Feeds:
Posts
Comments

Archive for January, 2019

K e u k e u h

seorang-penyanyi-populer-korea-terlibat-98c002

Kata keukeuh dalam Bahasa Sunda punya arti yang mungkin sulit kita cari kesamaannya dalam Bahasa Indonesia karena punya pengertian yang agak lengkap: tak bisa dilarang, ngotot.  Dalam manifetasinya, bertahan dengan pendapatnya tanpa peduli apakah itu benar atau salah sehingga bisa berkonotasi bagaikan menegakkan benang basah.  Sampai-sampai ada pameo: yang paling susah dinasehati atau diberi masukan adalah orang yang sedang jatuh cinta dan yang sedang membela junjungannya.

Dalam pentas politik bangsa pada awal tahun 2019 ini, kita sedang dihadapkan pada situasi dua kutub yang persaingannya terasa cukup keras.  Masing-masing kutub demikian percaya diri dengan pemikirannya dan boleh dikatakan sangat sedikit perubahan yang terjadi, kecuali adanya tambahan dari swing voters. Karena itu cukup sesuai kalau kita katakan mereka keukeuh dengan pendapat dan pandangannya masing-masing meskipun data, fakta, atau argumentasi yang realistis dan rasional berseliweran.

Yang cukup anehnya, mereka yang keukeuh itu terdiri dari para cendekia intelektual, ahli profesional, pengusaha sukses, pengajar, atau tokoh terpandang.  Bagi orang-orang demikian ini, bisa jadi sudah punya pilihan sejak semula sesuai platform hidupnya, sikap keukeuh itu mungkin juga ada penyebabnya.  Tentang hal ini, Ustadz Muhammad Rizal, SH, M.Si, seorang ulama dan juga politisi dari Jawa Barat, memberikan pendapat yang sangat mencerahkan.

Beliau mengingatkan kita agar jangan sampai menjadi orang yang mencintai sesuatu mengalahkan cinta kita kepada Allah dan Rasulullah.  Sikap ini bisa menggiring kita jatuh ke dalam syirik, satu dosa besar yang tak terampunkan dan dalam bersikap kita hendaknya menggunakan acuan yang mutlak kita yakin kebenarannya serta dianjurkan untuk menggunakan akal sehat.  Selanjutnya beliau mengingatkan agar kita juga tidak terjebak ke dalam sebab-sebab menjadi keukeuh dengan pandangannya, kurang lebih sebagi berikut.

Pertama, perhitungan pragmatis yang mempertimbangkan untung rugi bagi diri atau kelompoknya secara duniawi.  Dalam pandangannya, jalan yang dipilihnya itulah yang akan membawa keadaan lebih baik dari segi materi, jabatan, dan keuntungan duniawi lainnya.

Kedua, ada pula yang merasa akan bisa masuk ke dalam sistem yang dipilihnya itu untuk ikut memperbaiki keadaan tanpa ia sadari bahwa sistem itu sangat besar dan kuat dengan goals yang sudah tertentu.  Sangat kecil peluang ia bisa merubahnya, bahkan mungkin ia yang akan hanyut.

Ketiga, salah perhitungan akan kekuatan dan potensi kutub yang jadi pilihan.  Tanpa informasi dan pemahaman yang baik kita akan mudah tergiring ke satua arah yang terlihat hebat dan kuat yang diharapkan jadi gantungan harapan.  Sayangnya harapan itu kurang disejalankan dengan nilai-nilai yang harus jadi pedoman secara hakiki.

Keempat, pembatasan diri sendiri pada sikap seorang intelectual atau professional leader namun tanpa ruh dan malah berjiwa budak.  Sebagai leader, ia hanya mengacu pada kaidah-kaidah baku yang diterima orang banyak atau otoritas tanpa punya kemampuan untuk menyatakan kebenaran.

Kelima, seorang akan jadi keukeuh ketika enggan keluar dari zona aman yang sedang dinikmatinya.  Ia hanya memikirkan dirinya sendiri, tidak mau membebaskan diri dan lingkungannya dari keterjajahan.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk golongan orang sebagaimana yang diindikasikan oleh Ustadz Rizal tersebut dan senantiasa mendapat bimbingan Allah Swt.

Advertisements

Read Full Post »