Feeds:
Posts
Comments

Archive for February, 2014

Oleh: Abdul Somad Lc MA

(Alumni Dar al-Hadith Kerajaan Maroko)

mqdefaultKetika penulis mendengar ceramah, atau menghadiri beberapa acara menemukan beberapa hadis palsu, hal ini berdasarkan kajian penulis.

Untuk itu perlu mendapat perhatian bersama, agar tidak sembarangan menyampaikan hadis. Beberapa hadis tersebut di antaranya:

Sampai Liang Lahat
Teks hadisnya yakni Uthlub al-‘Ilm min al-Mahdi ila al-Lahd”. Artinya “Tuntutlah ilmu dari buaian ke liang lahat”. Disampaikan oleh Z, pada acara taushiyah buka puasa di Masjid Agung An-Nur, Ramadan 1434H/2013M. Disiarkan langsung di RRI Pekanbaru. Kalimat ini bukan hadis, hanya kata-kata ulama.

Disebutkan Imam Ismail Haqqi bin Mushthafa al-Istanbuli al-Hanafi al-Khalwati dalam kitab Tafsir Ruh al-Bayan,  juz V, halaman 211.

Juga disebutkan Nizhamuddin al-Hasan bin Muhammad Husain al-Qummi an-Naisaburi dengan redaksi yang hampir sama dalam Ghara’ib al-Qur’an wa Ragha’ib al-Furqan karya, juz.IV, halaman 500.

Salat Tiang Agama
Berikutnya hadis: Ash-shalatu ‘imad ad-din, fa man aqamaha fa qad aqama ad-din wa man tarakaha faqad hadama ad-din. Artinya; “Salat adalah tiang agama, siapa yang melaksanakannya maka sungguh ia telah menegakkan agama. Siapa yang meninggalkan salat, maka sungguh ia telah meruntuhkan agama”.

Tertulis di dinding sebelah kanan mihrab Masjid Nurul Iman Pasar Kampar. Pada terjemahnya tertulis: (hadis riwayat Muslim). Hadis ini tidak ditemukan dalam kitab Shahih Muslim. Dalam kitab Bariqah Mahmudiyyah fi Syarh Thariqah Muhammadiyyah wa Syari’ah Nabawiyyah, juz.VI, hal.170, dinyatakan: “Diriwayatkan oleh Imam al-Baihaqi”.

Bagian awalnya memang benar, tapi bukan keseluruhannya, karena dalam kitab Syu’ab al-Iman, juz.III, halaman: 39, no.2807 karya Imam al-Baihaqi tertulis, “ash-shalatu li waqtiha wa man taraka ash-shalata fa la dina lahu wa ash-shalatu ‘imad ad-din”. Artinya; “Salat pada waktunya, siapa yang meninggalkan salat maka tidak ada agama baginya dan salat itu adalah tiang agama”.

Selanjutnya, Imam al-Baihaqi memberikan komentar, “Ikrimah tidak mendengar langsung dari Umar bin al-Khatthab, menurut prasangka saya yang ia maksudkan adalah diriwayatkan dari Abdullah bin Umar”. Komentar Imam an-Nawawi, “Hadis munkar bathil”.

Imam Ibnu ash-Shalah berkata, “Tidak dikenal”. Demikian disebutkan Muhammad bin Darwisy bin Muhammad al-Hut dalam Asna al-Mathalib fi Ahadis Mukhtalifat al-Maratib, juz:1, halaman: 176, penerbit Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Agama adalah Akal
Teks hadisnya Ad-din huwa al-‘aql la Dina li man la ‘aqla lahu. Artinya; “Agama adalah akal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal”.

Disampaikan QA, pada acara kajian sore menjelang Maghrib, 16 Januari 2014, disiarkan RRI Pekanbaru. Teks mirip seperti ini disebutkan dengan redaksi, “Qiwam imri’ ‘aqluhu wa la dina li man la ‘aqla lahu”. Artinya “Yang meluruskan seseorang adalah akalnya, tidak ada agama bagi orang yang tidak memiliki akal”.

Teks ini disebutkan Imam Ahmad bin Abi Bakr bin Ismail al-Bushiri dalam Ittihaf al-Khiyarah al-Mahrah bi Zawa’id al-Masanid al-‘Asyrah, juz.VI, halaman 22, no.5231. Disebutkan Imam al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, juz.IV, hal.157, no.4644. Imam al-Baihaqi memberikan komentar, “Diriwayatkan oleh Humaid bin Adam secara tersendiri dan ia Muttaham bi al-Kadzib (tertuduh sebagai pendusta)”. Komentar Imam an-Nasa’i, “Hadis bathil munkar”. (Imam Ali bin Sulthan al-Harawi al-Qari, al-Mashnu’ fi Ma’rifat al-Hadis al-Maudhu’, juz:1, halaman: 207, penerbit Maktab al-Mathbu’at al-Islamiyyah. Di-tahqiq  Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Ulama dan Pemimpin
Teks hadisnya yakni “Shinfani min an-nas idza shalaha, shalaha an-nas. Wa idza fasada, fasada an-nas: al-‘ulama wa al-umara’.” Artinya; “Dua kelompok dari manusia. Jika baik, maka manusia menjadi baik. Jika rusak, maka manusia menjadi rusak. Yaitu para ulama dan pemimpin”. Disampaikan oleh RK pada taushiyah pagi di kantor Wali Kota Pekanbaru.

Teks ini diriwayatkan Muhammad bin Ziyad al-Yasykuri al-Maimuni ath-Thahhan. Imam Ahmad menyatakannya sebagai Kadzdzab a’war yadha’u al-hadis (pendusta, buta, pembuat hadis palsu). Ibrahim bin al-Junaid meriwayatkan dari Imam Ibnu Ma’in, ia berkata, “pendusta”. Imam Abu Zur’ah dan ad-Daraquthni juga menyatakanya sebagai pendusta. Imam al-Bukhari berkata, “’Amr bin Zararah berkata, ‘Muhammad bin Ziyad tertuduh sebagai pembuat hadis palsu”. Demikian disebutkan dalam at-Tarikh al-Kabir karya Imam al-Bukhari, al-Maudhu’at karya Ibnu al-Jauzi dan Mizan al-I’tidal karya Imam adz-Dzahabi.

Sahabatku seperti Bintang-bintang
Teks hadisnya “Ash-abi ka an-nujum bi ayyihim iqtadaimu ihtadaitum”. Artinya; “Para sahabatku seperti bintang-bintang, siapa saja di antara mereka yang kamu ikuti, maka kamu mendapat hidayah”. Terbaca oleh penulis dalam salah satu majalah di Radio Robbani, Pekanbaru, saat menunggu acara on-air.

Teks ini memiliki beberapa jalur periwayatan: pertama, disebutkan ‘Abd bin Humaid dalam al-Musnad. Dari jalur riwayat Hamzah an-Nashibi, dari Nafi’, dari Ibnu Umar. Status Hamzah an-Nashibi: dha’if jiddan (sangat lemah). Dinyatakan dha’if oleh Imam Ibnu Ma’in dan imam lainnya.

Kedua, disebutkan ad-Daraquthni dalam Ghara’ib Malik. Dari jalur riwayat Jamil bin Zaid, dari Malik, dari Ja’far bin Muhammad, dari Bapaknya, dari Jabir. Status Jamil bin Zaid: la yu’raf (tidak dikenal). Tidak ada dasarnya dalam hadis riwayat Imam Malik, demikian juga perawi di atas Imam Malik.

Ketiga, disebutkan Imam al-Bazzar, dari riwayat Abdurrahim bin Zaid al-‘Ammy, dari Bapaknya, dari Sa’id bin al-Musayyib, dari Umar.

Status Abdurrahim bin Zaid al-‘Ammy: kadzdzab (pendusta). Keempat, diriwayatkan dari Anas bin Malik, sanadnya lemah.

Kelima, diriwayatkan oleh al-Qudha’i dalam Musnad asy-Syihab, dari hadis al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah.

Dalam sanadnya terdapat Ja’far bin Abdul Wahid al-Hasyimi, statusnya kadzdzab (pendusta). Keenam, diriwayatkan Abu Dzar al-Harawi dalam Kitab as-Sunnah, dari riwayat Mindal, dari Juwaibir, dari adh-Dhahhak bin Muzahim, sanadnya terputus, sangat lemah. Imam Abu Bakar al-Bazzar berkata, “Teks ini tidak benar berasal dari Rasulullah SAW”. Imam Ibnu Hazm berkata, “Ini riwayat dusta, palsu, batil”.

Demikian disebutkan al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam at-Talkhish al-Habir fi Takhrij Ahadis ar-Rafi’i al-Kabir, juz:4, halaman:463, cetakan kedua, tahun 1419H/1989M, penerbit: Dar al-Kutub al-‘Imiyyah, Beirut.

Perbedaan Umatku Adalah Rahmat
Teks hadisnya “Ikhtilafu ummati rahmah”. Artinya “Perbedaan pendapat di antara umatku adalah rahmat”. Pertanyaan jamaah pada Kajian Hadis, Senin (10/2) di Masjid Syuhada’ Damai Langgeng, Pekanbaru.

Imam as-Sakahawi menyebutkan sanad hadis ini, tetapi status perawinya sangat lemah. Teks ini disebutkan Imam al-Baihaqi dalam al-Madkhal.

Diriwayatkan dari Sulaiman bin Abi Karimah, dari Juwaibir, dari adh-Dhahhak, dari Ibnu Abbas, dengan lafaz yang panjang, di akhir hadis disebutkan: “wa ikhtilafu ash-habi lakum rahmah”, (dan perbedaan para shahabatku rahmat bagi kamu). Ath-Thabrani dan ad-Dailami juga meriwayatkan dari jalur ini dengan lafaz yang sama.

Status Juwaibir: dha’if jiddan (lemah sekali). Demikian disebutkan Imam Abdurrahman as-Sakhawi dalam al-Maqashid al-Hasanah fi Bayan Katsir min al-Ahadis al-Musytahirah ‘ala al-Alsinah, juz.1, halaman: 69, penerbit: Dar al-Kitab al-‘Araby. Sedangkan Imam as-Suyuthi mengakui bahwa teks ini tanpa sanad, teks ini disebutkan al-Maqdisi dalam al-Hujjah. Disebutkan al-Baihaqi dalam ar-Risalah al-Asy’ariyyah, tanpa sanad.

Juga disebutkan oleh al-Hulaimi, al-Qadhi Husain, Imam al-Haramain dan lainnya. Mungkin disebutkan di dalam sebagian kitab para al-Hafizh, tetapi tidak sampai kepada kita. Demikian disebutkan Imam as-Suyuthi dalam al-Jami’ ash-Shaghir min Hadis al-Basyir an-Nadzir, juz:1, halaman 21.

Perempuan Tiang Negara
Teks hadisnya “An-Nisa’ ‘imad al-bilad, idza shalahat, shalahat al-bilad, wa idza fasadat, fasadat al-bilad”. Artinya “Perempuan tiang negara, jika perempuan baik maka negara menjadi baik, jika perempuan rusak maka negara menjadi rusak”.

Disampaikan oknum tim sukses salah satu caleg perempuan. Ini bukan hadis, tapi kata-kata mutiara yang dimodifikasi dari hadis dalam Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim berbunyi, “Wa inna fi al-jasadi mudhghah idza shalahat shalaha al-jasadu kulluhu wa idza fasadat fasada al-jasadu kulluhu a la wa hiya al-qalb”.

Artinya “Sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal, jika ia baik maka seluruh tubuh ikut menjadi baik. Jika ia rusak maka seluruh tubuh ikut menjadi rusak, ia adalah hati”. Dalam riwayat Ibnu Majah tertulis, Shaluhat.

Niat Baik dengan Ilmu yang Benar
Menyampaikan hadis Rasulullah SAW tentulah didasari niat baik ingin memperbaiki ummat berdasarkan sunnah Rasulullah SAW. Akan tetapi mesti disertai dengan pengetahuan yang baik tentang hadis-hadis Rasulullah SAW.

Karena ancaman keras bagi dusta terhadap Rasulullah SAW. Dalam hadis yang diriwayatkan dari al-Mughirah disebutkan, “Sesungguhnya dusta terhadapku tidaklah sama seperti dusta terhadap orang lain. Siapa yang berdusta terhadapku secara sengaja, maka siapkanlah tempat duduk dari api neraka”. (HR al-Bukhari).***

(dikutip dari Harian Riau Pos)

Read Full Post »

Dalam kehidupan Nabi SAW terdapat banyak orang yang tidak beriman namun bersinggungan dengan beliau dan berkontribusi pula pada kebesaran beliau. Mereka ada yang memang keluarga Nabi SAW sendiri ataupun orang jauh yang sezaman dengannya. Sesudah zaman beliau pun masih banyak orang tak beriman yang secara tidak langsung berkontribusi dalam menambah pemahaman terhadap kebesaran diri beliau, khususnya para orientalis yang menulis tentang Nabi SAW.

Berikut adalah beberapa nama orang tidak beriman yang telah berkontribusi sebagaimana dimaksud:

1. Abu Lahab (pamannya): ketika Nabi Muhammad SAW lahir, untuk kemenakannya itu ia membebaskan seorang budaknya dengan nilai tebusan yang lebih besar dari harga 1 ekor unta. Bila harga 1 ekor unta sekarang kira-kira Rp35juta maka saking senangnya Abu Lahab dengan kelahiran kemenakannya itu, ia telah menyumbang setara dengan sekitar Rp50juta. Akan tetapi paman Nabi SAW ini dalam periode kerasulan beliau tetap tidak beriman dan malah menjadi salah satu pemimpin musuh Nabi SAW dan orang-orang beriman.

2. Bahira, seorang pendeta asal Yahudi di Bushra, Syam Selatan, terkenal tekun membaca kitab-kitab lama yang menceritakan akan datangnya Nabi terakhir dari kalangan bangsa Arab. Suatu kali Muhammad kecil (12 tahun) mengikuti pamannya Abu Thalib untuk berdagang ke Negeri Syam.  Sesampainya di Bushra, mereka istirahat dekat kuil Bahira.

Si pendeta melihat selalu ada awan yang menaungi Muhammad dan ia bisa pula melihat pohon-pohon dan batu-batu bersujud kepada Muhammad kecil sehingga ia minta izin untuk memeriksa tanda-tanda kenabian di punggung Muhammad. Ia menemukan tanda sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab yang dibacanya dan ia juga telah memastikan bahwa Muhammad bukan anak Abu Thalib karena calon nabi terakhir itu seorang yatim.

Dengan ilmunya Bahira menyampaikan kepada Abu Thalib tentang tanda-tanda kenabian yang dilihatnya pada Muhammad yang bersamanya itu. Ia menyarankan agar Abu Thalib segera membawa Muhammad pulang kembali ke Makkah karena di Syam banyak orang Yahudi yang bila mengetahui hal ini akan membunuh Muhammad karena mereka sedang berharap agar nabi terakhir itu dari kalangan mereka.

3. Abdullah bin Uraiqat adalah seorang musyrik yang dapat dipercaya untuk jadi penunjuk jalan ketika Nabi SAW dan Abu Bakar hijrah dari Makkah ke Madinah. Ketika hijrah itu Nabi SAW sengaja mengambil rute jalan yang tidak lazim ditempuh orang yaitu rute yang mendekati tepi laut Merah. Abdullah bin Uraiqat lah yang menjadi penunjuk jalan bagi Nabi SAW dan Abu Bakar sehingga dengan pertolongan Allah selamat dari incaran kafir Quraisy dan sampai ke Madinah.

4. Raja Mukaukis, dari Iskandariah, Mesir, adalah raja dari kelompok Kristen Koptik. Ketika menerima surat dari Nabi SAW, dia mendalami data Nabi SAW dan bertanya tentang ajaran Islam yang dibawanya, termasuk larangan agar tidak mengawini dua wanita bersaudara kandung sekali gus. Dia menemukan berbagai fakta tentang Nabi SAW dan ajaran yang dibawa baginda sesuai dengan informasi dan indikasi yang disebutkan para pendeta Koptik.

Meskipun dia tidak memeluk Islam, namun dia mengakui keberadaan Nabi SAW dan mengirimkan hadiah uang emas 1000 dirham, pakaian dari kain Mesir yg bermutu tinggi 20 pasang, seekor keledai tunggangan yang istimewa, dan seorang dokter. Selain hadiah yang demikian berharga, sekalian untuk menguji kebenaran ajaran Nabi SAW, Raja Mukaukis juga mengirim dua orang budak wanita kakak beradik.

Uang dan pakaian itu dibagi-bagikan Nabi SAW kepada para sahabat dan keledai itu memang jadi tunggangan Nabi SAW. Sementara itu sang dokter setelah sekian lama di Madinah ia minta izin untuk kembali ke Mesir karena sudah demikian lama mengamggur sebab tidak ada orang yang sakit, termasuk Nabi SAW. Budak wanita yang bernama Sirin dihadiahkan Nabi kepada seorang sahabat untuk dimerdekakan. Sedangkan budak yang bernama Maria Al-Qiptiyah, Nabi merdekakan dan ditawarkan pilihan jadi isteri Nabi atau untuk pulang ke Mesir. Maria memilih untuk menjadi isteri Nabi SAW.

5. Abu Thalib, ia adalah pamannya yang telah memelihara Nabi SAW. Akan tetapi sampai akhir hayatnya, dia tetap tidak beriman karena hambatan status dan kebanggaan kesukuannya. Permohonan Nabi SAW untuk memintakan ampunan Allah kepada paman beliau ini tidak memberikan hasil namun Allah telah menjanjikan akan memberi Abu Thalib azab akhirat yang paling ringan di neraka kelak.

6. Karen Amstrong adalah seorang orientalis yang menulis tentang Muhammad SAW. Karen sudah menulis lebih dari 20 buku tentang kepercayaan dan keimanan agama-agama besar; yang paling terkenal adalah “A History of God” dan tentang Nabi Muhammad SAW berjudul: “Muhammad: A Prophet of Our Time.” Meskipun dia tidak beriman pada Allah dan Nabi SAW namun dalam bukunya dia sangat menyanjung dan memuji berbagai kehebatan dan kebesaran Nabi Muhammad SAW.

7. Michael H. Hart adalah seorang penulis non-Muslim Barat yang juga sangat mengagumi Nabi SAW. Dalam bukunya “The 100: A Rangking of the Most Influential Person in History” menempatkan Nabi Muhammad SAW pada ranking satu. Pendapatnya ini telah membuka mata banyak orang tentang kebesaran Nabi SAW.  “….he was the only man in history who was supremely successful on both the religius and secular level.” katanya memberi pennjelasan.

Read Full Post »