Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2013

Naga kertas yang tak dapat diandalkan.

Naga kertas yang tak dapat diandalkan.

Kalau ditanya ke generasi terdahulu, pemimpin cenderung dilihat secara sederhana sebagai sosok yang mengagumkan yang padanya bisa menaruh harapan. Seorang pemimpin adalah seorang yang bisa menyelesaikan berbagai masalah, mengatur, dan melakukan upaya-upaya terencana dan bersama untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Sesuai perjalanan bangsa, kepemimpinan formal seperti presiden atau kepala daerah baru kita kenal pada masa pasca kemerdekaan.  “Dicekoki” oleh era kekuasaan partai dulu sampai berakhirnya dominasi Sukarno, para pendahulu tadi lebih banyak tahu seorang pemimpin itu revolusioner, konservatif, atau mengikuti liberalisme barat.  Mungkin banyak yang bingung dengan maksud pemimpin yang visioner yang sekarang sering disebut orang.

Pada era kekuasaan politik kedua yaitu sejak reformasi yang sering disebut kebebasan yang kebelasuk, bermunculan orang yang bertindak sebagai pemimpin, khususnya dalam domain politik yang dijadikan tunggangan.  Bagaikan jamur di musim hujan,  mereka yang berusaha jadi pemimpin itu lebih banyak orang yang menokohkan dirinya sendiri tanpa latar belakang atau kompetensi yang cukup untuk diakui pendukung.  Mereka tak dapat dimasukkan dalam kutub teori kepemimpinan yang mana,yang dilahirkan atau yang dibentuk oleh sebuah sistem.

Itulah sebabnya kita sering melihat banyak tingkah orang yang aneh-aneh zaman sekarang untuk mencari popularitas. Kita sebut aneh karena apa yang dilakukannya tidak sesuai dengan pakem atau koridor dirinya atau kelaziman awam; bisa pula dengan hal yang kontroversial dalam masyarakat.  Media iklan, dan berbagai modus publikasi menjadi alat yang efektif memunculkan diri sehingga sering kita terheran-heran dengan ke-GR-an isi sebuah publikasi.  Bertaburanlah poster, spanduk, banner, dan baliho hasil dengan rekayasa grafis yang telah memoles becak-bercak wajah menjadi mulus dan indah.

Beriringan dengan budaya materialisme, maka dikenal pula tim sukses yang menabur buah tangan dan iming-iming yang semuanya dalam kerangka pikir dan pola tindak money politik yang penuh rente. Di lain pihak akar rumput telah teracuni pula dengan budaya rente politik ini yang makin memperburuk resultante kepemimpinan dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat. Kedua pihak sedang mabuk dengan nafsu kekuasaan yang tak lepas dari perburuan kenikmatan materi.

Karena itu kita bisa melihat bisa melihat orang yang nekad melakukan apa saja untuk mempopulerkan diri, misalnya dengan berani mencalonkan diri sebagai pemimpin, atau berpihak pada orang yang nyata-nyata bersalah dengan alasan bla bla bla, atau beragai kontroversial recehan lainnya   Cukup dengan memanfaatkan faksi yang setuju padanya dan ditambah sanak saudara, kaum kerabat, teman, dan dukungan yang dimobilisasi dengan berbagai cara, maka tanpa terkait ke latar belakang atau kompetensikepemimpinan, dia sebutlah dirinya sebagai seorang pemimpin. Semuanya semata untuk mengejar kekuasaan yang dengan mekanisme politik berlabuh pada fasilitas dan kemewahan diatas hambal dalam istana rakyat.

Sementara rakyat masih bertungkus lumus dengan keringat nafkah, para elit terus bersenandung sambil memperkokoh kuda-kuda dengan mimpi-mimpi tak relevan.  Untuk mencapai mimpi-mimpi itu tak segan-segan berkawan pula dengan Machiavelli dan tanpa malu bertameng mengatasnamakan pengorbanan dari sebuah perjuangan. Banyak pula para konstituen yang mabuk kepayang dan kehilangan logika yang terus memainkan pemanduan sorak secara akrobatis.

Mungkin ada yang menganggap ini pikiran sungsang karena dah ikut hanyut dan tak kembali ke referensi nan hakiki. Tergerus zaman, itulah wajah kita hari ini, sebuah sistem yang harus segera diselamatkan hanya dengan cara Ilahiah atau akan terus melahirkan kepemimpinan kertas yang tak dapat diandalkan: meregang kerontang dek panas, meredup kuncup dek hujan.

Read Full Post »