Feeds:
Posts
Comments

Archive for April, 2018

Termaktub dalam Al-Quran perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala  kepada Rasulullah yang refleksinya tentu sampai ke para pemimpin hari ini:

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman.” (Surat Asy-Syu’ara ayat 215)

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Rasulullah diperintahkan untuk berlaku adil dan berbuat baik kepada pengikutnya dan secara bersamaan berlepas diri pada yang durhaka padanya (QS. An-Nahl: 90).  Jika mereka menimpakan siksaan maka Allah membenarkan Rasulullah bila membalas hal yang sama,   namun lebih baik jika bersabar dan memaafkan mereka (QS. An-Nahl: 90 dan QS. Asy-Syuraa: 40).  Selain itu masih banyak hadits yang memerintahkan agar pemangku pemerintahan berlaku lemah lembut pada rakyat, tidak berlaku zalim, dan memenuhi hajat mereka.

Ulama Fudhail bin ‘Iyadh berkata: “Seandainya aku memiliki doa yang mustajab, maka akan aku tujukan doa tersebut kepada pemimpin.”  Maksudnya jika doa itu ia tujukan pada dirinya, hanya bermanfaat untuknya.  Jika ia tujukan untuk pemimpin, maka rakyat dan negara akan menjadi baik.

Imam al-Mawardi (w. 450 H), seorang ulama besar Madzhab as-Syafi’i, dalam bukunya al-Ahkâm as-Sulthôniyyah menyebutkan bahwa salah satu kewajiban pemimpin adalah menjaga dan melindungi perbatasan sehingga musuh tidak menguasai tanah perbatasan dan menganggu penduduknya.  Implikasi dari kewajiban ini maka seorang pemimpin mesti mengenal wilayahnya, mengetahui keadaan rakyatnya, dan memahami apa yang harus dilakukannya.

Sikap seorang pemimpin terhadap rakyat dan negeri ini sangat penting karena akan berkaitan dengan segala kebijakan dan tindakan dalam menjalankan tugas dan fungsinya.  Kita bisa memperhatikan gejala yang berkenaan yang muncul di permukaaan peri-kehidupannya, apalagi bila pernah berinteraksi dengan atau mengamati kiprahnya.

Selain faham keadaan serta kebutuhan rakyat dan negeri, ia akan bersikap arif dan bijaksana secara proporsional serta mengayomi semua pihak sedemikian agar bisa berorientasi pada kemaslahatan masyarakat.  Pemimpin demikian akan bekerja produktif, jauh dari hiruk pikuk mencari pujian tapi justru tanpa diminta prestasi dan reputasinya mendapat appresiasi dari orang lain.  Dengan penuh disiplin dan kerja keras untuk rakyat ia akan merumuskan rencana-rencana yang inovatif, realistis, dan implementatif.  Rasa sayangnya pada rakyat dan negeri membuat ia juga terbuka pada kritik.

Memang betul bahwa tidak mudah melihat figur yang bersifat demikian, namun kewajiban kita pula untuk mencermati yang sedekat mungkin ke sifat-sifat yang positif ini.  Kita tidak boleh putus harapan karena tentang hal ini Rasulullah menyuruh kita berdoa:

Dan janganlah Engkau kuasakan atas kami orang-orang yang tidak menyayangi kami.

(HR. Al-Tirmidzi dalam Sunannya no. 3502 dan juga dari perawi lain)

Advertisements

Read Full Post »

Ikhlas adalah salah satu kata kunci yang sangat penting dalam amal perbuatan seorang Hamba Allah, termasuk menjadi pemimin formal.  Pengertian ikhlash adalah membersihkan perbuatan dari mencari pandangan manusia atau hal lainnya (riya) dan menjadikan Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai satu-satunya tujuan di dalam menjalankan ketaatan.  Ikhlas dimulai sejak dari niatnya.

Niat yang ikhlas dari semua amal perbuatan manusia tidak boleh keluar dari kerangka mengabdi kepada Allah, sebagaimana yang firman Allah dalam surat Al-Bayyinah ayat 5:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus…”

Ketika seseorang merasa mampu dan maju jadi pemimpin formal pasti ada niatnya.  Sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan, tidaklah mudah menerapkan konsep ikhlas ini;   mungkin karena merasa mendapat panggilan nurani melihat keadaan yang ada, ingin mengabdikan dirinya untuk negeri dan masyarakat, sebagai aktualisasi diri, meningkatkan taraf dan fasilitas hidup, atau bahkan melihat ada peluang yang menguntungkan diri atau kelompok.  Apapun niat yang dikatakan, mestilah teruji dan masuk ke dalam kerangka semata karena Allah  Ta’ala.

Tentu kita tidak dapat mengetahui isi hati seseorang.  Akan tetapi kita masih bisa mencermati gejala keikhlasan seseorang dalam amal perbuatannya.  Dalam konteks kepemiminan formal, mungkin bisa kita lihat beberapa indikator yang berkaitan.

Dalam kesehariannya selama ini mungkin kita bisa merasakan apakah seorang calon itu suka riya, pamrih, memanfaatkan kekuasaan untuk kepentingan sempit yang mengakar (vested interest), atau mencari pujian atau tidak.  Mungkin kita juga bisa melihat orang yang ambisius, rakus pada kekuasaan, otoriter, dan angkuh atau yang sadar pada kapasitas, kompetensi,  kapabilitas dirinya sehingga  menjadikan tugas yang diembannya sebagai pengabdian dan ibadah kepada Allah.  Dengan demikian  ia akan berusaha atau bekerja dengan sungguh-sungguh, bertanggung-jawab, menghargai orang lain, tuntas, dan akuntabel.

Secara pesimistis bisa jadi kita anggap tidak ada orang yang demikian akan tetapi kita mesti yakin bahwa disamping kelemahan seorang manusia juga punya hati nurani yang lurus. Paling tidak, In sya Allah kita bisa melihat yang paling baik dari yang ada.  Mudah-mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala menunjukkan kebenaran kepada kita semua dan memberi kita pemimpin yang ikhlas.

Read Full Post »

poster pilkada

Kita semua tentu sepakat bahwa semua pasangan calon adalah figur-figur terbaik yang memungkinkan jadi pemimpin di daerah kita.  Secara legal formal mereka sudah memenuhi syarat administrasi, kesehatan fisik dan mental, dan ada pendukungnya.  Bagaimana cara kita menilai bahwa seseorang itu memang patut jadi pemimpin formal dalam perioda lima tahun ke depan?

Seorang pemimpin kita harapkan adalah yang terbaik yang dapat kita lihat dan rasakan, paling tidak secara lahiriah.  Dalam konteks kepemimpinan, tolok ukur terbaik untuk menilainya tentu mengacu kepada seorang pribadi yang berkepribadian terbaik berdasarkan nilai-nilai yang kita yakini terbaik pula.  Tidaklah bila kita menjadikan Nabi Muhammad SAW yang merupakan tauladan terbaik sebagai acuan.  Michael H. Hart, seorang guru besar di Maryland, Amerika Serikat, tahun 1978 telah menempatkan Baginda Rasulullah pada ranking 1 dari 100 figur yang yang paling berpengaruh di muka bumi.

Sudah kita ketahui bersama bahwa empat karakter beliau yang sering disebut untuk jadi tauladan kita adalah Shiddiq, Amanah, Fathonah, dan Tabligh.  Shiddiq artinya benar; baginda selalu benar dalam perkataan dan perbuatannya, beliau tidak pernah berlaku lain di mulut lain di hati atau berbohong pada orang yang beliau jumpai.  Allah menjamin bahwa ucapan beliau senantiasa berdasarkan wahyu sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran  Surat An-Najm Ayat 4-5:

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلْهَوَىٰٓ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.”

إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْىٌۭ يُوحَىٰ

“Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya.”

 

Amanah artinya bisa dipercaya.  Sejak dari belia, apabila diserahkan suatu hal atau tugas, beliau benar-benar dapat dipercaya dan melaksanakan kepercayaan itu dengan baik.  Karena kejujurannya itu jauh sebelum kenabiannya beliau diberi gelar oleh penduduk Makkah sebagai Al-Amin yang artinya terpercaya.

Setelah menjadi Nabi, beliau makin menunjukkan karakter itu dan mustahil berkhianat pada yang memberi amanah.  Hal ini dinyatakan dalam Al-Quran Surat Al-A’raaf 68:

أُبَلِّغُكُمْ رِسَالاتِ رَبِّي وَأَنَاْ لَكُمْ نَاصِحٌ أَمِينٌ

“Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.”

Dalam satu riwayat disebutkan bahwa beliau menolak bujukan kaum kafir Quraisy agar meninggalkan da’wah tauhid, andaipun diberikan matahari di tangan kanan beliau dan rembulan di tangan kiri.  Bahkan dengan ancaman nyawa pun Rasulullah tetap menjalankan tugas sucinya menyampaikan kebenaran.

Fathonah artinya cerdas.  Adalah mustahil Rasulullah itu tidak cerdas atau jahlun.  Beliau sudah terbukti sanggup menerima, mengingat, dan menyampaikan wahyu berupa Al-Quran sebanyak 30 juz atau 6.236 ayat.  Dengan kecerdasannya, beliau juga mampu menyampaikan penjelasan ajaran-ajaran Allah dalam puluhan ribu hadits dan berdebat dengan baik sehingga banyak yang menerima ajaran Islam.  Kecerdasan dan kepemimpinan yang dikarunikan Allah pada beliau telah memudahkan Agama Islam menyebar ke segala penjuru yang akhirnya dalam waktu kurang dari 100 tahun sudah melebihi luas benua Eropa.

Tabligh artinya menyampaikan.  Rasulullah menyampaikan semua wahyu yang ditujukan pada manusia, meskipun itu menyangkut pribadi beliau.  Sebagai satu contoh adalah kisah Ibnu Ummi Maktum yang buta waktu menghadap Rasulullah yang sedang menerima para pembesar kafir Quraisy.  Karena Rasulullah kurang merespon Ibnu Ummi Maktum maka Allah langsung menegur baginda melalui wahyu Surat ‘Abasa.  Meskipun demikian, Rasulullah tetap menyampaikan surat itu kepada para pengikutnya.

Mengacu pada karakter tauladan terbaik ini tentu tidak mungkin kita dapat menemukan seorang calon yang menyamai. Sebagaimana kewajiban yang sama berlaku atas kita, yang dapat kita lakukan hanyalah menyimak secara lahiriyah figur calon mana yang karakternya paling dekat atau berusaha meniru karakter Rasulullah itu.  Sekarang anda sendiri dapat melakukan assesment itu.

Harapan kita tentu kita dapat menemukan seorang calon pemimpin kita yang senantiasa berkata benar, tidak suka berbohong, tidak suka mengumbar janji kosong, tidak lain di mulut lain di hati, sesuai kata dan perbuatan, tidak mau memalsukan informasi dan data, dan tidak menggelembungkan diri sendiri.  Pemimpin yang kita inginkan itu hendaklah seorang yang bertanggung-jawab, tidak mengkhianati ummat dalam peri kehidupannya selama ini, tidak pernah melakukan atau menyerempet pelangggaran hukum, tidak pernah terlibat korupsi, dan mendapatkan hak atau rizkinya secara syah dan baik.

Pemimpin yang berpeluang besar berhasil dalam tugasnya tentulah yang cerdas dan berwawasan luas.  Ia berfikir bernas, tepat, dan dapat mensinergikan berbagai potensi ilmu dan pengalaman orang lain.  Ia seorang yang mau belajar dan penuh inisatif sehingga dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat.  Kepada jajaran dan stakeholders, seorang pemimpin yang kita harapkan dapat berkomunikasi dengan baik, memberikan arahan dan petunjuk yang jelas dan proporsional, dan membangun jejaring kerja dengan baik. Bisa juga kita cermati siapa kawan atau kelompoknya.

Nah, kira-kira demikianlah elaborasi dari karakter yang dapat kita tauladani dari Rasulullah SAW.  Mudah-mudahan kita dapat melihat yang paling mendekati; apabila ada yang lebih baik dari elaborasi ini secara parsial tentu akan lebih bermanfaat, sebagai kesaksian yang akan kita pertanggungjawabkan pada Allah SWT di akhirat kelak.  Semoga anda sudah mendapatkan minimal satu atau dua nama calon pemimpin berkarakter yang lolos asessment anda tahap pertama ini.

Read Full Post »