Archive for September, 2014

Jum’at Penuh Hikmah

Bunga putih bersih ini dijumpai ketika menjenguk sahabat yang sakit berat itu. Mudah2an hati kedua yang sakit itu putih bagaikan bunga ini meskiun hanya kecil di anatara

Hari Jum’at ini benar-benar penuh hikmah. Alhamdulillah tetap sehat sehingga dapat sholat subuh berjama’ah yang istimewa di Masjid Raya dengan imam yang membacakan dengan indah dan secara penuh surat As-Sajadah pada rakaat pertama (pakai sujud tilawah) dan Al-Insan pada raka’at kedua. Selepasnya, dapat pula mendengarkan kuliah subuh yang cukup bagus.

Kasih sayang Allah masih berlanjut dengan sarapan yang enak di awal pagi dengan harga berpatutan yang menjadikannya terasa lebih nikmat.  Alhamdulillah, dengan ketenangan pikiran lalu dapat menyelesaikan dengan bacaan Al-Quran mengikuti program One Day One Juz yang bertepatan dengan giliran Juz 30 sehingga mudah dan lancar.  Lantas melakukan beberapa keperluan yang terasa dimudahkan.

Setelah istirahat sekitar satu jam, kegiatan dimulai lagi dengan mengantar isteri menjenguk orang sakit di ruang ICCU rumah sakit. Meskipun hanya menemani, terasa bahwa itu semacam amaran bahwa tubuh kita ini demikian lemah bila sakit. Dari rumah sakit pergi pula menjenguk seorang sahabat yang sedang sakit berat di alamat yang belum jelas.  Kembali bersyukur diberi kemudahan menemukan tempatnya dan bisa mengenggam tangannya.

Mengadopsi syair lagu: “Tanganmu yg dulu kekar, kini kurus dan lemah tak berdaya…” Tak cuma fisik–dulu ia adalah seorang yang menonjol intelektualiasnya yang terbukti dari hasil test psikologinya terbaik di antara kami–sakitnya juga telah merangsek daya ingatnya. Namun sekali lagi Alhamdulillah, dia bisa membalas erat genggaman tangan dan masih mampu diajak berdzikir mengingat Allah. Subhanallah…. walhamdulillah… wala ilaha illalah….

Sungguh hari Jum’at ini Allah menunjukkan kekuasaanNya langsung di depan mata; melalui kemudahan, kenyamanan, dan kenikmatan yang diberikanNya ataupun melalui ujian sakit yang dihadapi oleh orang-orang yang dikunjungi. Sungguh betapa tak berdayanya kita ketika dapat penyakit dan tak mudah pula tim dokter ahli mengobatinya di rumah sakit canggih sekalipun.  Sungguh Allah Maha Kuasa dan Maha Berkehendak atas semua makhluk.  Ya Allah, curahkanlah selalu Rahman dan RahimMu pada kami semua sehingga kami senantiasa dapat mengingatMu.


Read Full Post »

2014-08-22 10.56.15

Unimaginable if we were there when a huge tsunami devastated Aceh in 26 December 2004! We are lucky, Aceh Tsunami Museum presents many data, information, and visual image about the disaster. By viewing dioramas, a police helicopter and vehicle wreckages, and mockups in the museum we can follow the natural tragedy which may has transformed spiritual thought and doing of many people in Aceh.

For visitors, it reminds about the weakness of human being in encountering natural disasters. The tsunami came unpredictably so that so many people deceased and properties were damaged. Not only for the Acehnese who have loosed their loving family and relatives, the content of the museum are very meaningful but also it may warn the rest about the Greatest of our Creator.

The only pity in the museum, it still look empty and lacks of dramatic video shows scheduled for the visitors. However the building is matched with the content and very good for kids and youngsters. Just bring your family along to this free entry museum for acknowledge the tsunami and to mind about Allah The Creator.

(from my review in TripAdvisor)

Read Full Post »

2014-08-22 11.39.06 2014-08-21 08.45.572014-08-21 08.48.442014-08-21 09.22.50

You haven’t come to Banda Aceh if you don’t see this historic The Grand Mosque Baiturrahman (or pray in it for a Muslim). The mosque is architecturally very beautiful and it has specific atmosphere resembling what we feel in the Prophet Mosque, Madinah. No wonder if this mosque is the icon of Aceh, “The Terrace of Makkah.”

The mosque has a long story, back to the era of Sultan Alaudin Mahmud Syah I in the 13th century (other version mentioned about the era of Sultan Iskandar Muda in the 17th century). The building that had multi-story pyramidal roofs was damaged by fire in 17th century and rebuilt again by Prime Minister Habib Abdurrahman by people of Aceh’s fund. When Colonial war, Major General Kohler of the Holland Army was deceased and the mosque burned.

Following the peace agreement with Aceh’s people and to get indigenous sympathy, on 9th October 1879 Holland started to build a new mosque with a totally new architecture. The latest appearance of the mosque was designed by De Bruins, an architect from Batavia (Jakarta) that consulted Penghulu Haji Hasan Mustafa Kamal, an Islamic scholar from Garut, West Java, assigned in Kutaradja (now Banda Aceh). De Bruins also adopted the beauty of selected architecture of Europe, Byzantium, Moore, Egypt, and Mughal of South Asia. But because of its floor layout formed a cross and the mosque was built by others, the people did not eager to use the new costly mosque.

Later, the mosque was modified and completed with some additional building and ornaments so that more suitable and interesting. After Indonesia independence, government still improve the mosque toward its specific style resembling The Prophet Mosque in Madinah. It has some pillars and tidy floor to make the preachers feel a direct meeting eith The Almighty comfortably. Therefore, there is also specific atmosphere when we are praying in this mosque; more pleasant and sacral compare with other regular mosques.

Today this icon of the province as “The Terrace of Makkah” is visited by so many people and families every day. Every Thursday evening after Isha prayer, they have a major weekly event at the mosque. So, don’t miss to visit and even better to make praying there. For those Non-Muslims, they serve suit to fit you to Shari ’a covering.

(from my review at TripAdvisor)


Read Full Post »

2014-08-22 11.39.06

Just perfect that Banda Aceh is the capital of “Terrace of Makkah”, Aceh Province located in the northern tip of Sumatera. The land experienced tsunami disaster in 2004 has been reconstructed and daily life of the people there has been recovered to be more passionate and self-confident.

Public infrastructures are excellent, people’s properties are coming back, local economy is growing, and peoples are living in harmony. Although there is only one four-star hotel, but many reasonable and good places to stay. It may be a bit exaggerated but at least it is what I can feel and see in Banda Aceh last August 2014, compared to the situation before the huge disaster. We feel safe to explore Banda Aceh and its surround without any disturbance or criminal threatening. Those who fought from mountainous area, now have been coming down and living normally in cities or their own peaceful kampongs.
“Aceh change drastically after the tsunami. It might be one of the lesson of the disaster,” said a Malaysian tourist I met in Banda Aceh.

So Banda Aceh is good destination if you like to see Acehnese who are all Muslim live in their own wish and way of life. Local autonomy and Shari ’a Law seem to be the keys of Aceh development today. People live more religiously indicated by the beauty of mosques and at any time of regular prays (Salah), I found there were more than three lines of jema’ah. Religious life in Banda Aceh is very conducive so that the famous Grand Mosque Baiturrahman becomes a point of interest not only for tourist but also for local families, especially when there are major events. The major events are periodically taken place in the historic grave area of Shaikh Syiah Kuala, a respected scholar of Aceh.

Nevertheless, Banda Aceh is vibrant till midnight by “kupi” and “mie” Aceh. The famous local coffee and noodle served in various style of coffee shop, from an open air sitting place to a more formal café. Local culinary is tasty, even its spice is specific for most Indonesian. You can also enjoy grilled fish in Lam Puuk beach located about 15 km from Banda Aceh. Cross my finger, the beach in Lhok Nga area is more beautiful and natural than Kuta Beach, Bali.

In addition, we can also feel the spirit of change at the real monuments of tsunami. Some destruction and things proving the huge disaster are kept as similar as their happening. While Tsunami Museum tells us the data and information about the disaster, Tsunami Galleries show related real things to remind us The Greatest and Powerful of Allah The Almighty. So, for your family and religious tourism, Banda Aceh as The Terrace of Makkah is a perfect place.

(from my review on TripAdvisor)


Read Full Post »

2014-08-22 11.39.06

Menjelang musim hajji ini, berkunjung ke negeri yang sering disebut Serambi Mekah mendapatkan kesan yang istimewa.  Apalagi kunjungan kali ini dalam rangka acara MTQ Nasional Korpri dan setelah rekontruksi Aceh pasca tsunami dapat dikatakan sudah selesai.  Banyak kesan dan pengalaman yang patut dikemukakan sebagai oleh-oleh untuk kita, khususnya warga Pekanbaru yang berkeinginan untuk menjadi sebuah kota yang madani.

Terlepas dari hasil MTQ yang mana tuan rumah berhasil jadi juara umum sementara kita baru sampai pada peringkat harapan pada dua cabang pertandingan, Alhamdulillah banyak hal positif yang didapat.  Pertama, pasca tsunami dan telah diberlakukannya syari’at Islam, Banda Aceh sebagai representasi provinsi itu terlihat menjadi sebuah negeri yang lebih maju dan sejahtera dari sebelumnya.

Meskipun secara fisik di jalan-jalan protokol Banda Aceh belum serapi dan semegah di Pekanbaru, namun pengurusan domain publik tampak lebih terasa dan merata sampai ke kampung-kampung.  Permukaan jalan sampai ke daerah pinggiran mulus meskipun untuk sebuah kendaraan biasa.  Sampai seorang teman yang suka pergi ke berbagai daerah menilai bahwa kualitas jalan di Aceh sekarang ini adalah yang terbaik di Indonesia.

Secara fisik upaya pemulihan Aceh dari dampak tsunami memang sudah menunjukkan hasil yang bagus.    Tidak hanya infrastruktur dan penataan ruang menjadi lebih bagus dari sebelumnya tapi properti masyarakat juga sudah kembali terbangun seperti sebelumnya tidak terjadi musibah yang demikian dahsyat. Bahkan di Banda Aceh cukup banyak bukti-bukti musibah itu sudah ditampilkan jadi monumen nyata sebagai objek wisata yang menarik untuk kita kunjungi dalam rangka bertafakkur pada Allah Swt yang Maha Kuasa.  Di Museum Tsunami Aceh misalnya, kita dapat mencermati kejadian dahsyat itu secara cukup detil dengan tampilan modern dan bisa dibanggakan.

Kebanggan itu bukan cuma karena telah mulai pulihnya Aceh secara fisik tapi juga terasa muncul secara mental spiritual.  Secara legal, di Aceh berlaku nomenklatur tempatan seperti penyebutan Pemerintah Aceh, adanya Wali Nanggroe selain Gubernur dan Wakil Gubernur, Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA), aturan partai serta pemilu tersendiri, dan sebagainya yang tentu berdasarkan suatu rasa percaya diri yang kuat pada pemerintah dan rakyat Aceh.  Otonomi khusus dan kebebasan rakyat Aceh dalam menjalankan keinginannya untuk menggunakan syari’at Islam juga terasa mewarnai kehidupan masyarakat, setidak-tidaknya yang dapat kita lihat di Banda Aceh.

Di Banda Aceh dan sekitarnya kita merasakan adanya ketertiban kehidupan yang agamis dan manusiawi.  Kita dapat “ngelayap” ke berbagai pelosok tanpa ada rasa kawatir akan gangguan keamanan sebagaimana era pra-tsunami.  Banyak hal yang telah berubah, termasuk menurunnya dengan drastis konflik di daerah karena mereka yang terlibat konflik sekarang kebanyannya sudah “turun gunung” untuk menjalankan kehidupan dengan normal dan damai.  Sebagaimana kata seorang wisatawan asal Kedah, Malaysia: “Banyak sekali hikmah yang kita dapat dari bencana tsunami sehingga keadaan jadi begini baik sekarang.”

Meskipun kota Serambi Mekah ini vibrant sampai larut malam melalui “kupi dan mie Aceh”, namun kita tidak melihat kehidupan malam yang berkonotasi negatif seperti di kota-kota lain.  Tidak kita jumpai adanya orang berlainan jenis yang mojok-mojok di tempat gelap atau berboncengan di sepeda motor dengan bersedekap seperti pada kecepatan lebih dari 100 km/jam.  Juga tidak dijumpai karaoke atau warnet yang banyak pengunjung remaja, apatah lagi sampai pagi.  Tak terlihat pula para pemuda yang nongkrong-nongkrong menghabiskan waktu tak karuan sambil nenggak minuman si pojok-pojok jalan.  Di mart yang juga hadir di Banda Aceh atau kedai-kedai lainnya tidak kita jumpai minuman beralkohol.

Sebaliknya kehidupan beragama demikian baik yang ditandai dengan makmurnya masjid-masjid yang tidak hanya bagus secara fisik tapi lebih berfungsi di kota Serambi Mekah ini.  Pada umumnya, tiap kali sholat wajib kita menjumpai jumlah jama’ah pria minimal tiga shaf.  Sementara di Masjid Raya Baiturrahman yang menjadi ikon Banda Aceh, jama’ah pria tiap kalinya bisa sampai 10 shaf.  Khusus di Masjid Raya ini, tiap Kamis ba’da Isya juga ada pengajian besar yang dihadiri jama’ah sekeluarga sampai melimpah ke luar sehingga pengajian ini jadi acara rutin keluarga.  Maka jadilah masjid dengan nuansa Masjid Nabawi ini sebagai objek wisata religi, baik oleh para wisatawan maupun masyarakat setempat.

Tentu keadaan ini tidak lepas dari kersadaran, kehendak, dan pengaturan yang terjadi di Aceh sendiri dengan kepemimpinan yang mereka dukung.  Tiga faktor utama yang mendorong terjadinya perubahan yang signifikan ini adalah terjadinya bencana tsunami, otonomi khusus, dan berlakunya Syari’at Islam.  Adanya shared vision mereka dan keikhlasan para pemimpin, ulama, dan tokoh masyarakat selanjutnya akan mempermudah pencapaian cita-cita rakyat di Serambi Mekah. 

Bagaimana dengan kita di Pekanbaru yang mungkin masih jauh dari Mekah atau Madinah? Kita juga sudah punya modal dasar berupa keinginan untuk menjadi kota metropolitan yang madani.  Konsep madani yang demikian bagus dan mulia itu tentu memerlukan kesungguhan dari para pemimpin, tokoh masyarakat, dan para ulama dalam membawa masyarakat meuju arah dimaksud.  Apa yang dapat kita lihat di Banda Aceh sudah bisa jadi acuan dan bandingan agar kita lebih mudah dan berhasil menggapai keadaan Pekanbaru sebagai sebuah kota metropolitan yang madani.   Semoga.

(sudah dimuat di Riau Pos, Rabu 27 Agt 2014)


Read Full Post »