Feeds:
Posts
Comments

Archive for June, 2013

lupa4Manusia berasal kata dalam bahasa Arab yang disusun oleh huruf alifnun, dan sin menjadi nasia dan yansia yang artinya lupa.  Jadi manusia itu adalah makhluk yang suka lupa, sebagaimana yang kita rasakan sendiri.

Secara istilah pula kata itu insan, insnas, atau unas dalam bentuk jamak. Insan atau orang dalam kata lainnya berarti makhluk yang berakal budi. Karena itu dapat kita fahami tidak sempurnanya kemanusiaan saudara-saudara kita yang terganggu akal budinya seperti kelompok mongoloid/idiot atau yang terganggu ingatan. Atas dasar kekurang sempurnaan itu kita harus bersyukur atas kesempurnaan kita dengan menyayangi mereka secara proporsional.

Oleh sebab itu sangat aneh kalau ada orang yang normal secara akal budi namun berkelakukan tidak patut, tidak senonoh, atau menyimpang. Orang-orang demikian harus diperlakukan dengan tepat, misalnya tidak ditolerir bila melanggar hukum dan merugikan orang ramai, dan diupayakan untuk memperbaiki, memulihkan, atau mengobatinya.  Karena kewajiban yang dibebankan oleh Sang Pencipta tidak bisa lepas dari orang yang baligh dan berakal.

Manusia diciptakan memang terdiri jasmani yaitu tubuh secara kebendaan nyata dan rohani yang tidak nampak namun mendominasi tubuh kita.  Rohani berasal dari kata ruh yang muncul dalm bentuk kehendak, nafsu, emosi, dan spiritual.  Nafsu tersebut berbentuk keinginan yang berlebihan, tidak patut, atau yang dilarang terhadap harta, tahta, syahwat, dan keburukan lainnya.

Dalam hati manusia senantiasa ada nafsu yang cenderung kepada yang buruk pada satu sisi dan iman yang mengawal ke kebaikan pada sisi yang lain. Bila fisik digerakkan oleh otak dan otot, keruhanian ini dikendalikan oleh hati atau nurani. Dua komponen ruh ini senantiasa bertarung yang hasilnya akan diperintahkan kepada otak dan otot untuk melakukannya. Itulah kenapa sering disebut kehendak hati nurani untuk mengatakan kecenderungan manusia kepada yang baik itu.

Allah memang menciptakan kita untuk mengabdi padanya dengan mengikuti segala perintahNya yang tentunya berupa kebaikan dan menjauhi larangannya yang sinkron dengan kehendak nafsu tadi.  Apa yang kita lakukan selama di dunia akan dan harus kita pertanggungjawabkan di kehidupan akhirat kelak.  Banyak manusia melupa-lupakan missinya di dunia ini karena dikendalikan oleh nafsu dan akibat tidak yakin dengan adanya kehidupan akhirat kelak.

Bila demikian, itu masalah lain yang akan dipikul manusia itu sendiri. Bukan tidak mungkin sejak di dunia sudah mendapat sanksi dan akan sangat berlipat lagi tak terperikan di akhirat nanti penderitaan akibat kedurhakaannya itu. Naudzubillah.

Read Full Post »

jailed“Napa beda sangat tampang awak berdua ni?” tanya Bang Pudin pada kedua temannya. Awang pagi Jumat itu sudah rapi dengan baju koko putihnya dan terbau wangi yang tersebar dari rambutnya yang masih basah habis keramas. Atan nampak masih kusut masai dengan muka sedikit rungsing. “Awang dah siap ke masjid nampaknya, sementara awak mandi pun belum, Atan?”

“Iya lah bang, Awang tu sibuk dengan ojol saja.  Mana peduli dengan nasib negeri ini,” jawab Atan.

“Apa yang buat kau rungsing pagi ini?” Tanya Bang Pudin lagi.

“Masalah petinggi yang dipanggil ke Kuningan hari ini, bang.  Sudah kerap kalau seorang tersangka diperiksa hari Jumat ni, nanti langsung ditahan.  Bagaimana lah jadinya sore ini…?”

“Hal itu serahkan sajalah pada proses itu sendiri, kan sudah ada di alur yang tepat,” jawab Bang Pudin.

“Itu aku risau juga, Tan,” pintas Awang, “Tapi kan sudah konsekuensi bila diduga ada suatu kesalahan atau pelanggaran hukum,”

“Betul tapi kenapa ditahannya hari Jumat? Sampai-sampai disebut Jumat Keramat, sedangkan Sabtu dan Ahad kan hari libur?” tanya Atan.

“Betul juga, apa pasalnya sehingga jadi terkenal pula sekarang Jumat Keramat, ya?  Memang Jumat adalah hari yang mulia sebagai penghulu hari tapi bukan keramat yang berasal  dari karomah,”

“Apa artinya karomah, bang?” tanya Awang.

 “Maknanya kurang lebih keunggulan yang diberikan pada seseorang karena ia orang yang alim dan shaleh. Keunggulan itu didapat bukan karena dipelajari secara khusus dan tidak bisa dia rencanakan untuk menggunakannya melainkan muncul sewaktu-waktu.  Kalau istilah keramat tadi, menurut aku diartikan sebagai sakti yaitu timbul dari perbincangan awam atau media.  Karena sudah kerap terjadi penahanan tersangka pada hari Jumat, lalu diberi nama dengan menyamakan bunyi akhir katanya,”

“Tapi kenapa hari Jumat, bang?” tanya Awang penasaran.

“Tak begitu jelas juga kita ilmu para penyidik ini. Namun aku pernah baca, secara psikologis seorang yang tidak mengakui atau menyesali perbuatan buruknya, dalam dirinya akan terjadi tahapan-tahapan sebelum dia akhirnya mengakui dan menerima kesalahan,”

“Apa tahapannya tu, bang?” tanya Atan pula.

“Tahapan itu mulai dari menyangkal, lalu mencari kambing hitam, merasa berjasa, menyesali kejadian, dan akhirnya menerima kesalahan. Mungkin kita pernah lihat tersangka membantah habis-habisan kesalahannya meskipun sudah terungkap atau terlihat keterlibatannya. Lalu bila dia tidak bisa bertahan maka akan coba mencari alasan atau kambing hitam.  Jangan heran bila serang pesakitan hukum malah sibuk menghitung-hitung jasanya untuk menghalalkan kesalahannya.  Demikian seterusnya walau perpindahan dari satu tahapan ke tahapan berikutnya tidak mudah; kadang perlu ada shok theraphy.”

“Jadi mendiamkan tersangka itu dalam tahanan pada akhir pekan itu, semacam shock theraphy, ya bang?” tanya Atan mulai nyambung.

“Mungkin juga, itu hanya suatu teknis pemeriksaan saja,” jawab Bang Pudin.

“Supaya tak gitu, bagaimana bang?” tanya Awang pula.

“Bagi kita, baiknya setiap kali melakukan kesalahan langsung minta ampun atau istighfar.  Supaya tidak terjebak pada kesalahan fatal, senantiasa lah melakukan evaluasi diri atau muhasabah.  Rasulullah SAW saja melakukan istighfar tidak kurang dari 70 kali sehari dan bermuhasabah setiap malam sebelum tidur,”

“Itu yang namanya insyaf, bang?” tanya Awang lagi.

“Betul, lalu kita tobat.  Artinya menyadari kesalahan dalam hati, ucapkan dengan lidah berupa minta ampun, berjanji tidak mengulangi lagi, kompensasikan dengan banyak beribadah dan beramal shaleh secara konsisten dan kontinyu atau istiqamah,”

“Jadi lebih baik malu dengan segera mengakui kesalahan tapi cepat selesai dan mungkin Allah juga akan mengampuni dari pada terus membantah dan berusaha pula mempengaruhi proses hukum dengan berbagai cara yang artinya terus bermaksiat pada manusia dan Allah, ya bang?” komentar Atan.  Bang Pudin hanya tersenyum.

“Hah pandai pun dikau, Tan!” tanggap Awang.

“Jadi Jumat Keramat tak perlu ada dan mungkin terhindar dari penyiksaan ketika didiamkan dalam tahanan waktu akhir pekan tu,” kata Atan.

“Iya, Jumat Keramat ganti Jadi Jumat Keramas saja.  Kita kan memang disunnahkan keramas tiap Jumat sebelum Sholat Jumat.  Sekarang kau balik sana, cepat keramas, cukur, potong kuku, dan pakai wangi-wangian sikit,” kata Awang pada Atan.

“Alah mak, mentang-mentang kau dah tak bau ojol lagi bukan main temberang lah…” kata Atan sambil sambil meninggalkan kedua temannya yang tersenyum dan mulai bergerak menuju masjid.

Read Full Post »

serigala berbulu domba“Apa pasal muka kau macam limau purut tu, Awang?” tanya Bang Pudin lihat muka kawannya itu.  Si Atan yang ada dekat mereka ikut memperhatikan muka si Awang.

“Tak ada apa yang mustahak, bang. Sikit bingung aja,” jawab Awang.

“Kalau tak mustahak, usah peduli sangat. Apa yang buat engkau bingung? tanya Pudin lagi.

“Abang baca tak, zaman sekarang ada pemimpin yang suka nyakapkan jasanya sendiri.  Dia dah buat ini itu yang besar besar dan hebat hebat untuk orang ramai,”

“Betulkah pemimpin yang cakapkan? Apa buka orang orang dekat dia?” tanya Atan menimpali.

“Begitu lah beritanya!”

“Itu namanya pamrih.  Sebagai pemimpin, tak mengharap balas jasa karena memang demikian tugasnya.  Itu pun kita harapkan yang kena mengena dengan kepentingan masyarakat.  Kalau dia tak buat, maah dia kerja menyalah. Juga bukan karena kepentingan pribadinya atau nafsu bermegah-megah tapi yang bisa mengangkat kesejahteraan orang ramai,” kata Atan yang mantan mahasiswa ini berapi-api.

“Makanya aku bingung… Apalagi ketika dia sebut dia sudah berkorban buat kita-kita ini.  Padahal kita tahu dia digaji cukup, disediakan fasilitas tak kurang-kurang, dan didukung oleh demikian banyak pegawai,”

“Iya tu bang, aku dah pernah dengar juga saking kerapnya dia sebut dah mengorbankan diri untuk orang ramai.  Aku pun jadi dibawa Awang bingung sekarang, bang!” kata Atan.

“Baiklah, tapi kita tak cakapkan siapa siapa.  Hanya normatif saja,” kata sang guru madrasah memulai.  “Baik buruk pemimpin tergantung pengikutnya yang telah memilih dia.  Demikian timbal balik, bila pemimpin baik, akan baik juga pengikutnya. Karena itu, seorang pemimpin punya tanggungjawab yang besar dunia akhirat.  Ia akan dihisab atas kepemimpinannya kelak; apakah amanah atau menyampaikan hak-hak pengikutnya? Apakah telah menjaga dengan baik harta, keyakinan, agama, badan, dan kemaslahatan orang-orang yang dipimpinnya? Khalifah Umar dulu sampai memikul sendiri karung gandum ke rumah-rumah orang miskin karena dia takut kalau nanti di akhirat dia harus melakukan itu akibat tak menyejahterakan orang miskin,”

“Begitu berat tanggungjawab seorang pemimpin ya bang?” tanya Atan heran.

“Jadi tak berhak lah dia nyebut diri sendiri berjasa bila tak ada yang dia korbankan atau bahkan hanya bersenang-senang dengan pedangnya, ya bang? Tapi zaman sekarang mengapa orang berebut-rebut sampai tak tahu lagi etika untuk jadi pemimpin?” tanya Awang.

“Itu lah yang aneh, mungkin karena tak faham atau karena hanya mengikutkan hawa nafsu untuk menikmati kesenangan duniawi yang disediakan untuk pemimpin zaman sekarang: kekuasaan, kewenangan, fasilitas, perbelanjaan, anak buah, dan macam-macam lainnya.  Padahal nanti dia akan diperiksa pula apakah selama memimpin dia ada mengambil harta benda atau apapun yang bukan haknya?  Apakah dia lebih banyak membantu atau menyusahkan orang.  Kau kalau kita lihat proses protokoler saja sudah menjadikan seorang pemimpin bagaikan seorang yang invalid, semua diurus.  Karena itu seorang pemimpin sepatutnya bukan mengejar atau meminta jabatan tapi karena dipilih oleh orang-orang yang mencintainya karena tahu bahwa ia akan mampu menguruskan dan menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.”

“Berarti pemimpin yang lebih cenderung untuk menikmati kekuasaan atau jabatannya atau mengharapkan imbalan bukan pemimpin yang baik.  Apatah lagi bila dia mengambil pula harta benda orang ramai tanpa hak, apapun alasannya, ya bang?” tanya Awang.

“Kau ni berbelit-belit lah, Wang!  Bagaikan serigala berbulu domba, sebut ajalah korupsi!” sergah Atan.

“Soal mengambil tanpa hak atau korupsi itu, kalau bersengaja ia sembunyikan, namanya perilaku orang munafik yang akan menghuni neraka paling bawah. Naudzubillah. Tapi mencuri atau korupsi ini sudah masuk soal hukum yang harus dikuatkan saksi-saksi supaya terelak dari melaksanakan hukum secara salah.  Bila benar, Nabi SAW sendiri kan berikrar akan memotong sendiri tangan Fatimah bila anaknya itu mencuri,”

“Kalau mencuri oke lah, bang.  Bagaimana kalau cedera janji kampanye atau tak penuhi janji sesuai yang dah diucapkan?” kata Awan melirik Atan yang sudah telat satu pekan membayar hutang pada dirinya.

“Kau ni dah mengalihkan bincang kita pula,” kata Awang yang tahu disindir.  “Aku kan dah minta tangguh lagi dua hari karena beli kambing aku belum dibayar orang. Ia lalu minta diri pada mereka.  Kedua kawannya itu hanya gelak gelak kecil melihat Atan dah kena olah si Awang.

Read Full Post »