Feeds:
Posts
Comments

Archive for October, 2013

handphoneSuatu kali masuk sebuah short message yang panjang.  Seperti biasanya, kalau yang masuk itu sebuah pesan yang panjang maka aku akan membacanya ketika waktu sudah agak longgar.  Bila itu suatu pesan penting maka akan aku tindaklanjuti; bila hanya info biasa, humor, kata-kata motivasi, atau kisah-kisah inspiratif maka yang bagus dan menarik akan aku forward pada teman-teman atau keluarga sesuai proporsi dan keperluannya.

Namun kisah inspiratif satu ini yang juga tak menyebutkan sumbernya , rasanya sangat bagus karena bernilai motivasi kewirausahaan yang aku suka dan sering sampaikan kepada paramuda.  Meski tidak diketahui apakah kisah ini berdasarkan kejadian yang sebenarnya atau fiktif, mungkin bagus untuk mengingatkan kita tentang prioritas dan memberi motivasi.  Supaya bisa dibaca oleh lebih banyak orang maka setelah aku edit seperlunya, berikut kisah inspiratif itu untuk para pembaca.  Mohon maaf bila ini ternyata sumbernya dari anda atau sudah anda baca sebelumnya.

Seorang lelaki melamar pekerjaan sebagai office boy di sebuah Kantor Bupati.  Staf kantor bupati mewawancarai si lelaki dan minta membersihkan lantai sebagai tesnya.

“Kamu diterima,” katanya, “Berikan PIN HP kamu dan saya akan kirim data yang harus kamu siapkan dan pemberitahuan kapan kamu mulai kerja.” (aslinya yang diminta itu identitas HP dengan merek tertentu yang untuk tulisan ini kita ganti saja)

Lelaki itu menjawab: “Saya tidak punya HP, apalagi PIN.”

“Maaf,” kata si staf, “Kalau kamu tidak punya HP, berarti kamu tidak bisa diterima bekerja.”

Lelaki itu pergi dgn harapan kosong. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan hanya dengan Rp 100.000,- di dalam kantongnya.  Lalu dia memutuskan pergi ke pasar untuk membeli 10 kg tomat.  Ia menjual tomat itu dari rumah ke rumah. Kurang dari 2 jam, dia berhasil melipat gandakan modalnya dengan melakukan kerjanya tiga kali sehingga bisa pulang membawa Rp 300.000.  Dia pun sadar bahwa dia bisa bertahan hidup dengan cara ini.

Ia mulai pergi bekerja lebih pagi dan pulang larut. Uangnya menjadi lebih banyak 2x sampai 3x lipat tiap hari.  Setelah beberapa waktu, dia mapu membeli gerobak, lalu truk, dan akhirnya memiliki armada kendaraan sendiri.

Lima tahun kemudian, lelaki itu sudah menjadi salah satu pengusaha besar bahan makanan.  Ia mulai merencanakan masa depan keluarga, dan memutuskan untuk memiliki asuransi jiwa.  Ketika ia menghubungi broker asuransi, sang brokerpun menanyakan PIN HPnya.  Lelaki itu masih juga punya jawaban yang sama dengan jawaban ketika ia ditolak bekerja dulu: “Saya tidak punya HP.”

Sang broker bertanya dengan penasaran: “Anda tidak punya HP, tapi sukses membangun sebuah usaha besar.  Bisakah anda bayangkan, sudah jadi apa Anda kalau punya HP?!”

Lelaki itu menjawab kalem: “Agaknya masih jadi office boy di Kantor Bupati…. Alhamdulillah.”

Moral cerita ini adalah bahwa sesuatu itu belum tentu alat atau solusi dari keberhasilan kita dalam hidup, bila ada mungkin akan jadi alat bantu.  Yang lebih penting adalah sungguh-sungguh, kerja keras, jujur, punya komitmen, dan tawakkal.

(sudah dimuat di http://ekonomi.kompasiana.com/wirausaha/2013/10/25/jadi-pengusaha-sukses-karena-tak-punya-pin-bb–604701.html)

Advertisements

Read Full Post »

Keterpaduan yang diharapkan menghasilkan kinerja (foto dari Sumut Pos).

Keterpaduan yang diharapkan menghasilkan kinerja (foto dari Sumut Pos).

Para PNS atau pensiunan mesti terganggu jika membaca ungkapan: “If I am just a little bit dumber, then I will be a PNS” yang saya temukan pada sebuah tulisan di indonesiaindonesia.com.  Mereka bisa geram, terhina, membantah, atau sebagian yang pragmatis mungkin hanya membalas dengan bilang: “suka hatilah mau bilang apa, yang jelas aku bisa menjalankan kehidupan dengan mudah dan nyaman!”

Ungkapan sarkastik ini dipakai oleh si penulis untuk menyatakan  bahwa banyak profesi PNS yang tidak membutuhkan kompetensi tinggi dan tidak pula membanggakan.   Itu jelas datang dari orang yang kecewa dengan PNS; bisa jadi ia tidak diterima jadi PNS, tidak nyaman dan kondusif sebagai PNS, dirugikan oleh pelayanan kantor pemerintah, atau kecewa pada kinerja PNS.

Laman itu menjawab kenapa banyak orang mau jadi PNS namun tidak satupun menyebutkan alasan yang idealis atau patriotik seperti: ingin mengabdikan diri bagi Negara, berusaha menerapkan ilmu yang didapat untuk kemaslahatan orang banyak, atau bla bla lainnya.  Bisa jadi memang demikian adanya karena itu mari bersikap positif saja terhadap pandangan ini dan selanjutnya kita lihat enam alasan yang nampaknya lebih berlatarbelakang alam kebendaan.

Setelah diedit dan diperkuat, alasan-alasan orang menjadi PNS adalah: 1) Untuk mendapatkan jaminan kemanan sosial (social security) di tengah kondisi perekonomian Indonesia yang masih belum meyakinkan bila bekerja di swasta. 2) Tidak terlalu memerlukan etos kerja tinggi dan lebih sedikit tantangan dibandingkan dengan di swasta karena peran PNS lebih sebagai pengelola (management) dari kebijakan atau kegiatan yang dilakukan oleh dunia usaha dan masyarakat.  Sementara kebanyakan para calon yang prime quality cenderung ke multinational corporation atau mebuka usaha, yang KW berebut mengejar PNS karena tetap terbuka peluang jadi “bos” dan kaya. 3) Jadi PNS tidak akan dipecat, kecuali berbuat kriminal, sebagaimana banyak kejadian yang disaksikan masyarakat, bila ada kesalahaan paling juga dimutasi.

Alasan atau motivasi jadi PNS ini berlanjut ke arah yang lebih non-teknis , yaitu: 4) Terbuka peluang untuk mendapat fasilitas seperti kendaraan dan rumah dinas sehingga permasalahan yang mendasar ini lebih cepat terselesaikan. 5) Menjadi kebanggaan person tersebut dan keluarganya karena punya status yang dikenal masyarakat seperti guru, dosen, kepala kantor, peneliti, dan berbagai profesi yang memerlukan keahlian lainya.  6) Mempunyai status sosial favorit mengikuti pandangan konservatif, khususnya golongan tua.  Profesi PNS cukup terpandang dalam tatanan sosial kita karena ada penghasilan pasti dan masih punya gaji setelah pensiun; banyak calon mertua misalnya lebih memfavoritkan menantu kalau tidak yang kaya, ya PNS!

Menurut banyak penulis blog, mendiang Romo Mangunwijaya pernah menulis bahwa sistem pendidikan kita melahirkan minat untuk menjadi PNS karena masih mewarisi mental inlander dari zaman penjajahan dulu.  Kolonial Belanda mendidik orang supaya patuh dan taat pada pemerintah agar bisa menjadi ambtenaar (PNS zaman kolonial) yang merupakan jabatan terhormat ketika itu.  Paradigmanya adalah mereka merupakan bagian dari kekuasaan (penguasa) yang akan mengambil pajak dari rakyat.  Sikap mental itulah yang diwarisi sampai sekarang, mereka bukan pelayan dari rakyat dan pembayar pajak tapi yang mempunyai kekuasaan sehingga berhak untuk mendapatkan previledge berupa gaji, pelayanan, dan berbagai fasilitas.  Inilah yang akan menggiring para penguasa ke perilaku koruptif.

Padahal, menurut Malik bin Nabi, seorang pemikir dan penulis Aljazair yang mempelajari perkembangan peradaban Islam sejak zaman Rasulullah SAW sampai puncak kejayaannya, pertumbuhan peradaban itu mempunyai siklus yang terkait ke alam kebendaan, figur tauladan, dan sistem nilai yang hidup dalam masyarakatnya.  Bangsa yang mengedepankan kebendaan akan meluncur ke keruntuhan peradabannya, kecuali ada para figur tauladan yang dapat memperbaikinya secara efektif.

Bagaimanapun marilah kita tetap optimis karena masih lebih banyak PNS yang baik, berprestasi, dan disiplin, sembari berdoa agar sinyalemen negatif itu salah.  Pada dasarnya, nurani seorang PNS juga tetap cenderung kepada kebaikan.  Yang penting, bila anda PNS apakah termasuk yang berebut dengan alasan diatas atau bertekad akan menjadi salah satu figur yang ikut menyelamatkan bangsa ini?  Kita doakan pula para pemimpin di pusat dan di daerah seperti Gubernur, Bupati, dan Walikota saat ini punya paradigma yang menguntungkan rakyat.

(sudah dimuat di http://birokrasi.kompasiana.com/2013/10/24/kenapa-orang-berebut-jadi-pns-604538.html)

Read Full Post »

naughty-boy-gun-8190382Sudah lima belas tahun kita dalam era reformasi yang membuka pintu demokrasi dengan luas.  Bagaikan manusia, apakah kita sudah dewasa saat ini atau baru sebatas mengikuti usia itu atau malah masih berperilaku anak-anak?

Tidak ada yang salah dengan perilaku anak-anak karena sesuai dengan usianya, seorang anak-anak masih terbatas wawasan, logika, persepsi, dan pengetahuannya.  Sekalipun anak-anak, bila dididik dengan baik dan terarah secara konsisten maka insya Allah mereka akan menjadi pribadi yang baik dan berprestasi.  Namun bila kita mengabaikan pentingnya pendidikan seorang anak sebagaimana Abdul Muis gambarkan dalam sebuah novelnya yang terbit tahun 1928, tentulah ia akan menjadi  anak yang “salah asuhan”.

Seorang anak “salah asuhan” sangat sulit dikendalikan sikap dan perilakunya sehingga akan sering menyusahkan orang-orang di sekitarnya.  Nur Fazh yang memprelajari hal ini menulis bahwa perilaku buruk dan berlebihan anak “salah asuhan” antara lain: menangis dan menjerit jika ingin sesuatu, merajuk jika keinginannya tidak dituruti, suka marah dan memukul bila dikenakan hukuman, mengabaikan pertanyaan orantua, bersikap kasar dengan orang di sekitarnya, menolak berkongsi mainan dan lainnya dengan saudaranya, suka minta perhatian jika bersama anak-anak lain, suka mendapatkan milik orang lain dan kalau dapat masih minta yang baru lagi, membiarkan kamar berserakan dan tidak mau merapikan, dan tidak disiplin tidur sesuai seharusnya.

Dari sepuluh perilaku negatif tersebut dapat kita kelompokkan lagi menjadi:  1) suka memaksakan kehendak dengan berbagai cara, 2) ingin mendominasi atau menguasai hak dan milik orang lain, dan 3) tidak peduli dengan ketidakteraturan ,dan 4) tidak mau mengikuti aturan atau tidak disiplin.  Bila perilaku ini bila tidak dikoreksi sejak usia dini, maka akan terbawa terus sampai dewasa.  Setelah dewasa, ia akan banyak bersikap dan bertindak mengikuti perilaku buruk ini dalam kehidupannya.

Bila ia seorang yang bergerak dalam bidang politik atau pemerintahan maka ia akan berperilaku “salah asuhan”.  Ia akan memaksakan diri agar bisa jadi pemimpin dengan menempuh berbagai cara; bila perlu ia akan menggunakan uang atau berlaku curang.  Tanpa mengukur bayang-bayang, ia merasa pantas jadi pemimpin dan supaya itu terjadi ia tidak malu jual kecap, meskipun orang telah menilainya tidak mampu dalam mengelola sesuatu secara baik dan teratur.  Seorang yang “salah asuhan” ini juga menghalalkan black campaign dan tidak ragu untuk menabrak mekanisme dan proses yang sudah diatur.

Didorong pula oleh iklim mengutamakan kebendaan hari ini, perilaku “salah asuhan” sampai besar ini nampaknya menghinggapi banyak orang dalam masyarakat kita sehingga seakan-akan sudah menjadi perilaku kolektif.  Ketika terbawa dalam bidang politik dan pemerintahan maka akan muncul demokrasi ”salah asuhan” yang bila itu berlaku terus menerus dan massive, bisa jadi akan dianggap sebagai suatu cara berdemokrasi yang baik dan benar.  Weleh… weleh… jadilah ia sebuah demokrasi kualitas anak-anak yang salah asuhan pula.

Jangan kita sesalkan keadaan sebagai hasil dari demokrasi yang tak dewasa ini karena kita sendiri mungkin juga tidak peduli dan masih mentolerir praktek atau tak berdaya terhadap buruk yang demikian.  Bukan rahasia lagi adanya istilah “serangan fajar”, “biaya beli sampan”, “bagi-bagi sembako”, dan seterusnya yang ternyata memang dinikmati oleh kebanyak orang sambil ikut berjoget-joget berdangdut ria bersama artis-artis seksi di atas panggung hiburan dadakan.  Calon pemimpin masih dinilai dari kehebatan baliho, spanduk, atau iklan di media serta gegap gempitanya panggung-panggung kampanye bersama artis tadi dan “oleh-oleh” yang dibagikannya yang mana semuanya masih berkaitan dengan kebendaan yang demi kepuasan nafsu.  Dalam fasa perkembangan manusia, perilaku seperti inilah yang kita jumpai pada fasa anak-anak tadi.

Jadi perilaku kita yang tak dewasa dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat akan melahirkan perilaku politik dan pemerintahan yang juga tidak dewasa.  Kuatnya pengaruh kebendaan akibat memperturutkan nafsu dan lemahnya iman telah pula memperburuk keadaan sehingga jadi sebuah lingkaran syetan.  Demokrasi “salah asuhan” akan melahirkan pula para pemimpin yang tidak dewasa, tidak amanah, yang tentu diikuti tidak kapabel karena terpilih bukan atas kriteria yang baik dan benar.  Tidak ada cara lain untuk memperbaiki keadaan kecuali kita bisa memutus lingkaran syetan ini terlebih dahulu.

Caranya? Kita sudah tahu, cara cepat adalah dengan revolusi yang pasti akan banyak makan korban dan tidak konstitusional.  Evolusi akan perlu waktu yang sangat lama dan belum tentu berhasil karena susupan keentingan dan degradasi akhlak bisa jadi akan makin kuat.  Karena itu sekarang marilah kita berdoa dan mendorong agar ada pimpinan puncak dan teras elit kekuasaan yang menyadari hal ini dan dengan kuat serta berani menguakkan kejumudan ini lalu mau melangkah untuk memperbaiki keadaan berdasarkan suatu konsep dan pendekantan yang komprehensif, realistis, dan berkeadilan.  Mudah-mudahan Allah memberi taufiq dan hidayah pada bangsa Indonesia.

(sudah dimuat di kompasiana.com/efki)

Read Full Post »

Kick_ULilUlil ini bukan sosok dalam episode anak-anak si Unyil.  Ia adalah Ulil Abshar Abdallah, pentolan Jaringan Islam Liberal (JIL) yang sudah sering mengalami kejadian tidak enak karena pemikirannya.  Hari Ahad 20/10/2013 anggota pengurus pusat Partai Demokrat ini telah ditolak untuk berbicara dalam sebuah seminar di Universitas Islam Negeri (UIN) Sutan Syarif Kasim, Riau.

Saat seminar “Demokrasi di Negara-Negara Muslim” itu akan dimulai, Ulil dihubungi Dekan Fakultas Ushuluddin yang melarangnya berbicara sebagaimana yang direncanakan.  Menurut Ulil, alasannya karena ada ancaman dari kelompok-kelompok Islam tertentu yang tak menyukai dirinya.   Melalui twitter kemudian ia berkicau bahwa kejadian ini sebagai kabar buruk dari kebebasan akademik.

Mungkin Ulil tidak tahu bahwa rencana menghadirkannya di seminar itu, sejak semula sudah menuai kontroversi di Riau.  Sebagaimana dilaporkan sebuah media Islam, Anggota Komisi Ukhuwah MUI Riau Ir Muhammadun mengatakan: “Kita menolak pemikiran-pemikiran liberalnya itu, yang oleh MUI tahun 2005 sudah ada  fatwa bahwa pemikiran sekularisme, liberalisme dan plurarisme itu bertentangan dengan Islam. Kalau mengundang dia, berarti akan mensosialisasikan pemikiran-pemikiran dia, kan?”

Karena itu Muhammadun meminta agar ke depan mahasiswa lebih selektif memilih narasumber.  “…dipilih yang mendukung keislaman, bukan yang mendukung sekularisme dan pluralisme. Mereka ini kan pengusung, penjaja dan pengecer ide-ide liberal. Ada kepentingan asing dibelakangnya. Jadi teman-teman mahasiswa kita himbau supaya tahu orang-orang ini dibelakangnya siapa, siapa yang mendanai, berbahaya atau tidak bagi kampus, mahasiswa dan masyarakat pada umumnya,” tegas Muhammadun.

Sementara itu, di media sosial beredar pula berbagai reaksi. Sebuah posting berbunyi: “Ulil, kamu tu ditolak ceramah di kampus tu bukan sbg anak bgsa, tpi krn kamu dedengkot/simbol JIL. Islam bukan liberal. #jangan cengeng dong, merengek2 seolah kmu sdg dizalimi”

Tentang “kelompok-kelompok Islam tertentu yang tak menyukainya” itu, juga muncul berbagai tanggapan. Pada umumnya para da’i dan aktivis Islam di Pekanbaru heran tentang kelompok mana yang dimaksud karena yang tidak dapat menerima Islam liberal itu bukan hanya orang “tertentu” atau sedikit. Yang setuju dengan pemikiran Ulil itu justru sangat sedikit sehingga Ulil dan kawan-kawanlah yang harus disebut kelompok tertentu.

Lagi pula, para jama’ah masjid-masjid di Riau sudah lama tidak dapat menerima JIL, Ulil, dan kawan-kawannya, sesuai ketetapan Majelis Ulama Indonesia Nomor: 7/MUNAS VII/MUI/II/2005 tanggal 29 Juli 2005 yang menyatakan kesesatan Pluralisme, Liberalisme Dan Sekularisme Agama.  Ketia Ulil muncul lagi maka ketenangan itu seolah terusik kembali.  Kalau dibulatkan, tanggapan kaum Muslimin di Riau terhadap penolakan Ulil dapat diwakili kalimat-kalimat yang dikutip dari posting sebuah kelompok studi Agama Islam, sebagai berikut: “Tidak ada yang mengancam. Alasan Ulil ditolak di UIN Suska bagi kita sederhana saja: karena pemikirannya sudah nggak laku lagi di negeri Melayu ini..”

Nampaknya Ulil harus melakukan kaji ulang atas pemikirannya supaya bisa diterima dimainstream pemikiran Islam.  Ia harus menterjemahkan kembali kebebasan berpendapat dan beragama yang diusungnya.  Sementara di Riau berbagai pihak kelihatannya memang sedang berusaha  keras membangun benteng akidah ummat Islam, ia juga harus berpikir dua kali untuk datang lagi ke Riau.

Read Full Post »

prostatDalam sebulan lalu, untuk menjaga anak yang dirawat, saya bolak-balik dan kadang menginap di sebuah rumah sakit yang cukup modern.   Rumah sakit sembilan lantai itu memanfaatkan pintu otomatis lift untuk menempelkan info pelayanan yang mereka berikan.

Berawal dari pintu lift itu, akhirnya suatu hari saya mendarat di depan seorang dokter urologi di rumah sakit yang sama.  Karena tidak ada info lingkup itu di medical recordsaya, ia menanyakan apa keluhan saya.  Dokter yang ramah itu agak terperangah ketika saya katakan tak ada keluhan atau sakit tertentu. Lalu kami berdialog.

“Saya lihat info tentang pelayanan medis dokter di pintu lift tentang kesehatan prostat pada pria berusia 50 tahun ke atas.  Saya kadang-kadang memang merasa tidak tuntas ketika buang air kecil.  Apa itu tanda ada gangguan prostat?” kata saya.

“Baik… salah satu masalah kesehatan pria adalah berkaitan dengan kelenjar prostat.  Secara alamiah, kelenjar yang ada di bawah kandung kemih ini akan mengalami perubahan, umumnya ketika kita mulai berusia 50 tahun.  Kelenjar untuk mengatur urine keluar ini akan sedikit membesar dan elastisitasnya mulai berkurang sehingga menimbulkan rasa tidak tuntas tadi.  Keadaan ini tidak ada kaitannya dengan aktivitas seksual, hanya natural saja.  Bila tidak dikelola dengan baik untuk waktu yang lama, barulah itu potensial jadi gangguan serius” jelasnya menggunakan gambar bantu.  “Karena itu, saya akan lakukan beberapa pemeriksaan.”

Lalu dokter tersebut melakukan pemeriksaan ultrasonography (USG) kelenjar prostat untuk keadaan sebelum buang air kecil dan kemudian tes kekuatan pancar buang air kecil.  Karena tes pancar ini dilakukan pada saat saya benar-benar sudah kebelet buang air kecil, terpaksalah dimulai dengan minum banyak air terlebih dahulu.  Satu botol sedang air kemasan habis belum terasa apa-apa, lalu botol kedua dan satu gelasjuice juga belum berpengaruh sehingga terus duduk di ruang tunggu.  Setelah habis botol ke tiga dan dibawa berjalan-jalan beberapa menit barulah tes pancar itu dilakukan dan USG setelah buang air kecil–yang dapat dilakukan kapan saja–pada keesokan harinya sesuai jadwal yang didapat.

Melihat hasil-hasil tes saya, dokter itu dengan antusias mejelaskan bahwa semua keadaan baik.  Gangguan ringan buang air kecil yang terasa memang proses alamiah yang wajar dan telah sangat tepat mau memeriksakan diri ketika usia sudah menginjak 50an tahun.  Untuk itu dia akan memberikan obat  berupa tablet yang dihisap sebelum minum tiap sebelum tidur untuk 20 hari.

Hatipun tenang dan setelah makan obat itu beberapa hari, walaupun sedikit memang terasa ada perbaikan.  Ketika berada di depan pintu lift yang memuat info prostat itu kembali, baru saya sadar betapa telah efektifnya mereka memanfaatkan pintu lift untuk kepentingan marketing rumah sakit itu namun sekali gus menguntungkan kesehatan pasien.  Bagi yang muda peringatan untuk menjaga kebersihan dan memeriksakan kesehatan secara berkaa.  Tapi bila anda seorang pria yang sudah menginjak usia dengan kepala lima, tidak perlu melihat pintu lift itu dulu baru mau melakukan pemeriksaan prostat karena penyakit yang berasal dari kantong prostat merupakan salah satu penyakit fatal yang terbanyak menyerang pria.

(sudah dimuat di kompasiana.com/efki)

Read Full Post »

Image

Syurga merupakan kesenangan yang diterima manusia dengan ridho Allah Swt di akhirat kelak. Ridho itu didapat karena banyak berbuat baik atau amal ibadah yang memberikan pahala.  Sebaliknya, neraka adalah dimana manusia menerima azab sebagai balasan atas dosa akibat banyak melakukan keburukan atau kemaksiatan yang dimurkai Alah Swt.

Karena itu muncul istilah “syurga dunia” untuk kesenangan yang bisa didapat di dunia dan “neraka dunia” untuk yang sebaliknya.  Yang serunya ada keadaan yang terbalik; syurga atau kesenangan akhirat dipagari oleh kesusahan atau perjuangan dunia sedangkan neraka dihiasi oleh kesenangan dunia yang sangat menggoda.  Kesenangan dunia itu diturunkan oleh nafsu yang cenderung pada keburukan.

Nafsu mendorong kita senang dengan tiga “ta”: harta, tahta, dan wanita (atau pria bagi wanita). Bila tak terkendali, ia membuat kita tidak lagi melihat baik buruk dalam mendapatkan tiga “ta” tadi sehingga menghalalkan segala cara.  Dari banyak kejadian terbukti, keburukan satu diikuti oleh keburukan-keburukan lainnya, misalnya seorang yang curang dalam mendapatkan tahta maka ia dengan mudah akan tergelincir pada nafsu pada wanita dan harta yang haram atau didapat dengan korupsi.

Menggejalanya tindak pidana korupsi, bisa jadi karena banyak orang berpikir bahwa ia tetap bisa masuk syurga dengan sebuah rute baru karangannya sendiri.  Korupsi sebanyak mungkin, kalau ketahuan urus perkaranya dengan sebagian hasil korupsi yang didapat agar hukuman seringan mungkin, jalani hukuman dengan lihai supaya ringan dan dapat fasilitas yang tak menyusahkan, lalu tobat, dan setelah bebas sebagai orang kaya banyak beramal ibadah.  Enak aja, ia membuat sendiri sebuah rute baru yang akan mengantarkannya ke syurga dunia dan sekaligus juga syurga akhirat.

Bisa jadi pikiran sesat ini salah satu penyebab tak surut-surutnya kasus korupsi di negeri kita ini.  Terungkapnya satu kasus tidak mengurangkan minat pelaku-pelaku baru. Seorang koruptor masih bisa menegakkan kepalanya setelah divonis dan menjalankan hukuman.  Orang dan keluarganya tidak lagi merasa malu sebagai narapidana korupsi, apalagi kalau hanya sekedar diperkarakan yang akhirnya bebas atau lenyap kasusnya.  Padahal konsekuensi dari sesuatu yang haram sangatlah jauh baginya.

Apabila seseorang memakan harta yang haram maka Allah Swt tidak akan menerima amal ibadahnya selama 40 hari. Kalau pada hari kedua masih makan yang haram maka terus berlanjut amalnya tidak akan diterima, temasuk keluarga yang menikmati harta haram.  Seumur hidup makan yang haram, seumur hidup pula tanpa pahala meskipun ia mengaku sudah tobat dan menjadi orang yang baik, banyak membantu orang, dan rajin amal ibadah.  Harta haram juga mengundang bencana.

Karena itu, bila kita telah melakukan krsalahan, menurut para ustadz jalan keluarnya memanglah tobat yang diwujudkan dengan beberapa tindak lanjut yang prinsipil lainnya.  Pertama, kita harus menyadari dalam hati kesalahan yang telah kita lakukan dan kita ucapkan penyesalan dalam permohonan ampunan (istighfar) dan doa.  Kedua, berjanji untuk tidak mengulangi dan memang tidak mengulanginya.  Ketiga, bila kita punya dosa pada seseorang, mintalah maaf padanya.  Keempat,  kembalikan semua harta haram yang kita ambil kepada Negara atau pemiliknya. Jika tidak jelas kepada siapa, amalkan untuk yang tidak terkait pada ibadah ritual tapi kepentingan umum seperti jalan, saluran, kebersihan, sekolah, rumah sakit, dan sebagainya.  Kelima, ikuti dengan banyak amal ibadah, sadaqah, membantu orang, dan perbuatan baik lainnya.

Untuk melaksanakan semua jalan ini memang berat, tidak mudah, dan mungkin juga malu.  Tapi semuanya jauh lebih ringan dari pada azab yang kita terima kelak bila tidak diperbaiki.  Di dunia ini, itulah yang harus kita bayar atas kesenangan tak halal akibat nafsu yang telah menggoda kita.  Dengan demikian, sudah pasti bahwa melalui kesenangan duniawi yang melanggar karena mengikuti hawa nafsu, tidak ada rute baru menuju ke syurga!

(sudah dimuat di kompasiana.com/efki)

Read Full Post »

Image

Tercatat dalam sebuah buku yang ditulis oleh Imam Syekh Abu ‘Ammar, suatu kali tiga orang imam yang mumpuni yaitu Imam Hanbali, Imam Ibnu Mahdi, dan Imam Syafi’i pergi melaksanakan ibadah hajji.  Mereka bertiga tinggal satu kamar.

Suatu malam, Imam Syafi’i memperhatikan bagaimana sejak tengah malam sampai menjelang adzan subuh Imam Malik berdiri lama, rukuk, dan sujud berkali-kali.  Ia juga melihat Imam Ibnu Mahdi dalam istirhatnya banyak bergerak-gerak yang menandakan ia tidak tidur pulas.

Pada pagi hari, Imam Syafi’i memberanikan bertanya kepada Imam Hanbali, apa yang dilakukannya dari tengah malam sampai menjelang subuh.  Imam Hanbali menjawab: “Aku mengkhatamkan Al-Quran dalam shalat tahajjud.”  Lalu ia bertanya pula kepada Imam Ibnu Mahdi, mengapa ia nampaknya tidak tidur nyenyak. “Alhamdulillah, semalam aku berhasil memisahkan 200 hadits sahih,” jawab Imam Ibnu Mahdi. Kedua imam itu bisa menyimpulkan, berarti Imam Syafi’i juga tidak tidur sejak tengah malam sampai pagi.  Mereka bertanya apa yang dilakukannya semalam.  Dengan rendah hati Imam Syafi’i menjawab: “Alhamdulillah, saya berhasil menemukan hukum fiqih yang menetapkan halal haram atas 200 perihal.”

Dialog antara tiga orang imam mumpuni tersebut tentu dengan redaksi yang kurang lebih demikian.  Namun kita faham dan dapat membayangkan apa yang terjadi di kamar tiga imam itu.  Secara imajiner, bagaimana kalau kita jadi orang ke empat bersama mereka di kamar itu?

Bisa jadi kita mendengkur sejak sebelum tengah malam karena tidak biasa memanfaatkan waktu sepertiga malam menjelang subuh .  Alarm tak punya; kalaupun bisa terjaga, tidak bisa maksimal untuk membaca Al-Quran atau kitab dengan penerangan yang sederhana.  Sementara mushaf Al-Quran masih terbatas dan besar ukurannya untuk dibawa-bawa, kita tidak pula banyak hafalan.  Lain dengan sekarang yang bisa pakai smartphone atau ipad yang sangat memudahkan untuk membaca Al-Quran sekali pun dalam gelap dan di atas kendaraan.

Kisah ini menggambarkan betapa kuat dan sungguh-sungguhnya para ulama dahulu dalam berilmu dan beramal ibadah.  Orang biasa tentu menghadapi keadaan yang sama padahal dengan kemungkinan besar dengan tingkat keimanan dan usaha yang lebih rendah dari para imam tersebut.  Karena itu kita patut bersyukur berada pada tempat dan waktu yang jauh lebh mudah dari orang-orang yang terdahulu.  Tidak ada cara lain kecuali rasa syukur itu ditunjukkan dengan tidak kurang bersungguh-sungguh dan giat kita dalam berilmu dan beramal ibadah hari ini.

(sudah dimuat di kompasiana.com/efki)

Read Full Post »

Older Posts »