Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2017

“Awang, kau ni busuk lah… Entah bau ojol entah bau jering ni?” kata Atan pada kawan akrabnya pedagang ojol itu, ketika mereka jumpa di teras rumah guru Pudin.

“Ah engkau juga sama, bau kambing…,” balas Awang tak mau kalah.

“ Menyanyah engkau…! Kalau bau jering tu aku serius,” kata Atan. Mereka saling mencium bahu untuk membuktikan.  Mendengar kehebohan itu Pudin segera keluar.

“Eh eh eh… apa terjadi pada kalian ni?” Tanya Pudin.

“Atan ni yang memulai, bang” jelas Awang, “dibilangnya aku bau jering,” jawab Awang.

“Betul bang, saya cium ada bau. Entah ojol entah jering… jering agaknya,”

“Biasalah tu,  pedagang ojol bau ojol, peternak kambing bau kambing.  Tak apa apa, kejab lagi kan kita bersih-bersih sebelum Zuhur,” kata Pudin.

“Betul bang.  Cuma aku tak suka dia bilang aku bau jering karena aku tak suka makannya, banyak mudharatnya,” tambah Awang.

“Engkau tak makan tapi mungkin ojol kau tu kena getah jering,” kata Atan ngotot.

“Sudah lah, tak perlu diributkan.  Jangan kita macam tangkai jering,“ kata Pudin.

 “Apa maksudnya tu, bang? Tanya Atan.

“Maksudnya, kalau ada sesuatu yang kurang baik pada diri kita, kita sibuk membela diri. Heboh kesana kemari menunjukkan kelebihan dan jasa kita atau kita timpakan kesalahan pada pihak lain. Sudah ada yang menyebutkan salah kita pun kita tak peduli, macam tangkai jering memegang buahnya tu lah.  Saking liatnya, sampai lesut pun tak dilepasnya sehingga mesti dipatah baru dapat buahnya,” jelas Pudin yang membuat mereka terdiam beberapa sa’at.

“Jadi baiknya macam mana, bang?” Tanya Atan sambil menarik nafas.

“Sederhana saja, lebih baik segera introspeksi dan minta ma’af, tobat bahasa agamanya.”

“Tapi tak semua orang mudah begitu, bang,” kata Atan.

“Betul.  Dalam psikologi ada yang disebut lima tahap mental orang untuk menerima keadaan yang buruk: penyangkalan, marah, menawar, depresi, dan penerimaan. Kalau tetap di tahap awal terus maka kita tak kan pernah menyesal dan tak mau tobat.  Padahal Nabi saja istighfar tak kurang dari 100 kali sehari. Tiap malam sebelum tidur beliau juga muhasabah,” jelas Pudin.

 Kemudian Pudin meminta Atan dan Awang bersalaman, meskipun kegaduhan tadi tidak serius. Setelah berbincang beberapa hal lain, lalu keduanya pulang untuk persiapan Shalat Zuhur.

Advertisements

Read Full Post »

Dr Abdurrahman Al-Awaji web_article_213_M_1440120478

Dr. Abdurrahman Awaji di Masjid Al-Munawwaroh, UIR, Pekanbaru.

Sudah dua kali Dr. Abdurrahman Awaji datang ke Pekanbaru dan jadi imam Ramadhan di Masjid Raya Senapelan, yaitu tahun 1436 dan 1438 Hijriyah.  Dr. Abdurrahman berasal dari Madinah, belajar sejak S1 sampai sampai tingkat doktoral dalam bidang Akidah di Universitas Islam Madinah dan sekarang adalah seorang guru besar dan Wakil Rektor di Universitas tersebut.

Tentu beliau seorang yang kompeten dan istimewa, namun selama di Riau beliau bersikap sangat arif dan rendah hati serta sangat menghargai perbedaan pendapat.  Meskipun datang dari negeri yang dominan bermazhab Hambali, tapi tidak mengalami benturan yang azasi di negeri Melayu yang dekat ke mazhab Syafi’I ini. Beliau menekankan pentingnya umat Islam memiliki sifat saling menghormati dan saling menghargai dalam beribadah serta kehidupan sehari-hari selama masih dalam lingkaran Dua Kalimat Syahadat.

Dalam dua kali Ramadhan tersebut, di masjid tertua di Pekanbaru ini Dr. Abdurrahman memimpin sholat tarawih 20 raka’at dan witir 2+1 rakaat yang diselingi dengan sholawat oleh muadzin.  Gerakan takbir beliau dan cara melipat tangan sama seperti  jama’ah setempat dan beliau mengeraskan bacaan Basmallah di awal Surat Al-Fatihah.  Ketika sholat subuh beliau juga membaca doa qunut dan tidak memasalahkan dzikir dan doa sesudah sholat sebagaimana yang biasa di masjid itu.

Dalam berpakaian beliau juga menunjukkan cara yang wajar saja.  Tentu sesuai dengan kebiasaanya, beliau memakai gamis jenis biasa saja dengan ukuran sedikit di atas mata kaki dan tutp kepala surban kotak-kotak merah yang sudah kita kenal itu.  Perilaku keseharian beliau juga biasa saja dan akrab dengan para remaja Masjid Raya.  Bahkan bulan Ramadhan lalu, selepas tarawih secara tak diduga dan diantar para remaja itu, beliau sempat muncul dua kali ke Masjid Raya An-Nur.

Pada kedatangan ke An-Nur yang kedua, beliau didaulat untuk ikut tadarus dan sempat membaca beberapa ayat yang disimak oleh para peserta tadarus lainnya.  Tahun 1436 lalu, ketika diberikan kesempatan memberikan tausiah di Masjid Al-Falah Darul Muttaqin, Dr. Abdurrahman mengemukakan topik Manhaj Da’wah Rasulullah.  Rekaman tausiahnya dapat kita simak di media sosial dan ringkasan transkripnya bisa dibaca di link https://riau2020.wordpress.com/2017/08/10/skrip-ringkas-tausiah-dr-abdurrahman-awaji-di-masjid-al-falah-pekanbaru-tanggal-4-juli-2015/.

Dari perilaku keseharian, cara beliau menyikapi tata cara ibadah, dan kandungan tausiah beliau, dapat kita fahami bahwa beliau adalah seorang yang sangat arif dan berilmu.  Beliau mendalami apa yang dilakukan dan disampaikannya sehingga tak dapat kita tolak kecuali mengakui beliau sebagai orang yang mengerti dan menghargai perbedaan yang bersifat khilafiyah.  Mudah-mudahan imu dan kearifan beliau terus menyinari pemahaman dan menyejukkan ummat dalam melaksanakan syariat agama. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan dan kesejahteraan kepada Dr. Abdurrahman Awaji dan keluarga serta terus menambah ilmu beliau.  Amin.

Sumber foto: http://uir.ac.id/wb/pg/article/news/detail/213/

Read Full Post »

abdurrahaman awaji di alfalah

(Videonya bisa disimak di link ini: https://www.youtube.com/watch?v=sfOC-5cBHCY)

Nabi Muhammad membawa syariat penutup untuk seluruh alam dan ummat manusia. Kemuliaan seorang manusia bukan dilihat dari Arab atau bukan Arab tapi dari ketaqwaannya dan bagaimana ia berpegang teguh pada syariat Islam yang disampaikan Nabi Muhammad SAW.

Nabi Muhammad bekerja keras menyampaikan risalah Islam sehingga sampai kepada kita dan tugas kita pula untuk meneruskan kepada generasi berikutnya.  Rasulullah amat sangat mencintai kita, meskipun beliau hanya bertemu dengan para sahabat dan beliau tidak pernah melihat kita sebagai orang-orang yang datang kemudian.  Karena itu kita wajib membalas cinta Nabi itu kepada kita, melebihi cinta kita kepada yang lain.  Nabi juga memerintahkan kita sabar dalam berbagai keadaan sampai kita kelak berjumpa dengan Nabi SAW.  Risalah itu sampai kepada kita melalui para sahabat dan para periwayat yaitu orang-orang yang terpercaya.

Sesuai dengan riwayat dalam Al-Quran dan hadits, Rasulullah melalui jalan dan perjuangan panjang dan berat dalam menyampaikan risalah itu namun Nabi SAW selalu mendoakan kebaikan dan bukan kebinasaan terhadap orang-orang yang mengingkari beliau.  Karena itu kita harus menunjukkan bukti cinta kepada Nabi SAW dengan mengikuti Al-Quran dan Sunnah sehingga jawaban kita kepada Allah kelak sesuai dengan perintahNya.

Setiap syariat ada hikmah di dalamnya namun kita tetap menjalankannya, terlepas dari nampaknya manfaat hikmah itu atau tidak.  Islam itu mudah maka tidak boleh mempersulit-sulit agama sehingga orang lari dari agama Islam.  Islam prinsipnya menjaga diri manusia dari kebinasaan, kepada orang-orang yang beriman diperintahkan bukan untuk mengajak kepada berpecah belah tapi membawa pesan kedamaian, menghormati perbedaan pendapat sekalipun dengan yang berbeda keimanan, dan meyebarkan kedamaian misalnya dengan senyum.

Islam mengajarkan agar menyantuni orang lemah, sayang pada anak kecil, menghormati orang tua, memuliakan orang-orang Muslim yang seakidah, berkasih sayang sampai dengan kepada hewan.  Jadi ajaran Islam menebarkan kedamaian dan kasih sayang, bukan mempersulit, menimbulkan konflik, dan menebarkan masalah.

Para ulama berijtihad dalam berbagai masalah, mungkin sepakat dalam satu masalah tapi berbeda dalam satu masalah. Banyak ulama besar berijtihad tapi ada empat ulama besar Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali. Mereka para ulama ahli ijtihad sedangkan kita orang yang bertaqlid dan mengikuti mazhab mereka dalam beramal.  Harus diketahui dengan benar bahwa mereka punya titik-titik temu dan sangat bersahabat dan tidak ada konflik diantara murid-murid para imam maka tidak ada konflik dan permusuhan diantara mereka.

Semua para ulama itu adalah ahli ijtihad berdasarkan dalil sedang kita pengikut kepada dalil maka kita tidak mengatakan kepada orang sebagai pelaku bid’ah karena berbeda dalam masalah ijtihad.  Para imam yang empat itu menyuruh buang pendapat mereka jika ditemukan hadits yang bertentangan dengan pendapat mereka itu.  Banyak terjadinya ikhtilaf, contohnya dalam sholat ada duduk istirahat sebelum berdiri.  Dalam mazhab Syafi’i duduk itu sunnah sementara dalam mazhab Hambali duduk istirahat itu tidak ada.

Kenapa bisa ikhtilaf?  Karena hadits yang sampai kepada masing-masing imam berbeda bunyinya, yang sampai kepada Imam Syafi’i ketika Nabi sudah tua, yang sampai kepada Imam Hambali ketika masih muda.  Demikian pula dalam hal membaca bismillah, bisa sir bisa jahar yang kedua-duanya sunnah dan shahih.  Demikianlah agama itu mudah dan kita diperintahkan untuk mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW. Karena itu kita wajib kembali kepada tuntunan Al-Quran.  Mari kita kembali kepada ajaran Islam.

Dari Tanya Jawab:

Kata-kata pelaku bid’ah sudah dipakai oleh para ulama zaman dulu tapi kepada para syiah dan khawarij. Apa boleh mengatakan pelaku bid’ah kepada yang berbeda pada masalah amalan yang berdasarkan ijtihad ulama?  Terlalu mudah mengeluarkan kata pelaku bid’ah itu tasahul atau bertentangan dengan hadits Nabi SAW yang melarang untuk mengatakan kafir kapeda orang karena bila dikatakan kepada yang tidak benar demikian maka akan kembali kepada yang mengatakannya.

Hukuman bagi homoseksual dan lesbian, tidak hanya diharamkan dalam Islam tapi dalam Taurat dan Injil pun diharamkan.  Zaman pemerintahan Umar Bin Khattab mereka dihukum mati.  Ini bertentangan dengan fitrah yang sudah digariskan Allah Swt: Laki-laki suka dengan Perempuan dan Perempuan suka dengan Laki-laki.

Kaki celana atau kain atau jubah yang haram bila di bawah mata kaki bila angkuh dan sombong, bila tidak angkuh dan sombong tidak termasuk yang diancam oleh Rasulullah SAW.

Nabi bersabda: potongah kumis, biarkan jenggot.  Para ulama berbeda pendapat tentang  “biarkan jenggot” ini, apakah maknanya wajib atau sunnat, sebagaian mengatakan wajib sebagian mengatakan sunnat.

Boleh memberikan zakat hanya pada satu kelompok ashnaf saja.

Syi’ah adalah orang-orang yang mencaci maki dan mengkafirkan para sahabat Nabi SAW.

Tentang Nuzulul Quran, semua hal yang baik selama tidak bertentangan dengan syari’at maka itu boleh dan sah untuk dilakukan.

Catatan: Mungkin catatan ini tidak selengkap tausiahnya dan ada yang tercecer. Segala kekurangan dari saya yang dhoif, mohon maaf bila ada kekuragan dan kesalahan.

 

Read Full Post »