Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2013

ojol2“Assalamu alaikum,” sapa Atan ketika sampai dekat guru Pudin dan Awang berbincang.

“Alaikum salam,” jawab mereka hampir serentak. “Bawa apa kau Atan, untuk kambing kau tu?”canda Awang melihat Atan menenteng sebuah kantong plastik belanjaan.

“Dari kedai Mak Joyah. Bukan untuk kambing, tapi  rempah-rempah untuk bumbu nasi goreng.  Kalau suka, nanti bolehlah bang Pudin dan kau coba nasi goreng kambing masakanku.”

“Kan sekarang ada bumbu jadi, Tan?” tanya Pudin

“Tak ada di kedai Mak Joyah tu, bang.  Barang di kedai tu pun nampaknya makin susut,”

“Apa pasal agaknya?” pintas Awang cemas karena dia ikut menanamkan modal pada Mak Joyah.

“Apa karena kalah harga dengan kedai si Asun di kampung sebelah tu?” Tanya Pudin pula.

“Aku lihat kedai Asun itu pun sekarang lebih lesu dari biasa sejak ada toko swalayan baru yang namanya pakai mart di tepi kampung sebelah tu.”

“Ooo pasti lah tu! Kedai-kedai ini salah sendiri, jual barang lebih mahal. Rasa lah mereka lawan toko yang modal dan jaringannya sangat kuat ni.  Mana tahan?” potong Awang ketus.

“Berarti toko swalayan tu kurang bawa maslahat ya?” Tanya Pudin.

“Lebih baguslah bang, kita bisa belanja lebih murah.  Toko tu pun menampung beberapa orang kerja disitu.  Izin toko itu mesti lah mempertimbangkan berbagai hal,” kata Awang yakin.

“Kau ini memang lah pedagang ojol neolib, Awang!  Cakap kau pun macam orang humas kantor bupati pula. Ya tak, bang?” komentar Atan.

“Apa pula kaitan aku dengan salib? Eh apa tadi? Norit obat mencret tu?”  Tanya Awang heran.

“Neolib, dari kata neo liberal yang artinya faham kebebasan yang baru. Itu dipakai juga dalam ekonomi,” jelas Pudin. Lalu ia melanjutkan: “Dari sudut pandang yang disebut Awang tadi ada betulnya. Tapi kita kan harus memandang suatu hal itu secara menyeluruh dan tidak hanya dengan aturan materil.  Kita harus jeli melihat dampak buruk yang timbul dibandingkan maslahatnya. Baru saja toko swalayan itu buka, paling tidak sudah dua kedai kampung lesu, mungkin kedai-kedai di kampung sebelah sana juga.  Bukan hanya pegawai yang biasanya sanak famili mereka, pengusaha kedai tu pun bisa hilang pencarian.  Sementara, pemilik swalayan itu pemodal kuat yang sudah lebih dulu sejahtera.  Jadi kehadiran toko swalayan mart itu rasanya tidak pas buat rasa keadilan ekonomi rakyat kita.  Kalau kedai-kedai tu mahal, orang-orang yang makan gaji dari rakyat tu lah yang wajib membenahi dan membinanya.” jelas Pudin panjang lebar yang membuat kedua temannya makin mengangguk-ngangguk macam buruk pelatuk.  Lalu mereka sepakat untuk pergi melihat jual beli di kedai-kedai lain di sekitar toko swalayan itu.

Read Full Post »

langitSuatu kali selepas main futsal, Awang, Atan, dan Guru Pudin berbincang-bincang.

“Atan, apa pendapat engkau tentang  apa yang sedang diperbincangkan orang di kampung ni?” Tanya Awang memulai.

“Hal apa tu, rencana nak membuat penampungan sampah tu?” Tanya Atan balik.

“Bukan! Soal ketua pemuda yang terlibat mencuri ayam Haji Leman tu.  Malu kita,”

“Kan itu kelakuan anak buahnya dan tak tertangkap tangan?” Tanya Atan lagi sambil menoleh ke Pudin untuk mengajak memberi komentar.  Pudin masih diam saja sambil menyeka keringatnya.

“Tapi budak-budak tu dah ngaku, bahwa itu dengan sepengetahuan ketuanya.  Alasan mereka, perlu duit untuk lomba panjat batang pinang,” tambah Awang, sementara Pudin tetap acuh.

“Kita tak boleh menuduh. Biarlah nanti pak kades, tetua, dan pemuka adat tu yang sidang,”

“Tapi Haji Leman tu dah ada bukti dan budak-budak tu kata itu sepengetahuan ketua mereka,”

“Mungkin budak-budak tu memfitnah karena ketuanya tu bilang dia tak tahu,”

“Alah Atan, berita ni dah bendang ke langit. Napa engkau sibuk membela pula, macam negakkan benang basah?”

“Aku memang harus bela dia.  Dah banyak jasanya tu pada kampung kita!” tegas Awang.

“Betul, tapi jasa tetaplah jasa… buat buruk tetap buruk, tak bisa menghilangkannya,”

“Op…op… sudah, sudah…,” potong Pudin. “Diantara cakap kalian tu ada juga aku yang setuju. Tapi lebih baik kita tak cakapkan itu banyak-banyak walaupun dah bendang ke langit,”

“Kenapa bang?” Tanya keduanya nyaris serentak.

“Pertama, tak baik mencakapkan orang, apalagi bila itu aibnya.  Kedua, kita juga tidak dianjurkan mencela karena itu tak akan memperbaiki keadaan.  Kita pun belum tahu lebih baik dari yang kita cela. Sebaliknya, juga tak baik membela secara membabi buta.  Apabila bila nanti dia ternyata salah, berarti kita telah ikut membela orang yang salah.  Jatuhnya bisa subahat atau menimbulkan fitnah lain atau yang baru lagi,” jelas Pudin.

“Jadi baiknya bagaimana, bang?” Tanya Awang.

“Baiknya kita nasehati saja dan tak memperkeruh keadaan. Mudah-mudahan yang berkenaan mau mengakui dan menyadari kekeliruannya lalu minta maaf, bila ia salah.  Lalu di mau tobat pada Allah. Ayo kita balik…” kata Pudin menyudahi dan bergerak ke arah rumahnya.

Read Full Post »

tangkai jering“Awang, kau ni busuk lah… Entah bau ojol entah bau jering ni?” kata Atan pada kawan akrabnya pedagang ojol itu, ketika mereka jumpa di teras rumah guru Pudin.

“Ah engkau juga sama, bau kambing…,” balas Awang tak mau kalah.

“Menyanyah engkau…! Kalau bau jering tu aku serius,” kata Atan. Mereka saling mencium bahu untuk membuktikan.  Mendengar kehebohan itu Pudin segera keluar.

“Eh eh eh… apa terjadi pada kalian ni?” Tanya Pudin.

“Atan ni yang memulai, bang” jelas Awang, “dibilangnya aku bau jering,” jawab Awang.

“Betul bang, saya cium ada bau. Entah ojol entah jering… jering agaknya,”

“Biasalah tu,  pedagang ojol bau ojol, peternak kambing bau kambing.  Tak apa apa, kejab lagi kan kita bersih-bersih sebelum Zuhur,” kata Pudin.

“Betul bang.  Cuma aku tak suka dia bilang aku bau jering karena aku tak suka makannya, banyak mudharatnya,” tambah Awang.

“Engkau tak makan tapi mungkin ojol kau tu kena getah jering,” kata Atan ngotot.

“Sudah lah, tak perlu diributkan.  Yang penting, jangan sampai kita macam tangkai jering,“ kata Pudin.

 “Apa maksudnya tu, bang? Tanya Atan. (more…)

Read Full Post »

(dari internet/tvOne)

(dari internet/tvOne)

“Bang Pudin… Bang,” panggil Atan terengah-engah di depan rumah Pudin karena dia tadi datang dengan setengah berlari. “Assalamulaikum…”

“Alaikum salam,” jawab Pudin mendatangi Atan yang sudah ada di teras.  “Apa hal kau ni, macam habis dikejar rimau? Duduklah dulu.”

“Iya bang, saya memang cepat-cepat nak jumpa abang,  Tadi waktu aku jual kambingku di pasar, ada yang tanya apakah kambingku itu dijual glondongan.”

“Glondongan tak biasa untuk ternak ,Tan.  Mungkin glonggongan cakap orang tu, tak?”

“Mungkin juga. Tapi tak mungkin pula lah kambingku itu menggonggong, bang?”

“Bukan gonggongan tapi glonggongan. Ini istilah di Jawa. Di sana, penjual ternak yang curang beri sapi atau kambingnya minum air banyak-banyak supaya berat,” jelas Pudin.

“Jadi gonggolonggongan itu penipuan ya, bang? Tak boleh lah bang, pesan emak aku,” kata Atan. Pudin tersenyum karena kawannya itu tidak bisa menyebut kata yang baru dikenalnya itu.

“Betul itu. Manusia boleh kita tipu, tapi Allah mengetahui perbuatan kita semua, apapun…!”

“Tapi kenapa orang masih juga mau jual ternak gonggolonggongan tu? Kenapa orang tak takut menipu,  ya bang? Kadang kita lihat orang yang suka menipu tu tak kurang-kurang rajin pula ibadah, pandai mengaji, dan rajin puasa?  Bagimana pula yang pandai khutbah tapi di belakang kita, isi khutbahnya itu yang dilanggarnya!?!?” Tanya Atan resiprokal.

“Itu karena mengikuti hawa nafsu dan belum kuat imannya.  Dia tergoda oleh kemilau dan kesenangan duniawi. Padahal semua yang kita pakai dunia ini hanya alat dan pendukung kita dalam melakukan kebaikan dan amal ibadah menuju kehidupan akhirat yang abadi kelak,”

“Alhamdulillah dapat ilmu baru aku, bang,” tingkah Atan sambil membayangkan teman mereka Awang yang masih menjual ojol berisi sampah dan tanah.  “Bagaimana nilainya duit yang kita dapat dengan menipu orang, bang?” Tanya Atan karena teringat lakunya yang lama-lama.

“Karena menipu itu haram, duit yang didapat dari menipu……??” Pudin balik bertanya.

“Haram juga lah, ya bang? Untung aku tak buat gonggolonggongan itu. Tapi si Awang itu masih lagi menjual ojol bersampah dan berisi tanah tu, bang,”

“Nanti kita beritahu juga dia. Tapi yang lebih penting, kita introspeksi diri kita dulu.  Dengan hati nurani, kita yang tahu kesalahan kita. Bila bersalah jangan pula terus membusungkan dada karena gengsi tapi segera bertobat dengan bersungguh-sungguh,” tambah Pudin.  Ia lalu mengajarkan Atan menyebutkan kata glonggongan itu.

Read Full Post »

makan di talam“Memanglah sedap asam pedas ni, ya Bang?” kata Atan pada Pudin ketika mereka makan ramai-ramai selepas gotong royong kampung.

“Alhamdulillah,” jawab Pudin menghentikan suapnya.  “Ini nikmat selepas gotong royong; kita dah lapar, masakan ibu-ibu kita ni panas, makan ramai-ramai.”

“Tambah sedap lagi bila makannya berebut-rebut pakai talam besar,” timpal Awang.

“Tapi talam tu bukan untuk tempat makan, Wang.” Kata Atan ikut berhenti menyuap.

“Aku pernah ikut kenduri adat makan pakai talam, terjadi tarik menarik paha ayam.  Karena tangan tak menyentuh mulut, kejadian tu malah buat kita jadi akrab,” tambah Awang.

“Sebetulnya talam itu untuk mengangkat hidangan. Mungkin orang dulu cari mudahnya, makan sekali disitu.  Tradisi bagus juga asal kau jangan jadi panglima talam aja,” kata Atan.

mengakat talam

“Apa maksudnya tu, Tan?” Tanya Awang.  Atan diam saja dan menunggu jawaban Pudin.

“Nanti selesai makan kita lanjutkan,” jawab Pudin meneruskan makan.

Sehabis makan Pudin menggabik ketiga kawannya untuk mendekat. Lalu dia bercakap: “Talam kan lebar, bisa untuk mengangkat banyak makanan.  Bila orang dihampiri yang mengangkat talam, tentulah senang karena akan dapat makanan, meskipun bukan dia yang masak.”

“Tapi apa pula hubungannya dengan panglima tu, Bang?” Tanya Awang.

“Panglima kan punya kuasa dan dekat dengan raja. Karena itu dia banyak kesempatan untuk menyenangkan raja bagaikan orang yang mengangkat talam tadi.  Jadi orang yang suka nyenang-nyenangkan raja atau keluarganya secara berlebihan digelarlah panglima talam.”

“Maksud abang orang yang suka mengampu?” Tanya Awang.

“Semacam itu lah. Itu sifat tak baik karena ada udang di balik batu, penuh pujian dan sanjungan yang berlebihan dan tak ikhlas.  Mungkin orang yang diampu tu malah jadi celaka karena tak tahu keadaan yang sebenarnya,” jawab Pudin.  “Bisa diuji pula, ketika orang yang diampu itu celaka, apa pengampu itu mau ikut mengaggung rugi atau ikut malu?” Pudin balik tanya.

“Gitu ya bang? Memanglah banyak pengetahuan bang Pudin ini.  Kalau tak ada Bang Pudin, tak tak tahu lah saya bagaimana nak bercakap bila suatu kali jumpa dengan Bupati tu,” balas Awang.

“Nah…  Awang!  Macam ini lah contoh cakap panglima talam tu,” tuding Atan.

“Iya bang? Bukan kan, bang?” Tanya Awang  untuk minta pembenaran.  Pudin hanya tersenyum dan mengajak kawan-kawannya itu membenahi peralatan kerja dan pamit pulang pada  pak RW.

Read Full Post »

ketiakAwang sedang sibuk sendiri ketika disapa Atan: “Hoi Awang, dari tadi engkau tergaruk-garuk… kenapa ketiak kau tu?”

“Biasalah ni…. Macam kau tak punya ketiak ja?” jawab Awang.

“Ketiak tu memang macam tu… tempat paling subur untuk kuman, apalagi bila kurang bersih,”

“Aku ni pembersih, Atan. Tiap hari aku mandi, tapi tetap juga gatal,”

“Ukurannya bukan mandi tapi apa ketiak tu banyak keringat dan bagaimana baunya,”

“Kalau sedang kerja, memang lah aku  berkeringat tapi tak ada bau apa-apa…” kata Awang si pedagang ojol melepas koran yang sedang dilempit di ketiaknya dan mulai menghidu-hidunya.

“Dekat ojol tu mana lagi tercium bau keringat.  Lihat tu, Koran kau tu basah kan?”

“Iya pula ya. Patut kerap disebut orang baju KTB, ketiak busuk. Hahahaha…” gelak Awang

“Ketiak itu salah satu bagian penting dan sensitif di tubuh kita,” sela Pudin yang sudah sejak tadi mengamati mereka. “Begitu pentingnya sampai ada istilah di bawah ketiak untuk apa yang harus kita lindungi dan dekat dengan kita. Tapi seluruh tubuh harus dijaga dan dibersihkan baik-baik.”

“Maksudnya, bang?” Tanya Atan si mahasiswa drop-out yang sekarang berternak kambing.

“Langsung contohnya lah. Bila kita sebagai penentu dalam penerimaan PNS, lalu yang kita terima kerja hanya sanak famili, zalim namanya karena hanya menerima dari ketiak kita saja.  Begitu pula bila kita hanya peduli dengan sekitar kita saja atau segala sesuatu kita buat hanya di dekat kita, bisa disebut orang juga kita hanya pandai mengurus ketiak saja.”

”Sini pun ada  ada contohnya, bang!” potong Awang.  “Kandang kambing Atan ni bukan main cantik, macam balai desa tu. Dekat situ pun segala dia letakkan: pancuran air, jam dinding, papan pengumuman, pot bunga, catatan kambingnya tu, sampai poster-poster penjelasan cara berternak kambing, dan jenis-jenis penyakit kambing.  Untung tak ada baliho muka kambing-kambing dia tu.  Siapa yang nak lihat tu, Atan?” kata Awang ekspressif karena merasa dapat angin.

“Kau ni tak ngerti lah, Awang. Itu supaya orang tahu aku ngerti melihara kambing yang sehat sehingga harganya tak jatuh,” jawab Atan tak mau kalah.

“Sudahlah, masing-masing kalian ada benarnya. Tapi segalanya tak lah harus diletak di bawah ketiak kan? Dalam berusaha kita memang harus maksimal, bukan riya tapi dengan niat karena Allah. Poster-poster tu bisa ditempel di balai desa supaya banyak yang baca.  Baik hati juga Awang ni, besok kita lihat pula kedai ojol dia. Aku balik dulu ya, assalamualaiukum,” kata Pudin berlalu setelah kedua kawannya menjawab salamnya dan mereka saling bersalaman.

Read Full Post »

carfreeday

“Apa Kapridei tu, bang?” Tanya Awang si pedagang ojol pada Pudin kepala madrasah kampung mereka yang sedang berbincang dengan Atan, seorang mahasiswa putus sekolah yang berternak kambing.

“Ha… apa tu? Belum pernah dengar aku. Apa bendanya tu?” jawab Pudin.

“Itu lah bang. Pagi Ahad lalu, balik ngantar ojol aku nak lalu ke jalan Ponegoro tu.  Sampai sana, eh ditutup, bang.  Macam lapangan kecamatan, banyak budak-budak main di jalan tu…!” jelas Awang berapi-api.

“Tak minta lalu kau?” potong Atan bertanya.

“Ramai, Tan. Bila aku nak buka penghalang tu, datang polisi”

“Lalu apa yang terjadi?” Tanya Atan.

“Tak boleh masuk, kata polisi itu. Napa, tanyaku.  Sedang ada kapridei, kata dia.  Terpaksa lah aku mengeliling jauh,” jelas Awang kesal yang membuat Pudin tersenyum.

“Aha… Itu car free day, Wang.  Tiap Ahad pagi sampai jam 9, tak boleh ada oto di jalan tu karena dipakai untuk tempat olahraga dan main,” jelas Atan.

“Ohh….. Tapi kenapa? Kalau pemerintah tak bisa buat tempat main, kenapa  kita yang  jadi korban?” Tanya Awang sengit.

“Mungkin solusi sementara. Lapangannya sedang dibuat, Wang,” jawab Atan sekenanya.

“Nah itu lah masalah di kota-kota kita,” kata Pudin.  “Kita lupa siapkan lapangan di pusat-pusat penduduk.  Mestinya, paling tidak tiap Kecamatan ada satu lapangan dan taman kota supaya energi budak-budak tu tersalur dan masyarakat lain bisa olahraga dan bersiar…”

“Kan sudah ada beberapa, bang?” Tanya Awang.

“Betul, tapi apa sudah dikelola dengan baik dan kalau habis hujan tak lecah?” Tanya Pudin balik.  Kedua kawannya itu manggut-manggut sehingga diteruskan Pudin: “Beliau-beliau tu kan main golf. Mereka tu tahu kalau lapangan main mereka langsung kering dalam setengah jam selepas hujan.  Kalau di tiap kecamatan ada lapangan bola dan ateletik macam tu yang lengkap pula dengan tribun kecil, kamar mandi, dan WC, Insya Allah banyak manfaatnya,”

“Betul bang, budak-budak tak kan banyak kelahi dan merayau malam hari libur karena dah penat.  Hari Raya dan 17 Agus bisa dipakai juga ya, Bang?” tambah Atan.

“Tapi dari mana biayanya, bang?” Tanya Awang si pedagang ojol.

“Pikiran kau ni macam kebanyakan PNS juga lah.   Kalau membangunnya tentulah kewajiban pemerintah karena itu fasilitas umum.  Makanya harus diprioritaskan dibandingkan bantuan ke organisasi yang tak terukur tu. Juga tak boleh asal jadi dan harus bebas lecah.  Bisa diangsur dua atau tiga kecamatan per tahun sebagai insentif pada kecamatan yang berprestasi.  Pengelolaan dan pemeliharaannya serahkan pada masyarakat dengan pimpinan  Camatnya.  Masjid kan juga dari dan oleh masyarakat? “ Tanya Pudin diujung penjelasannya yang panjang lebar.

“Abang ni cocok jadi Walikota selanjutnya! Biar ada pula tipe pemimpin baru dan unik macam Jokowi tu dari daerah kita ni,”  kata Awang.

“Awang.. Awang, walikota itu dah ada yang berebut-rebut. Tugas aku lebih penting, mendidik para calon pemimpin untuk masa hadapan nanti,” jelas Pudin.

Atan dan Awang menerawang membayangkan anak-anak mereka kelak bermain, berolahraga, dan mengikuti berbagai lomba di lapangan yang digambarkan Pudin itu.  Lalu sorenya, setelah jogging mereka bercengkrama di sebuah taman, membicarakan berbagai prestasi anak-anak Kecamatan itu dalam berbagai bidang.

Read Full Post »

Older Posts »