Feeds:
Posts
Comments

Archive for the ‘keluarga’ Category

rokok peluru

Bila anda merokok, anda merupakan bagian jumlah besar penduduk Indonesia yang selalu diperhitungkan dan diharapkan kontribusinya.  Dari proyeksi BPS, jumlah penduduk Indonesia saat ini diperkirakan sekitar 250 juta jiwa dengan rasio berimbang antara pria dan wanita.  Tahun 2011, jumlah perokok pria sekitar 67 persen dan wanita sekitar 4 persen (Republika, 11/03/14)  atau bila dijumlah, seluruh perokok di Indonesia sekitar 89 juta orang.

Dengan rata-rata tiap perokok penghabiskan 1 bungkus per hari maka orang membakar rokok 2.670 juta bungkus tiap bulannya.  Bila harga rokok rata-rata Rp10.000,- per bungkus, maka para perokok mengumpulkan “iuran” sebesar Rp26,7 triliun setiap bulan.   Bila setengahnya saja yang membeli rokok dari Philip Morris sebagai produsen rokok terbesar di dunia dan juga di Indonesia, maka omzet perusahaan ini akan mencapai Rp13,35 trilun per bulan.  Dengan perkiraan keuntungan sebesar 10 persen saja maka kentungan Philip Morris bisa mencapai Rp160 triliun per tahun.  Jumlah ini lebih dari dua kali nilai APBD Tahun 2014 DKI Jakarta yang berjumlah Rp72 triliun (Antara, 22/01/2014).

Ini bukan hanya sebatas nilai uang yang sangat besar tapi juga menyangkut kemana aliran “iuran” para perokok itu.  Disebutkan bahwa Philip Morris menyumbangkan 12 persen keuntungannya kepada Israel (eramuslim, 06/08/14) yang tentunya dipakai untuk keperluan operasi Negara yang melakukan genocide di Palestina itu.  Kebiadaban Negara Zionis ini dalam perang terakhir ini telah menimbulkan korban nyawa wanita, anak-anak, dan orangtua lebih dari 1.500 orang dan 7.000 orang luka-luka.  Entah berapa pula rumah ibadah, rumah sakit, dan sekolah yang hancur.  Kerugian harta benda secara langsung diperkirakan mencapai 6 juta dollar (rimanews, 05/08/14) atau sebesar APBD Tahun 2014 DKI Jakarta.

Karena itu bila anda seorang perokok, maka sepatutnya anda tidak lagi membeli produk Philip Morris atau akan lebih baik dan menguntungkan anda lagi bila berhenti merokok yang bukan hanya sia-sia ini tapi juga merugikan.  Kesehatan anda dan orang-orang di sekitar anda (perokok pasif) bisa lebih terjaga serta akan lebih hemat dalam pengeluaran sehar-hari.  Yang tak kalah bernilai, anda sekaligus ikut berkontribusi mengelakkan orang-orang yang tidak bersalah di Palestina dari kekejaman dan kebiadaban Israel.  Nampaknya tulisan “Merokok Membunuh Anda” di bungkus rokok sudah perlu dirubah menjadi “Merokok Membunuh Anda, Keluarga Anda, dan Rakyat Palestina.”

Advertisements

Read Full Post »

Ayah

Alm ayah kami Abdul Karim Effendy (1 Jul 1921-7Nov 2012)(Dimuat di Riau Pos tanggal 14 November 2012 halaman 4, juga di laman Facebook http://www.facebook.com/feizal.karim)

AYAH umumnya dipakai untuk sebutan atau panggilan pada orangtua laki-laki dari seseorang yang secara biologis bertalian darah atau formalnya disebut ayah biologis.  Selain itu ayah juga dipakai untuk panggilan pada orangtua angkat, orangtua asuh, atau orang yang dituakan dalam satu tingkat generasi.  Zaman sekarang panggilan itu bisa pula menjadi papa, papi, bapak, daddy, abah, atau abu yang semuanya bermuatan penghormatan.

Meskipun penghormatan kepada ibu bobotnya tiga kali lipat dari pada  kepada ayah, dalam keluarga ayah tetap menjadi sosok yang utama atau figur sentral.  Sebagai kepala keluarga, seorang ayah mempunyai banyak peran yang sangat penting dalam rumah tangga bagi isteri dan anak-anaknya.  Ayah adalah tulang punggung keluarga yang sekaligus pendidik dan sosok tauladan bagi anak-anaknya.  Apapun status dan kapasitasnya, kehadiran ayah memberikan rasa aman, nyaman, berkecukupan, dan terlindungi bagi rumahtangganya masing-masing.  Insya Allah, segenap keluarganya akan mengenang jasa, kebaikan, dan keteladanan itu dengan indah kelak ketika sang ayah sudah tiada. (more…)

Read Full Post »

Lost Generation adalah istilah untuk menggambarkan suatu kelompok manusia dengan rentang usia tertentu yang kurangmampu akibat pengalaman generasinya.  Pertama kali dipopulerkan oleh Ernest Hemingway, istilah ini berasal dari seorang pemilik bengkel di Paris yang jengkel pada mekaniknya yang tidak mampu memperbaiki dengan baik mobil seorang pelanggan.  Sang mekanik adalah seorang yang baru kembali dari perang yang lama sehingga tidak mempunyai kemampuan yang cukup.

Mulanya istilah ini untuk menyebutkan generasi penulis Amerika dari tahun 1920an karena waktu itu akibat Perang Dunia I banyak pemuda yang telah tercerabut dari akar budaya dan tidak mampu untuk masuk kembali ke dalam masyarakat.  Perang telah menghancurkan sistem nilai masyarakat dan para pemuda yang dikirim perang banyak yang mati atau kembali pulang dengan cacat fisik, dan atau mental.  Nilai-nilai tentang kebaikan dan kebenaran yang sebelum perang memberi mereka harapan, tidak lagi berlaku lagi sehingga mereka kehilangan jati diri. (more…)

Read Full Post »

Teladan

Tulisan yang ditujukan khusus untuk anak-anakku ini, dibuat setelah membaca kolom Cakap Lepas DR Alaiddin Koto, seorang Guru Besar UIN Suska, di sebuah koran  terbitan hari Senin 7 Desember 2009 dengan judul ‘Jangan Bilang “Tak Ada Teladan”’.  DR Alaiddin menunjukkan kegeraman dan kerisauannya tentang kedangkalan para mahasiswanya yang tidak mengenal lingkungan perguruan tinggi tempat mereka belajar.

Bayangkan saja, ketika beliau bertanya kepada enam mahasiswa tentang siapa nama dekan mereka, tidak ada satu pun yang tahu.  Pertanyaannya tentang nama rektor juga tidak mendapat jawaban.  Sampai-sampai beliau mempertanyakan apakah para mahasiswanya itu bodoh atau masa bodoh; jangan-jangan juga tidak mengenal siapa diri mereka sendiri.  Kejengkelan DR Alaiddin semakin bertambah melihat gaya berpakaian para mahasiswa yang “modern” tapi tidak sebanding dengan isi kepala mereka.

Syukurnya kerisauan dan kejengkelan itu tidak berlarut-larut di dalam kelas tapi beliau kembalikan ke keadaan lingkungan kehidupan kita hari ini.  Katanya, kerisauan itu juga lah yang dialami oleh kebanyakan orangtua akhir-akhir ini.  Anak-anak tidak lagi menghormati apalagi mengidolakan orangtuanya sendiri sebagai figur teladan; juga tidak terhadap para pemimpin negara sebagai tokoh yang pantas ditiru.

Anak-anak sekarang tidak tahu siapa yang pantas jadi panutan tapi mengidolakan tokoh yang sering tampil di depan publik dengan lagak dan gaya “selera muda” meskipun berwawasan dangkal.  Tanpa disadari, generasi muda kita sedang terjebak pada pola hidup serba dangkal dan serba sesaat yang tidak melahirkan prestasi yang membanggakan dalam jangka panjang.  Dimana salahnya sehingga menjadi fenomena yang sangat merisaukan para orangtua hari ini?

Munurut DR Alaiddin, adalah kesalahan fatal kita yang sering mengatakan bahwa sekarang tidak ada tokoh teladan padahal di sisi lain kita membutuhkannya.  Anggapan ini akhirnya menjadi paradigma dalam kepala kita bahwa negeri kita tidak punya tokoh teladan.  Hal ini menyebabkan para generasi muda mencari tokoh lain yang sesuai dengan selera dan kecenderungan hidup mereka yang hedonistik.  Mereka asyik dengan diri sendiri dan cuek dengan lingkungan karena merasa tidak ada teladan.

Apakah memang kita tidak punya seorang teladan yang pantas untuk diidolakan?  Sebagai umat beragama, kata DR Alaiddin, Rasulullah SAW adalah teladan agung bersama para sahabatnya.  Kita juga punya demikian banyak para pahlawan pejuang yang telah mendedikasikan hidupnya secara ikhlas dan cerdas untuk bangsa dan negara.  Sayangnya suasana dan iklim komunikasi di negeri kita ini lebih kepada keasyikan sendiri itu dan kurang mendorong ke pengenalan para teladan.

Anak-anakku…, pendapat DR Alaiddin itu patut menjadi perhatian kita.  Selain factor lingkungan dan eksternal, kita juga harus melihat ke dalam lingkungan kita sendiri.  Karena itu ayah ingin menambahkan hal-hal yang terkait ke diri ayah sendiri.

Dalam hal ini mungkin ayah juga termasuk yang lalai untuk mengenalkan para teladan itu atau tidak cukup memadai dalam memberi contoh secara langsung pada kalian.  Karena berbagai sebab, ayah kurang intensif membimbing kalian dalam berbagai hal, khususnya menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai satu alat ampuh untuk menyelamatkan hidup kalian.  Ayah belum cukup baik memberi contoh berupa rasa takut pada Allah yang mengalahkan rasa takut pada yang lainnya, bagaimana harus berlaku pada orangtua, berbuat baik pada keluarga dan sesama, berakhlak yang sesuai dengan tuntunan dengan penuh kesadaran sendiri, dan beribadah dengan tekun.

Kalian memang sekolah di tempat yang baik tapi ayah tidak cukup membimbing kalian di rumah; kalian memang mempunyai guru mengaji yang baik tapi kan seyogyanya ayah yang langsung mengajar kalian saban ba’da maghrib; kalian memang sering sholat berjamaah dengan ayah di rumah tapi anak-anak lelaki kan mestinya ayah ajak sholat berjamaah di masjid; kalian sudah belajar dengan baik dan berprestasi tapi kita belum membiasakan kerja keras dengan disiplin serta menghargai waktu. Kita memang punya orang-orang yang membantu kita tapi kan banyak hal yang mestinya bisa kita kerjakan sendiri sehingga kita lebih kenal dengan problematika kehidupan.

Alhamdulillah hari ini kalian adalah anak-anak yang cukup baik dan menyenangkan hati ayah, namun kalau mengacu pada keteladanan tadi, masih banyak hal yang harus kita tingkatkan.  Ada hal positif yang dapat kita contoh dari orang-orang di belahan bumi lain.  Mereka bisa merubah diri mereka dari suatu keadaan ke keadaan lain yang bertentangan tanpa makan waktu lama dan memerlukan syarat-syarat yang rumit.  Dari menangis karena sedih akan sesuatu, setelah memahami ada hal yang menggembirakan mereka bisa jadi tertawa-tawa atau bahkan menyanyi sambil mengusap air matanya ketika masuk ke suasana baru yang lebih menyenangkan.

Karena itu supaya kita tidak menyesali garis kehidupan kita kelak, seraya memohon perkenan Yang Maha Pengampun dan Yang Maha Pemaaf, mari kita lakukan perubahan yang positif-effektif mengacu pada tuntunan teladan Rasulullah SAW.  Jangan dilihat kesalahan dan kekurang ayah selama ini; kalian tentu ayah doakan menjadi anak-anak yang lebih baik dari ayah.  Tidak ada kata terlambat untuk perubahan menuju kebaikan.

Mulailah melaksanakan kewajiban kalian untuk bersikap lebih baik pada orang tua, berakhlak lebih mulia, bertutur kata dan berpenampilan yang baik dan sopan, belajar dan bekerja lebih giat dan disiplin, menerapkan pola hidup lebih sehat, dan lebih gandrung beribadah.  Mengatur dan memanfaatkan waktu kalian dengan baik untuk berbagai kegiatan yang sehat (termasuk olahraga) dan bermanfaat.  Mari sama-sama membiasakan membaca kitabNya, sholat tepat waktu dan yang lelaki upayakan berjamaah di masjid, tanggung jawab pada tugas dan kewajiban diri sendiri, belajar karena ingin tahu dan memahami, sayang pada keluarga, peduli pada sesama, menghargai alam, dan sebagainya.

Untuk bisa melakukan apa yang ayah sampaikan ini, bukakanlah hati dan pikiran kalian untuk merenungkan dan menerima kebenaran.   Teguhkanlah pendirian kalian setelah kalian mengetahuinya.  Hanya dengan keinginan yang kuat dan sambil berdoa lah yang bisa membuat kita kuat dalam menjalankan ketentuan dan tuntunanNya.  Insya Allah anak-anakku, hidup kalian akan selamat lahir dan bathin.  Amin Ya Rob (Jazakallahu khairan, DR Alaiddin Koto yang telah memberi inspirasi).

Read Full Post »

Cara mencari jodoh mungkin hal sederhana bagi sebagian orang tapi merupakan masalah besar bagi banyak yang lain. Menjadi sederhana kalau kita memasang kriteria yang sedikit dan sederhana pula karena terburu-buru atau menerima seadanya; akan menjadi lebih sulit kalau kita menentukan dengan kriteria yang lebih banyak dan rumit karena sudah bermimpi jauh terbang ke awan. Di antara kedua kutub itu tentu ada kombinasi kriteria dan kemudahan atau kesulitan dalam mencari jodoh itu yang pada umumnya dirasakan oleh orang muda yang berharap dapat melukis masa depan nan indah dan langgeng.

Suatu kali, saya berbincang-bincang secara virtual (chatting) dengan seorang anak lelaki saya tentang berbagai hal sebagai dua orang lelaki. Bincang-bincang yang akan lebih sulit terjadi jika berhadapan langsung ini akhirnya sampai pada bagaimana cara memilih calon pasangan hidup. Sesuai dengan pengetahuan yang terbatas dan dibumbui pula dengan pengalaman pribadi sang ayah, bincang-bincang ini tentu sangat subjektif dan kurang mendalam. Saya hanya bisa menyinggung sedikit tentang akseptibilitas, toleransi, pedoman dalam agama, dan bibit-bobot-bebet. Juga sempat saya ungkapkan bahwa lewat orangtua adalah jalan yang baik. Namun dalam hati, ini tetap terasa menjadi suatu pending matter yang harus dituntaskan kemudian.

Topik ini menjadi perhatian saya kembali ketika membaca hal itu di rubrik konsultasi sebuah koran (Riau Mandiri, 8 Februari 2009). Ini nampaknya “kuno” tapi demikianlah tuntunan yang ada yang Insya Allah lebih baik dari sekedar bibit-bobot-bebet itu atau cara-cara yang lain. Untuk lebih jelasnya lebih baik saya kutipkan bagian penjelasan yang diberikan oleh H. Roudhatul Firdaus, Lc yang mudah-mudahan berguna bagi anak-anakku serta pembaca lainnya, sebagai berikut:

Menurut Islam pernikahan bukan sekadar wadah memenuhi kebutuhan biologis saja, namun lebih dari itu adalah sarana beribadah kepada Allah swt. dan sebagai satu-satunya sarana yang sah untuk menurunkan keturuanan dalam ikatan rumah tangga yang damai dan teratur.
Pernikahan juga akan mengantar manusia kepada ketentraman yang membebaskan diri dari kegelisahan dan rasa gundah gulana. Tapi sebaliknya rumah tangga akan menjadi sebuah neraka kecil apabila tegak di luar landasan Islam.

Secara umum Rasulullah saw. telah meletakkan rambu-rambu dalam menjatuhkan pilihan terhadap pasangan hidup yang ideal. Beliau bersabda: “Kalau ada yang meminang kepadamu, kamu senang pada akhlak dan agamanya, mak nikahlah dengannya karena kalau tidak demikian, akan menjadi fitnah dan kerusakan besar di muka bumi.” (Hadits riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah). Dalam riwayat lain disebutkan: “Wanita dinikahi karena empat perkara: karena hartanya, kemuliaannya, kecantikannya, dank arena agamanya. Maka pilihlah yang beragama, niscaya anda memperoleh keberkahan.” (Bukhari dan Muslim)

Imam al-Ghazali berpendapat bahwa seseorang yang berniat menikah hendaknya mengutus kurier yang jujur dan dapat dipercaya untuk meneliti akhlaq dan tabiat orang yang akan dijadikan sebagai suami/isteri. Beliau berkata: “Perhatikan bagaimana agamanya, pendiriannya, budi pekertinya, kejujurannya, keluarga dekat pengasuh di rumahnya. Begitu pula dengan ketekunannya dalam shalat berjamaah dan kejujurannya dalam berjual-beli serta di tempat bekerja dan hendaklah dititikberatkan pada agamanya, bukan hartanya.”

Saran kami, anda perlu melibatkan keluarga dan orang-orang terpercaya untuk membantu anda dalam menentukan pilihan. Jika anda menentukan pilihan melalui pacaran, dikhawatirkan anda akan terjebak dalam permainan emosional dan irrasional sesaat. Wallahu a’lam.

Mudah-mudahan ini manfaat dan Allah meridhoi kita semua.

Read Full Post »

Bintan yang ada di depan mata, menjadi tujuan The Backpackers (the B) pada Minggu kedua Oktober lalu. Lokasi di Provinsi Kepulauan Riau ini dipilih karena cukup kami kenal dan relatif dekat dan akrab dengan para anggota the B. Point of interest di pulau yang dekat dengan Batam dan Singapura ini juga sesuai dengan keinginan untuk menikmati kuliner, melakukan aktifitas water sports, dan mengakui kebesaran Allah melalui keindahan alamNya.
Berdasarkan info dan pengalaman, kami mengkaji dan merencanakan perjalanan sejak jauh hari. Transportasi dan hotel kami pesan baik langsung atau melalui sahabat yang ada di Kepulauan Riau maupun dengan internet. Itenerary empat hari tiga malam (4D3N) kami adalah Tanjung Pinang, Bintan Agro Beach Resort di daerah Teluk Bakau, Nirwana Beach Club (dulu Pantai Mana-Mana) di Lagoi, dan Batam. Sebenarnya banyak resort di sekitar Teluk Bakau, Pantai Trikora, atau Lagoi yang terkenal itu tapi dari segi akses, tarif, fasilitas, objek yang ditawarkan, dan service, Bintan Agro ini lah yang paling optimal.
Menyesuaikan jadual dengan kalender akademis para yunior, kami menghindarkan peak season agar benar-benar dapat menikmati perjalanan ini. Karena pada hari libur umum, Batam atau Bintan merupakan jalur padat dan daerah Lagoi di Bintan Utara sudah terkenal sudah fully booked secara tahunan pada hari libur umum, maka kami memilih hari kerja melakukan perjalanan ini yang ternyata pilihan yang sangat tepat.
Perjalanan dimulai dengan Riau Airlines (pesawat Fokker F50) ke Tanjung Pinang, ibukota Provinsi Kepulauan Riau yang terletak di pantai Selatan Pulau Bintan. Sesuai dengan waktunya, dengan mikrobus resort yang menjemput ke bandara kami melakukan city tour dan makan siang di Tanjung Pinang. Kota yang terkenal dengan kuliner seafood yang lezatdi ini cukup indah, berbukit-bukit yang terletak di pinggir laut. Kami memilih sebuah kedai makan kecil, Kedai Kopi Santai, di daerah Temiang yang menyajikan asam pedas kepala ikan yang sangat khas dan terkenal di kalangan pencinta kuliner ikan.

Sang nyonya penjual dengan sigap memasak satu persatu setengah kepala dan badan ikan merah dengan ukuran kira-kita selebar telapak tangan yang disajikan panas-panas. Bumbunya, sawi asin, dan nanas membuat aroma yang mengundang dan rasanya memang istimewa: asam, gurih, pedas, dan manis yang pas. Seorang anggota the B langsung menirukan gaya Bondan ketika mengapresiasi masakan di tivi. Maknyuusss….

Sebenarnya selain wisata kuliner, di Tanjung Pinang ada tujuan wisata yang tidak boleh terlewatkan: Pulau Penyengat di depan pantai Tanjung Pinang. Di pulau yang dapat dicapai dengan pompong (boat kayu kecil bermesin, di daerah lain disebut klotok) hanya sekitar 20 menit, terdapat jejak langkah sejarah dan sastera Melayu yang terpatri dengan baik. Kebanyakan kita tentu pernah mendengar Gurindam 12 karya Raja Ali Haji? Akan tetapi karena semua the B sudah pernah ke sana (tentang ini Insya Allah akan kami tulis sendiri), maka setelah makan, kami langsung ke Teluk Bakau.


Perjalanan sejauh 35 km menempuh daerah rural Bintan yang mempunyai variasi alam dan akulturasi berbagai budaya. Di simpang ke desa Kawal, ada beberapa kedai kopi Cina yang menyajikan kopi, nasi lemak, dan otak-otak yang merupakan sentuhan harmonis antara etnis Melayu dan Cina yang telah turun temurun disitu. Selepas daerah itu, jalan mulai meyusuri pantai yang banyak dihuni para nelayan, tidak hanya yang tradisional tapi juga yang pergi menangkap ikan berminggu-minggu sampai ke Laut Cina Selatan. Jalan makin dekat ke pantai dan keindahannya memang membuat tidak sabar untuk segera bermain di pantai.

Pantai Teluk Bakau sangat landai sehingga sangat dipengaruhi pasang surut. Pada saat pasang, teluk itu jadi semacam kolam biru yang luas sekali dengan bibir pasir yang putih dengan kombinasi pepohonan dengan bongkahan-bongkahan batu granit yang mencuat muka ke bumi. Ditambah dengan lambaian kelapa, kawasan yang indah ini memang pantas jadi tujuan wisata yang pada hari libur, banyak dikunjungi wisatawan mancanegara yang datang via Singapura atau Malaysia. Sebaliknya wisatawan domestik belum banyak yang tahu tentang keindahan dan kenyaman di Bintan Agro Beach Resort and Spa yang ada di depan mata ini. Bayangkan sedapnya ketika dipijat refeksi di pondok tepi pantai sambil ditiup angin semilir dan didendangkan riak ombak lamat-lamat.

Di resort ini juga tersedia berbagai fasilitas rekreasi dan olahraga. Didarat kita bisa bersepeda atau olahraga sepakbola dan volley pantai, disamping kolam renang ukuran sedang. Untuk water sports ada kayak, flying fish, banana boat, kite surfing, dan snorekeling. Khusus yang terakhir ini akan jadi cerita tersendiri.

Siang sampai sore hari pertama kami di Teluk Bakau dihabiskan oleh the B untuk mengeksplore resort itu dan menikmati cycling, kayaking, refleksi atau main bola di pasir. Malamnya kami berenam menikmati “candle light diner” dengan kuliner seafood segar dan lezat yang sudah kami pesan sejak sore. Sebelum beristirahat kami bisa nonton berbagai acara menarik dari tivi Indonesia, Malysia, dan Singapura sambil tak sabar menunggu hari esok untuk pergi ke laut tempat snorekeling.

Read Full Post »

3G

Meminjam istilah telepon sellular, dalam keluarga pun kita mengenal istilah 3G (three G). Kalau untuk telepon berkenaan dengan teknologinya, dalam keluarga dibaca sebagai tiga generasi. Sebagian mungkin ada yang sempat mencapai 4G, tapi pada umumnya kita jadi bagian dari Orangtua-Anak-Cucu.

Alhamdulillah, anak-anak saya masih mempunyai dua pasang kakek dan nenek. Dari garis ayah di Pekanbaru dan dari garis ibu di Bandung. Bahkan dari garis ibu, anak-anak saya sempat mengenyam empat generasi sebelum kakek buyut mereka pulang ke Rahmatullah beberapa tahun lalu. Sang buyut lah yang melengkapi dengan Abdul Ghaffur pada nama anak saya yang ke tiga Affan yang terlihat dalam foto (kiri).

Foto yang sengaja dibuat awal Syawal ini adalah 3G dari Pekanbaru: ayah saya, saya, dan Affan. Dengan kasih sayang Allah, ayah saya sudah berusia 87 tahun., yang tertua dari keempat kakek/nenek anak-anak saya. Menurut kolega orangtua saya, kami bertiga memiliki raut muka yang paling mendekati atau dengan kata lain yang lebih muda menduplikasi yang lebih tua.

Sebagai bagian tengah dari 3G, saya merasa mendapat kesempatan yang sangat besar dan luas untuk berbuat sesuatu bagi keluarga. Bagian tengah inilah rupanya perioda yang paling padat dalam hidup kita untuk belajar “jadi orang” yang kelak juga akan tua: belajar, berbuat, memberi contoh, memahami, sampai memelihara. Sementara kepada anak-anak harus siap melakukan A-to-Z, kepada orangtua lebih pada menjaga kesehatan dan hati atau perasaan mereka.

Berinteraksi dengan para orangtua tercinta yang sudah sepuh tentu memerlukan usaha dan perhatian yang besar. Dengan kondisi fisik yang sudah menurun mereka harus memperhatikan kesehatan dan nutrisi yang sesuai. Menjaga hati atau perasaan mereka yang pikirannya kadang kembali sederhana ini juga butuh kesabaran. Kita senantiasa harus dapat menunjukkan bahwa anak/menantu dan cucu-cucu mereka dalam keadaan “safe & secured” dan mau mendengarkan dengan baik apa yang mereka sampaikan dan ceritakan, sejak nasehat sampai nostalgia mereka.

Sebagai contoh ayah saya yang di foto ini, dalam usianya yang sudah 87 tahun, masih bisa dengan lancar menceritakan pengalaman nostaljik masa mudanya. Beliau masih ingat ketika jadi upas pos yang sekali gus jadi kurir komunikasi para pejuang zaman Jepang atau bagaimana beliau ikut membantu pengungsian para pejabat republik waktu Agresi Belanda kedua, lengkap dengan konversasi bahasa Jepang atau Belanda. Kadang beliau menceritakan pengalaman kerjanya sebagai pegawai Depkeu yang dibumbui pula dengan sedikit Bahasa Inggeris atau Arab. Mudah-mudahan dorongan beliau agar saya juga bisa bahasa Arab (selain dalam ibadah) nanti bisa terkabul. Kepada anak-anak saya, dalam puasa kemaren beliau menyarankan: “Kuasa Bahasa Inggeris supaya muncul instink untuk menguasai bahasa asing lainnya.”

Semoga kita dapat mengantarkan anak-anak kita ke kehidupan yang baik dan jaya serta membalas jasa ke empat orangtua kita. Amin…

Read Full Post »

Older Posts »