Feeds:
Posts
Comments

Archive for September, 2013

matriks memilih pemimpinUntuk menilai apakah seseorang adalah calon pemimpin yang baik tentulah tidak mudah karena sudah jelas dia lebih dari kita dalam banyak aspek.  Kita juga melihat betapa luas dan kompleksnya permasalahan yang ada.  Kalau diturutkan kehendak hati tentang seorang pemimpin, tentu kita ingin seorang yang super dalam sifat atau karakter, ilmu, kemampuan, wawasan, integritas pribadi atau ketaatan, style kepemimpinan, dan sebagainya.

Semua aspek ini dapat kita ukur berdasarkan nilai-nilai yang telah lazim dan dapat diterima umum (commonly accepted).  Secara dogmatis kita perlu mengacu pada ketentuan Allah Swt dan apa yang telah dicontohkan para Rasul.  Acuan praktis dapat simak aplikasi dari dogma tadi dan best practices yang telah dikenal luas dengan memperhatikan tauladan para pemimpin terdahulu.

Yang membuat kita cukup sulit untuk menilai, tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing dan kapasitas itu cocok-cocokan pula dengan keadaan dan waktu berkenaan.  Sementara itu, aspek di atas pada umumnya bersifat kualitatif sehingga relatif sulit untuk mengukurnya.  Yang dapat kita lakukan mungkin hanyalah menilai secara overall berdasarkan track record para calon pemimpin itu.  Itu pun masih cukup rumit sehingga untuk praktisnya aspek-aspek di atas dapat kita sederhanakan.

Memperhatikan bahwa kita masih menghadapi masalah dalam bidang politik, ekonomi, dan hukum, maka yang terpenting kita simak adalah sifat atau karakter kepemimpinan, seperti yang dikemukakan Gubernur Lemhanas Budi Susilo Supandji, pada acara Indonesia Bersuara di Metro TV tangga 24 September 2013.  Selain itu, sebagai bangsa yang religius, kita perlu ketaatan dari seorang calon.

Dua aspek ini sejalan dengan tuntunan para ulama agar kita memilih calon pemimpin yang takut pada Allah dan sayang pada rakyat yang akan dipimpinnya.  Seorang yang takut pada Allah Swt akan taat pada ajaran agama, peraturan-perundangan, adat istiadat, norma sosial kemasyarakatan, dan sebagainya.  Sementara ketaatan akan dia pertanggungjawabkan langsung kepada Allah kelak, sifat atau karakter sangat penting bagi kita yang akan dipimpin; apakah ia seorang yang sayang pada kita dengan bersifat amanah, biasa-biasa saja, atau malah curang.

Dengan demikian kita punya variabel-variabel yang dapat kita plot pada sebuah matriks seperti dalam gambar di atas. Pada kolomnya dapat kita pasang yang berkaitan dengan ketaatan: Taat, Biasa Saja, dan Tidak Taat.  Pada barisnya kita letakkan pula yang berkaitan dengan karakter: Amanah, Biasa Saja, dan Curang sehingga kita punya sembilan kombinasi.

Dari matriks ini dapat kita tetapkan bahwa kita tidak akan memilih seorang calon pemimpin yang dominan curang atau tidak taat dan biasa-biasa saja tanpa kelebihan. Adapun yang kontroversi yaitu taat tapi tidak amanah atau amanah tapi tidak taat tentu menjadi seorang pribadi yang aneh dan tidak kredibel untuk kita pilihan.

Karena itu, mengingat beratnya masalah kita yang menuntut seorang pemimpin yang bukan biasa-biasa saja tapi harus kuat kepemimpinannya, punya karakter, dan tata azas .  Jadi tinggal tiga aternatif: yang amanah meskipun biasa-biasa saja atau walau biasa-biasa saja tapi taat.  Tanpa mengabaikan keutamaan aspek-aspek lainnya, alternatif yang paling kita idamkan adalah seorang calon pemimpin yang taat dan amanah.

Read Full Post »

garuda bolaAhad 22 September malam tim kita berhasil menjadi juara AFF U-19, konon setelah puasa gelar selama 22 tahun.  Alhamdulillah usaha dan kerja keras para pemain dan officials memberikan hasil yang diidamkan, meskipun kita menonton dengan hati yang paling deg-degan  sepanjang pekan tadi.

Dari posting di media jejaring sosial terpantau deg-degan pertama adalah ketika banyak diantara kita menungggu ”vonis” mana yang lebih dulu terjadi gol atau mati lampu.  Jalannya pertandingan demikian seru karena kedua tim menunjukkan kemampuan terbaik masing-masing namun tak kunjung terjadi gol sampai perpanjangan waktu.

Keberpihakan dan harapan kita yang sudah pasti kepada timnas tentu membuat kita terpaku di depan TV dengan deg-degan terus sepanjang pertandingan.  Mungkin sambil berdoa, kita mengharapkan terjadinya gol ke gawang lawan, jangan sampai gol ke gawang kita dan….. jangan sampai listrik mati!

Penyebab deg-degan kedua adalah ketika pertandingan harus diselesaikan dengan adu pinalti.  Sudah sering kita saksikan, ketika dalam tekanan para pemain kita menjadi terganggu konsentrasi dan hilang kemampuan aslinya, sebagaimana yang juga nampak pada pemain kita yang mengeksekusi pinalti sehingga timnas sempat ketinggalan gol.  Berkat doa kita semua dan melalui tekanan yang jauh lebih berat pada para pemain Vietnam, alhamdulillah kita akhirnya menjadi juara.

Akan tetapi deg-degan ini boleh jadi belum akan berakhir.  Kemenangan kali ini adalah awal dari sebuah perjuangan yang lebih berat untuk meraih prestasi berikutnya, sementara kita tahu secara organisasi PSSI belum benar-benar mantap.  Selain itu, etos kerja para atlet dan official kita sering tidak optimal bila sudah berhasil mencapai suatu titik.  Mari kita tunggu lahirnya satu tim muda dengan semangat dan etos kerja baru, pengelolaan dan pembinaan yang mantap karena kelembagaan olahraga sepakbola yang baik, dan dukungan positif dari kita semua.  Inilah deg-degan kita yang terakhir demi berkibarnya merah putih di gelanggang sepakbola.

Read Full Post »

Image

Entah apa nama yang sebenarnya, buah ini dikenal anak-anak dengan nama buah ceri. Entah karena bila sudah matang mirip dengan cherry, buah yang di Bandung disebut kersen ini memang disukai anak-anak.  Pohonnya termasuk yang mudah tumbuh di mana-mana dan cenderung tidak dipelihara meskipun sering juga dimanfaatkan sebagai pohon peneduh.

Buahnya sedikit lebih kecil dari kelereng; yang telah matang berwarna merah dengan rasa manis dan enak sehingga banyak mengundang burung dan anak-anak. Pohon itu juga mengundang kenangan masa kecil.  Anak-anak selalu rebutan memanjat sebatang pohon ceri di lapangan umum, untuk mendapatkan buahnya yang kadang masih mengkal.

Di rumah tetangga depan yang sedang kosong ada sebatang pohon ceri yang rindang dan banyak buahnya. Karena penunggu rumah tak ada, pohon itu terbiarkan begitu saja sehingga buahnya yang matang berserakan bersama daun-daunnya yang kering.  Setiap akan pergi, terlihat jugalah banyak buahnya yang merah ranum mengundang selera. Suatu kali hampir terlanjur memetiknya dari pohon depan rumah yang kosong itu namun teringat kisah seorang bernama Idris.

Suatu hari Idris terlanjur memakan buah delima yang hanyut di sungai. Beliau menjadi risau karena buah itu bukan haknya dan pasti ada pemilik pohon itu. Beliau mencari ke hulu dan ketika berjumpa dengan seorang tua si pemilik kebun, Idris menceritakan apa yang telah terjadi dan minta dihalalkan buah yang telah dimakannya.

Pemilik kebun tidak mau merelakan begitu saja tapi meminta Idris menjaga dan membersihkan kebunnya selama sebulan tanpa upah yang terpaksa diterima Idris untuk menjaga agar apa yang telah dimakannya halal.  Setelah satu bulan, Idris masih belum direlakan si pemilik kebun untuk pergi dan diminta untuk mengawini putrinya yang buta, tuli, bisu, dan lumpuh.  Idris terdiam tapi menerima syarat itu demi kehalalan apa yang telah masuk ke perutnya.

Setelah dinikahkan langsung oleh orangtua itu dengan beberapa orang saksi, ia diminta menemui isterinya yang sebenarnya seorang wanita yang cantik dan berbudi luhur, bernama Ruqoyyah.  Orangtua itu rupanya senang sekali dengan Idris yang demikian kuat menjaga kehalalan makanannya sehingga ia menjadikannya sebagai menantu.  Pasangan inilah yang memberinya cucu bernama Syafii yang kelak menjadi seorang ulama besar, ahli hadits, dan panutan jutaan ummat di seluruh dunia dengan mahzabnya.

Memang sangat berat untuk menauladani ayah Imam Syafii ini sementara kita sangat dekat dengan barang-barang dan makanan subhat dan bahkan haram, baik zatnya maupun cara mendapatkannya.  Walaupun hanya sebuah ceri dari pohon yang terabaikan di sebuah rumah kosong, tetap bukan hak kita. Namun itu lah perjuangan kita hari ini yang sebenarnya jauh lebih ringan dari ayahnya Imam Syafii.  Semoga kita termasuk orang yang senantiasa dapat memelihara kehalalan makanan agar mendapat kehidupan yang berkah.

Read Full Post »

Image

Dalam bahasa pergaulan dikenal istilah stel kencang yang lebih pas maknanya bila diucapkan dalam logat Betawi.  Ini tidak dimaksudkan dengan penyetelan mesin kendaraan atau cara mengendarainya.  Masih berkaitan dengan kencang tapi di sini dalam makna laju atau keadaan yang terus menegang atau menunjukkan suatu sikap tanpa tolak angsur.

Orang yang sedang marah terhadap kita, bila ditemui dia akan memasang mimik yang tidak suka atau tegang, sering disebut mukanya distel kencang.  Yang bertengkar secara tidak bertolak angsur juga disebut dia sedang stel kencang.  Konotasi ini juga bisa dibawa ke orang yang ketika dapat kesempatan main lantak saja untuk mendapatkan keuntungan pribadi, khususnya kebendaan.  Bukan hanya bersikap mumpung tapi diperparah lagi dengan sikap sapu bersih.  Di tiap titik harus dapat keuntungan tanpa pilih tempat atau jenis kesempatannya; semacam gabungan antara mumpung, serakah, dan bersikap bagaikan pukat harimau.

Adakah ada orang yang demikian? Jawablah sendiri karena sikap demikian bagaikan orang yang kentut; gejalanya ada tapi sulit dibuktikan.  Masing-masing kita bisa menelusuri pengalaman sendiri, apakah pernah berjumpa dengan orang yang “kencang” yaitu semua urusan dengannya harus ada keuntungan yang didapatnya bagaikan mengikuti akronim Semua Urusan Musti Uang Tunai yang sempat populer.  Dalam konteks kantor pemerintah, apakah tanpa pelicin kita bisa dengan mudah berurusan untuk mencairkan termijn, membayar pajak, mendapatkan keterangan domisili, sampai meminta surat keterangan kematian?

Ketika mendapat kesempatan, khususnya yang berkaitan dengan kekuasaan Negara dan politik, sebagian orang mungkin tidak hanya sekedar bersikap aji mumpung tapi ditambah sikap stel kencang mengikuti track kewenangan yang ada padanya.  Sementara secara person by person saja akan menimbulkan dampak buruk pada masyarakat, apalagi bila terjadi secara merata atau kolektif.  Bukan tidak mungkin pengaruh yang lebih luas ini yang telah bermuara pada banyak dan tak putus-putusnya permasalahan kita dewasa ini.

Kecenderungan buruknya perilaku penguasa berkaitan dengan biaya yang harus mereka keluarkan untuk mendapatkan posisi itu, baik dalam pelaksanaan tugasnya maupun akibat sistem pemilukada.   Biaya itu bisa berasal dari perilaku stel kencang sebelumnya atau hutang sehingga untuk mendapatkan kembali biaya yang sudah keluar maka ia akan lebih kencang lagi dan bisa terjadi secara berjenjang di tiap titik.   “Ini masalah krusial.  Masa lebih dari setengahnya, kepala daerah terjerat kaasus hokum,” kata Djohermansyah Djohan, Dirjen Otonomi Daerah Kementerian Dalam Negeri, dalam sebuah diskusi (Harian Pikiran Rakyat, 19 Septemner 2013, halaman 1).

Walaupun ada yang membantah kaitan anatara masalah hukum itu dengan biaya politik tadi, namun menurut Djohermansyah, sejak tahun 2005 sampai pertengahan September 2013 tercatat 304 dari 524 bupati/walikota terjerat masalah hukum.  Sampai dengan Juni 2013 ternyata 21 gubernur dan 7 wakil gubernur terkait masalah tipikor (Metrotvnews.com).  entah berapa banyak pula para wakil rakyat dan pejabat yang juga tersangkut masalah yang sama.  Lembaga penegakan hukum dan penindakan tipikor nampaknya berhasil secara signifikan mencegah dan menghambat nafsu buruk pelaku berikutnya.

Perilaku ini nampaknya sangat dipengaruhi oleh cinta yang berlebihan pada kebendaan/keduniaan (hubbud dunya) sehingga tidak peduli dengan cara mendapatkannya.  Secara timbal balik, masyarakat cenderung menilai keberhasilan seseorang juga dengan kacamata kebendaan atau materialisme.  Perilaku buruk ini tercermin pula dalam pembelanjaannya: easy come easy go, cenderung konsumtif dan hedonis.  Dalam kerangka teori perkembangan peradaban, keadaan demikian berada dalam fasa kanak-kanak atau sedang menuju keruntuhan.

Terlepas dari benar tidaknya kepemimpinan stel kencang berkaitan erat dengan pemasalahan bangsa yang ada, perilaku buruk dalam birokrasi dan lembaga politik ini harus menjadi keprihatinan bersama.  Kita harus menyadari bahwa bila praktek stel kencang yang koruptif mengakar dalam sistem kepemimpinan pasti akan menimbulkan permasalahan di berbagai titik dan dari satu waktu ke waktu berikutnya secara tidak putus-putus karena suatu urusan akan dilakukan bukan oleh yang berkompeten, kepentingan umum tidak dikelola secara amanah, dan kinerja pelayanan buruk para penyelenggara negara dan pemegang kekuasaan politk terus berlangsung.   Bila belum bisa mengatasi atau mencegahnya, paling tidak marilah kita berdoa agar Allah mengampuni kita semua dan memberikan hidayahNya pada para pemimpin agar terhindar dari kehancuran dan keruntuhan peradaban bangsa akibat perilaku buruk kita sendiri.

Read Full Post »

Image

Briptu Ruslan, seorang polisi yang sedang tidak berdinas, jadi korban tembak orang yang tak dikenal di Depok hari Jumat 13 September 2013 kemaren.  Dia sedang di tempat cuci kendaraan dengan pakaian sipil, ketika empat orang bermotor ingin merampas sepeda motornya, sebuah Ninja 250 CC yang sedang dicuci.  Karena melawan, seorang kawanan penjahat itu menembak kakinya dan sepeda motor itu dibawa kabur.

Beberapa hari sebelumnya, Bripka Sukardi, seorang polisi berpakaian dinas dan berpestol yang diduga sedang bertugas “mengawal” empat truk mengangkut peralatan baja, tewas ditembak dua orang tak dikenal dari jarak dekat di depat Kantor KPK.  Masih belum pasti apakah insiden ini terkait ke masalah pengawalan itu atau anarkisme terhadap polisi oleh sesuatu pihak.  Untuk kasus Briptu Ruslan sudah ditegaskan bahwa kejadian ini tidak ada kaitannya dengan anarkisme terhadap personil polisi yang meningkat akhir-akhir ini.

Apapun, kita perlu menarik hikmah dari kejadian demikian ini dengan segera melakukan introspeksi.  Meskipun sering dibantah dan belum tentu sepenuhnya benar dan masih mungkin diperbaiki, terdapat berbagai pandangan miring terhadap kepolisian.  Tanpa menafikan banyak hal positif dari kepolisian kita, dapat dikemukakan disini beberapa di antara pandangan itu.

Pertama, para penjahat sudah pasti menganggap polisi adalah pihak yang dapat menghalangi kepentingan mereka.  Ada perubahan mindset para penjahat bahwa secara fisik mereka mampu melawan polisi sehingga makin berani dan ganas.  Mereka yang terganggu oleh kehadiran polisi dalam “domain” kejahatan ekonomi, merasa mampu pula untuk mengatur polisi.  Para kriminal dan mereka yang berbisnis secara curang tentu tidak akan senang dengan polisi lurus dan jujur yang tugas pokoknya memang memberikan rasa aman dan melindungi masyarakat.

Kedua, tanpa menafikan simpati yang positif, pada sebagian orang sudah mengkristal antipati terhadap Kepolisian yang disebabkan oleh buruknya citra lembaga kepolisian.  Hasil survey Transparency International Indonesia (TII) yang baru saja dirilis Juli 2013 menyebutkan bahwa Kepolisian kita sebagai lembaga terkorup di Indonesia, bahkan di Asia Tenggara.  Dari kasus-kasus yang terungkap kita ketahui bahwa praktek korupsi sangat memprihatinkan di lembaga ini.  Lebih memprihatinkan lagi ketika Wakapolri Komjen Nanan Sukarna mencari pembenaran dengan alasan kecilnya gaji mereka,  sehingga makin memperburuk wajah kepolisian kita.

Seorang Guru Besar Sosiologi Hukum UI, Bambang Widodo Umar, menyatakan bahwa karena banyak kasus korupsi kondisi kepolisian menjadi tidak normal; seharusnya menjadi menjadi contoh, pengayom, dan menjaga keamanan, bukan meminta uang. Menurut beliau, penyakit korupsi itu cukup lama menjangkiti intitusi, dan tampak sulit disembuhkan hingga kini.

Beliau juga menulis di sebuah koran, pada tahun 2004 hasil penelitian mahasiswa PTIK Angkatan 39 A tentang fenomena korupsi di lingkungan Polri, mengidentifikasi penyakit korupsi telah merambah bidang operasional maupun pembinaan.  Meski tidak melibatkan masyarakat umum, korupsi internal menyangkut kepentingan dalam lingkup kedinasan yang tidak menyentuh langsung kepentingan publik seperti jual-beli jabatan, proses penerimaan menjadi anggota polisi, seleksi masuk pendidikan lanjutan, pendistribusian logistik dan penyaluran dana.

Korupsi eksternal menyangkut masyarakat secara langsung seperti mendamaikan kasus perdata yang dianggap pidana, tidak melakukan penyidikan secara tuntas suatu kejahatan, pungutan pada penerbitan SIM, SCTK, STNK, BPKB, dan surat laporan kehilangan barang.  Beliau mengutip Maurice Punch (1985) dalam buku Police Organization, korupsi polisi terjadi karena mereka menerima atau dijanjikan keuntungan yang signifikan, di antaranya untuk melakukan sesuatu yang ada di dalam dan di luar kewenangan, melakukan diskresi legitimasi dengan alasan tidak patut, dan menggunakan cara di luar hukum untuk mencapai tujuan.

Pandangan lain, terhadap polisi yang sering terlihat lebih secara perseorangan ada semacan kecemburuan masyarakat, aparatur Negara, atau kelompok dengan kemampuan professional yang sama dengan atau lebih dari polisi.  Selain lebih dalam fasilitas, para perwira polisi belum berhasil mencontoh ketauladanan almarhum Jenderal Hoegeng dan lainnya yang sederhana dan enggan menikmati protokoler yang berlebihan atau feodal.  Dengan posisinya, mereka mudah untuk memiliki gaya hidup laiknya seorang pengusaha: sering di lapangan golf, anggota klub moge, dan sebagainya yang puncaknya memiliki rekening gendut dan super-gendut.

Kecemburuan ini tentu dengan mudah menyulut antipati kolektif yang menunggu pemicu konflik saja.  Bila masyarakat menjadi cemburu, bisa jadi karena merasa tidak ada yang jadi pengawas polisi.  Bila seorang polisi bersalah, sebagai warga sipil mereka juga akan diproses oleh korps polisi yang tentu sangat dipengaruhi oleh solidaritas korps.  Dengan kewenangan yang ada pada mereka, tiadanya lembaga lain yang secara sistem menjadi pengawas polisi maka korps polisi potensial menjadi warga sipil yang istimewa.

Untuk memperbaiki keadaan ini, perbaikan image dan perilaku korps polisi sebagai satu unsur penegakan hukum adalah suatu keniscayaan.  Namun hanya dengan idealisme yang kuat, keprihatinan, serta pengelolaan yang baik dan benar, masalah pendapatan seperti yang dikeluhkan Komjen Nanan Sukarna akan menjadi kecil.  Karena hal yang sama juga dihadapi oleh berbagai komponen pemerintahan, maka kepolisian bisa menjadi sebuah agent of change.

Sangat besar harapan masyarakat pada korps polisi untuk membuktikan diri bahwa kehadirannya penting dan sangat diperlukan untuk membantu mewujudkan kembali keadaan yang aman sejahtera sesuai dengan cita-cita bangsa.  Kata-kata kuncinya adalah ketauladanan, melayani, mengayomi, dan sahabat masyarakat yang semuanya sudah ada pada korps polisi, dimana Bripka Sukardi dan Briptu Ruslan mengabdikan karyanya.  Kita doakan semoga Allah mencurahkan kasih sayangNya pada para polisi yang jadi korban anarkisme dan hidayahNya kepada seluruh korps kepolisian sehingga polisi adalah sahabat kita semua bukan sebuah mimpi.

(telah dimuat di Hidayatullah.com http://www.hidayatullah.com/read/2013/09/18/6431/merindukan-sosok-jenderal-hoegeng-di-kepolisian.html)

Read Full Post »

Healing Garden RS Santosa di lantai 9(1)Dalam kesempatan ini tidaklah terlalu penting untuk mencari dari mana asal usul tradisi healing garden.  Yang jelas taman ini dibuat di rumah sakit untuk tempat bersiar bagi pasien yang telah dapat meninggalkan ruang rawatnya untuk mendapatkan hawa lebih segar dan suasanya yang memberi semangat.  Hanya dengan semangat inilah proses penyembuhan (healing) akan effektif.

Taman ini dibuat hijau, bersih, dan indah dengan berbagai tanaman pohon dan bunga warna warni yang bermekaran.  Lay-out taman ini dibuat sedemikian sehingga mempunyai path untuk berjalan, lapangan untuk bersenam atau mendapatkan matahari pagi, bangku-bangku dan saung untuk melewatkan waktu sambil membaca atau mengaji, kolam atau aquarium dengan ikan-ikan yang semuanya diharapkan bisa membangkitkan semangat dan membuat orang mengingat Sang Penciptanya.  Taman rumah sakit yang memerlukan biaya yang cukup mahal ini akan memberikan suasanya ramah dan melupakan penderitaan baik bagi yang sakit maupun keluarganya.

Sebenarnya manusia memerlukan taman seperti ini tidak hanya di rumah sakit tapi di mana pun ia berdiam dan melaksanakan aktivitas.  Selain tekanan kehidupan yang berkaitan dengan sistem nilai yang dipakai apakah berdasarkan kebendaan semata atau dengan proyeksi kehidupan akhirat, kesehatan mental berkaitan dengan suasanya tempat ia berada.  Sebuah tulisan menyebutkan bahwa tingkat stress manusia di perkotaaan berkaitan dengan tingkat kemacetan lalu lintas dan polusi.  Sudah tentu sebuah kota yang teratur, hijau, dan banyak taman seperti Singapura dengan Garden City-nya akan memberikan suasana yang lebih nyaman dari pada yang kacau balau, tidak aman, dan kotor.

Kita menyadari bahwa pada dasarnya penyakit manusia sangat berkaitan (highly related) dengan semangat atau kesehatan mental spiritualnya dan sering disebutkan para ahli bahwa tiap orang mengalami gangguan kejiwaan pada taraf sekecil apapun.  Itulah sebabnya manusia butuh ketenangan hati yang bisa dibangun dengan suasana lingkungan dan sikap mental spiritual berdasarkan iman pada Allah Swt.  Mari kita jadikan rumah kita bukan hanya menjadi sebuah healing garden tapi juga sebagai surga kita.  Alangkah indahnya bila lingkungan tempat tinggal, kota, dan negeri kita ini sebagai healing garden yang menjadi bagian dari sebuah negera yang baldatun thayyiban wa rabbun ghafur sehingga darinya kita bisa mendapatkan semangat hidup yang optimis, kesehatan fisik, dan ketenangan hati secara mudah dan lebih murah serta diridhoi Allah Swt.

Read Full Post »

stopwatchsmallSering kita mendengar orang mengatakan bahwa kesempatan menghampiri kita hanya sekali, takkan kita jumpai lagi hal yang sama pada waktu lain.  Pemahaman ini digunakan orang untuk mengambil keputusan dan langkah yang menurutnya menguntungkan karena mengangggap kesempatan itu bagaikan barang yang datang entah dari mana dan hasil kerja diberikan oleh siapa.

Pendekatan ini mungkin benar bila kita memakai logika alam dunia yang sangat dipengaruhi oleh kebendaan dan nafsu manusia secara natural.  Orang akan menganggap dia berhak akan kesempatan itu sehingga cenderung mendorong ke sikap aji mumpung yang tidak lagi melihat kontribusi dan hak orang lain yang ada pada kesempatan itu.  Bila berkaitan dengan suatu usaha, bila memandangnya tanpa iman maka itu dianggap hasil dari usahanya semata tanpa ada campur tangan dari Yang Maha Kuasa.

Padahal pengaturan Allah sangat indah.  Manusia diingatkan bahwa sesuatu yang disukainya belum tentu baik baginya dan apa yang tidak dia sukai bisa jadi itu adalah baik baginya.  Ujian pada manusia bukan hanya dalam bentuk kesusahan tapi juga kesenangan atau kesempatan yang kelihatannya menguntungkan.  Bahkan bila menghadapi pilhan yang sudah jelas pun, bila dalam keraguan dianjurkan maka ambillah keputusan dengan berkonsultasi dan bereserah diri pada Allah melalui shalat istikharah.

Karena itu manusia senantiasa dituntut untuk tidak berburuk sangka pada Allah dan mensyukuri apa yang diberikan padanya.  Di balik sesuatu kejadian itu pasti ada hikmah yang pasti baik bagi yang mengalaminya.  Orang yang beriman tidak patut menganut mumpungisme; dengan bersabar dan bersyukur Insya Allah ia akan mendapatkan yang lebih baik dari yang tidak jadi didapatkannya kali itu.

Jadi, yang datang hanya satu kali itu adalah waktu yang membawa kesempatan itu.  Waktu tak akan berulang sehingga disebut yang paling jauh dari manusia adalah waktu yang sudah berlalu.  Berkaitan dengan waktu, manusia juga disebutkan senantiasa merugi kecuali mereka yang beramal shaleh dan saling menasehati untuk kebenaran dan selalu bersabar.  Dapat kita implikasikan bahwa kesempatan yang baik bagi kita Insya Allah akan berulang bagi mereka yang dikecualikan itu.

Read Full Post »

Image

Apakah tubuh anda bereaksi terhadap sesuatu yang bagi kebanyakan orang lain adalah suatu hal biasa? Dekat bulu kucing bersin misalnya, atau badan gatal-gatal ketika berbasah-basah mencuci kedaraan? Berarti anda alergi (allergy) terhadap penyebab itu.

Dalam hal tubuh, bolehlah karena sulit untuk mengendalikan atau mengobatinya.  Yang tak karuan bin ngawur adalah bila kita alergi terhadap sesuatu persepsi atau yang non-fisik seperti kepintaran, kebaikan, atau kejujuran.  Mudah-mudahan anda tidak termasuk kelompok yang alergi atau tidak suka yang demikian sehingga ketika bertemu dengan anda orang tidak menekuk wajahnya sambil matanya membesar kesana kemari. Atau pernah?

Coba simak, apakah ada yang alergi dengan orang pintar di sekitar anda?  Orang pintar di sini bukan dukun (yang telah disebut secara salah kaprah itu; sebenarnya ia bodoh mau diperalat setan) tapi orang yang menggunakan akal pikirannya dengan baik dan benar tanpa menafikan Allah Yang Maha Mengetahui.

Orang yang alergi ini cenderung membatasi hubungannya dengan orang pintar atau lebih darinya dan lebih suka dekat atau memanfaatkan orang-orang yang telmi atau lelet, asalkan sesuai dengan kehendaknya. Ciri-ciri lainnya, dia lebih suka mendominasi percakapan dan interaksi sehingga terlihat lebih menonjol di lingkungan di mana ia berada.  Pabila ia seorang pemimpin, maka otomatis dia akan lebih suka berada dalam lingkungan komunitas atau kelompok konservatif dan kurang maju yang loyalis, tanpa peduli apakah ia dan kelompoknya itu akan berprogres secara positif, stagnan, atau malah mundur.

Sebaliknya, seorang pemimpin yang bijak akan melihat kapasitas dan kebisaan orang lain sebagai sebuah potensi sekali gus peluang yang akan membantunya untuk menyelesaikan apa yang ingin dicapainya.  Ia cenderung mendengarkan dan belajar dari mereka sehingga meningkat juga pengetahuan dan kemampuannya.  Dalam bekerja ia dengan senang hati akan memprioritaskan orang-orang yang pintar dan memanfaatkan mereka dengan bijak sehingga tentu juga akan balas menghargai dan loyal padanya.

Pendekatan ini Insya Allah akan meningkatkan bobot kepemimpinannya, kapasitas kelembagaan,  dan kemudahan dalam mencapai keinginan, tugas, dan tanggung jawab yang diamanahkan padanya.  Sudah banyak contoh bahwa pendekatan ini akan bermuara pada peningkatan kesejahteraan yang jadi tanggungjawabnya secara optimal.  A smart leader likes smart staffs.  Anda termasuk tipe yang mana?

Read Full Post »

Image

Berangkat dari keadaan yang ada, berorientasi ke masa depan yang lebih baik, dan tetap optimis pada kemajuan bangsa, sudah waktunya kita menerapkan pendekatan baru dalam penyelesaian permasalahan yang ada.  Sejarah telah mencatat bahwa sistem masyarakat yang menggunakan nilai-nilai ciptaan manusia yang relatif, apalagi sangat diwarnai oleh nafsu manusia, tidak bertahan lama atau tidak berhasil mencapai kebahagian dan kesejahteraan secara utuh.  Keberhasilan material dan ragawi keduniaan tidak dapat menutup kekosongan jiwa keruhanian.

Karena itu, motivasi keduniaan nampaknya harus dilengkapi dan diperkuat oleh aspek ukhrawi dengan konsep yang jelas dan komprehensif.  Sejarah pula yang telah membuktikan, sebagaimana kajian pemikir Aljazair Malik bin Nabi, hanya masyarakat yang mengacu pada nilai-nilai yang datang dari ketentuan Ilahiah yang mutak dan suci (divine rules) yang bisa mencapai kejayaan peradaban.  Konsekuensinya, para pemimpin harus dibekali dengan sikap mental spiritual yang agamis yang meresap ke dalam nuraninya dengan penuh keimanan.  Untuk mengendalikan nafsu yang cenderung kepada keburukan, hanya iman yang bisa membentengi karena sifatnya yang patuh pada Allah Swt.

Image

Untuk itu proses penentuan para pemimpin harus diwarnai oleh nilai-nilai keagamaan secara tegas dan aplikatif.  Para calon sejak tahap pra-seleksi sudah diukur dengan nilai-nilai moral dan ajaran agama untuk memenuhi standar minimal seorang pemimpin.  Sistem pemilihan yang tidak bermarwah seperti yang berbau money politics, konsesi kekuasaan, premanisme, kecurangan, atau kekotoran lainnya, perlu dikondisikan sedemikian agar lebih madani sehingga tidak dapat menolak kebaikan, kejujuran, dan kemampuan sebagai nilai-nilai dasarnya.  Maka yang akan unggul adalah figur-figur yang sifat, karakter, dan gaya kepemimpinan dapat ditauladani.  Ketauladanan Rasulullah SAW yang senantiasa dalam koridor kehendak Allah Swt dapat kita jadikan benchmark kepemimpinan ideal yang kepadanya kita menaruh harapan.

Mereka yang sudah terpilih atau sedang menjabat pun sepatutnya diukur ulang dengan framework nilai-nilai ukhrawi ini.  Bagi yang dianggap masih kurang dapat diperkuat melalui pembekalan-pembekalan oleh para ulama yang berkompeten.  Yang sudah baik dapat menerapkannya secara maksimal untuk kemaslahatan masyarakat yang dapat pula jadi contoh serta menularkannya pada yang lain.

Hanya orang yang beriman, berilmu, dan beribadah dengan baik dan benar yang akan dapat melahirkan kebaikan yang sesuai dengan kehendak Allah Swt.  Kalau para pemimpin sudah masuk ke masjid maka akan mudah membangkitkan arus kebajikan dalam masyarakat sehingga pada gilirannya akan  menggelinding ke terbentuknya masyarakat yang madani, sejahtera lahir dan batin.  Masjid Insya Allah dapat diandalkan untuk membentuk pendekatan baru dalam kepemimpinan yang dapat menjawab berbagai permasalahan yang tak kunjung selesai hari ini.

Read Full Post »

U2MTN_l-Rt-7FclRb47aiA (1)

Belakangan ini, secara beruntun kita disuguhi drama permasalahan bangsa, sejak di pentas nasional sampai ke daerah.  Tanpa perlu menyebut satu persatu, berbagai permasalahan dalam lingkup hukum, politik, ekonomi, sosial dan kemasyarakatan tidak putus-putusnya muncul sebelum yang terdahulu selesai.  Upaya pencegahan dan penyelesaian yang dilakukan oleh berbagai pihak terkait nampaknya belum berhasil memperbaiki keadaan sehingga kita harus berpikir secara lebih mandasar.

Pendekatan ketatanegaraan dan hukum yang dilakukan selama ini bisa jadi sudah sesuai dengan konstitusi kita namun pada kenyataannya tidak menimbulkan perbaikan yang cukup pada perilaku kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.   Jika mengacu ke situasi normal, hari ini kita akan terperanjat secara berulang-ulang karena kejadian buruk yang satu tidak jadi pelajaran untuk tidak terjadinya keburukan lain yang lebih parah.

Untuk memperbaiki keadaan, memanglah menjadi kewajiban tiap orang yang masih mencintai bangsa ini.  Masing-masing kita punya potensi dan peluang untuk berkontribusi sesuai dengan kemampuannya.  Akan tetapi secara alamiah pula, makin besar potensi dan kekuasaan seseorang, akan makin banyak pula yang bisa dibuatnya.  Para kepala pemerintahan, wakil rakyat, politisi, dan tokoh sosial kemasyarakatan–yang semuanya kita sebut saja pemimpin–jelas lebih kuasa untuk merubah sesuatu ketimbang anggota masyarakat biasa.

Sangat disayangkan, harapan kita pada para pemimpin nampaknya belum terpenuhi.  Sudah menjadi pembicaraan luas, mereka sibuk membangun citra atau jaringan kekuatan, bukan demi peningkatan kemaslahatan masyarakat tapi untuk meraih kekuasaan yang lebih kuat.  Para politisi dan elit partai umumnya terus berebut posisi, yang ujung-ujungnya bukan untuk membela kepentingan rakyat tapi untuk mendapatkan kebendaan dan kemewahan duniawi.  Mereka juga saling menyandera kesalahan perseorangan atau kelompok.

Tugas utama mereka yang berkaitan dengan rakyat jadi terkebelakangkan dan terkalahkan oleh kepentingan pribadi atau kelompok.  Para legislator yang sebenarnya jadi hulu dari perubahan keadaan lebih sibuk merumuskan aturan untuk mereka sendiri agar dapat meraup pendapatan dan fasilitas atas biaya negara tanpa dianggap pelanggaran, meskipun secara akal sehat terasa janggal.  Pemerintah yang berkuasa, pada segala level sibuk atur-mengatur dan meracik anggaran untuk  mengakomodir kepentingan pribadi dan kelompok masing-masing sehingga tersandera pada kehendak busuk, tidak proporsional, atau tidak berpihak pada rakyat dari kelompok lain.

Yang lebih memprihatinkan, budaya sogok dan korupsi sudah demikian menggejala sehingga kita tak dapat berharap banyak pada orang-orang yang sedang berkuasa, berwenang, atau mendapat kesempatan mengelola sesuatu yang bisa “diolah”.  Sudah tidak rahasia lagi bahwa kewenangan dibaca sebagai kesempatan mendapatkan sesuatu di bawah meja.  Karenanya pelayanan umum tidak memuaskan karena bukan dilakukan sebagai pengabdian tapi dijadikan lahan untuk mendapatkan keuntungan sempit di luar koridor aturan dan hukum.  Bak kata pepatah: tongkat membawa rebah, berharapkan pagar, pagar makan tanaman.

Upaya memperbaiki keadaan dengan motivasi atau reward kebendaan, penghargaan, pemberian fasilitas, dan berbagai modus keduniaan ternyata belum berhasil mengembalikan kebaikan ke dalam hati kebanyakan pemimpin dan orang-orang yang berkewajiban mengurus masyarakat.  Ratusan kepala daerah, pejabat tinggi pemerintah, legislator, fungsionaris partai di segala lini dan lapisan terus terkena proses hukum akibat tidak pidana korupsi.  Institusi penegakan hukum kurang efektif dan bahkan tidak kurang pula orang-orangnya jadi bagian dari masalah.  Badan pencegahan dan penindakan raswah hanya ditakuti ketika telah ketahuan berbuat curang.

Read Full Post »

Older Posts »