Feeds:
Posts
Comments

Archive for July, 2014

20140730_113332 (1)Bercanda atau bergurau adalah salah satu interaksi yang manusiawi. Seperti kata Usman Zaki El-Tanto, penulis buku “Rasul Pun Bercanda Lho…” ini, manusia tidak lepas dari canda, senda gurau, senyum, dan tertawa untuk melepas penat dan menjalin keakraban satu sama lain.

Selanjutnya dikatakan oleh penulis buku ini dalam pengantarnya bahwa canda dapat menghibur, mencairkan suasana, menghilangkan ketegangan, menenangkan keresahan dan meredakan amarah. Canda juga dapat mencerminkan persaudaraan. Canda yang menyenangkan orang lain juga dapat dikatakannya sebagai kebaikan, denganmengacu pada sebuah hadits:
“Senyummu untuk saudaramu adalah shadaqah bagimu.” (HR at-Tirmidzi)

Namum canda seperti apa yang dapat diterima berdasarkan apa yang dicontohkan Nabi Muhammad SAW dalam kehidupannya?
Buku ini pun menjawab pertanyaan itu dengan memuat 99 kisah canda Rasulullah SAW berdasarkan hadits-hadits yang Shahih (kuat). Kisah-kisah itu dikelompokkan dalam 4 bagian: 1. Canda Rasulullah kepada sahabat (37 kisah), 2. Canda Sahabat Kepada Rasulullah (34 kisah), 3. Canda Rasulullah Kepada Anak Kecil (12 kisah), 4. Canda Rasulullah Bersama Keluarga (16 kisah).

Sebagai contoh dapat dikutipkan sebuah canda Rasulullah SAW kepada Shafiyyah binti Abdul Muthalib, seorang bibi beliau sendiri yang sudah nenek-nenek (HR at-Tirmidzi). Si bibi minta didoakan agar masuk surga namun Rasulullah menjawab dengan minta maaf dan mengatakan bahwa surga itu tidak dapat dimasuki oleh orang tua. Si bibi langsung menangis tersedu-sedu karena merasa ibadahnya selama ini hanya sia-sia bila ia tidak dapat masuk surga. Lalu Rasulullah menjelaskan:
“Tenanglah Nek, orangtua tidak akan masuk surga karena Allah Swt akan membangkitkan wanita tua dalam usia yang muda. Jadi, di akhirat nanti nenek akan jadi muda lagi,”
Mendengar itu Shafiyyah jadi gembira dan tertawa sehingga Rasulullah SAW jadi tersenyum.

Kisah-kisah itu memang sangat kontekstual sehingga baru terasa kejenakaannya dengan kecerdasan dan pemahaman syari’at yang baik. Dari kisah-kisah jenaka ini kita juga tahu bahwa dalam berda’wah Rasulullah SAW juga menggunakan metoda yang mudah difahami dan dapat disenangi mereka yang kepadanya da’wah beliau ditujukan. Jadi buku ini bukan sekedar memuat kisah-kisah jenaka namun juga menyampaikan sebagian keseharian kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Hal penting lain yang disampaikan buku ini adalah tentang canda yang dilarang oleh Rasulullah SAW, yaitu: 1. Tidak menjadikan agama sebagai candaan, 2. Bukan merupakan cacian dan cemoohan, 3. Bukan merupakan ghibah, 4. Tidak menjadikan candaan sebagai kebiasaan, 5. Isi canda adalah benar, bukan dusta, dan tidak dibuat-buat, 6. Mengondisikan canda dengan tempat, suasana, dan orang-orang yang dicandai.

Tidak salah kalau buku ini jadi teman yang tepat bagi remaja dan orang muda yang gemar bercanda (perhatikan disain covernya) dan sebagai pintu masuk untuk memancing minat baca serta mempelajari kehidupan Rasulullah SAW.

Read Full Post »

siluet capresBerbeda pendapat adalah hikmah kata para ulama. Kita bisa membandingkan pendapat orang dengan kita. Yang baik dari orang kita serap, yang buruk dari kita, kita buang sehingga pendapat kita akan makin bagus dan mudah2an akan makin dekat pula dengan kebenaran hakiki yang datang dari Allah.

Beda pendapat dalam pilihan Pil-pres hari ini nampaknya bukan soal JW atau PS karena keduanya orang hebat tapi mungkin sama-sama belum memuaskan sebagai calon pemimpin yang kita inginkan. Sebagaimana kita, mereka juga punya masa lalu yang bisa kelam bisa pula terang.  Sebagai manusia biasa mereka juga punya track record yang bisa lurus bisa pula ada yang bengkok. Namun dengan proses demokrasi yang ada hari ini, mereka lah yang terbaik yang ada di kertas suara tanggal 9 Juli nanti.  Tentang pilihan, ijtihad kita hendaknya jangan sampai keliru. Kalau bingung membacanya sendiri, kita bisa tanya atau perhatikan pendapat cerdik pandai, akademisi, ulama, dan sebagainya.

Para ulama yang ikhlas, kompeten, dan dapat ditauladani juga sudah demikian banyak yang mengingatkan potensi masalah kita ke depan bila tidak kita sadari hari ini. Masa lalu memanglah sudah jadi dosa kolektip kita, apakah akan kita ulangi lagi hal yang sama, padahal contoh nyata sudah terjadi ketika pil-leg lalu? Tidakkah kita mengevaluasi perubahan yang signifikan telah terjadi pada jumlah ang-leg dari rumah sebelah karena di rumah kita pada apatis dan berserak-serak?

Tanggal 9 Juli nanti, sudah terang benderang pula bahwa orang-orang rumah sebelah akan naik ke gerbong yang sama, bersatu dengan mereka yang liberal, sekuler, Islamophobist, dan kelompok lain2 yang di luar main stream.  Langkah politik pengusung utama dapat kita baca dan para pendukung gerbong ini pemikiran dan perilakunya terindikasi bisa berbeda dengan kepentingan kita orang ramai di NKRI ini.  Kita baca pula bahwa mereka dapat backup asing-aseng. Belum lagi kalau kita mau menilai program yang diajukan yang bisa kita nilai belum tepat dan kuat untuk Indonesia ke depan.  Entah apa pula nilai masinisnya secara objektif dan rasional tentang banyak aspek yang berkaitan dengan karakter, kepemimpinan, kompetensi, dan manjerial.

Yang jadi pertanyaan bagi kita yang orang awam dan bukan orang politik, apa guna atau untungnya kita naik pula ke gerbong yang sama dengan mereka?  Padahal banyak ulama yang sudah mengingatkan dan bahkan ijtihad mereka ada yang sudah sampai menyatakan haram, lho!  Sebaliknya apa ruginya kita naik gerbong satu bersama saudara2 kita yang lain?  Kalau tidak perkataan para ulama sebagai pewaris para Nabi (warisatul ambiya) yang Insya Allah bersih dan tulus ini, adakah yang lebih baik dari itu yang kita pegang?  Kita

Ahamdulillah kali ini pilihannya mudah; jadi, dengan peran kita yang sangat penting dan sangat menentukan kemaslahatan ummat ke depan, mari berkontribusi.  Keputusan di tangan kita masing-masing, jangan salah menentukan pilihan.  Insya Allah akan kita pertanggungjawabkan kelak pada Allah Swt.

Read Full Post »