kali
Kau tegak dan mati…

Kau katakan bertumpah darah satu
Tapi hari ini…
Yang kau tumpahkan darah saudaramu sendiri
Darah yang telah menghanyutkan sikap kesatriamu
Yang menggantinya dengan syahwat tawuran
Meski dengan saudaramu dari kampung sebelah
Atau dengan teman se kampusmu

Yang menumbuhkan naluri merusakmu
Kendaraan yang lewat jadi tak tentu arah
Tempat mencari nafkah kau bumi hanguskan
Juga laboratorium tempat dosenmu meneliti
Bahkan kantor polisi!

Hai pemuda…!
Kau berikrar berbangsa satu
Tapi kau suka kita tercabik-cabik
Kebhinekaan kau perkosa
Ketenangan kau toreh
Penganut kau hasut
Harmoni kau susupi
Kadang…… Dorr!!!
Kau bunuh saudaramu
dan dirimu sendiri

Hai pemuda…!
Kau sebut kau berbahasa satu
Tapi apa nilai Bahasa Indonesiamu memuaskan?
Kau tak mengenal Sutan Takdir Alisyahbana
Tak tahu siapa Purwadarminta dan Badudu
Kedengarannya kau bising dengan logat asing
Lantang dengan kata yang dulu pantang
Bahasa ibumu pun kau jemu

Bagi kau bahasa kota lebih berharga
Kau lebih senang bahasa slank
Gokil ngomong Prokem
Bangga dengan bahasa gaul
Sekarang pakai bahasa layank

Oh pemuda…
Dari mana kau dapat semua itu?
Dari pengkhianat bangsa?
Atau mereka yang dulu juga pemuda?
Tidak…!!!
Pasti mereka tidak mengajarkannya

Memang, mungkin kau tak diwariskan sukma
Yang jujur dan ikhlas
Yang patriotik
dan kesatria

Wahai pemuda…..
Yang hari ini benar-benar belia
Dimana pun kau tegak
Sadar dan bangkitlah!!!
Pada pundakmu terpikul bangsa
Yang terseok-seok dirusak para pengkhianat

Ibu Pertiwi menunggu kedatanganmu
Memendam asa pada kecekatanmu
Pada kawalan hati nuranimu
Demi pemuda berikutnya
Atau kau juga kan mati sia-sia…!!!

Read Full Post »

Baliho

Baliho arti asalnya lembaran iklan berukuran besar yang isinya bombastis atau berlebihan.  Sebuah majalah di Barat dengan nama itu suka memuat berbagai informasi kejutan atau bahkan sensasi.  Bagi kita, baliho adalah media informasi yang relatif baru, seiring dengan berubahnya pandangan masyarakat bahwa jual kecap Nomor 1 sudah dianggap tidak tercela lagi.

Untuk menarik perhatian publik secara cepat dan luas, baliho memang efektif.  Mulanya kita melihat layar kain raksasa dengan tulisan besar sederhana yang dibentangkan di depan toko atau dinding bangunan untuk mengiklankan merek, produk, atau jualan obral (sale).  Meniru praktik periklanan global, muncul pula billboard dan teknologi cetak digital (digital printing) sehingga iklan media luar ruang mengalami metamorfosa yang signifikan.

Hari ini baliho berukuran raksasa; materialnya tahan cuaca dan dicetak full color lebih indah dari aslinya, seperti kata iklan.  Baliho dipajang dengan mencolok pada tempat-tempat strategis atau pada konstruksi yang sengaja dibuat untuk itu .  Banyak orang akan senang dirinya terpampang “se-gede gajah” dengan gurat-gurat buruk dan jerawat di wajahnya telah disapu digital printing.  Kegunaannya sejak sebagai layanan sosial-masyarakat, kepentingan komersial, pencitraan, sampai propaganda atau  kampanye politik yang justru nampaknya lebih dominan.

Sementara kepentingan komersial adalah lazim menurut ekonomi liberal, dalam era reformasi kebablasan ini pencitraan dan propaganda menyedot gepokan lembaran rupiah.  Ketika produk dagang membiayai mahalnya baliho komersial melalui aliran rupiah konsumen, kita tidak tahu bagaimana cara orang membiayai baliho pencitraan pribadi kelompok dan propaganda politik (non-komersial) yang lebih menonjolkan wajah mereka yang ingin  dikenal ketimbang pesan-pesannya.  Belakangan ini mulai muncul pula baliho non-komersial yang kita lebih tidak tahu lagi bagaimana mereka membiayainya, dengan wajah-wajah anak muda.

Sepintas memang tidak ada yang salah dengan wajah mereka di baliho itu, apalagi jika garis pengembangan diri dan aktualisasi pribadi mereka memerlukan peminat seperti pengajar, penceramah, artis, dan pelawak.  Namun ketika sebuah baliho menyorong-nyorongkan pipi dari seseorang yang hidungnya tak mancung, tentu orang akan mengernyit heran atau menyangka dia adalah seorang artis atau pelawak pendatang baru.  Apatah lagi jika person di baliho itu para pihak yang secara finansial belum mandiri.

Tampil di baliho bukanlah cara atau dari proses pengkaderan menuju ke kemandirian, khususnya bagi para muda.  Jika pembiayaan yang mahal itu bukan berasal dari jerih payah pribadi atau kolektif tapi masih menyusu ke mana-mana, berarti baliho telah dipakai sebagai jalan pintas yang kurang mendidik karena memajang wajah di baliho bukanlah suatu cara yang substansial.  Kita tentu lebih bahagia melihat generasi yunior kita maju dan berhasil karena berkarya nyata dalam mengukir masa depan mereka. Semoga.

(sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 19 Oktober 2011 halaman 4, juga dimuat di Notes akaun FB saya http://www.facebook.com/feizal.karim)

Read Full Post »

Prerogatif

PREROGATIF disebut-sebut setiap kali reshuffle kabinet, untuk menggambarkan kewenangan presiden dalam penentuan para menteri.  Berasal dari bahasa Latin, praerogativa artinya dipilih sebagai yang paling dahulu memberikan suara atau praerogativus yang berarti diminta sebagai yang pertama memberi suara atau praerogare diminta sebelum meminta yang lain. Dalam era demokrasi modern, hak prerogatif ini diuji terhadap kepentingan penyelenggaraan negara.

Dalam praktek kenegaraan kita, penentuan personil kabinet merupakan hak mutlak presiden.  Wajar jika presiden sebagai pemimpin hasil dari suatu proses politik menentukan para menteri pembantunya yang juga pejabat politik.  Janji kampanye ketika pemilihan merupakan program kerja jangka menengah atau dalam jabatan yang harus diwujudkannya.  Guna mendapatkan kinerja yang maksimal, presiden harus yakin dengan kompetensi dan kapabilitas para menteri.

Dalam kaitan inilah setiap kalinya presiden mesti teliti dan berhati-hati ketika memilih para pembantunya itu.  Dulu, Presiden Suharto mengambil langkah cerdas dan jitu dengan merekrut para guru besar atau tenaga profesional sesuai bidang masing-masing sehingga pada akhirnya beliau mampu pula memberi arahan kepada para pakar.  Dengan dominasi kekuatan dan kepemimpinannya yang didukung oleh para professional itu, beliau bisa menakhodai republik ini dengan laju dan progresif.  Indonesia bisa muncul dan cukup terpandang dalam pergaulan internasional, meskipun akhirnya “klepek-klepek” didera korupsi dan krisis politik. (more…)

Read Full Post »

Nyeleneh

NYELENEH mungkin tak ada kata padanannya yang pas dalam bahasa Melayu.  Kata sifat dari bahasa Jawa ini kurang lebih berarti lain sendiri atau berbeda dengan yang kebanyakan; banyak digunakan untuk menyatakan sifat perbuatan, sikap, penampilan, atau pemikiran seseorang yang berbeda sendiri atau tidak sama dengan orang lain dan bahkan bisa pula melawan arus.

Berbagai budaya nusantara mengajarkan kita sejak kecil untuk tidak melanggar pantangan atau melakukan hal-hal yang tidak dibiasakan orang yang sering disebut tidak elok, tabu, atau pamali.  Secara normal pun haruslah sopan, tertib, mengikuti norma, dan tidak mengambil perhatian orang dengan sengaja.  Sebagai contoh, di pesta dengan dress code batik, seseorang yang datang dengan jean dan kaus walaupun tidak melanggar susila tentu ia dianggap nyeleneh.

Meskipun berkonotasi negatif, tapi banyak orang tidak malu jadi orang nyeleneh yang bisa jadi dibaca sebagai eksklusif.  Zaman sekarang, banyak kita jumpai hal yang dulu tidak lazim jadi biasa saja atau bahkan jadi kebanggaan.  Makin ekslusif suatu pakaian atau aksesori, maka makin dikejar orang.  Penampilan atau dandanan aneh seperti pada komunitas punk, juga bisa dianggap jadi life style. (more…)

Read Full Post »

A n g k o t

ANGKOT disingkat dari angkutan kota yang dipakai awam untuk menyebutkan alat transportasi umum jenis kendaraan bermotor roda empat bukan bus.  Populer sejak di daerah urban sampai rural, nampaknya angkot sarat dengan berbagai permasalahan. Kurangnya sentuhan otoritas secara mendasar dan konsepsional terhadap angkutan umum di perkotaan telah mulai meledakkan bom waktu masalahnya.

Sebagaimana dilaporkan koran Media Indonesia 23 September 2011, beberapa waktu lalu telah terjadi dua kasus pelecehan seksual terhadap wanita penumpang angkot di Jakarta.  Setelah diperkosa preman angkot di dalam kendaraannya yang tetap dijalankan, seorang korban ditemukan tewas.  Atas kejadian ini, reaksi otoritas berkenaan sangat beragam, sejak komentar aneh sampai operasi antisipatif.

Seorang petinggi Jakarta menyalahkan para wanita yang berpakaian mini!  Betul bahwa wanita yang tidak menutup aurat dengan baik akan mengundang berbagai resiko, namun esensi masalahnya adalah sistem transportasi di Jakarta yang tidak aman dan nyaman.  Ada pula saran konyol agar para wanita yang pulang telat menumpang mobil pribadi atau kendaraan petugas keamanan yang disediakan entah sampai kapan. (more…)

Read Full Post »

Gurindam 11

Apa tanda Melayu khianat
Menjaga amanah tiada minat

Apa tanda Melayu munafik
Kata dan laku terbalik-balik

Apa tanda Melayu pembohong
Cakap janjinya bolong-bolong

Apa tanda Melayu kikir
Sedekah ia selalu mangkir

Apa tanda Melayu degil
Lakunya macam budak kecil

Apa tanda Melayu lalai
Shalat lambat kerja terbengkalai

Apa tanda Melayu tak berbudi
Membalas jasa ia tidaklah sudi

Apa tanda Melayu lemah
Pada yang dipimpin ia kalah

Apa tanda Melayu palsu
Shalat dan mengaji tiada tahu

Apa tanda Melayu rakus
Apa dilahap sampai ke kakus

Read Full Post »

Gurindam 10

Apa tanda Melayu khianat
Menjaga amanah tiada minat

Apa tanda Melayu munafik
Kata dan laku terbalik-balik

Apa tanda Melayu pembohong
Cakap janjinya bolong-bolong

Apa tanda Melayu kikir
Sedekah ia selalu mangkir

Apa tanda Melayu degil
Lakunya macam budak kecil

Apa tanda Melayu lalai
Shalat lambat kerja terbengkalai

Apa tanda Melayu tak berbudi
Membalas jasa ia tidaklah sudi

Apa tanda Melayu lemah
Pada yang dipimpin ia kalah

Apa tanda Melayu palsu
Shalat dan mengaji tiada tahu

Apa tanda Melayu rakus
Apa dilahap sampai ke kakus

Read Full Post »