Feeds:
Posts
Comments

Archive for December, 2015

Petahana

sumokid

Mungkin kuping kita masih agak asing dengan kata petahana yang memang baru muncul tahun 2009.  Kata ini berasal dari tahana yang artinya kebesaran, kedudukan, atau kemuliaan. Dalam lingkup politik dipakai untuk sebutan orang atau pihak yang sedang menjabat atau memegang jabatan politik; dalam Bahasa Inggris incumbent.

Petahana yang sekarang populer bila ada pemilihan kepala daerah, pertama kali dipakai untuk menyebutkan posisi Presiden SBY yang akan bertarung dalam pemilihan umum Presiden RI Tahun 2009. Sebelumnya dirasakan tidak ada kebutuhan kata ini karena Presiden Suharto ketika itu dapat dikatakan tak ada lawan tandingnya, termasuk partai politik yang mengusungnya. Karena itu petahana juga bermakna kelompok atau partai politik yang sedang memerintah yang akan mempertahankan kekuasaannya dalam pemilihan umum.

Kita baru saja selesai melaksanakan pemilihan kepala daerah serentak di seluruh Indonesia untuk Gubernur, Bupati, atau Walikota di berbagai daerah.  Meskipun tingkat partisipasi pemilih kurang menggembirakan tapi dinamika politiknya tetap ramai seperti yang sudah-sudah.  Bagi yang memilih, masih menunggu hasil perhitungan suara dan penetapannya dengan berbagai perasaan dan harapan.

Dari gambaran perhitungan sementara, ada petahana yang berhasil, ada pendatang baru yang muncul, dan bahkan ada seorang calon bupati terpilih yang baru berusia 26 tahun.  Dengan izin Allah, bagi yang memang tentu merasa puas karena usahanya bersama tim memang sukses. Bagi yang belum berhasil hendaknya tidak kecewa berlarut-larut karena sebelum memutuskan maju dulu pasti sudah memperkirakan segala kemungkinan.  Masih banyak waktu dan kesempatan untuk mengabdi bagi masyarakat yang memang masih mengharapkan uuran tangan para cerdik cendekia dan para penggiat dan pembela nasib mereka.

Khusus bagi petahana yang tidak berhasil mempertahankan posisinya, hendaknya dapat mengambil hikmah yang sebaik-baik dan seluas-luasnya.  Segala peluang dan kesempatan yang sudah ditangan selama ini sebenarnya adalah modal yang sudah tersedia dengan mudah dan murah untuk melapangkan jalan untuk perioda kedua.  Seorang petahana yang kalah mungkin belum dapat memenuhi harapan dan membangkitkan tingkat kepercayaan masyarakat.  Bila pandangan itu salah, mudah-mudahan dapat memperbaikinya dengan langkah-langkah di luar kelembagaan pemerintah yang akan dilakukan berikutnya.  Bagaimanapun, terimakasih para petahana atas pengabdian pada perioda lalu; semoga jadi amal ibadah di sisi Allah Swt.

(gambar dari http://www.politicalcampaigningtips.com/incumbent-candidates-political-campaigns-for-re-election/)

Advertisements

Read Full Post »

Pelanggaran Sunnatullah

Entah karena makin luas dan terbukanya informasi, entah karena makin longgarnya social alarming system kita, setiap hari kita dihadapkan pada masalah2 yang meprihatinkan dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari masalah ekonomi di grass root, masalah sosial, hukum, sampai ke politik di lingkungan elit. Makin banyak kita mengakses informasi, sering kita makin pusing dan bingung jadinya oleh keadaan yg ada.

Belum habis kita terheran-heran dengan satu hal, sering telah muncul pula hal lain. Banyak kejadian merupakan anomali dari prasangka baik kita terhadap suatu sistem nilai atau kelompok orang yg berkenaan. Hari ini sudah biasa kalau kita terkejut secara beruntun oleh kejadian2 yang sebelumnya tak lazim atau tak kita sangka dapat terjadi.

Kalau dari tinjauan pemikiran spiritual, keadaan hari ini karena kita terlalu banyak orang melanggar Sunnatullah sehingga otomatis menimbulkan akibat yg tak bisa dielakkan, sesuai Sunnatullah itu. Makin lama perbaikan sikap/prilaku dan makin banyak pelanggaran itu, dampaknya makin meluncur dan membesar seperti bola salju.

Mungkin pandangan ini terasa “konservatif” tapi perlu jadi pembanding karena sudah demikian banyak pendekatan “modern” yg kita lakukan, belum ada yg berhasil sehingga bola salju itu terus menggelinding. Takkan berhasil perbaikan keadaan ini kalau tak dimulai dari dan menyentuh akar masalahnya yg menyangkut mental dan moral ini.

Kalau mau pakai bahasa yg lebih benderang: Rahmat Allah tdk turun di negeri kita atau mungkin sedang dicabut. Yg lebih mengkawatirkan lagi, kalau kita tetap juga tidak mengembalikan kerangka pikir dan perilaku pada tuntunan Ilahi, bukan tidak mungkin bukan hanya sekedar chaos yg meletup sana sini tapi Rahmat itu nanti Allah ganti dengan bala atau siksa. Naudzubillah.

Read Full Post »

Tempua

220px-BayaOnDisplay

Tempua adalah sejenis burung yang popular di Rantau Melayu; di Jawa disebut sebagai Manyar.  Burung yang makan biji-bijian ini dikenal sangat piawai dalam membuat sarang dengan menjalin rerumputan menjadi semacam kantong cantik yang biasanya digantungkannya di pohon yang tinggi.  Namun orang Melayu mengenal pepatah: Kalau tak ada berada, tak kan tempua bersarang rendah.

Apa gerangan maksud pepatah itu? Apa ada sarang tempua yang tergantung rendah?

Di kampung-kampung yang masih ada burung tempua, kadang-kadang memang ditemukan sarangnya yang tergantung rendah.  Sarang dengan jalinan indah itu tentu menarik perhatian orang atau mudah untuk jadi sasaran pemangsa burung atau telurnya.  Tapi uupss… jangan buru-buru meraih sarang itu karena sesuai pepatah itu, tentu ada sebabnya tempua membuat sarang rendah.

Sarang dari jalinan rumput berbentuk kantong yang cantik itu bila tergantung rendah, biasanya malah bukan dipakai oleh tempua tapi sering dimasuki oleh ular kecil atau jadi sarang penyengat.  Bisa jadi ini cara alamiah tempua untuk mempertahankan diri dari musuh-musuhnya, termasuk manusia yang suka mengganggu sarang mereka.  Karena itu sudah dimafhumi di kampung-kampung negeri Melayu, orang tidak mau menganggu sarang tempua meskipun tergantung rendah.

Tentu dari sini muncul kearifan lokal berupa pepatah “Kalau tak ada berada, tak kan tempua bersarang rendah”.  Meskipun sesuatu itu terlihat menarik dan bisa dijangkau, belum tentu baik dan manfaat bagi kita karena bisa jadi ada sesuatu di baliknya atau ada maksud lain.  Segala sesuatu tentu ada latar belakang dan tujuannya sehingga jangan cepat-cepat terpesona dengan kata-kata manis di bibir, seperti yang keluar dari penjual obat atau panggung kampanye.  Ketika melihat sesuatu yang sudah dipoles indah atau mendengar ucapan serta janji yang zaman ini banyak berhamburan, hendaknya kita simak dengan jeli dan arif. Menangkanlah kebenaran sejati.  Wallahu’alam.

Read Full Post »