Feeds:
Posts
Comments

Archive for August, 2018

UAS 21191894_1935000676712263_8984460293743637571_nUAS 21192383_1935000646712266_8963448009127443612_n

 

Mungkin kita heran kenapa sekolah dasar yang sangat diperlukan anak-anak dusun itu diadakan di Sadan yang hanya ada 11 rumah, sedangkan di Air Bomban ada 17 rumah.  Sadan terletak lebih di hulu dari Air Bomban  dan dengan jalan kaki perlu sekitar 40 menit menempuh hutan belukar yang berpacat dan naik turun bukit, termasuk menyeberangi satu sungai dengan mengharung, sebagaimana sudah digambarkan pada tulisan sebelumnya.

Anak-anak itu bergembira ketika mengetahui pahwa para peserta rihlah akan ikut berangkat bersama mereka ke Sadan pagi hari ke tiga itu.  Mungkin pengalaman ketika dikunjungi sebelumnya dan keingintahuan tentang acara hari itu di sekolah membuat mereka bersemangat dan bersepadu pula pada para peserta rihlah.  Sementara anak-anak berjalan dengan riang sambil ngobrol atau nyanyi-nyanyi kecil, para abang, paman, dan atuk pendatang terengah-engah dengan beberapa kali istirahat.

Dengan terengah-engah akhirnya kami sampai ke Sadan, langsung muncul ke sebuah lahan terbuka sekitar seluas setengah lapangan bola.  Di lapangan itu ada sebuah tempat tinggal guru, satu lokal ruang kelas, kantor guru dan tiang bendera yang diatasnya sedang berkibar selembar merah putih yang sudah kucal dan usang.  Acara kami hari itu memang tentang sekolah dan bendera itu.

Setelah istirahat sejenak, maka para “guru amatir” pun beraksi.  Berbagai materi spontan keluar: ada yang mencairkan suasana, ada yang mengenalkan adab kepada orangtua dan guru serta Allah Sang Maha Pencipta, mengajarkan matematika dengan materi semacam Sudoku, dan membahas konsepsi energi secara sederhana.  Anak-anak ini yang kecerdasannya tak kalah dengan teman-temannya di kota, demikian gembira dan responsif terhadap apa yang berlangsung di kelas.   Pembelajaran ditutup dengan interaksi yang menghibur oleh Ustadz Dede yang sebenarnya mengajar di Dusun Nunusan.

Sedikit gambaran tentang guru, Ustad Dede misalnya adalah seorang guru relawan yang dikirim oleh lembaga da’wah Dompet Dhuafa ke Nunusan yang berada di hilir Air Bomban.  Dengan dukungan sekadarnya beliau bermujahadah ke masyarakat Suku Talang Mamak dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tigapuluh ini.  Alhamdulillah, masyarakat sangat menghormati seorang guru sehingga banyak kemudahan yang dibantu seperti keringanan biaya perahu kalau bepergian. Dengan jadwal mengajar yang bisa diatur sendiri kadang ia ikut mencari hasil hutan untuk tambahan belanja, demi terus bertahan mengajar anak-anak didik yang dicintainya.

Demikianlah sedikit gambaran sebagian orang-orang yang mewakafkan waktu dan kehendaknya untuk kepentingan tegaknya agama Allah di lingkungan pedalaman Riau ini.  Pengorbanan ini alhamdulillah sangat berarti bagi masyarakat Talang Mamak, khususnya para murid.  Alhamdulillah semangat mereka untuk maju secara parsial telah dapat tersalur melalui kegiatan sekolah, termasuk untuk mengenal dan mencintai Sang Merah Putih sebagaimana di Desa Sadan ini.  Bersatu padu dengan berbagai pihak dan lembaga amal, hasil sinergi da’wah ke Talang Mamak ini antara lain telah diangsur pendirian pondok tahfizh dan beberapa anak telah dikirim belajar ke luar.

Kiprah para pejuang yang bermanfaat dan memajukan masyarakat ini tentu bernilai amal sholeh, In sya Allah. Keadaan inilah yang telah menggugah lubuk hati UAS untuk mengagendakan kunjungannya ke daerah ini dua kali setahun di tengah kesibukannya yang super padat.  Mudah-mudahan Allah memudahkan upaya yang dilakukan para pejuang di jalan Allah.

Advertisements

Read Full Post »