Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2013

Pikir dahulu pendapatan...

Advertisements

Read Full Post »

Konsekuensi Jadi Pemimpin

Read Full Post »

Image

“Bang Pudin…. bang, bang….! Assalamu’alaikum,” seru Awang sejak masuk halaman rumah Guru Pudin.

“Ya saya… ‘Alaikum salam. Masuk dulu dan duduklah.  Apa pasal kau terpingkau-pingkau macam ni, Awang? ” tanya Bang Pudin heran.

“Abang dah baca berita pagi ini? Tak tahu kah abang, ISG tu tak jadi di tempat kita ni! Sedih aku bang,”

“Iya kah, siapa cakap tak jadi disini?” Tanya Guru Pudin.

“Assalamu’alaikum,” terdengar tiba-tiba suara Atan sebelum Awang menjawab pertanyaan Bang Pudin.  Salam itu pun dapat jawaban hampir serentak.  Atan yang sudah menduga Awang akan ke rumah Bang Pudin juga menyusul setelah tahu berita itu.

“Aku tahu, jawaban pertanyaan abang tu. Menteri olahraga yang cakap,” sambung  Atan.

“Walau aku terus berharap dapat terlaksana di tempat kita, tapi melihat masalah yang ada, aku memang duga akan begitu,” kata Bang Pudin.

“Tapi ini marwah kita, bang. Menteri itu semena-mena kalau begini! “ kata Awang  sengit.

“Aku juga berharap, Wang. Tapi ini bukan masalah marwah karena marwah itu bila kita dirugikan padahal sudah on the right track,” kata Atan.

“Napa pula otrek otrek, Tan” Tanya Awang heran sementara Bang Pudin hanya tersenyum.

“Bukan otrek tapi maksudnya kalau dah tepat jalannya. Tapi menurut aku ini aib kita.  Tersebab kita tak bisa menyelesaikan masalah-masalah yang ada.  Kita tak dapat meyakinkan dia orang sampai limit waktunya maka dipindah,”

“Berarti dia orang tak percaya kita akan sanggup jadi tuan rumah ISG tu?” tanya Awang.

“Begitu lah nampaknya. Hutang stadion masih belum selesai, pembiayaan masih belum terang, sementara kita ada masalah internal yang besar dan berat.  Pengorganisasian panitia belum nampak kuat; penyiapan tenaga-tenaga lapangan kan juga tak mudah untuk sebuah event internasional yang akan menggunakan bahasa Arab, Inggeris, dan Perancis,”

“Hutang tu kan tinggal bayar, aku baca di koran duitnya sudah ada,” tanggap Awang.

“Betul, duitnya sudah ada tapi siapa yang berani membayarnya tanpa payung hukum yang jelas. Coba kita pikir, pekerjaannya sudah selesai , kontrak tak ada dasar anggarannya, cara pengadaan jasa kontraktornya apa dah sesuai? Belum lagi masalah harga yang dah disorot pula oleh para ahli dan kalangan dunia usaha karena diduga kemahalan.“

“Jadi deadlock?” tanya Awang sehingga membuat kedua temannya itu tersenyum.

“Buntu juga tidak karena bisa diselesaikan melalui pengadilan.  Tapi katakanlah bisa dibayarkan setelah nilainya diaudit yang berwenang, tetap ada konsekuensi hukumnya terhadap siapa yang dulu memerintahkan bekerja?”

“Makjang….! Akan ada perkara baru yang terkena pada sesiapa yang menyetujuinya ya?” Tanya Awang.

“Itu lah sebabnya dia orang gamang. Orang Jakarta itu pun gamang pula lah terjun. Tapi rasanya begitulah yang paling ringan nampaknya.  Itu pun perlu waktu.  Bagaimana menurut Bang Pudin?”

“Masalah ini memang pelik akibat menempuh jalan yang tak semestinya. Manusia melakukan pelanggaran tak jauh karena mengikutkan hawa nafsu.  Kebanyakan kita masih berada dalam alam kebendaan sehingga yang baik dan berhasil itu adalah yang lebih secara kebendaan pula, bukan secara nilai-nilai baik berdasarkan iman. Tapi sudahlah, yang penting kita semua dapat mengambil hikmahnya dan bagaimana sebaiknya ke depan,” jelas Bang Pudin yang membuat mulut Awang dan Atan ternganga.

“Menurut abang bagaimana?” tanya Awang.

“Bila bisa dirundingkan pada kontraktornya yang gabungan BUMN itu melalui tangan pemerintah pusat yang tentunya harus mau membantu, hutang senilai hasil audit itu tak usah dibayar lagi dengan APBD,”

“Lalu?” tanya keduanya hampir serentak.

“Beri mereka hak pengelolaan stadion itu untuk jangka waktu tertentu.  Kalau perlu juga beberapa venue lain untuk dimanfaatkan untuk berbagai event olahraga yang bisa mereka buat.  Ada dua hal yang terselesaikan, hutang tanpa mengeluarkan APBD sehingga tak ada kerugian daerah dan pemanfaatan serta pemeliharaan stadion serta venues itu secara maksimal.  Mungkin PSPS tu bisa bangkit karena ada stadion kebanggan yang dapat mengundang penonton.” Jelas Bang Pudin panjang lebar.

“Bagus ide abang tu. Mudah-mudahan terpikir oleh mereka,”

“Mudah-mudahan,” jawab Bang Pudin. “Baiklah kita bubar dulu, aku nak ke madrasah kejab lagi,”

“Ya lah bang. Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikum salam,”

Read Full Post »

Hati2 bila sudah pakai ipad atau tablet.... bisa melalaikan kita dari mengingat kewajiban dan lupa pada Allah Swt.

Read Full Post »

ngeyel“Ha… nampaknya keruh kau pagi ni, Atan?” tanya Bang Pudin melihat muka temannya itu kusut.

“Tak ada apa-apa…. cuma aku risau baca surat kabar semalam,“ jawab Atan.

“Ada hal buruk engkau yang diungkap?” tanya Awang menimpali.

“Tak perlu lah begitu, berita di surat kabar tu jangan dimasukkan hati,” kata Bang Pudin pula.

“Bukan soal aku, bukan pula masuk hati, bang. Tapi aku perhatikan zaman sekarang ni orang dah tak risau dan tak malu lagi bila ada keburukannya diungkapkan di muka umum,”

“Ada berita apa semalam, Tan?” tanya Awang penasaran.

“Rasanya dah bosan aku baca berita tentang pemeriksaan kades sebelah tu sejak beberapa bulan yang lalu. Entah apa yang sedang terjadi, walau sedang dililit masalah, kades tu tetap saja masih menjabat. Karena dia bolak balik dipanggil camat, banyak pula hal yang tak dilaksanakannya, misalnya pembagian raskin yang diharap-harap orang di tengah harga-harga naik ni tetap jadi tak lancar.  Nampaknya tak peduli dia. Macam mana tu, bang?“ kata Atan.

“Tak apalah begitu, kan penyelesaian masalahnya sedang berjalan,” jawab Bang Pudin yang diiyakan pula oleh Awang.

“Betul bang, tapi yang membuat aku muak tu, kades tu  masih berkotek sana sini, menyebut kesalahannya itu karena tuntutan tugasnya yang berat untuk memajukan desanya. Bukannya mengakui atau malu karena hal dirinya dah terbendang ke langit, dia malah menyebut-nyebut dah banyak berjasa pada desa.  Hebatnya bang, dalam berita itu dia minta maaf pada warganya karena tak dapat membuat desa mereka lebih maju lagi seperti yang dia mimpikan.  Padahal kan kita semua tahu masalah dia tu!” kata Atan bagaikan sedang melakukan pidato politik.

“Jadi dia tetap mangarengkang? Memang begitulah sifatnya kata si Buyung kawanku itu. Karena itu aku tak mau berdagang ojol di kampung sebelah tu,” kata Awang.

“Apa yang kau sebut tadi tu, Wang?” tanya Atan, sementara Bang Pudin senyum-senyum aja.

“Mangarengkang tu payah aku cari padanan bahasa Melayunya. Artinya, semacam teking atau bandal dengan sedikit sombong terus menegakkan benang basah,” jawab Awang ketus.

“Mungkin itu sikap lahiriahnya saja, dalam hatinya kita tak tahu.  Tapi dari pada kita cakapkan dia sehingga nambah dosa, lebih baik kita doakan saja supaya dia menyadari kekeliruannya selama ini dan mau segera bertobat. Bila kita bersalah, lebih baik malu dan menderita karena dapat hukuman di dunia dari pada di akhirat nanti yang jauh lebih berat dan lebih menghinakan,” jelas Bang Pudin menutup perbincangan mereka.

Read Full Post »

Memilih kemenangan yang bagaimana?

Read Full Post »

Kalau hari Jum'at, jangan kita sampai lalai...

Read Full Post »

Older Posts »