Feeds:
Posts
Comments

Archive for November, 2014

IMG-20141115-WA0084

IMG-20141117-WA0018

IMG-20141116-WA0115

Siapa saja peserta Klintong-Klintong Solo 2014 ini menarik juga untuk disimak. Meskipun didominasi oleh alumni Angkatan 1975 dan keluarga, cukup lebar sebaran usia peserta.

Dari 90 orang peserta silaturrahim ini, 71 orang adalah alumni dari berbagai bidang studi dan 19 orang keluarga non-alumni. Mereka dari Jakarta, Bandung, Jogya, Madiun, dan yang terjauh dari Pekanbaru. Jurusan studi mereka juga beragam dengan sebaran usia atau angkatan yang luar biasa.

Sungguh patut kita angkat topi pada para alumni senior yang telah datang dengan bersemangat dan memberi motivasi pada yang lebih muda atau junior.  Ada Bapak Prof Bambang Sutjiatmo (MS 65), bersama Ibu, yang demikan semangat dan hangat berinteraksi dengan para peserta. Tak kalah pula sibuknya dengan kamera, keramahan, dan curiousity beberapa peserta angkatan 60an dan awal 70an lainnya.

Yang paling banyak adalah dari jurusan Teknik Industri yaitu 10 orang. Sementara yang paling heboh adalah Angkatan 75 dengan 26 peserta yang beberapa di antaranya kemungkinan besar adalah mantan orator atau celetuker student center atau lapangan basket. Sampai hari ini pun kebanyakannya tetap dengan karakter khas ITB.

Appresiasi khusus patut kita berikan kepada Bapak Hadiatmanto, alumni Sipil Angkatan 1949 berusia 88 tahun, yang telah menyempatkan datang dari Bandung. Menurut Bapak Wiryawan (EL69), anak beliau yang ikut hadir, ketika info acara Klintong-Klintong disampaikan beliau langsung ingin ikut (sayang anak beliau yang lain Bimo [SI75] tidak ikut hadir). Meskipun didampingi seorang staf, Alhamdulillah beliau sehat dan hadir di hampir semua acara. Ketika diberi waktu pada acara makan malam “farewell” beliau menceritakan sedikit suasana akhir tahun 40an itu. Beliau bahkan masih berkeinginan untuk hadir lagi di acara tour alumni yang akan datang yang rencananya ke Belitung.

Sebagai peserta termuda adalah Devina Widita Puteri (TI2008), puteri dari mbak Wasiati Wardani (TI75). Yang istimewa dari keluarga ini, Ibu yang masih bisa unjuk kebolehan menari Jawa ini dan keempat anaknya adalah alumni Teknik Industri ITB. Tutur si ibu, sampai-sampai ketika anak bungsunya kuliah dulu, salah seorang dosen bertanya apakah masih ada “stock” yang masuk TI lagi?

Sungguh indah silaturrahim diantara para peserta. Masing-masing  “dipersenjatai” dengan buku paspor untuk mendapatkan tanda tangan peserta lain dan cap venue yang dikunjungi. Dimana-mana heboh dengan berfoto atau selfi; Di kuburan (bersejarah) pun para peserta tidak kehilangan selera untuk berfoto, kata Betti Sekretaris IA-ITB yang selalu ramah.

Masih banyak lagi peserta yang patut dicatat namun tak dapat disebut satu persatu kekhasan  masing-masing. Selain menambah teman, sahabat, atau saudara, kedekatan ini nampaknya bisa jadi modal untuk mengembangkan jejaring profesi atau bakti alumni pada masyarakat. Insya Allah.

Advertisements

Read Full Post »

20141114_083954

20141114_084354

20141114_084100

20141114_074802

Klintong-klintong di Solo dimulai dengan sebuah kesan khusus, suatu rangkaian surprise. Sesuai dengan pesan panitia yang dikomandani rekan Nurhasan Akbar (EL82), para peserta yang sudah ada di hotel akan dijemput pagi-pagi untuk sarapan di tempat yang disebut dengan rumah antara.  Disana telah sediakan berbagai sarapan tradisional dengan nama-nama yang sudah disebutkan di group socmed acara.

Sebutan rumah antara dan sarapan lokal tadi jadi memancing curiousity untuk segera ke sana. Sarapan hotel jadi tidak menarik dan tidak terpengaruh dengan sebagian peserta yang tetap memulai harinya di coffee shop hotel. Satu lagi, walau tujuan adanya rumah antara sudah diketahui yaitu untuk memfasiltasi peserta yang datang pagi Jumat itu sehingga belum sempat ke hotel, tapi kok panitia berani-beraninya menerima sekitar 90 orang peserta untuk beres-beres dan sarapan pagi di rumah antara itu!

Sebab itulah ketika minibus pertama yang membawa rombongan tidak tahu persis dan mondar mandir mencari rumah antara itu, peserta di dalam minibus jadi risau dan ikut berusaha membantu menghubungi panitia. Repotnya, sudahlah sang pengemudi cukup sepuh dan tak tahu detil daerah tujuan serta fotocopy denah kurang membantu, para penumpang bukan pula orang Solo sehingga tidak nyambung dengan arahan panitia yang “ngetan” atau “ngidul”. Sementara kampung tengah sudah kerusuk-kerusuk, Om Google tidak pula membantu karena dia juga tak kenal jalan yang dicari.

Drama pembuka itu berakhir happy ending ketika para peserta sampai dan masuk ke rumah Mas Akbar yang dipakai sebagai rumah antara. Tampilan dan tataruangnya demikian apik dan menarik menggunakan disain tropical minimalis.

Desainnya ramah lingkingan dengan banyak mengkombinasikan interior bambu dan lantai kayu, ruangan-ruangannya lega dan nyaman. Bagian depan dipakai sebagai kantor dengan dek peranginan di paling atas yang ditanami rumput.

Kamar-kamar di bagian belakang menyambung dengan sebuah kolam renang kecil di taman belakang dan kolam ikan di tepi ruang keluarga, ruang makan, dan dapur bersih sehingga terasa lega dan sejuk. Dapat dikatakan semua klintongers terkesan  sehingga berkenan melakukan peninjauan bagian-bagian rumah istimewa ini. Ada arsiteknya, kata Mas Akbar.

Surprise kedua, Mas Akbar dan segenap panitia sangat bersungguh-sungguh mempersiapkan acara ini. Goody bag peserta sudah siap secara teratur lengkap dengan name tag yang padanya sudah tercetak nama masing-masing peserta. Dalam waktu tidak lama para peserta sudah pakai name tag dan sibuk dengan buku paspor yang didalamnya ada form 8nama peserta dan objek kunjungan untuk diisi dengan tandatangan atau cap objek tersebut. Kayak lagi ospek siswa atau pramuka lagi lah…

Surprise ketiga sekaligus mengobati krusuk-krusuk tadi, sarapan tradisional yang disediakan sungguh memuaskan. Sebagai orang Riau, walau yang saya tahu hanya tiwul tapi semua sajian bisa “masuk” termasuk minuman beras kencur dan asam kunyit.

Memang tepat langkah panitia ini, alhamdulillah semua puas di rumah antara itu. Nampaknya kepuasan itu ikut mentrigger kemeriahan bagaikan cheer leader oleh para alumni Angkatan 1975 dengan jumlah peserta terbanyak. Bagaimana kehebohan dan siapa yang memotorinya? Aha, itu tak boleh dikatakan disini untuk menjaga kode etik jurnalIstik.

Surprise ini telah mencairkan suasana dan jadi awal yang indah dari silaturrahim di Solo ini. Terima kasih pada panitia, it was a great work!

Read Full Post »

unnamed (2)unnamed (3)

Adalah suatu keberuntungan punya kesempatan untuk naik kereta api pada siang hari dari Bandung ke Solo. Sepanjang jalan kita bisa melihat banyak pemandangan alam yang indah yang makin hari makin banyak diserang tangan manusia.

Kita masih bisa melihat hamparan sawah dan kebun yang menjilat kaki bukit dan hutan. Kita juga bisa mendapatkan keindahan sungai dan lembah yang belum terganggu oleh kehadiran bangunan-bangunan keras dan kaku.

Secara visual kita juga bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat perkotaan (urban) di pedalaman dan perdesaan (rural), khususnya sektor pertanian. Dibandingkan dengan akhir 80an, secara fisik tentu banyak kemajuan di daerah sepanjang rel berupa perumahan, bangunan komersial, industri, atau berbagai fasilitas publik dengan kualitas bangunan yang makin baik. Namun di lain pihak kita juga merasa prihatin dengan kemajuan fisik tadi secara menerus menelan lahan-lahan pertanian yang subur.

Di sisi lain, banyak pula terlihat lahan pertanian yang tidak dikelola secara maksimal. Memang banyak juga yang menghijsu namun tak bagusnya sistem pengairannya dan telah tingginya gulma di suatu lempengan lahan tentu menandakan bahwa lahan itu terbengkalai untuk waktu yang relatif lama. Padahal negeri ini masih membutuhkan banyak bahan pangan!

Kita memang tidak tahu persis kenapa banyak lahan pertanian yang tidak tergarap maksimal. Padahal banyak sekali jenis tanaman yang produktif di daerah-daerah sepanjang rel; misalnya: jagung, ubi, sayuran, mangga, nangka, dan sebagainya.Penduduk di sekitar lahan-lahan itu yang kemungkinan besar hidup dari sektor pertanian juga masih bersahaja.

Bila kita coba cari, bisa jadi akar masalahnya salah satu atau kombinasi dari beberapa hal, yaitu: 1) pemilikan lahan yang telah bergeser dari mereka, 2) sistem irigasi yg buruk, 3) akses saprodi yang lemah, 4) pemasaran yang dikuasai tengkulak, 5) minat tenaga kerja pertanian yang melemah, 6) dan lain sebagainya.

Kita yakin pihak otoritas tentu lebih faham hal ini dan sudah melakukan kajian. Mereka mungkin juga sudah melakukan upaya-upaya perbaikan namun nampaknya belum banyak menjadikan masyarakat tani lebih profuktif. Kita berharap, semangat pemerintahan baru ini akan dapat menangkap permasalahan yang ada serta mencari penyelesaian yang mendasar dan konsepsional. Ini yang pernah dilakujan Pak Harto. Hari ini banyak orang yang menyampaikan bahwa tidak ada kedaulatan tanpa kedaulatan pangan. Semoga.

Read Full Post »

unnamedunnamed (1)

Ketika akan ikut acara Klintong-Klintong IA-ITB di Solo 14-16 Nov 2014, dari Bandung saya dan isteri naik kereta api Lodaya Pagi. Sudah lama tdk pakai KA ternyata banyak kemajuan dibandingkan dengan ketika sering bolak balik Jakarta-Bandung-Yogya akhir tahun 80an.  Ada beberapa hal menarik tentang moda angkutan masyarakat ini yang bisa kita share.

Pertama, sentuhan modernisasi pada pengelolaan PT KAI yang entah sejak kapan demikian. Proses ticketing KAI hari ini dapat dikatakan modern sebagaimana pesawat udara. Kita bisa beli tiket via internet, di outlet resmi, atau loket yang mana sudah bisa e-ticketing. Namun belum dapat diketahui apakah masih ada calo yang beroperasi, terutama pada peak season.

Kedua, pelayanan terasa mulai berorientasi pada costumer satisfaction. Para petugas dan keadaan fisik stasiun serta gerbong kereta juga sekarang jauh lebih baik.  Sebagaimana pekan sebelumnya kami ke Yogya, sangat mudah dan tanpa antrian panjang untuk masuk stasiun dan naik ke kereta menuju tempat duduk. Meskipun masih belum optimal, sudah ada peningkatan pada fasilitas angkutan massal ini.  Keadaan WC kereta sudah lebih baik; tinggal sedikit upaya untuk menghilangkan baunya. Tapi stasiun-stasiun sepanjang jalan terlihat jauh lebih bersih dan terurus, demikian pula tracknya. Entah ada juga pengaruh para walikotanya, stasiun Yogya dapat dikatakan yang paling tertib dan rapi.

Ketiga, pengaturan perjalanan nampaknya juga makin membaik. Kereta api yang kami tumpangi bila berhenti tidak lama. Tingkat kenyamanan sudah sedemikan sehingga perjalanan siang hari Bandung-Solo tidak bikin lelah.

Hal lain yang berbeda secara signifikan adalah tidak adanya pedangan asongan yang berkeliaran di stasiun atau naik ke kereta.  Para pedagang di stasiun juga lebih tertib dan berkualitas. Kerinduan pada pecal, peyek, dan berbagai makanan kampung lainnya yang biasanya dijajakan mbok-mbok tak kesampaian. Entah kemana dan dimana mereka mencari nafkah sekarang. Mudah-mudahan mereka sudah jadi para pedagang kios dan kaki lima yang telah ditingkatkan PT KAI secara konsepsional.

Adanya perubahan signifikan tentu karena adanya the man behind the gun yang punya konsep dan kemauan serta jajaran yang solid dan bersungguh-sungguh cinta kemajuan.  Mudah-mudahan itu datang dari niat yang ikhlas dan dapat berkelanjutan agar hajat masyarakat akan transportasi yang aman, nyaman, dan terjangkau dapat terpenuhi demi peningkatan kesejahteraan bangsa secara luas.

Read Full Post »