Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2014

images (1)Kebanyakan kita rasanya akan sepakat bahwa bangsa kita dalam keadaan yang tak habis-habisnya ditimpa masalah dan diungkapkan aibnya.  Bencana silih berganti, kejahatan tak habis-habis, mental korupsi makin menjadi dan sampai ke elit, dan moral bangsa makin merosot.  Berbagai usaha sudah dijalankan namun kalaupun ada, baru hanya berhasil mengangkat keadaan melalui indicator-indikator makro ekonomi.  Karena itu sudah sepatutnya kita melihatnya dari sisi pandang yang lebih luas dan lengkap.

Upaya yang kita lakukan selama ini mungkin sudah cukup baik dan dengan kerja keras.  Berbagai lembaga, aturan hukum, proses, dan bahkan reformasi telah dijalankan.  Namun kita masih merasakan banyak kekurangan kita, apalagi jika dibandingkan dengan Negara-negara tetangga yang sudah lebih efektif dan effisien dalam menyelenggarakan kehidupan negaranya. Meskipun indikator-indikator makro itu meningkat, dalam banyak hal kita harus mengakui para pemimpin kita belum dapat mewujudkan keadaan bangsa yang kita citakan.

Untuk itu perlu kita simak apa yang terjadi di Negara-negara tetangga  secara lebih spesifik tentang kualitas ideologi para pemimpinnya.  Di Malaysia yang secara kultural mirip dengan kita misalnya, meskipun para pemimpinnya punya pandangan ideologis dalam spektrum yang masih lebar namun tidaklah sampai tidak faham cara berwudhu dan shalat berjamaah yang benar.  Pencitraaan dengan pembohongan publik juga hal yang sangat tercela yang bermuara pada turunnya elektabilitas.  Tidak hanya kemampuan manajerial yang baik berlandaskan ilmu namun juga punya kompetensi sosial-budaya yang memadai sehingga memenangkan posisi politis bukan hanya dengan popularitas.

Memang semua orang punya kekurangan, keterbatasan, dan masa lalu yang mungkin tidak memuaskan kita, namun yang lebih penting adalah apa niat dan tujuan seseorang itu ingin menjadi pemimpin.  Pemimpin tidak patut dibaca sebagai posisi untuk mendapatkan kemewahan materi, kesenangan, nama besar, keuntungan pribadi atau kelompok tapi sebaliknya untuk menjawab panggilan atas kewajiban pada yang kompeten dan kapabel untuk membela serta memajukan manusia lainnya yang kebetulan warga Negara Indonesia.  Hanya pemimpin yang amanah, jujur, dan adil dalam menjalankan tugasnya yang selamat dari siksa Allah Swt di dunia dan di akhirat kelak.  Itu hanya mungkin bila seorang pemimpin mengaitkan dan mendekatkan dirinya dengan yang telah memberinya kuasa itu.

Barangkali kesadaran inilah yang telah melahirkan revolusi rohani pada seorang Sultan Brunai; ia merasa kecil di hadapan Allah dan tidak mempunyai alasan untuk terus memberlakukan hukum hudud (kriminal) buatan manusia—termasuk dengan kuasa dirinya—tanpa menggantinya dengan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah.  Karena merasa ia menjalankan kewajiban maka ia tidak kawatir terhadap tentangan dari banyak pihak lain yang menurutnya justru banyak masalah pada diri mereka sendiri sehingga aneh bila mengkhawatirkan orang lain yang ingin menuju ke kebaikan sementara mereka sendiri justru sedang bermasalah.

Sultan Brunai juga mempertanyakan keusilan mereka karena hukum kriminal itu akan berlaku dengan ketat terhadap orang Islam dan mereka yang benar-benar terbukti bersalah.  Sementara Mufti Brunai Awang Abdul Aziz juga mempertanyakan kekhawatiran orang luar: “Apakah semua wisatawan datang ke Brunei untuk mencuri? Jika tidak, untuk apa mereka merasa takut. Semua orang, termasuk wisatawan mendapatkan perlindungan sesuai.” (okezone.com)  Mudah-mudahan itu bukan karena Islamophobia dan kita doakan apa yang berlaku di Brunai ini diridhoi Allah Swt.

Jadi, jika kita tidak ingin terus tertinggal dan kelak meninggalkan generasi yang tertinggal maka kita harus segera membuat suatu lompatan besar (frog leap).  Untuk memperbaiki keadaan, sikap mental-spiritual bangsa harus diperbaiki dengan revolusi rohani. Kita harus mengaitkan segala niat, cita-cita, dan upaya kita dengan Allah Swt yang Maha Memiliki.  Tentunya itu dilakukan secara proporsional dan berkeadilan dengan memperhatikan keberagaman yang ada di Indonesia.  Itu hanya bisa berjalan bila dimulai dari para pemimpin yang mengaitkan dan mendekatkan dirinya pada Allah Sang Pemilik itu.

 (sudah dimuat di http://sosbud.kompasiana.com/2014/05/15/revolusi-rohani-belajar-dari-negara-tetangga-655493.html dan akan dimuat pula di FB penulis, illustrasi dari changementalhealth.com)

Read Full Post »

Image

Kata Revolusi Mental jadi populer sejak munculnya sebuah tulisan salah seorang calon presiden di media cetak.  Yang bikin heboh antara lain itu ditulis oleh timnya dan pada hari yang sama di media cetak lain muncul pula tulisan senada dengan judul yang sama dengan penulis seorang pendeta yang diduga anggota tim suksesnya.

Terlepas dari etika penulisan, pemikiran itu dinilai belum pas karena muncul dari orang yang dinilai belum menunjukkan implementasi dari kandungan tulisannya sendiri.  Seperti pendapat Direktur Eksekutif Polcomm Institute Heri Budianto yang juga akademisi Universitas Mercubuana (Kompas, 13/5/2014): “Jokowi harus memberi komitmen, dia harus memberi contoh teladan bahwa pembangunan karakter dan mental yang ditulisnya itu dimulai dari dirinya sendiri.” Menurut Heri blusukan yang dilakukannya di Solo dan Jakarta belum cukup untuk skala nasional dengan masalah yang jauh lebih besar, seperti masalah korupsi yang terhadapnya komitmen Jokowi dinilainya masih minim.  Bagi kita yang awam yang selama ini terpesona pada Jokowi karena rekayasa opini di media, masih belum puas akibat munculnya banyak kelemahan di sana sini.

Terlepas dari itu, sebenarnya ide ini sudah populer di kalangan para pemikir kemasyarakatan dengan nama “transformasi pemikiran”, “perubahan budaya”, atau “revolusi rohani”. Sesuai dengan arti kata, bila suatu kelompok masyarakat atau bangsa sedang terjebak dalam keadaan buruk yang sulit berubah maka memang diperlukan suatu perubahan sikap mental secara kolektif.  Karena perubahan secara biasa sulit diharapkan akan merubah keadaan maka diperlukan revolusi mental itu yang mana akan lebih mudah dilakukan oleh seorang pemimpin. 

Roadmap ini dalam era modern ini telah banyak dilakukan para pemimpin bangsa-bangsa seperti di India, Cina, Korea, Malaysia, Singapura, dan yang terakhir di Brunai Darussalam.  Perubahan sikap mental secara drastis itu tentu selalu ada landasan filosofis dan dasar pemikirannya yang lalu dielaborasi jadi konsep-konsep implementasi yang komprehensif serta disajikan pada masyarakat dalam bentuk standar dan tolok ukur layanan dan perilaku.  Sebagai contoh, revolusi mental ini telah dapat merubah masyarakat Singapura yang semula hidup di pantai dan pinggir-pinggir sungai dengan sanitasi buruk bersama ternaknya telah berubah dengan cepat menjadi modern di tangan besi seorang Lee Kwan You yang keras sehingga dijuluki  sebagai seorang Positive Dictator.

Namun ternyata itu juga belum cukup karena hanya dalam lingkup materi sementara secara mental-spritual sebenarnya masih kosong sehingga muncul pula masalah-masalah krusial dalam lingkup sosial budaya. Keadaan ini juga kita temukan di Negara-negara maju lainnya yang makin hari makin memburuk.

Sebagai makhluk sosial, manusia yang tidak cukup hanya dengan ketersediaan materi sudah tidak kita ragukan lagi.  Karenanya, dalam kata mental itu harus terkandung juga spiritual yang secara naluri akan dikaitkan oleh manusia kepada Sang Pencipta yang memiliki kekuatan yang Maha Menentukan, Allah Swt.  Karena itu pula yang diperlukan sekarang adalah revolusi rohani karena dalam kata rohani itu sudah terkandung landasan filosofis, dasar pemikiran, dan konsep-konsep serta implementasi yang terintegrasi dan komprehensif.  Di tangan seorang pemimpin yang amanah dan adil karena tunduk pada Swt lah semua ini baru dapat berjalan.

(sudah dimuat di http://sosbud.kompasiana.com/2014/05/14/revolusi-rohani-belajar-dari-negara-tetangga-655435.html dan akan dimuat pula di FB penulis, illustrasi dari changementalhealth.com)

Read Full Post »