Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2013

Ibukota

pindah ibukota(Dimuat di Riau Pos tanggal 30 Januari 2013 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

Ibukota adalah kota terpenting dalam suatu wilayah kekuasaan, sebagai pusat pemerintahan, pengambilan kebijakan strategis, dan pengendalian hajat hidup orang banyak.  Tak dapat dipastikan kenapa tidak dipakai kata ayah atau bapak dan apakah kata ibu dipakai karena ia figur stasioner dan harus dihormati tiga kali lipat dibanding bapak.  Ibukota negara, biasanya kota terbesar yang jadi pusat pemerintahan dan kegiatan sosial-ekonomi atau bisa juga hanya sebagai pusat pemerintahan.

 Dalam catatan, ada beberapa negara yang pernah memindahkan ibukotanya dengan berbagai alasan.  Karena kepadatan penduduk dan tidak tertib, Brazil tahun 1960 memindahkan ibukotanya dari Rio de Janeiro ke Brasilia dengan susah payah dalam dua dekade lebih.  New Delhi yang berada dalam wilayah yang sama dengan Delhi jadi ibukota baru India pada tahun 1911.  Tahun 1913 Canberra yang punya taman kota dan danau besar jadi ibukota baru Australia berdasarkan hasil sayembara dan sering jadi contoh sebagai salah satu kota dengan perancanaan tataruang terbaik di dunia.

 Pemindahan ibukota Pakistan dari Karachi ke Islamabad tahun 1960 dan ibukota Inggris dari Winchester ke London tahun 1066 dinilai berhasil.  Keberhasilan pemindahan dua ibukota ini karena telah dipersiapkan terlebih dahulu dengan baik secara fisik dan sosial sehingga tidak menimbulkan gejolak yang berarti.  Selanjutnya kedua kota ini telah berkembang dengan sangat pesat menjadi kota besar yang baik dan maju di dunia.

 Di negara kita, sebagai akibat kekecewaan terhadap masalah kemacatan dan banjir besar tahun 2007 dan Januari 2013 ini, telah dibangkitkan lagi wacana untuk memindahkan ibukota negara dari Jakarta.  Sebagai kota proklamasi, pusat gerakan revolusi, dan penyebaran ideologi Pancasila ini, Jakarta secara resmi menjadi ibukota negara dengan UU Nomor 10 Tahun 1964.  Memang, dengan berbagai masalah dulu sudah pernah ada wacana untuk memindahkan ibukota ke Palangkaraya sebagai calon kota yang banyak disebut karena dinilai berada di tengah-tengah wilayah nusantara.  Pemilihan itu dengan pertimbangan geospasial, geopolitik, dan potensi sosial ekonomi.

 Menurut DR Sonny Harry Budiutomo Harmadi, Kepala Lembaga Demografi FE UI, sebagai rujukan awal suatu daerah dapat jadi ibukota RI bila memenuhi enam syarat.  Pertama, kota itu harus memiliki jaringan infrastruktur yang baik dan terhubung dengan pusat aktivitas politik.  Kedua, kepadatan penduduknya relatif rendah, dan ketiga, masih memungkinkan untuk dikembangkan dalam jangka panjang.  Keempat, secara geografis berada dalam daerah dengan resiko bencana yang relatif rendah.  Kelima dan keenam, dalam perspektif hankamnas aman dan resiko instabilitas sosial politik juga relatif rendah.

 Secara teknis pula, kota yang baik adalah yang tataruangnya baik dan infrastrukturnya memadai untuk melayani penduduk dan kepentingan kota.  Zonasi dan komponen kota seperti fasos fasum serta infrastruktur harus berfungsi dengan baik.  Selain di luar zona bencana alam, pasokan air bersih dan listrik tentu harus cukup.  Ini tentu tidak bisa instan tapi harus dengan kajian kelayakan yang holistik dan perlu persiapan suprastruktur dan fisik secara komprehensif, baik, dan terpadu.

 Layakkah wacana Pekanbaru sebagai ibukota pengganti Jakarta?  Dengan kriteria diatas, sepintas kita sudah  bisa menempatkan itu antara keinginan dan potensi.  Apapun, itu masih memerlukan kemampuan manajemen, waktu, dan biaya yang tidak sederhana.  Itupun kalau kita telah punya roadmap untuk menyejahterakan rakyat, rasanya kita mampu, dan akan maslahat secara luas.

Read Full Post »

Modern

Image

(Dimuat di Riau Pos tanggal 23 Januari 2013 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

Modern sering terkacaukan dengan western dalam persepsi yang kurang tepat.  Sering itu dianggap sebagai kemajuan kebendaan dalam wujud bangunan yang besar dan mewah, kendaraan yang mahal, peralatan serba otomatis, cara berpakaian berjas-dasi yang pada zaman kita ini memang diperkenalkan oleh orang Barat (West).  Ikutannya adalah budaya western yaitu perilaku Barat yang disalin tanpa tahu esensinya dan mengabaikan kesesuaiannya dengan budaya sendiri.

Berbeda dengan konteks westernisasi, arti asal modern adalah sifat yang sangat terkait ke waktu sekarang dan mutakhir, sebagai kebalikan dari yang berpegang pada masa lalu.  Ia bisa juga berarti orang yang mendorong atau meninggalkan pandangan lama yang tak menguntungkan peradaban dan  martabat manusia yang hakiki.  Dalam kata ini terkandung makna terjadinya perubahan dan kemajuan menjadi lebih baik dalam arti sesungguhnya seiring dengan perjalanan waktu. (more…)

Read Full Post »

G a p

Image

(Dimuat di Riau Pos tanggal 16 Januari 2013 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

GAP yang berarti lubang atau rongga di antara dua sisi benda, lebih banyak kita pakai untuk menyebutkan adanya jarak antara dua benda atau keadaan yang mestinya tersambung.  Diskontinuitas itu membawa atau potensial menimbulkan masalah bagaikan jalan yang masih dipisahkan oleh sungai atau kurangnya ketersediaan pangan atau energi.

Dalam hidup kita memang menjumpai banyak sekali gap itu.  Sejak dari rumah, lingkungan tempat tinggal, sekolah dan universitas, sampai ke masyarakat atau kehidupan bernegara, pasti ada kesenjangan antara harapan dan kenyataan yang menuntut usaha tiada henti dan tanpa lelah.  Keberhasilan kita bukan diukur dari lebar atau sempitnya gap, kelengkapan peralatan, atau banyaknya sumberdaya, tetapi dinilai dari usaha yang kita lakukan dan tentu capaian hasilnya. (more…)

Read Full Post »

T e r o r

penembakan - berita

(Dimuat di Riau Pos tanggal 9 Januari 2013 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

TEROR yang aslinya dari Bahasa Perancis terreur atau Latin terror berarti sesuatu yang menebar ketakutan yang sangat, menimbulkan was-was, membuat kengerian atau kegemparan. Menurut Wikipedia dan kamus Merriam Webster lebih lanjut, dalam era modern ini teror adalah aksi kriminal atau tidak syah berupa kekerasan seperti pembomam dan penembakan terhadap sasaran tertentu atau yang dipilih secara acak untuk membangkitkan ketakutan awam sebagai alat penekan agar keinginan pelakunya dipenuhi.

Pelaku teror yang disebut teroris bisa terdiri dari satu orang atau kelompok dengan basis politik lemah atau termarjinalkan dalam sistem kesejahteraaan umum.  Di lain pihak, masih menurut Wikipedia, teror biasa dipraktikkan pula oleh pemerintah dan aparat penegak hukum dalam kerangka legal kenegaraan.  Dalam konteks terakhir ini dikenal terminologi red terror untuk menyebutkan penekanan yang dilakukan oleh para pejuang atau pemberontak dan white terror untuk yang dilakukan oleh pemerintah yang menindas. (more…)

Read Full Post »

Countdown

Image

(Dimuat di Riau Pos tanggal 2 Januari 2013 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

COUNTDOWN adalah kata Inggris yang asalnya terdiri dari count dan down yang gabungannya diartikan sebagai hitung mundur.  Biasanya hitung mundur yang bisa dalam bilangan hari, detik, atau satuan waktu lainnya ini dimulai dari angka tertentu untuk menunjukkan sisa waktu atau berakhirnya batas waktu sebelum melakukan sesuatu kegiatan atau sebuah event penting seperti peluncuran pesawat antariksa atau peledakan di tambang.

Dari arti katanya, countdown justru awal dari peluncuran kegiatan  yang didahului dengan kerja keras untuk perencanaan yang konsepsional, persiapan yang matang, dan implementasi yang efektif.  Countdown adalah simbol dari keberhasilan tahap awal yang mana puncaknya adalah ketika tujuan dari kegiatan atau event telah tercapai. (more…)

Read Full Post »