Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘karakter’ Category

jailed“Napa beda sangat tampang awak berdua ni?” tanya Bang Pudin pada kedua temannya. Awang pagi Jumat itu sudah rapi dengan baju koko putihnya dan terbau wangi yang tersebar dari rambutnya yang masih basah habis keramas. Atan nampak masih kusut masai dengan muka sedikit rungsing. “Awang dah siap ke masjid nampaknya, sementara awak mandi pun belum, Atan?”

“Iya lah bang, Awang tu sibuk dengan ojol saja.  Mana peduli dengan nasib negeri ini,” jawab Atan.

“Apa yang buat kau rungsing pagi ini?” Tanya Bang Pudin lagi.

“Masalah petinggi yang dipanggil ke Kuningan hari ini, bang.  Sudah kerap kalau seorang tersangka diperiksa hari Jumat ni, nanti langsung ditahan.  Bagaimana lah jadinya sore ini…?”

“Hal itu serahkan sajalah pada proses itu sendiri, kan sudah ada di alur yang tepat,” jawab Bang Pudin.

“Itu aku risau juga, Tan,” pintas Awang, “Tapi kan sudah konsekuensi bila diduga ada suatu kesalahan atau pelanggaran hukum,”

“Betul tapi kenapa ditahannya hari Jumat? Sampai-sampai disebut Jumat Keramat, sedangkan Sabtu dan Ahad kan hari libur?” tanya Atan.

“Betul juga, apa pasalnya sehingga jadi terkenal pula sekarang Jumat Keramat, ya?  Memang Jumat adalah hari yang mulia sebagai penghulu hari tapi bukan keramat yang berasal  dari karomah,”

“Apa artinya karomah, bang?” tanya Awang.

 “Maknanya kurang lebih keunggulan yang diberikan pada seseorang karena ia orang yang alim dan shaleh. Keunggulan itu didapat bukan karena dipelajari secara khusus dan tidak bisa dia rencanakan untuk menggunakannya melainkan muncul sewaktu-waktu.  Kalau istilah keramat tadi, menurut aku diartikan sebagai sakti yaitu timbul dari perbincangan awam atau media.  Karena sudah kerap terjadi penahanan tersangka pada hari Jumat, lalu diberi nama dengan menyamakan bunyi akhir katanya,”

“Tapi kenapa hari Jumat, bang?” tanya Awang penasaran.

“Tak begitu jelas juga kita ilmu para penyidik ini. Namun aku pernah baca, secara psikologis seorang yang tidak mengakui atau menyesali perbuatan buruknya, dalam dirinya akan terjadi tahapan-tahapan sebelum dia akhirnya mengakui dan menerima kesalahan,”

“Apa tahapannya tu, bang?” tanya Atan pula.

“Tahapan itu mulai dari menyangkal, lalu mencari kambing hitam, merasa berjasa, menyesali kejadian, dan akhirnya menerima kesalahan. Mungkin kita pernah lihat tersangka membantah habis-habisan kesalahannya meskipun sudah terungkap atau terlihat keterlibatannya. Lalu bila dia tidak bisa bertahan maka akan coba mencari alasan atau kambing hitam.  Jangan heran bila serang pesakitan hukum malah sibuk menghitung-hitung jasanya untuk menghalalkan kesalahannya.  Demikian seterusnya walau perpindahan dari satu tahapan ke tahapan berikutnya tidak mudah; kadang perlu ada shok theraphy.”

“Jadi mendiamkan tersangka itu dalam tahanan pada akhir pekan itu, semacam shock theraphy, ya bang?” tanya Atan mulai nyambung.

“Mungkin juga, itu hanya suatu teknis pemeriksaan saja,” jawab Bang Pudin.

“Supaya tak gitu, bagaimana bang?” tanya Awang pula.

“Bagi kita, baiknya setiap kali melakukan kesalahan langsung minta ampun atau istighfar.  Supaya tidak terjebak pada kesalahan fatal, senantiasa lah melakukan evaluasi diri atau muhasabah.  Rasulullah SAW saja melakukan istighfar tidak kurang dari 70 kali sehari dan bermuhasabah setiap malam sebelum tidur,”

“Itu yang namanya insyaf, bang?” tanya Awang lagi.

“Betul, lalu kita tobat.  Artinya menyadari kesalahan dalam hati, ucapkan dengan lidah berupa minta ampun, berjanji tidak mengulangi lagi, kompensasikan dengan banyak beribadah dan beramal shaleh secara konsisten dan kontinyu atau istiqamah,”

“Jadi lebih baik malu dengan segera mengakui kesalahan tapi cepat selesai dan mungkin Allah juga akan mengampuni dari pada terus membantah dan berusaha pula mempengaruhi proses hukum dengan berbagai cara yang artinya terus bermaksiat pada manusia dan Allah, ya bang?” komentar Atan.  Bang Pudin hanya tersenyum.

“Hah pandai pun dikau, Tan!” tanggap Awang.

“Jadi Jumat Keramat tak perlu ada dan mungkin terhindar dari penyiksaan ketika didiamkan dalam tahanan waktu akhir pekan tu,” kata Atan.

“Iya, Jumat Keramat ganti Jadi Jumat Keramas saja.  Kita kan memang disunnahkan keramas tiap Jumat sebelum Sholat Jumat.  Sekarang kau balik sana, cepat keramas, cukur, potong kuku, dan pakai wangi-wangian sikit,” kata Awang pada Atan.

“Alah mak, mentang-mentang kau dah tak bau ojol lagi bukan main temberang lah…” kata Atan sambil sambil meninggalkan kedua temannya yang tersenyum dan mulai bergerak menuju masjid.

Advertisements

Read Full Post »

Ayah

Alm ayah kami Abdul Karim Effendy (1 Jul 1921-7Nov 2012)(Dimuat di Riau Pos tanggal 14 November 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

AYAH umumnya dipakai untuk sebutan atau panggilan pada orangtua laki-laki dari seseorang yang secara biologis bertalian darah atau formalnya disebut ayah biologis.  Selain itu ayah juga dipakai untuk panggilan pada orangtua angkat, orangtua asuh, atau orang yang dituakan dalam satu tingkat generasi.  Zaman sekarang panggilan itu bisa pula menjadi papa, papi, bapak, daddy, abah, atau abu yang semuanya bermuatan penghormatan.

Meskipun penghormatan kepada ibu bobotnya tiga kali lipat dari pada  kepada ayah, dalam keluarga ayah tetap menjadi sosok yang utama atau figur sentral.  Sebagai kepala keluarga, seorang ayah mempunyai banyak peran yang sangat penting dalam rumah tangga bagi isteri dan anak-anaknya.  Ayah adalah tulang punggung keluarga yang sekaligus pendidik dan sosok tauladan bagi anak-anaknya.  Apapun status dan kapasitasnya, kehadiran ayah memberikan rasa aman, nyaman, berkecukupan, dan terlindungi bagi rumahtangganya masing-masing.  Insya Allah, segenap keluarganya akan mengenang jasa, kebaikan, dan keteladanan itu dengan indah kelak ketika sang ayah sudah tiada. (more…)

Read Full Post »

Lost Generation adalah istilah untuk menggambarkan suatu kelompok manusia dengan rentang usia tertentu yang kurangmampu akibat pengalaman generasinya.  Pertama kali dipopulerkan oleh Ernest Hemingway, istilah ini berasal dari seorang pemilik bengkel di Paris yang jengkel pada mekaniknya yang tidak mampu memperbaiki dengan baik mobil seorang pelanggan.  Sang mekanik adalah seorang yang baru kembali dari perang yang lama sehingga tidak mempunyai kemampuan yang cukup.

Mulanya istilah ini untuk menyebutkan generasi penulis Amerika dari tahun 1920an karena waktu itu akibat Perang Dunia I banyak pemuda yang telah tercerabut dari akar budaya dan tidak mampu untuk masuk kembali ke dalam masyarakat.  Perang telah menghancurkan sistem nilai masyarakat dan para pemuda yang dikirim perang banyak yang mati atau kembali pulang dengan cacat fisik, dan atau mental.  Nilai-nilai tentang kebaikan dan kebenaran yang sebelum perang memberi mereka harapan, tidak lagi berlaku lagi sehingga mereka kehilangan jati diri. (more…)

Read Full Post »

K T L

KTL (Kawasan Tertib Lalu-Lintas) adalah suatu bagian jalan dan lingkungannya yang diunggulkan untuk jadi contoh tertib dan aman untuk berlalu-lintas dengan pengaturan dan pengawasan khusus.  Belum lama ini Pekanbaru kembali menghangatkannya dengan maksud akan menerapkan KTL di jalan kota, khususnya Jalan Jenderal Sudirman.  Dengan keadaan lalu-lintas yang ada sekarang tentu kita sangat mengharapkan terwujudnya KTL di jalan tersebut lalu merambat ke bagian kota lainnya, supaya kota ini jadi lebih nyaman.

Salah satu tolok ukur kenyamanan suatu kota adalah kelancaran lalu-lintas dan angkutan kota.  Akan tetapi kelancaran itu terkait dengan banyak hal seperti pemanfaatan ruang kota, pelayanan infrastruktur, rekayasa lalu lintas, dan sikap atau perilaku pengguna jalan.  Buruknya aspek-aspek itu dengan mudah akan saling memperburuk keadaan; sebaliknya jika baik maka akan terjadi sinergi menuju ke keadaan yang lebih baik. (more…)

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Kita sering menyebut diri sebagai bangsa yang besar karena tanah air kita yang terdiri dari ribuan pulau dan hamparan lautan luas sekali dengan penduduk terbanyak ke empat di dunia. Kekayaan alam dan budaya kita juga luar biasa sehingga menenggelamkan kita dalam kebesaran potensial itu. Namun bagaimana kualitas sumberdaya manusia (SDM) kita hari ini dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain?

Pertanyaan ini mungkin lebih mudah dijawab jika kita keluar dari kotak kebanggaan itu. Jika tidak, kita akan terjebak dengan mengaji ke belakang tentang sejarah, dampak penjajahan, garis start peradaban modern, dan sebagainya yang hanya akan membuat kita tetap tenggelam dalam kebesaran semu itu.Untuk menyederhanakannya mari kita mengambil perbandingan kualitas bangsa kita dengan negara tetangga seperti Fillipina, Thailand, dan Malaysia. (more…)

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Bagaimana kita memanfaatkan waktu dalam sehari yang 24 jam itu? Pernahkah kita mencermati berapa banyak waktu kita yang terbuang setiap harinya?

Ketika saya hitung berdasarkan kegiatan-kegiatan pokok dan primer saya pada peak performanceharian, ternyata masih banyak waktu yang tersisa. Kita mulai untuk ke belakang, dalam satu hari saya perlu waktu total sekitar 1 jam atau 4 persen. Untuk sarapan dan makan juga 1 jam (4%), tidur 5 jam (21%), bekerja 7 jam (29%), dan beribadah yang sekomplit-komplitnya dengan doa, sholat sunnat, tahajud, dhuha, serta menghadiri majelis ilmu seluruhnya kurang dari 3 jam (sekitar 12%). Kalau dijumlahkan semua keperluan pokok dan primer pribadi itu baru menghabiskan waktu harian saya 70%dan menyisakan 7 jam 12 menit.

Kemana sisa waktu itu? Kalau untuk baca koran bisa terpakai 1 jam dan urusan rumah tangga 1 jam lebih, maka masih tersisa 5 jam lagi. Kalau lah saya tidak memakainya untuk yang manfaat seperti olahraga, baca biku, menulis, berorganisasi, kegiatan pribadi, interaksi sosial dan keluarga, maka bisa jadi waktu itu akan terpakai untuk sekedar nonton tayangan tv yang banyak kurang bermutu, kongkow-kongkow yang potensial untuk menambah dosa, serta yang tidak manfaat lainnya atau akan berlalu sia-sia.

Sebaliknya kalau sisa waktu itu bisa kita kelola dengan baik dan efektif maka akan menimbulkan implikasi keharmonian diri dan keluarga serta dapat juga membawa manfaat ekonomi.  Tidak kurang jalan yang dapat dijalani seorang pekerja di luar kantor yang akan meningkatkan silaturrahim dannetworking serta kegiatan usaha guna penghasilan tambahan.   Kegiatan-kegiatan usaha itu tidak mesti dengan kapital dan melibatkan jumlah pegawai yang banyak tapi di era digital ini bisa juga dalam format usaha kecil atau bahkan dengan mengandalkan kemampuan atau potensi personal sendiri.

Hitung-hitungan (muhasabah) saya ini jelas bisa tidak sama pada sebagian orang tapi mungkin hampir sama atau bisa jadi sekedar patokan bagi sebagian yang lain. Bagaimana pun dapat lah kita katakan bahwa tanpa upaya yang baik dan teratur, sekitar 30 persen waktu kita potensial hilang sia-sia setiap harinya. Semoga kita tidak termasuk kelompok orang yang merugi dengan memanfaatkan waktu secara baik dan efektif setiap harinya, dan kesia-siaan itu tidak masuk ke hitungan kehidupan kita dan keluarga masing-masing.

 

Read Full Post »

(tulisan saya yang telah dimuat di Kompasiana)

Penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) nampaknya kembali menjadi topik hangat di tengah masyarakat kita. Proses penerimaan di seluruh nusantara pada akhir tahun lalu telah membangkitkan arus pengurusan berbagai surat dan syarat para peminat yang demikian keras ingin jadi PNS. Tidak heran jika ini menimbulkan berbagai masalah dan isu miring yang berbeda-beda dari satu provinsi ke provinsi lain.

Di suatu provinsi ada yang sampai menduga ada kecurangan dan akan mengadukannya ke KPK; di provinsi lain lagi, DPRD ikut sibuk mengawasi proses penerimaan dan berusaha minta dengar pendapat dengan instansi pengelolanya. Demikian antusiasnya, ada pula demo para peserta test yang minta diumumkan hasil test tertulis mereka karena kawatir dikalahkan oleh calon lain dengan cara-cara curang. Katakanlah jika karena tertipu calo misalnya, memang ada yang mau melakukan kecurangan demikian, berapa “tarif” pelicin itu? Apakah mungkin sampai Rp150 juta?

Bagi saya yang sudah jadi PNS selama hampir tiga puluh tahun, memang aneh kalau seorang sarjana mau mengeluarkan uang demikian besar untuk jadi seorang CPNS yang kelak akan mulai dari golongan III/a. Dibanding dengan gajinya sebagai seorang PNS, kan uang sebesar itu sudah bisa langsung digunakan untuk memulai suatu usaha yang meskipun kecil tapi bisa mandiri untuk suatu kehidupan baru. Ketika hal ini saya bincangkan dengan rekan-rekan sesama PNS, beberapa orang tersenyum penuh arti yang akhirnya menjelaskan bahwa jika memang ada, jumlah itu pasti sudah melewati hasil kalkulasi para peminat dimaksud.

Saya lalu coba menyelami. Seorang pegawai baru golongan III/a, katakanlah dalam beberapa tahun pertama jumlah gaji dan berbagai tunjangan rata-rata sebesar tiga juta per bulan, maka uang tadi sudah kembali hanya dalam empat tahun dua bulan. Sementara mendapatkan pekerjaan di lingkungan swasta dengan gaji segitu hari ini demikian susah, maka cukup rasional jika orangtuanya cari katabelece atau menempuh jalan itu. Mungkin jumlah ini dianggap si orangtua yang “sayang anak” sebagai modal yang masih harus dikeluarkan selain biaya kuliah dan untuk menikahkannya kelak yang setiapnya bisa tidak kurang dari segitu.

Masalahnya bukan hanya soal ada atau tidaknya modal orangtuanya tapi lebih pada sisi pandang kualitas kemanusiaan kita secara makro. Adalah sangat mengerikan jika untuk mengantarkan dan melepas anak kita ke laman juang kehidupan secara laik perlu biaya untuk kuliah, pelicin untuk dapat kerja, menikah, dan kebutuhan awalnya tidak kurang dari Rp 500 juta per orang. Dibandingkan dengan bangsa lain yang madani, alangkah mahalnya!

Kalau ini dianggap wajar maka laman kehidupan itu nanti bukan diisi oleh mereka yang kapabel memajukan kemanusiaan kita tapi hanya oleh insan-insan materialistik. Lebih mengerikan lagi kalau sebagai PNS mereka melahirkan birokrasi yang menghalalkan segala cara, bermental calo, dan hedonistik yang easy come easy go. Secara makro tentu keadaan ini sangat menghambat, bahkan akan merugikan kemajuan bangsa.

Secara moral pula, sangat sayang kalau si CPNS tadi ketika mulai bekerja ia berangkat dengan bekal yang tidak senonoh. Sogok menyogok dan pelicin sudah dianggap lumrah karena dicontohkan dalam mendapatkan peluang kerja untuk dirinya. Ia akan menjadi bagian dari morally lost generation sehingga mata rantai pembusukan kualitas sumberdaya manusia kita tidak akan pernah putus yang dapat mendorong kita menuju sebuah bangsa besar yang oleh pebusukan dari dalam dirinya sendiri tinggal nama dalam buku-buku sejarah. Naudzubillah.

Mudah-mudahan saja semua itu hanya sebuah isu yang berangkat dari kekawatiran para peserta test CPNS karena setelah kehebohan serupa pada penerimaan tahun 2009, tentu ada perbaikan dalam sistem dan proses penerimaannya. Orang juga akan makin takut untuk berbuat tidak senonoh karena pengawasan menuntut birokrasi harus makin transparan; dalam kasus pelicin ini, pihak penerima, perantara, dan pemberi akan terkena ketentuan pelanggaran, baik hukum maupun agama.

Adanya kebijakan dan tindakan yang drastis dan tegas agar dalam proses penerimaan CPNS tanpavested interest Insya Allah akan menghasilkan CPNS terbaik. Sikap keberpihakan kepada kemanusiaan itu sendiri tentu tetap dapat diterapkan secara proporsional dalam kerangka menuju PNS yang profesional dan produktif. Selain itu perlu kita kembangkan pemahaman dan upaya-upaya untuk mendorong lebih banyak generasi muda yang berminat pada wirausaha serta terus mengusahakan ketersediaan lapangan kerja secara konsepsional dan komprehensip demi kemajuan bangsa. Insya Allah.

 

Read Full Post »

Older Posts »