Feeds:
Posts
Comments

Archive for May, 2016

Semanggi

Dalam beberapa bulan belakangan ini orang-orang infrastruktur di Jakarta cukup sibuk membicarakan Semanggi. Ini nama jembatan simpang susun di pertemuan antara Jl Sudirman dengan Jalan Gatot Subroto, yang bentuknya seperti daun semanggi (clover leaf). Saat ini Pemerintah DKI sedang membuat perencanaan untuk meningkatkan jembatan ini, tentu untuk kelancaran lalu lintas di ibukota.

Bicara infrastruktur jalan mestilah dalam tinjauan layanan sistemnya. Maksudnya, kapasitas layanannya bukan tergantung hanya pada lebar, panjang, dan kemulusan permukaannya saja tapi harus dilihat juga dari keterkaitan jaringan jalan itu satu sama lain. Seandainya dalam sistem jaringannya ada bagian yang jadi bottle neck maka bagian itu ikut menentukan tingkat pelayanan keseluruhan.

Selain itu perlu juga ditinjau kapasitas layan atau panjang jalan dengan jumlah kendaraan yg harus dilayani pada suatu saat puncak (peak); bisa diambil 100% bisa 80% atau mungkin 60% dari volume saat peak. Untuk perkotaan, kalau mampu mengambil lebih tinggi tentu lebih baik, tentu dengan konsekwensi biaya yang lebih besar pula.

Tentang Semanggi, jembatan ini karya Ir Sutami itu (mungkin bersama Rooseno apa ya?).  Ketika itu Sutami adalah Menteri PUTL, karena Presiden Soekarno tidak yakin dengan disain tiangnya yang tidak tegak atau miring, maka untuk meyakinkannya, Sutami berada di bawah jembatan itu ketika ditest pakai pertama kali.

Sebab itu memang sayang kalau dalam peningkatannya nanti, harus hilang cirinya yang sudah jadi branding Highway Engineering di Indonesia. Namun dengan sekian banyak tenaga ahli di Jakarta, masalah kapasitas dan aspek bentuk ini tentu sudah ditinjau secara seksama.

Artinya, adanya rencana itu mengimplikasikan bahwa dalam sistem jaringan jalan kota Jakarta, Semanggi saat ini sudah menjadi salah satu bottle neck yang cukup besar pengaruhnya terhadap pelayanan sistem jaringan jalan ibukota sehingga perlu diperbesar kapasitasnya. Setelah ditingkatkan nanti kita harapkan akan nampak bedanya.

Akan tetapi, tuntutan peningkatan ini rasanya tetap menyisakan permintaan pada sisi lain yaitu appreasiasi pada hasil karya anak bangsa ini. Mudah2an disain dari multistoreys jembatan baru itu nanti dengan layout-nya masih bisa menyisakan ciri jembatan lama. Dalam reka bentuk jembatan baru ini tentu perlu melibatkan para arsitek dan ahli lansekap. Mudah-mudahan dalam memacu modernitas Jakarta kita tetap memilih alur yang tepat, etis, dan paling produktif bagi bangsa.

Advertisements

Read Full Post »

9iR7876ie

Saya pernah dua setengah tahun (1990-1993) tinggal di  Kanada, yaitu di Provinsi Nova Scotia dan Provinsi New Brunswick.  Dibandingkan dengan AS dan Australia atau Belanda, Kanada memang rada konservatif.  Mungkin seperti Inggris “induknya” (meski belum pernah ke sana).

Penduduknya ramah dan santun.  Sering dikatakan oleh kawan-kawan dari Timur Tengah dan Malaysia, suasananya sangat Islami (hiks hiks… mereka bisa mereferensikan ke negara masing-masing).  Saat itu masih lazim orang bertegur sapa ketika berselisih jalan atau “hai…hai…” bila jumpa orang yang sama.  Bahkan, ketika ngantri atau nunggu bis orang bisa ngobrol dengan akrab, meskipun sebelumnya tidak kenal dan beda ras.

Orang Kanada sangat menghargai orangtua dan hak orang lain. Membukakan pintu bagi orang lain lazim, tidak hanya pada orangtua.  Kalau ada barang orang lain yang terjatuh, akan banyak yang menolong mengambilkannya.  Saya mendapat seorang ibu-ibu yang mau jadi sukarelawan sebagai proofreader untuk thesis saya.

Orang Kanada juga mudah percaya pada perkataan kita.  Asal tidak kelihatan aneh, mereka langsung percaya apa yang kita sebut sehingga proses pengisian formulir-formulir bisa cepat dan untuk hal-hal pelayanan biasa sering tidak perlu identitas.  Rental mobil misalnya, ketika itu cukup punya kartu kredit (now let’s do sharia, guys…) maka dengan cepat kunci mobil sudah di tangan kita, sekalipun itu sebuah sedan sport keluaran baru.

Dalam berlalu lintas orang Kanada juga sangat tertib dan jarang menggunakan klakson. Bila di perempatan kita tidak berhenti dan nyerobot antrian melintas maka akan diklakson orang lain beramai-ramai (hehehe… orang Indonesia sering kena!).  Tak heran bila banyak student dari Indonesia susah lulus ujian SIM di sana.

Rasa aman memang terasa, dan barang-barang di luar rumah atau yang ketinggalan sering jumpa kembali. Anak-anak sering meninggalkan begitu saja sepeda atau alat olahraganya di luar rumah tanpa diganggu siapa-siapa.  Bila di apartment kita heboh, dalam waktu singkat akan diketok polisi.  Apartment orang kita sering kena demikian karena yang pada diskusi serius atau bertengkar dikira sedang ada perkelahian.

Bagi mereka, perkelahian memang hanya sampai pertengkaran mulut.  Paling dorong-dorongan badan tanpa tangan ikut campur.  Yang kelahi fisik dianggap rendah karena sudah tidak mampu pakai pikiran atau otaknya.  Secara sosial ia akan jatuh karena dinilai berintelektual rendah.

Namun bukan berarti disana bagai di surga yang harmonis tanpa kejahatan. Kanada termasuk negara yang banyak terjadi perkosaan pada wanita (hehehe tentunya di luar kasus suka sama suka atau setengah suka karena mabuk!). Buat wanita, jam 22.00 ke atas tidak aman sendirian karena banyak orang yang mulai terpengaruh minuman keras.

Isteri saya berkali-kali ditawarkan oleh satpam untuk diantar pulang dari kampus ke rumah yang dekat saja, padahal baru beberapa menit lewat jam 22.00. Meskipun sudah tua, pensiunan polisi itu akan disiplin dan selalu mengontrol ruang-ruang belajar atau lab yang masih ada wanita bekerja.  Rumah-rumah juga banyak yang dipasang alarm atau sensor karena sering ditinggal lama.  Malam adalah saat mana banyak orang menenggak minuman beralkohol.

Masalah kriminalitas banyak muncul umumnya memang sebagai akibat alkohol. Sebenarnya mereka tahu bahwa alkohol hanya menolong menghangatkan tubuh secara semu di daerah dingin namun generasi muda sangat senang minuman beralkohol. Tiap Jumat sore mereka sudah teriak “Party…. Party…!

Sangat umum pada waktu sore atau maghribnya kita melihat anak-anak muda menenteng karton minuman beralkohol dengan gaya riang gembira. Kalau tidak di klub-klub mereka party di rumah-rumah yang tidak ada orangtuanya, di bagian yang terbuka seperti taman, teras, atau balkon. Party beberapa orang ini tentu diikuti dengan kehadiran yang wanita juga. Jika tetangga kita demikian maka siap-siap untuk tidur larut malam atau kaget mendengar polisi datang dinihari karena mereka membuat keributan atau berkelahi.  Hal yang biasa kalau “party is over” baru pada hari Senin dinihari dengan bergeletaknya mereka dengan segala posisi dan kemungkinan.

Keadaan ini bukan tidak mengkhawatirkan para orangtua mereka yang notabene rada konservatif tadi.  Saya pernah ngobrol di pesawat dengan seorang ibu yang punya dua orang anak usia mahasiswa dan suaminya profesor di sebuah universitas besar di Kanada.  Dia kawatir sekali dengan anak-anaknya yang tidak bisa mengikuti jejak ayahnya tapi hanya kuliah di universitas kecil.  Ia juga “cemburu” dengan prestasi dan upaya para mahasiswa Asia, baik yang warganegara ataupun pendatang.  Sementara anak-anak Kanada sejak Jumat sore mulai tenggelam dengan relax, fun, dan party, katanya, kalian sampai Ahad malam masih banyak yang di pustaka!

Akan tetapi secara umum Kanada memang sebuah negara yang jadi pilihan untuk tinggal.  Ia sebuah negara  modern yang jauh lebih tertib (penduduk tak boleh punya senjata!) dari AS tetangganya.  Negara di belahan Uatara bumi ini juga terkenal dengan kekayaan alam, hutan dan danau-danaunya, serta  komitmen dalam menjaga kelestarian alam.  Ini jadi salah satu kekuatan negara yang memunculkan experties dalam pemerintahannya dan bidang-bidang studi berkaitan yang diunggulkan di berbagai Univeristas di Kanada.

Jadi tak salah kalau Kanada terkenal sebagai salah satu negara maju dan yang nyaman untuk tinggal.  I missed Canada very much, but as a Malay I still choose our lovely Indonesia as my place to live.

(illustrasi: http://www.clipartbest.com)

Read Full Post »

Gaung: Salam

muslim-kid-salam-hand-drawn-vector-illustration-35473037 (illustrasi dreamstime.com)

Kita sudah familiar dengan kata salam yang maksudnya bisa kegiatan menyapa dengan suatu ucapan, saling menggenggam telapak tangan, atau suatu good wish atau doa untuk seseorang. Dengan perspektif religius yang sering dikutip oleh para penulis, salam bermakna menyampaikan pesan damai, rasa hormat, dan doa.  Jadi salam adalah penghargaan atau pemberian rasa hormat kepada orang yang disukai.

Meskipun dalam kehidupan “modern” sekarang penyampaian salam bergeser ke arah formalitas atau basa basi, namun yang menerima salam sepatutnya tetap memberikan pengharagaan balik kepada si pemberi salam.  Apabila orang menyampaikan ucapan Assalamualaikum kepada kita misalnya, maka semestinya kita jawab dengan ucapan yang sama.  Akan lebih utama lagi kalau kita balas dengan melebihkan menjadi Waalaikum salam warahmatullahi wabarakatuh.  Tambahan berikutnya adalah waridhwan.

Kata salam atau As-Salam adalah salah satu nama Allah yang berarti Yang Maha Pemberi Keselamatan.  Menyampaikan salam, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah, dinilai sebagai salah satu bentuk untuk menebarkan nama-nama Allah di muka bumi, bahkan yang menyampaikan salam kepada sekelompok orang dinilai satu derajat lebih tinggi.  Bila tidak dijawab maka akan dijawab oleh yang lebih baik dari mereka yakni para Malaikat.

Menyampaikan salam memang sunnah namun menjawabnya adalah wajib. Muatan sakral ini menyebabkan salam tidak dapat dianggap sebagai basa basi tapi memiliki etika dalam interaksinya.  Selain yang lebih dahulu menyampaikan salam adalah lebih baik, prinsip dasar lainnya adalah yang muda kepada yang lebih tua, yang menghormati kepada yang lebih dihormati.  Akan tetapi ketentuan usia dan penghormatan ini bisa dikalahkan oleh azas: yang sedikit kepada yang ramai, yang pergi kepada yang tinggal, yang lewat kepada yang di tempat, yang di atas kendaraan kepada yang berjalan kaki, yang berjalan kaki kepada yang duduk.

Aturan salam yang lebih azasi adalah bahwa salam secara Islam hanya ditujukan untuk sesama Muslim.  Hal ini tentu suatu ketentuan yang given sehingga bukan untuk diperdebatkan tapi difahami dan dikerjakan saja. Kepada yang lain, seorang Muslim tetap boleh memberi salam namun bersifat umum seperti selamat pagi, semoga sukses, selamat jalan, dan sebagainya. Sementara bersalaman tangan yang diikat aturan mahram, banyak membawa berkah.

Bagaimana kalau yang akan diberi salam adalah sekelompok orang Islam yang bercampur dengan yang bukan? Salam tetap dapat dilakukan dengan niat untuk mereka yang Muslim sedang bagi yang lainnya dapat disapa dengan salam yang umum di atas.  Sebaliknya kalau ada seorang Non-Muslim menyampaikan Assalamualaikum maka orang Islam yang mendengarnya boleh menjawabnya dengan Waalikum yang artinya dan kamu juga.

Jadi tetap ada saling menghargai dan mendoakan meskipun cara dan kepercayaan berbeda.  Dengan pemahaman yang jernih, mudah-mudahan mudah terbangun saling pengertian yang kokoh dan saling menghormati dalam masyarakat kita.

Read Full Post »