Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2012

Ayah

Alm ayah kami Abdul Karim Effendy (1 Jul 1921-7Nov 2012)(Dimuat di Riau Pos tanggal 14 November 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

AYAH umumnya dipakai untuk sebutan atau panggilan pada orangtua laki-laki dari seseorang yang secara biologis bertalian darah atau formalnya disebut ayah biologis.  Selain itu ayah juga dipakai untuk panggilan pada orangtua angkat, orangtua asuh, atau orang yang dituakan dalam satu tingkat generasi.  Zaman sekarang panggilan itu bisa pula menjadi papa, papi, bapak, daddy, abah, atau abu yang semuanya bermuatan penghormatan.

Meskipun penghormatan kepada ibu bobotnya tiga kali lipat dari pada  kepada ayah, dalam keluarga ayah tetap menjadi sosok yang utama atau figur sentral.  Sebagai kepala keluarga, seorang ayah mempunyai banyak peran yang sangat penting dalam rumah tangga bagi isteri dan anak-anaknya.  Ayah adalah tulang punggung keluarga yang sekaligus pendidik dan sosok tauladan bagi anak-anaknya.  Apapun status dan kapasitasnya, kehadiran ayah memberikan rasa aman, nyaman, berkecukupan, dan terlindungi bagi rumahtangganya masing-masing.  Insya Allah, segenap keluarganya akan mengenang jasa, kebaikan, dan keteladanan itu dengan indah kelak ketika sang ayah sudah tiada. (more…)

Read Full Post »

K-Pop

(Dimuat di Riau Pos tanggal 7 November 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

K-POP adalah abreviasi dari Korean Pop Music yang merupakan genre baru musik pop yang bermula di Korea Selatan, salah satu negeri maju di Asia.  Tidak hanya sekedar musik pop tapi itu sudah menjadi subkultur yang melanda para remaja dan dewasa muda di seluruh dunia. Tanpa maksud mempromosikan, demam budaya pop Korea berupa musik, sinetron, filem, dan berbagai item yang serba Korea, perlu jadi perhatian kita karena telah melenakan remaja kita.

Wabah budaya pop Korea mulai merebak keluar sekitar tahun 1992.  Para idola remaja mereka memberi warna baru pada musik pop yang terdiri dari tarian, nyanyian, dan aliran musik yang riang dengan perkuatan alat serba elektronik, kostum, serta disain panggung yang nyambung dengan budaya pop.  Melalui jejaring media sosial yang bangkit tahun 2000an, demam Korea ini dengan cepat melanda kawasan Pasifik, Amerika, Eurasia, Afrika Utara, dan juga negeri kita. (more…)

Read Full Post »

Masalah

(Dimuat di Riau Pos tanggal 31 Oktober 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

MASALAH yang sering kita sebut tak akan kita tinjau dari mana asal katanya tapi kandungan maksudnya.  Kita sering memahami masalah sebagai sesuatu keadaan yang memusingkan atau tidak kita sukai sehingga harus dicari penyelesaiannya.  Dipadankan pula dengan kata persoalan dan problem yang berasal dari Bahasa Inggris, kata masalah yang artinya sering berbelok jadi insiden atau gangguan, pemahaman artinya sangat penting untuk penyelesaian tadi.

 Tepatnya, masalah adalah sesuatu perbedaan antara apa yang diharapkan dengan apa yang terjadi atau didapat.  Perbedaaan ini turun dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang bisa berantai dan terakumulasi menjadi kerugian yang lebih luas karena terkait dengan manusia, waktu, dan sumberdaya, termasuk yang non-material.  Sangat banyak variabel yang mempengaruhi dan sedemikian banyak pula yang tidak dalam kendali kita sehingga kita memang tidak akan pernah lepas dari masalah.  (more…)

Read Full Post »

Ranah

(Dimuat di Riau Pos tanggal 24 Oktober 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

RANAH sangat kuat konotasinya dengan Minangkabau karena memang dari sana lah populernya kata ini yaitu Ranah Minang untuk menyebutkan tanah Sumatera Barat umumnya.  Menurut laman minang.wikia.com, hampir bersamaan dengan luhak dan rantau, ranah adalah daerah atau tanah rendah yang landai dan luas yang berakhir hingga ke perbukitan.

 Sementara ranah berkaitan dengan ruang seperti kampung, nagari, dan alam Minangkabau itu sendiri, Bahasa Indonesia memakai kata ini sebagai terjemahan dari domain yang lebih berkonotasi batas atau lingkungan, misalnya ranah hukum.  Bahasa Melayu mengenal ranah sebagai pasangan majemuk dari punah. Bagi yang akrab dengan bahasa Minang, penggunaan demikian terasa kurang pas namun kita tidak akan membahas ini lebih jauh.

 Ada hal menarik lain yang terasosiasi pada kata ranah itu dalam konteks kutural orang Sumatera Barat umumnya: Ranah Minang adalah tanah dimana kasih sayang Allah tumpah.  Itu ditandai dengan alamnya yang subur, indah, dan sejuk sehingga meski tanpa dukungan sumberdaya migas dan mineral yang berlimpah penduduk Sumetera Barat bisa hidup berkecukupan dari pertanian, perdagangan, dan jasa.  Ketika “kampung tengah” sudah aman, tentu orang akan berpikir tentang pendidikan, agama, dan kebutuhan sekunder lainnya sehingga negeri ini sejak dulu terkenal pula dengan cerdik pandainya yang beresonansi pada kemajuan negeri.

 Kemajuan dan kesejahteraan itu dipercaya karena negeri terjaga oleh adat yang bersendikan syarak (syariat Islam) dan syarak bersendikan Kitabullah (Al-Quran) dengan para pemimpin, ulama, dan tokoh adat yang bak tali berpilin tiga.  Ninik-mamak dan anak-kemenakan seiya sekata; bulat air dek pembuluh bulat kata dek mufakat, seciap bak ayam sedencing bak besi.   Adat mengatur tutur dan tegur, syariat memagari negeri.

 Namun sebagaimana Aceh yang juga berusaha mengawal diri dengan syariat dan menyebut diri Serambi Mekah, kawasan Ranah Minang sering porak poranda karena bencana alam.  Apakah bencana-bencana itu semata karena alasan rasional berupa bawaan alam yang dekat dengan sesar lempeng dan patahan bumi serta kemiringan daratannya yang terjal?  Apakah ada kaitannya dengan pagar tadi yang mungkin juga lekang dek panas dan luntur dek hujan sehingga terjadi degradasi nilai dan dekadensi moral yang relatif deras?  Bagi kita di Bumi Melayu ini, meskipun tidak dalam daerah sumber gempa, apakah tidak mungkin rongga-rongga bekas minyak bumi runtuh, kita dilanda kemarau yang dahsyat, atau diserang wabah penyakit menular yang ganas?

 Naudzubillah, kita memang tidak bisa menafikan potensi bencana karena bisa timbul dari arah dan waktu yang tidak terduga yang semuanya sangat tergantung pada Yang Maha Kuasa.  Secara Sunnatullah segala keburukan yang kita alami adalah resultante komprehensif dari semua aktivitas pribadi dan kolektif kita.  Tak selesai-selesainya masalah bangsa kita, bisa jadi karena kita lalai menjaga alam, berlaku zhalim dengan sesama, dan bangga dengan kemungkaran sehingga kasih sayang Allah tak tumpah di ranah Indonesia.  Karena itu, mari kita kembalikan ke keimanan; jadikan masalah dan bencana sebagai peringatan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang agar kita menyadari kekurangan, berbenah diri, dan lebih banyak berbuat baik.

Read Full Post »

Pasca

(Dimuat di Riau Pos tanggal 17 Oktober 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

PASCA yang belum lama masuk dalam perbendaharaan bahasa kita, adalah kata terikat yang berasal dari Bahasa Sansekerta dengan arti sesudah atau setelah.  Kata berantonim pra ini rasanya mulai sering dipakai dalam dunia pendidikan sekitar tahun tujuhpuluhan sebagai padanan kata Inggris postgraduate yang menjadi pascasarjana.  Pemakaian kata ini masih sering keliru; dalam pengucapan sering menjadi paska, penulisannya tidak diikatkan ke kata ikutannya, dan kata bentukannya mestinya kata sifat berubah menjadi kata benda..

Sejak era klompencapir kata ini jadi lebih populer karena sering dipakai dalam bentuk pascapanen, pascaproduksi, dan pascakelahiran.  Lalu berkembang pula dalam lingkup lain seperti pascakonstruksi, pascapemilu, pascajual, pascabayar, dan sebagainya.  Kata sifat bentukan ini penuh makna bila telah masuk dalam konteksnya seperti: fitur pascabayar, pelayanan pascajual, rekonsiliasi pascapemilu, dan pemeliharaan pascakonstruksi. (more…)

Read Full Post »