Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2012

bersyukur-kepada-allahBeribu tahun silam, ketika alam berbalut kelam

Ketika adab masih merayap

Manusia tak kenal Penciptanya

Pagan jadi pegangan

Mistik dan syirik menyelisik

Yang maya direka-reka

Sang surya jadi dewa

Berhala didaulat pemberi rahmat

Gunung dan lembah disembah

Jembalang dijadikan penerang

Para tiran mengaku tuhan

Para Nabi dibenci

Nubuwah dibantah

Ajaran suci dimanipulasi

Sang Pesuruh bahkan dibunuh

Hidup sebatas redup

Yang kuat mengikat, yang lemah menyerah

Lambang-lambang berkembang

Pikir mengecil kerdil

Akal budi berpayah dalam jahiliyah…

Lebih seribu empat ratus tahun lalu

Datanglah Rasulullah utusan Allah

Tauladan pembaharu pengemban wahyu

MengEsakan yang disekutukan

Berhala yang dituhankan diruntuhkan

Segala syirik dikerik

Yang keliru diberitahu, yang salah diberi risalah

Yang taubat jadi sahabat, yang tertindas jadi bebas

Yang gelap jadi mengkilap, yang kurang jadi benderang

Yang tak pandai mencari jadi pemberi

Dari Timur sampai Maghribi

Tanpa peduli kulit melilit

Satu akidah menyembah Allah

Apa yang kita temui hari ini?

Ajaran iman atau warisan pagan?

Atau keduanya lentur tercampur?

Hanya Al-Furqan dapat membedakan

Bersama hadits yang kan mengikis

Agar kita tetap dalam ma’rifat

Ya Allah, berilah kami maghfirah

Kami dhoif dan penuh khilaf

Mohon ridhoMu membuka pintu Jannah.

Advertisements

Read Full Post »

P a g a n

(Dimuat di Riau Pos tanggal 26 Desember 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

PAGAN yang tidak begitu akrab dengan telinga kita memang berasal dari kata asing untuk menamakan orang atau kelompok yang mempercayai banyak tuhan (polytheism) pada zaman kuno.  Menurut sejarah kuno, orang di Mesir, Yunani, Romawi, Amerika Latin, Arab jahiliyah, India, dan Asia Timur mempercayai benda-benda alam dan dewa-dewi sebagai tuhan seperti dewa matahari, dewa api, dewa angin, dan sebagainya yang lalu mereka sembah dalam bentuk berhala atau simbol-simbol yang disebut dengan paganisme.

Kepercayaan ini umumnya menjadikan matahari sebagai entitas sentral dalam sembahan, baik di Barat maupun di Timur.  Suku-suku kuno sejak dari Mesir dan Romawi kuno sampai suku Maya dan Aztec di Amerika Latin, serta dari Jepang (Amaterasu) hingga India (Batara Indra) menyembah dewa matahari.  Persilangan cahayanya melahirkan simbol sembahan dan Sunday (hari matahari ) sebagai waktu sembahan para pagan kuno.

Paganisme kuno mengenal pula adanya wujud tuhan dengan sifat bagaikan manusia yang punya keturunan.  Mereka percaya akan kelahiran anak dewa matahari dalam bulan Desember yang di benua Eropa saat itu tentulah penuh dengan salju.  Konsep serupa diduga turun pula dari kisah anak dewa Atargatis yaitu Ratu Semiramis yang memerintah Syria 824-811 SM.  (more…)

Read Full Post »

M o d a l

modal-usaha-300x300(Sudah dimuat pada kolom Makna di Harian Riau Pos hari Rabu tanggal 19 Desember 2012 halaman 4, juga dimuat di blog https://riau2020.wordpress.com)

MODAL sangat bercitra uang dalam jumlah besar untuk melakukan usaha.  Padahal untuk melakukan usaha, modal bisa berupa uang, aset, dan intellectual property sebagai pokok yang bisa dipakai untuk berniaga atau menghasilkan sesuatu untuk menambah jumlah kepunyaan.  Karena itu lah kebanyakan green horn terpaku bahwa tidak mungkin “berusaha tanpa modal”.

Topik yang sudah beberapa kali mengemukakan di depan para pengusaha kecil Pekanbaru ini akhirnya sampai ke para mahasiswa Matematika Universitas Riau yang menjadikannya topik kuliah umum 15 Desember lalu.  Sangat istimewa peran para pembimbing mereka dan pemilihan topik ini sebagai upaya untuk memunculkan wawasan entrepreneurships atau kewirausahaan para mahasiswa science yang bukan termasuk kelompok bisnis itu.

Bukan suatu hal yang mudah untuk membongkar mindset kita bahwa usaha mutlak tergantung modal.  Apalagi modal sudah berkonotasi ke kelompok tertentu dan kelembagaan keuangan yang mempunyai image sulit diakses orang kecil atau pemula.  Untung kita bisa mengutip berbagai pengalaman orang yang sudah pernah dan berhasil membangun usaha yang dimulai tanpa modal. (more…)

Read Full Post »

H o k i

dadu(Dimuat di Riau Pos tanggal 12 Desember 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

HOKI dalam percakapan kita sehari-hari bisa berarti sejenis olahraga atau yang berasal dari bahasa Cina yang berarti nasib atau peruntungan.   Arti hoki yang kedua banyak dipakai ketika orang mengaitkan keberhasilan atau kegagalan bukan pada Allah Swt tetapi pada suatu benda atau makhluk lain.  Ada yang mengaitkan peruntungan dengan letak rumah atau bangunan, nama, binatang peliharaan, benda-benda yang dipakai, warna, pemilihan hari untuk memulai kegiatan, dan sebagainya.

Mungkin kita pernah menjumpai kejadian demikian namun secara hakiki itu bukan lah karena hoki atau tidak hokinya sesuatu itu.  Keberuntungan yang dikaitkan dengan sesuatu bisa jadi suatu kebetulan, kearifan lokal atau hukum alam yang empiris atau dengan pertolongan syetan yang dalam bahasa agama disebut istidraj.  Yang pasti tiada sesuatu seperti sehelai daun yang jatuh ke tanah sekali pun tanpa diketahui dan seizin Sang Maha Kuasa. (more…)

Read Full Post »

Investasi

investasi

(Dimuat di Riau Pos tanggal 5 Desember 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

INVESTASI merupakan istilah yang berkaitan dengan keuangan dan ekonomi yaitu berupa akumulasi aktiva atau kekayaan yang dapat dinilai dengan uang yang dengannya diharapkan akan mendapatkan keuntungan di masa datang.  Hal ini berarti pengadaan barang atau alat untuk memproduksi barang yang akan dipakai berikutnya seperti pembangunan jalan tol atau hotel.  Menurut sifatnya, investasi bisa berupa non-residential seperti pembelian barang produksi atau residential seperti rumah.

Aktivitas ekonomi yang dikenal sebagai penanaman modal ini, berkaitan dengan pendapatan dan tingkat bunga.  Sesuai dengan karakter ekonomi konvensional, peningkatan pendapatan akan mendorong investasi dan kenaikan suku bunga akan menurunkan minat pemodal.  Hal ini sangat terlihat dalam format investasi portofolio, sementara prinsip syariah lebih terarah pada sektor ril yang akan mendorong pergerakan ekonomi sampai pada skala  negara atau regional.  (more…)

Read Full Post »

A s e t

Image

(Dimuat di Riau Pos tanggal 28 November 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

ASET yang asalnya dari kata asset dalam Bahasa Inggeris sudah biasa dipakai dalam lingkungan akutansi dan sekarang sudah menjadi kelengkapan percakapan sehari-hari.  Ketika orang berurusan dengan harta benda maka muncul kata aset yang berarti sesuatu sumberdaya bernilai ekonomi yang dimiliki dan dikendalikan oleh perorangan, kolektif, atau lembaga yang mengharapkan dapat keuntungan dari padanya.

Sesuatu itu bisa berupa sumberdaya fisik, kekayaan intelektual, potensi manusia, atau nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat.  Dari sisi pandang ekonomi aset bisa diubah menjadi uang kontan seperti harta benda, tabungan, tagihan, persediaan, dan bahkan kelayakan yang prospektif.  Aset juga dapat dikategorikan sebagai aset jangka pendek, jangka panjang, yang ditangguhkan, dan yang bersifat intangible seperti merek dagang, paten, hak edar, atau sejenisnya.

Pengertian ini kedengarannya cukup kompleks karena kita sudah terbiasa dengan gambaran bahwa aset adalah sekedar harta benda atau kekayaan materil berupa bangunan, lahan, atau kendaraan.  Entah karena sifat manusia yang cenderung cepat puas, kita kurang perhatian pada konsekuensi logis atau tindak lanjut dari keberadaaan aset itu.  Setelah memilikinya, kita sering lupa pada pemanfaan aset secara maksimal, pemeliharaannya, dan berhenti pula ketika ia rusak atau hilang yang semuanya akan menimbulkan kerugian yang berlipat.  Tak terkira pula kerugian kita bila yang hilang itu aset budaya atau intelektual.

Bisa jadi karena itu pula kita mengelola aset baru sekedar secara sederhana membuat daftar invetarisasi aset yang dilakukan oleh unit yang dianggap tidak penting.  Padahal inventarisasi itu baru bagian kecil dari manajemen aset yang sebenarnya merupakan pekerjaan yang tidak sederhana.  Masih ada lagi aktivitas yang terkait secara komprehensif pada pemanfaatan aset dan melalui pendekatan entrepreneurship bagaimana dapat memberikan nilai tambah pada sistem.

Dalam realitanya, sering muncul kerugian yang besar akibat salah kelola aset atau manfaatnya tidak bisa dimaksimalkan; apakah produktivitas aset masih baik, kapan pemeliharaan berkalanya, apakah sudah harus diganti, dan diganti dengan jenis apa adalah beberapa pertanyaan yang baru bisa dijawab dengan tepat bila kita memiliki informasi/data yang cukup dan baik.  Dengan informasi/data ini juga kita juga dapat mengetahui dengan cepat potensi atau jumlah kerugian bila terjadi bencana. 

Bila kita kembalikan pula kepada Yang Maha Memiliki, pengelolaan aset secara baik dan benar merupakan manifestasi dari kepatuhan kita, baik sebagai individu maupun secara kolektif.  Selain menghindarkan kesia-siaan yang merupakan kelakuan yang dilaknat, pemanfaatan aset secara optimal merupakan bentuk rasa syukur kita atas apa yang telah kita capai.  Kita juga tidak hanya pandai membangun atau belanja tapi juga pandai memanfaatkan dan memelihara apa yang kita punya.  Semoga kita terhindar dari sanksi akibat tidak pandai berterimakasih padaNya.

Read Full Post »

Stereotype

(Dimuat di Riau Pos tanggal 2stereotype1 November 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

STEREOTYPE tergolong kata baru dan spesifik dalam bahasa lisan kita.  Ketika mengikuti Predeparture Program untuk pergi belajar ke luar negeri tahun 1989 dulu, seorang fasilitator asing menjelaskan kata yang banyak dipakai dalam lingkup ilmu sosial ini.  Pembekalan sosiologi yang antara lain memuat tentang stereotype ini memang perlu apabila kita ingin memahami suatu kelompok orang atau sosial budayanya.

Meskipun tidak mudah memahami makna stereotype ini, namun akan sangat membantu untuk melihat perbedaannya dengan diri kita.  Dalam literatur kata ini diartikan sebagai penilaian satu pihak atas seseorang hanya menurut pemahaman atau persepsi kita pada kelompok dari mana dia berasal.  Defenisi ini merupakan sebuah jalan pintas pemikiran intuitif  untuk menyederhanakan kompleksitas dalam pengambilan keputusan sehingga konotasinya lebih berat ke arah negatif. (more…)

Read Full Post »